Posted by: peribadirasulullah | September 28, 2013

Senjata syaitan dan musuh Islam yang sentiasa tajam

https://i0.wp.com/maktabahmanhajsalaf.blog.com/files/2012/10/bidah.jpg

http://nahimunkar.com/wp-content/themes/nahimunkar4/timthumb.php?src=http%3A%2F%2Fnahimunkar.com%2Fwp-content%2Fuploads%2F2013%2F06%2Fbidah.jpg&q=90&w=650&zc=1

Nota: Racun amerika dan yahudi dalam melemahkan umat Islam dan melaga-lagakan umat Islam adalah memperbahaskan masalah BID’AH dikalangan ulamak Islam sehingga berbubuhan sesama Islam.

http://kabarislam.files.wordpress.com/2013/07/pikiran-wahabi.jpg

Saya lihat di Internet ini banyak orang yang pakai nama “ABU …” (tidak semua), tapi dari tulisan dan komentar2nya mencerminkan akhlaq seperti ABU JAHAL DAN ABU LAHAB.
Kata2nya kotor. Amat jauh dari akhlaq Islami.
Non Muslim pun jika beradab dan beretika, tidak mungkin mengucapkan kata2 seperti mereka.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…” [Al Ahzab 21]

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu…” [Ali ‘Imran 159]

Sesungguhnya tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Al-Bukhari, Ahmad, dan Al-Hakim)

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. (HR. Al Bazzaar)

Ketika Aisyah Ra ditanya tentang akhlak Rasulullah Saw, maka dia menjawab, “Akhlaknya adalah Al Qur’an.” (HR. Abu Dawud dan Muslim)

Kepada Rasulullah Saw disarankan agar mengutuk orang-orang musyrik. Tetapi beliau menjawab: “Aku tidak diutus untuk (melontarkan) kutukan, tetapi sesungguhnya aku diutus sebagai (pembawa) rahmat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.

sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” [Fushshilat 34-35]

Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2010/09/15/akhlak-islam-cerminan-aqidah-islam/

http://kabarislam.wordpress.com/2013/07/24/abu-jahal-dan-abu-lahab-cs-yang-tidak-berakhlaq/

https://i1.wp.com/www.idrusramli.com/wp-content/uploads/2013/07/ulama-salaf-membungkam-wahabi.jpg

ULAMA SALAF (SAHABAT DAN TABI’IN) MENGGUGAT KAUM WAHABI YANG ANTI SHALAWAT DAN ANTI BID’AH HASANAH

Gambar tersebut adalah scan cover kitab Jala’ul Afham, karya Ibnu Qayyimil Jauziyyah, murid terkemuka Ibnu Taimiyah, dan ulama panutan kaum Wahabi. Kaum Wahabi akan menganggap perkataan Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyimil Jauziyyah, sebagai pendapat terbaik yang harus diikuti. Ternyata dalam kitab tersebut, Ibnu Qayyimil Jauziyyah mengutip banyak riwayat dari kaum salaf yang membaca shalawat susunan sendiri, bukan susunan Rasulullah SAW. Sementara ini kaum Wahabi membid’ahkan shalawat susunan para ulama, seperti shalawat faith, thibbil qulub, nariyah dan lain-lain, dengan alasan semuanya shalawat bid’ah, bukan susunan Rasulullah SAW. Ternyata Ibnu Qayyimil Jauziyyah menampar pandangan Wahabi, dengan mengutip beberapa riwayat dari kaum salaf antara lain:

1. Shalawat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

عَن عبد الله بن مَسْعُود قَالَ إِذا صليتم على رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم فَأحْسنُوا الصَّلَاة عَلَيْهِ فَإِنَّكُم لَا تَدْرُونَ لَعَلَّ ذَلِك يعرض عَلَيْهِ قَالَ فَقَالُوا لَهُ فَعلمنَا قَالَ قُولُوا اللَّهُمَّ اجْعَل صلواتك ورحمتك وبركاتك على سيد الْمُرْسلين وَإِمَام الْمُتَّقِينَ وَخَاتم النَّبِيين مُحَمَّد عَبدك وَرَسُولك إِمَام الْخَيْر وقائد الْخَيْر وَرَسُول الرَّحْمَة اللَّهُمَّ ابعثه مقَاما مَحْمُودًا يغبطه بِهِ الْأَولونَ وَالْآخرُونَ اللَّهُمَّ صل على مُحَمَّد وعَلى آل مُحَمَّد كَمَا صليت على إِبْرَاهِيم وعَلى آل إِبْرَاهِيم إِنَّك حميد مجيد اللَّهُمَّ بَارك على مُحَمَّد وعَلى آل مُحَمَّد كَمَا باركت على إِبْرَاهِيم وعَلى آل إِبْرَاهِيم إِنَّك حميد مجيد

2. Shalawat Abdullah bin Amr bin al-‘Ash, atau Abdullah bin Umar, terdapat keraguan dari perawi, sama dengan redaksi di atas.

3. Shalawat ‘Alqamah (ulama salaf):

صلى الله وَمَلَائِكَته على مُحَمَّد السَّلَام عَلَيْك أَيهَا النَّبِي وَرَحْمَة الله وَبَرَكَاته

4. Shalawat Abdullah bin Abbas:

اللَّهُمَّ تقبل شَفَاعَة مُحَمَّد الْكُبْرَى وارفع دَرَجَته الْعليا وأعطه سؤله فِي الْآخِرَة وَالْأولَى كَمَا آتيت إِبْرَاهِيم ومُوسَى عَلَيْهِمَا الصَّلَاة وَالسَّلَام

4. ٍShalawat Imam al-Syafi’i:

وَصلى الله على مُحَمَّد عدد مَا ذكره الذاكرون وَعدد مَا غفل عَن ذكره الغافلون قَالَ فَلَمَّا اصبحت نظرت إِلَى الرسَالَة فَوجدت الْأَمر كَمَا رَأَيْت النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم

Fakta-fakta di atas membantah teori kaum Wahabi yang anti bid’ah hasanah, membid’ahkan shalawat dan dzikir yang disusun oleh para ulama. Teori wahabi, bukan teori salaf, bukan teori Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyimil Jauziyyah, akan tetapi teori Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi al-Qarni. Semoga kita semua selamat dari fitnah dan keburukan pendiri Wahabi, amin. Demikian catatan singkat, semoga bermanfaat.

Mudahnya memecah belahkan umat Islam dan menabur fitnah kepada umat Islam yang jahil.

Ulamak Salaf dan Wahabi adalah ulamak yang sama tidak ada beza, oleh yang demikian untuk memecah belahkan umat Islam, wahabi dikelirukan dan dipisahkan daripada salafi atau salaf.

https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSsm5deeC9rfxiw6rmseQobSE7qtLwWLUCY7DyIzDnPBAbXYKDR

Akidah Wahabi Sangat Mirip Dengan Akidah Yahudi & Nasrani

http://www.sarkub.com/2012/akidah-wahabi-mirip-dengan-akidah-yahudi-nasrani/

Anda jangan terperanjat jika kami katakan akidah Salafi Wahabi itu sangat mirip dengan akidah Yahudi dan Nasrani. Benarkah demikian? Mari kita buktikan bersama!

Akidah tajsim dan tasybih telah menggelincirkan Salafi Wahabi hingga pada suatu keyakinan bahwa Allah seperti sosok seorang pemuda , berambut ikal , bergelombang dan mengenakan baju berwarna merah. Klaim ini dikatakan oleh Ibnu Abu Ya’la dalam kitab Thabaqat al-Hanabilah. Abu Ya’la mendasarkan pernyataan itu kepada hadits berikut :

عن عكرمة اَن الرسول صلى الله عليه وسلّم قال: راَيت ربي عزّ وجلّ شَابا امرد جعد قطط عليه حلة حمراء

“Dari Ikrimah: bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Aku telah melihat Tuhanku SWT berupa seorang pemuda berambut ikal bergelombang mengenakan pakaian merah.” (Ibnu Abu Ya’la: Thabaqat al-Hanabilah, jilid 2, halaman 39)

Sungguh keji pengaruh riwayat palsu di atas. Riwayat-riwayat palsu produk pikiran Yahudi itu kini berhasil membodohi akal pikiran para pengikut Salafi Wahabi, sehingga mereka menerima keyakinan seperti itu. Tidak diragukan lagi, hadits semacam ini adalah kisah-kisah Israiliyat yang bersumber dari orang-orang Bani Israil.

Salafi Wahabi memperjelas hadits di atas dengan hadits lain yang bercerita tentang Allah duduk di atas kursi emas, beralaskan permadani yang juga terbuat dari emas, dalam sebuah taman hijau. Singgasana (Arsy) Allah dipikul oleh empat malaikat dalam rupa yang berbeda-beda, yaitu seorang lelaki, singa, banteng dan burung elang. Keyakinan aneh semacam ini dipaparkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Kitab at-Tauhid wa Itsbat Shifat ar-Rab.

Siapakah Ibnu Khuzaimah? Dia adalah salah seorang ulama ahli hadits yang banyak dipakai oleh Salafi Wahabi untuk dijadikan referensi. Namun setelah semakin matang dalam pengembaraan intelektualnya, Ibnu Khuzaimah menyesali diri telah menulis kitab tersebut, seperti dikisahkan oleh al-Hafidz al-Baihaqi dalam kitab al-Asma wa ash-Shifat hal. 267

Walaupun begitu, soko guru Salafi Wahabi, yaitu Ibnu Taimiyah tetap mengatakan bahwa Ibnu Khuzaimah adalah ”Imamnya Para Imam” karena menurutnya telah banyak meriwayatkan hadits-hadits ’shahih’ tetang hakikah Dzat Tuhan (padahal yang sebenarnya hadits-hadits itu kenal dengan nuansa tasybih dan hikayat Israiliyat). Oleh karena itu, ketika mengomentari sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah, Ibnu Taimiyah berkata :

”Hadits ini telah diriwayatkah oleh ’Imamnya Para Imam’ yaitu Ibnu Khuzaimah dalam Kitab at-Tauhid yang telah ia syaratkan untuk tidak berhujjah di dalamnya melainkan dengan hadits-hadits yang dinukil oleh perawi adil dari perawi adil lainnya, sehingga bersambung kepada Nabi SAW”  (Ibnu Taimiyah: Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah, Jilid 3, hal. 192)

Maka tak heran jika Ibnu Taimiyah pun berkeyakinan sama buruknya, seperti dalam Majmu’ Fatawa j. 4, h. 374,  Ibn Taimiyah berkata “Para ulama yang diridlai oleh Allah dan para wali-Nya telah menyatakan bahwa Rasulullah Muhammad didudukan oleh Allah di atas ‘arsy bersama-Nya”.

Awalnya Ibnu Khuzaimah sangat meyakini bahwa seluruh hadits yang ia muat di dalam kitabnya adalah shahih dan dapat dipertanggungjawabkan. Sebab menurut pengakuannya ia telah meriwayatkanya dengan sanad bersambung melalui para periwayat yang adil dan terpercaya. Demikian sebagaimana ia tegaskan di awal kitab tersebut dan juga tertulis di cover depan kitab at-Tauhid tersebut.

Gambar dibawah ini adalah scan teks tentang keyakinan tasybih dari Kitab at-Tauhid karya Ibnu Khuzaimah, tahkik Muhammad Khalil Harras, Dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut, Lebanon 1403 H./1983, halaman 198.

Untuk lebih jelasnya kami tuliskan ulang hadits Israiliyat yang sudah menjadi bagian dari keyakinan kaum Salafi Wahabi itu sebagai berikut :

عن عبد الله عمر بن الخطاب بعث الى عبد الله بن العبّاس يساله: هل راى محمّد صلى الله عليه وسلم ربّه؟ فارسل اِليه عبد الله بن العبّاس: ان نعم. فردّ عليه عبدالله بن عمر رسوله: ان كيف راه؟ قال: فارسل انّه راه في روضة خضراء دونه فِراش من ذهب على كرسي من ذهب يحمله اربعة من الملاىكة، ملك في صورة رجل، و ملك في صورة ثور وملك في صورة نسر، وملك في صورة اسد

….. Abdullah ibnu Umar ibnu al-Khaththab mengutus seseorang untuk menemui Ibnu Abbas menanyainya, ”Apakah Muhammad SAW melihat Tuhannya?” Maka Abdullah ibnu Abbas mengutus seseorang kepadanya untuk menjawab, ”Ya, benar. Ia melihatnya.” Abdullah ibnu Umar meminta pesuruhnya kembali kepada Ibnu Abbas untuk menanyakannya, ”Bagaimana ia melihat-Nya?”.  Ibnu Abbas menjawab melalui utusannya itu, ’Da melihat-Nya berada di sebuah taman hijau, dibawah-Nya terdapat hamparan permadani emas yang dipikul oleh empat malaikat; malaikat berupa seorang laki-laki, malaikat berupa banteng, malaikat berupa burung elang, dan malaikat berupa singa.”

(Ibnu Khuzaimah: Kitab at-Tauhid, tahkik Muhammad Khalil Harras, Dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut, Lebanon 1403 H./1983 M, hal. 198)

Pembaca yang budiman, Ketika kami menggabungkan hadits Abu Ya’la yang telah lalu dan hadits Ibnu Khuzaimah ini (dimana keduanya telah menjadi dogma Salafi Wahabi), kami sungguh sangat terperanjat!. Kami menjumpai adanya kesamaan antara dogma Salafi Wahabi itu dengan dogma Nashrani, dalam hal ini gambar Tuhan milik mereka. Sebuah gambar yang mengilustrasikan tentang hakikat Tuhan mereka, Yesus Kristus.

Lukisan itu sama persis dengan apa yang digambarkan oleh Salafi Wahabi, yaitu: seorang pemuda , berambut ikal bergelombang mengenakan pakaian merah, sedang duduk di atas kursi emas di taman hijau dibawah-Nya hamparan permadani emas yang dipikul oleh empat malaikat berupa seorang laki-laki, banteng (sapi hutan), burung elang, dan singa.

Dibawah ini gambaran milik umat Kristiani tentang Yesus Kristus, silahkan Anda bandingkan dengan hadits Ya’la dan Ibnu Khuzaimah yang direkomendasikan oleh Salafi Wahabi untuk diyakini oleh setiap pengikutnya:

Perhatikanlah gambar milik kaum Nashrani di atas, tidak ada bedanya sama sekali dengan apa yang diajarkan oleh Salafi Wahabi tentang jati diri Tuhan. Apakah ajaran Salafi Wahabi tadi (yang mereka klaim berasal dari hadits shahih) adalah hasil copy paste dari ajaran orang-orang Yahudi dan Nashrani ini? Kenapa ini bisa terjadi? Karena akidah Salafi Wahabi berasal dari hadits-hadits palsu Israiliyat, yakni karangan orang-orang Bani Israil yang telah Allah sesatkan.

Oleh karenanya, sudah selayaknya kita meragukan dogma tajsim dan tasybih kaum Salafi Wahabi, sebag tajsim dan tasybih itu sangat diwanti-wanti dan dilarang dalam Islam. Terkadang, kaum Salafi Wahabi masih saja mengelak dan memutar kata dari tuduhan tajsim ini. Namun, jika yang demikian bukan tajsim, lalu yang bagaimana lagi yang dinamakan tajsim? Berhati-hatilah wahai umat Islam dari mengikuti faham mereka ini agar kita tidak terperosok dalam kemusyrikan dan kekafiran.

Namun sayangnya, semakin mereka dikritik, maka akan semakin keras menentang (mungkin karena memang seperti itulah watak asli mereka). Mereka merasa paling benar. Nyata-nyata mereka yang keliru, tetapi malah mereka yang bersikap lebih keras kepada umat Islam yang coba meluruskan, lalu menudingkan tuduhan kafir. Dalam buku mereka, Halaqat Mamnu’ah karangan Hisyam al-Aqqad dinyatakan:

من فسّر اِستوى باستولى فهو كافر

”Barang siapa yang menafsirkan kata istawa dengan istawla (menguasai), maka dia kafir.”

Dari pemaparan ringkas di atas, Anda dapat mengerti bagaimana kualitas akal pikiran sebagian ulama Mujassimah yang menjadi rujukan Salafi Wahabi. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika Ibnu al-Jauzi mensifati mereka sebagai para ahli hadits dungu. Adakah kedunguan yang melebihi kedunguan kaum yang sesekali meyakini bahwa Allah SWT duduk di sebuah kursi yang dipikul oleh empat malaikat dalam rupa berbeda-beda, sesekali meyakini bahwa Allah SWT bersemayam di atas Arasy-Nya yang ditegakkan di atas punggung delapan ekor banteng yang mengapung di atas air di sebuah rumah di atas langit ketujuh, dan sesekali meyakini bahwa Allah SWT duduk berselonjor sambil meletakkan salah satu kaki-Nyadi atas kaki-Nya yang lain? Itu semua adalah hadits-hadits palsu buatan Bani Israil yang dikenal riwayat-riwayat Israiliyat. Masihkah Salafi Wahabi tidak menyadarinya, melainkan malah menganggap dirinya yang paling benar?. La haula wa la quwwata ill billah. Semoga Allah mengilhamkan kepada kita kemurnian akidah dan kesucian keyakinan tentang sifat-sifat-Nya yang Maha Suci serta kematangan logika.

(Ditulis kembali oleh Tim Sarkub.Com dari sumber buku “Mereka memalsukan kitab-kitab ulama klasik” dengan sedikit perubahan seperlunya.)

NOTA : BETAPA JIJIKNYA PERMUSUHAN SESAMA ISLAM YANG DIAPI-APIKAN GOLONGAN  KUFFAR DAN PEMIMPIN DUNIA ISLAM YANG BERNAUNG DIBAWAH TAJAAN YAHUDI DAN AMERIA UNTUK MELEMAHKAN KESATUAN ISLAM.

http://thewahhabithreat.files.wordpress.com/2010/08/bushsaudi.jpg

KERAJAAN ARAB SAUDI SECARA KESELURUHANNYA MEMANG DIBENTUK OLEH AMERIKA DAN YAHUDI.

UNDANG-UNDANG ISLAM DILAKSANAKAN ADALAH BERTUJUAN MENGELIRUKAN UMAT ISLAM DUNIA- DENGAN BERMATLAMATKAN KEPENTINGAN EKONOMI AMERIKA DAN YAHUDI DALAM PROJEK-PROJEK PEMBANGUNAN BERBENTUK ISLAM DI DUA TANAH SUCI UMAT ISLAM.

ULAMAK-ULAMAK YANG SALAFI YANG MEMPERJUANGKAN ISLAM DIPINGGIRKAN, PENTADBIRAN UNIVERSITI ISLAM MADINAH DAN UNIVERSITI UMMUL-QURA YANG DAHULUNYA DITUBUH DAN DIBANGUN OLEH ULAMAK ISLAM SALAFI DIAMBIL ALIH SECARA SULIT, BANTUAN METARIAL DAN SUKATAN PELAJARAN DIUBAH SERTA DIAWASI UNTUK KEPENTINGAN REJIM SAUDI, SEHINGGA UMAT ISLAM MEMPERCAYAI KELUARGA SAUDI BENAR-BENAR MEMPERJUANGKAN ISLAM ( ZAHIR DAN BATIN). KINI TIADA LAGI ULAMAK SALAFI  ATAU GOLONGAN YANG MEMPERJUANGKAN SILAM DALAM REJIM SAUDI SECARA ZAHIR DAN BATIN DI BUMI MEKAH DAN MADINAH.

KINI SEBAHAGIAN BESAR ULAMAK MEKAH DAN MADINAH TELAH DICUCUK HIDUNG OLEH AMERIKA DAN YAHUDI SERTA KELUARGA SAUDI. MEREKA DIJADIKAN BARISAN HADAPAN UNTUK MENENTANG RAKYAT DAN MELINDUNGI MEREKA DARI KEBENCIAN UMAT ISLAM.

UNIVERSITI AL-AZHAR DIMESIR MENJADI PUSAT UTAMA PEMESONGAN AQIDAH UMAT ISLAM, KEBANYAKAN ULAMAK YANG MENYOKONG YAHUDI DAN AMERIKA HIDUP MEWAH DAN BERJAWATAN TINGGI DALAM PENTADBIRAN AL-AZHAR, SEMENTARA ULAMAK YANG MENYOKONG IKHWAN MUSLIMIN SENTIASA MENJADI BURUAN UNTUK DIMASUKKAN KE DALAM PENJARA.

TIDAK HAIRANLAH JIKA FATWA ”  RIBA YANG HARAM ” BERUBAH MENJADI HALAL DAN KERJASAMA DENGAN YAHUDI ADALAH HARUS SEMENTARA  ARAK BOLEH JUAL SECARA TERBUKA DAN BERLELUASA MALAH ARAK ADALAH SEBAGAI SUMBER UTAMA PEMANGKIN EKONOMI KERAJAAN MESIR.

IKHWAN MUSLIMIN MEMPERJUANGKAN KEBAJIKAN ISLAM DAN WAHABI YANG BERJUANG MEMBASMI KHURAFAK DAN BIA’AH MERUPAKAN DUA PERTUBUHAN YANG MEMBERI ANCAMAN BESAR KEPADA AMAREKA DAN YAHUDI. MAKA AMERIKA DAN YAHUDI SECARA SULIT MEMAKSA ULAMAK YANG BEARADA DI MEKAH DAN MADINAH UNTUK BERSAMA BERSEKONGKOL DENGAN MEREKA UNTUK MENGELAKKAN KEJATUHAN KERAJAAN YAHUDI DAN AMERIKA DI MEKAH DAN MADINAH.

DI MESIR TENTERA DAN MAHKAMAH SERTA MEDIA DIGUNAKAN SEPENUHNYA OLEH AMERIKA DAN YAHUDI UNTUK MENABUR FITNAH SESAMA UMAT ISLAM DENGAN TUJUAN MENGELIRUKAN UMAT ISLAM DAN MENGHINA ISLAM SECARA TIDAK DISEDARI DI ARAB SAUDI SEMUA ULAMAK YANG BERSEKONGKOL DENGAN REJIM SAUDI DIBERI KEMEWAHAN DAN PANGKAT SERTA DIBENARKAN BERKHUTBAH DI MIMBAR MASJID MEKAH DAN MIMBAR MASJID MADINAH.

http://ilmucahayakehidupan.files.wordpress.com/2013/06/terjerumus-seseorang-dalam-bidah-kerana-jahil-akan-sunnah.png

http://gizanherbal.files.wordpress.com/2012/08/407759_205078396243905_1588546674_n.jpg

https://i2.wp.com/navedz.com/wp-content/uploads/2012/01/milad-un-nabi-in-lucknow_india_2011.jpg

amerika dan yahudi dengan senang meroboh tempat-tempat bersejarah di Mekah dan Madinah apabila ingin melaksanakan projek pembesaran dua tanah suci.  yahudi dan amerika akan mengarahkan ulamak upahan berdiam diri dan media akan saudi akan mencanangkan tempat-tempat tersebut menimbulkan khurafat sebagaimana terdapat dalam ajaran salafi dan wahabi. Apabila masyarakat Islam membantah mereka akan memaksa ulamak tunggangan mereka untuk berkhutbah dan menerangkan bahaya syrik dan khurafat bersandarkan Al-Quran dan Al-Hadis. Maka bergemalah ayat-ayat Al-Quran dan Al-Hadis seluruh pelusuk negara saudi berkaitan khurafat dan bid’ah serta syirik. Apabila penentangan berlaku mereka akan menangkap ulamak tersebut dan akan bertemu ulamak khalaf dan ulamak salaf yang tidak menyokong amerika dan yahudi, dengan ulamak salaf yang telah dicucuk hidung oleh amerika dan yahudi untuk berbincang dan berbahas. Walau apapun keputusan perbincangan dan perbhasan mereka berkaitan agama, namun pertembungan sesama ulamak sekadar di meja sahaja tetapi dasar dan matlamat amerika dan yahudi akan tetap terlaksana, projek dan kerjasama ekonomi tetap diteruskan.

Oleh yang demikian perkara Bidah, khurafat, perbezaan mazhab, perbezaan aqidah yang bersandarkan hadis palsu, hadis dhaif dan sebagainya perlu dihalusi tanpa perasaan dendam dan kepentingan peribadi atau golongan tertentu. Perbezaan anutan fahaman umat Islam di dunia seperti demokrasi, sekular, kapitalis, athies, syiah, bahai, qadyani, tariqat-tariqat, sufi, tasawuf dan sebagainya adalah senjata utama amerika dan yahudi dalam melagakan umat Islam. Perkara-perkara diataslah yang menjadi sumber utama merekauntuk menyempurnakan agenda sulit dan jahat mereka terhadap umat Islam.

Dalam pemahaman Bid’ah secara ringkas saya ingin sebutkan.

Bid’ah dari sudut bahasa adalah membawa maksud baru.

Dalam sudut istilah adalah bermaksud sesuatu penambahan baru pada agama yang berbentuk wasail atau peralatan baru.

Bid’ah Hasanah pula adalah  Bid’ah bermaksud penambahan wasail atau perlatan baru yang melengkapkan suatu perkara dalam agama yang telah wujud dalilnya dalam syraiat . Persepsi yang sering disalah tafsirkan adalah Bid’ah adalah tertakluk kepada peralatan, kaifiat perlaksaan dan kuantiti sahaja.

Perkara seperti ini tidak perlu kita perbahaskan sehingga memecah belahkan umat Islam seperrti :

Zikir dan tahlil selepas solat.

Banyak ayat Al-Quran dan Al-Hadis menyuruhkan kita berzikir dan bertahlil dan sebagainya selepas solat.(  tidak ada keraguan dalil pada pandangan  salah dan khalaf  ).

Jumlah zikir juga tidak perlu kita perbesarkan, kita boleh rujuk pada hadis dan ayat Al-Quran secara langsung.

Cara melaksanakan zikir pula samada  secara jemaah atau sendirian dibolehkan.

Secara kuat atau perlahan dibolehkan mengikut suasana dan keadaan serta menepati Sirah Rasulullah SAW.

Apa yang menjadi fitnah sekarang, golongan yang ingin membuat fitnah sesama Islam adalah mereka memperkatakan wajib dan sebagainya sehingga seolah-olah solat tidak sah jika tidak disertakan dengan zikir dan doa yang panjang, malah dijadikan ejekan dan sendaan dalam kuliah-kuliah di masjid dan surau. Sesungguhnya suasana dan keadaan telah berubah dan tidak berdosa jika kita ringkaskan dosa dan zikir selepas solat . Jangan kita api-apikan golongan yang tidak sempat berdoa dan berzikir sepanjang selepas solat sebagai golongan salaf/salafi atau wahabi sehingga menimbulkan fitnah. Sedangkan kita golongan bergelar ustaz dan ulamak, sementara golongan muda yang mengejar masa atau yang malas berzikir panjang tidak ada kaitan sama sekali dengan golongan wahabi (kaum muda),salafi/salaf/khalai/kalaf, ikhwan, tabligh,sekular, kaptalis,demokrasi, parti umno dan pas serta sebagainya.

Saya sering bertemu dengan golongan lepasan Universiti Al-Azhar yang cuba mempersendakan mufti arab saudi yang buta mata. Golongan lepasan Al-Azhar mengatakan mufti arab saudi buta mata di dunia dan berfahaman salafi atau dengan kata lain tidak mantakwil atau tidak mengubah makna asal ayat Al-Quran. Contoh istbat : Tangan Allah SWT golongan salaf tidak mentakwil kepada Qudrat Allah SWT. Jadi apakah mufti arab saudi akan tetap buta matanya di Akhirat nanti apabila dibangkitakan, Apakah beliau sanggup buta mata kerana berada pada fahaman Istbat, sedangkan ulamak az-azhar yang buta mata tetapi berfahaman khalaf akan mentakwil ayat tersebut kepada Qudrat dan akan celik matanya di Akhirat nanti kerana fahamannya mentakwil ayat Al-Quran semasa di dunia kerana menganut famahan Khalaf. Cuba anda bayangkan perbahasan ustaz-ustaz Islam yang sedang memperjuangkan Islam dan mendapat kedudukan yang tinggi dalam masyarakat Islam Malaysia sedangkan inilah pemahaman dan permainan aqidah mereka dalam mempersedankan Ayat-Ayat Allah SWT.

Semua manusia akan dilahirkan secara sempurkan di Akhirat nanti, samada yang berfahaman salaf atau khalaf akan Allah SWT berikan ganjaran kecacatan mereka di dunia dahulu samada buta mata atau cacat kaki dan sebagainya dari semua fahaman. Nauzubillah daripada golongan ustaz-ustaz sebegini. Mereka bukan sekadar mencari makan menggunakan nama Islam, malah sanggup melakukan apa sahaja untuk mendapat habuan dunia dan mereka menaruh harapan untuk bertaubat  dengan Allah SWT di atas lesen ” Allah SWT Maha Pemurah dan Maha Pengampun “.

Berbalik kepada perkara Bid’ah..

Semua perkara yang ada asas dalam agama seperti solat terawih, tahlil, zikir, azan, solat jamak-Qasar, kematian, kenderaan, kemewahan, pakaian, pesta, perayaan dan sebagainya yang memang telah wujud dalam Islam adalah mengikut hukum asal, wajib, sunat harus dan sebagainya.

Apa yang dimaksudkan Bid”ah Hasanah disini adalah perlatan yang digunakan untuk menyempurnakan urusan syariat tersebut contoh:

Azan di zaman Rasulullah SAW oleh Bilal Bin Rabah hanya dengan melaungkan azan dengan suara biasa sedangkan sekarang dengan pembesar suara yang amat canggih, peralatan perbesar suara itu dinamakan Bid’ah Hasanah dan bid’ah tersebut berlaku kerana ada peralatan baru – ini adalah diharuskan. Bid’ah Dholalah yang terdapat pada azan buat masa kini yang kita semua boleh dengar adalah azan syiah. Kenapa dikatakan Bid’ah Dholalah kerana terdapat perkara baru dalam azan syiah iaitu Syahadah Rasulullah SAW ditambah dengan syahadah kepada Saidina Ali Karramahhu Wajhah atau puji-pujian lain kepada Saidina Ali atau kepada mana-mana ulamak kesayangan mereka.

Inilah yang dinamakan Bid’ah Dholalah. Kerana penambahan pada lafaz azan.

begitulah solat terawih yang sahabat lakukan penambahan pada rakaat solat terawih bukan membuat solat sunat yang lain pada bulan Ramadhan secara berjemaah selepas Solat Isyak. Jika dilakukan selepas solat Maghrib maka itu dinamakan Bid’ah Dholalah pada waktu kerana Rasulullah SAW lakukan solat terawih pada waktu selepas solat Isyak. Alangkah senangnya Sunnah Rasulullah SAW mengajar kita tentang Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Dholalah.

Tentang Solat Jamak dan Qasar untuk para musafir.

Umat Islam diperbodohkan oleh kemajuan sains dan teknologi yang Allah SWST kurniakan melalui kecerdikan otak yahudi sebagai ujian kepada umat Islam. saya berani memperkatakan demikian kerana, kenapa kita lupa bahawa kemajuan sains dan teknologi adalah anugerah dari Allah SWT, perkara yang kita anggap canggih kerana dicanang oleh yahudi kuffar sehingga kita menganaggap solat jamak dan qasar hanya disyariatkan pada zaman susah seperti zaman Rasulullah SAW dan para sahabat. Sesungguhnya semua itu dalam kekuasaan Allah SWT dan ilmu Allah SWT serta Solat Jamak dan Qasar disyariatkan sepanjang zaman bukan kerana zaman susah atau zaman senang serta canggih. Mereka yang mengeluarkan soalan ” Apakah solat jamak dan qasar boleh dilakukan sedangkan dizaman ini ada banyak kemudahan seperti kapal terbang, roket dan keretapi laju dan sebagainya ? ” mereka yang mengeluarkan  soalan ini adalah golongan merendahkan Ilmu Allah SWT dan menganggap Syariat Allah SWT amat rendah sedangkan diri mereka terlalu tinggi dan canggih, betapa hinanya Allah SWT pada pandangan mereka, betapa jahilnya Rasulullah SAW pada pengatahuan mereka- Nauzubillah Min Hom.

Sesungguhnya mereka yang berpandangan solat Jamak dan Qasar hanya disyariatkan pada zaman kesusahan dan kesulitan seperti zaman Rasulullah SAW, inilah Bid’ah Dholalah dalam solat Jamak dan Qasar. Apabila kita mempertikaikan zaman di syariatkan Solat Jamak dan Qasar sedangkan  dengan Jelas Ianya telah dilakukan oleh Rasulullah SAW semasa pembukaan kota Mekah, walaupun Baginda berMustautin di Mekah dan BerMuqim di Madinah tetapi Baginda tetap melakukan solat secara Jamak dan Qasar sepanjang Baginda SAW berada di Kota Mekah.

Dalam perkara pemakaian dan kenderaan tidak ada bid’ah jika anda menaiki kenderaan mewah, walaupun Rasulullah SAW menaiki unta atau berjalan kaki ke masjid.

Betapa ramainya umat Islam mempersendakan Rasulullah SAW  dan menghina Rasulullah SAW apabila mereka berani mengeluarkan perkataan ” Kenapa anta pergi ke masjid naik kereta sedangkan Rasulullah SAW naik unta, kenapa tak naik unta macam zaman Rasululllah SAW ???

Alangkah hinanya Rasulullah SAW pada pandangan mereka yang mengeluarkan perkataan sebegini… jika saya berada dizaman Rasulullah SAW dan mendengar kata-kata ini, saya akan korbankan segala harta mili saya demi memuliakan kedudukan Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW telah ditakdirkan berada dizaman yang tidak memiliki kenderaan seperti anda, unta yang Rasulullah SAW naiki sentiasa bertasbih sepanjang perjalanan Rasulullah SAW ke Masjid dan pasti mendapat pahala di sisi Allah SWT

Kenderaan yang kita naiki adalah Bid’ah ( benda baru yang digunakan sebagai kenderaan ke masjid dengan tujuan ibadat)  tetapi perbuatan ke masjid adalah suruhan agama yang membawa hasil pahala sebagai bekalan di Akhirat nanti kepada mereka yang Beriman Kepada Allah SWT..

Oleh yang demikian, marilah kita beristaghfar banyak-banyak bagi mereka yang pernah mempersendakan Rasulullah SAW dengan perkataan:

” Kenapa anta  makan dengan gerfu dan sudu, bukankah itu perkara Bid’ah ????? “

” Kenapa anta pakai seluar dan baju kemeja untuk solat bukankah itu Bid’ah ?????”

” Kenapa anta tidak berjanggut tetapi bermisai, bukankah itu Bid’ah ????? “

” Kenapa anta berkopiah tidak berserban serta berjubah, bukan pakaian anta begini bid’ah ??? “

Dalam pemakaian dan sebagainya ada yang dinamakan hukum sunat, buat boleh pahala dan tinggal tidak berdosa.

Dalam perwatakan ada Sunnah yang wajib boleh pahala seperti berserban, berjanggut, bersugi, bertasbih  menggunakann jari, berjubah tetapi jika tidak ikut tidak berdosa. CUMA jika menghina dan mempersenda  WAJIB MASUK NERAKA. Anda mesti memahami hukum Allah SWT pada perkataan dan perbuatan serta niat boleh menjatuhkan anda ke dalam Neraka, walaupun anda memilki sejuta syarikat guaman dan sejuta enakmen serta sejuta akta yang melindungi anda. Malah sejuta syarikat guaman dan sejuta pereka enakmen serta sejuta pembuat akta semuanya akan dihumban dalam Neraka Allah SWT, jika tidak selaras dengan Al-Quran dan Al-Hadis.

sekian sahaja perkongsian pandangan , agar kita dilindungi Allah SWT daripada Neraka Jahannam.

Semoga Allah SWT menganugerahkan kita semua Aqidah Rasulullah SAW dan Iman seperti Para Sahabat.

Posted by: peribadirasulullah | September 28, 2013

4 Tips berjuang melawan hawa nafsu

https://fbcdn-sphotos-c-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/1044848_627378710617721_1174136531_n.jpg

Janji Allah Itu Pasti.’s Photos

Posted by: peribadirasulullah | September 28, 2013

7 KUNCI KEBAHAGIAAN DUNIA.

https://fbcdn-sphotos-e-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash3/581841_629460233742902_1256001709_n.jpg

7 KUNCI KEBAHAGIAAN DUNIA.

1. Qalbun Syakirun (Hati yang selalu bersyukur)
2. Al-Azwaju Shalih (Pasangan yang soleh/solehah)
3. Waladun Shalih (Anak yang soleh/solehah)
4. Albiatu Shalih (Persekitaran yang sesuai untuk iman kita)
5. Al-Maul Halal (Harta yang halal)
6. Tafakkur Fiddiin (Bersemangat untuk memahami agama)
7. Umur yang Barakah.

Cara mudah untuk mendapatkan pahala walaupun setelah meninggal, iaitu menyampaikan ilmu yang bermanfaat selagi mereka mengamalkan, pahala akan tetap ada.

Janji Allah Itu Pasti.’s Photos

Posted by: peribadirasulullah | September 28, 2013

Setiap saat kita menghampiri Syurga Ilahi

https://fbcdn-sphotos-h-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn2/1185739_629506717071587_969387415_n.jpg

Posted by: peribadirasulullah | September 28, 2013

4 Istilah paling mudah dalam Islam

https://fbcdn-sphotos-e-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn2/1380702_633311260024466_1200825674_n.jpg

Nota :

Fitnah golongan ulamak tertentu kepada wahabi dan Salafi

” Wahabi dan Salafi tidak mengerjakan zikir dan tahlil selepas solat ” ini adalah perkataan musuh Islam untuk memisah Wahabi dan Salafi dengan lain-lain  fahaman ulamak Islam. Wahabi dan Salafi TIDAK  mewajibkan tahlil dan zikir tertentu sebagaimana para sahabat dan Rasulullah SAW lakukan. Bagi mereka yang rajin dan memiliki niat tertentu boleh berziir dan tahlil sendirian sebanyak yang mungkin, sementara golongan yang memerlukan bimbingan atau pemimpim dalam memimpin zikir dan tahlil mereka bolehlah ikut imam secara beramai-ramai tetapi bagi mereka yang malas dan jahil, jangan jadikan Ulamak Wahabi dan Salafi sebagai alasan untuk tidak berzikir dan tahlil selepas solat. Rasulullah SAW sendiri memohon daripada Allah SWT berlindung daripada sifat penakut dan malas kerana mereka yang penakut dan tergoda kepada keduniaan adalah mereka yang telah kalah berjuang menentang syaitan dan hawa nafsu. Begitu juga sifat malas bukanlah sifat baik, malah sifat yanga amat merugian diri sendiri untuk Akhirat dan amat merugikan Islam serta keluarga, ianya sifat mereka yang telah ditunggang oleh syaitan. Mereka yang malas adalah kenderaan utama dan paling mustahak bagi syaitan untuk masuk lubang Neraka Allah SWT.

Ya Allah, lindungilah diri daripada sifat penaku dan malas dalam berzikir kepada Mu… Amin Ya Rabbal Alamin.

https://fbcdn-sphotos-f-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/1187275_631269400228652_980038753_n.jpg

 

Posted by: peribadirasulullah | September 28, 2013

Kisah yang memberi seribu pengajaran

https://fbcdn-sphotos-a-a.akamaihd.net/hphotos-ak-frc1/600842_524737837600946_1015682500_n.jpg

Pada suatu pagi, berlangsungnya satu temuduga di sebuah syarikat yang terkenal di Malaysia.

Semasa menemuduga salah seorang calon, pengurus syarikat tersebut mendapati seorang calon temuduga perempuan mempunyai rekod akademik yang baik sejak dari sekolah menengah sehinggalah sepanjang pengajiannya di universiti. Setiap semester calon tersebut memperoleh keputusan yang cemerlang.

Pengurus itu bertanya, “Adakah awak mendapat apa-apa biasiswa di sekolah atau universiti?”
Gadis itu menjawab “Tidak.”

Pengurus itu bertanya lagi, “Jadi adakah ayah awak yang membayar semua yuran pengajian?”
Gadis itu menjawab,”Ayah saya telah meninggal ketika saya berusia satu tahun, ibu saya yang telah membayar semua yuran pengajian saya.”

Pengurus meneruskan soalannya, “Ibu awak bekerja di mana?” Gadis itu menjawab,”Ibu saya bekerja sebagai pencuci kain dari rumah ke rumah.”

Pengurus meminta gadis tersebut menunjukkan tapak tangannya dan gadis tersebut menunjukkan tapak tangannya yang halus seperti tidak pernah membuat kerja berat.

Pengurus berasa hairan lalu bertanya lagi, “Awak tidak pernah membantu ibu awak mencuci kain dahulu?”

Gadis itu menjawab, “Tidak pernah. Ibu selalu berpesan supaya saya belajar bersungguh-sungguh untuk berjaya dalam kehidupan. Tidak pernah dia meminta saya untuk menolongnya membasuh pakaian. Lagipun ibu membasuh lebih cepat daripada saya.”

Pengurus tersebut memberitahu dia mempunyai satu permintaan, dia menyuruh gadis tersebut membantu ibunya membersihkan tangan apabila gadis itu pulang ke rumah nanti dan berjumpa semula dengannya keesokan harinya.

Gadis itu merasakan peluang untuk memperoleh jawatan tersebut semakin tinggi. Dia pulang ke rumah dengan gembira untuk membersikan tangan ibunya.

Di rumah, ibunya berasa pelik tetapi tersentuh dengan keinginan anaknya membersihkan tangannya sambil menghulurkan kedua-dua belah tapak tangan kepada anaknya.

Gadis itu membersihkan tangan ibunya perlahan-lahan. Tanpa disedari air matanya mengalir ketika itu. Inilah kali pertama dia mendapati tangan ibunya begitu kasar dan terdapat banyak calar di tangan ibunya. Kadangkala ibunya mengaduh kesakitan apabila terkena air di tangannya.

Lama-kelamaan gadis itu mula menyedari bahawa tangan ini lah yang bersusah payah membasuh kain setiap hari untuk mendapatkan sedikit wang membiayai pengajiannya di sekolah dan universiti.

Calar-calar itulah harga yang perlu ibunya bayar demi kejayaannya yang cemerlang dan juga demi masa depan seorang anak. Setelah selesai membersihkan tangan ibunya, gadis itu secara senyap-senyap membasuh semua pakaian ibunya yang masih tertinggal.

Keesokkan harinya, gadis itu kembali semula ke pejabat.

Pengurus tersebut menyedari air mata bergenang di mata gadis tersebut lalu dia bertanya : “Apa yang telah awak buat dan pelajari semalam di rumah?”

Gadis itu menjawab : “Saya membersihkan tangan ibu saya dan membasuh semua baki pakaian yang masih tertinggal.”

Pengurus itu bertanya lagi, “Apa yang anda rasa?”

Gadis itu menjawab : “Pertama, saya sedar apa itu pengorbanan seorang ibu, tanpa ibu, tiada kejayaan saya pada hari ini. Kedua, dengan bekerja bersama dengan ibu saya sahaja saya dapat belajar dan mengerti betapa sukarnya mendapat sedikit wang untuk hidup. Ketiga, saya tahu betapa pentingnya hubungan kekeluargaan.”

Pengurus itu tersenyum lalu berkata, “Ini adalah apa yang saya mahukan, saya ingin mencari pekerja yang dapat menghargai bantuan orang lain, orang yang tahu penderitaan orang lain dan orang yang tidak akan meletakkan wang sebagai perkara utama dalam hidupnya. Awak diterima untuk bekerja di sini.”

Gadis itu bekerja dengan tekun dan menerima rasa hormat dari rakan-rakan sekerjanya. Prestasi syarikat juga semakin meningkat.

Pengajaran dari cerita ini adalah kita hendaklah menghargai jasa ibu bapa yang banyak bersusah payah demi masa depan kita sebagai anak-anak.

Ringan-ringankan diri untuk membantu ibu atau ayah melakukan kerja-kerja di rumah. Dari situ, kita akan belajar untuk menghargai kesusahan dan keperitan yang dialami oleh mereka.

GuaBlog.com’s Photos

Posted by: peribadirasulullah | September 28, 2013

Jenayah terbesar amerika terhadap rakyat mesir dan Islam

https://fbcdn-sphotos-g-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash3/s403x403/1382087_407923055974828_1413929769_n.jpg

بلاغ الى المخابرات المصرية و العربية
تقدروا تفضحوا امريكا واعوانها فورا
شوفوا التاتو اللى على جبهة الاسلاميين و قارنوه بعلامة الوحش الدجال شرائح السيطرة العقلية و التجسس لتعرفوا سر الزبيبة و من يستعبد هؤلاء الارهابيين و يحركهم نحو العنف
http://blogs.christianpost.com/friday-tidings/temporary-tattoosprequel-to-the-mark-of-the-beast-18017/

Communication to the Egyptian and Arabic
Can they expose American agents immediately
Shufo reviews tattoos on the Islamists and they compared him with the mark of the beast Antichrist mental control segments and spyware to find out the secret alzabibah and enslaved these terrorists and moves them towards violence
http://blogs.christianpost.com/friday-tidings/temporary-tattoosprequel-to-the-mark-of-the-beast-18017/ (Translated by Bing)

https://www.facebook.com/D.boushrashalash?hc_location=stream

Posted by: peribadirasulullah | September 26, 2013

Mengumpul Pahala Sambil Menambah Dosa

https://i0.wp.com/www.iluvislam.com/wp-content/uploads/2011/01/20110127-apipanassejukwuduk.jpg

“Sambil menyelam, sambil minum air.” 

Itu pepatah melayu. Merujuk kepada dua pekerjaan yang dilakukan pada masa yang sama.

Kita bertuah seandainya kedua-dua pekerjaan itu mendatangkan keuntungan yang lumayan kepada diri. Namun, celakalah diri kiranya salah satu amalan itu turut menempah keburukan.

Rata-rata dari kita punya niat yang tulus, suci dan murni untuk berbuat baik. Tidak dinafikan, kesedaran terhadap nilai-nilai agama makin meningkat dalam kalangan kita… alhamdulillah.

Mengumpul Pahala Sambil Menambah Dosa.

Saya yakin setiap dari kita pernah mendengar pepatah ‘matlamat tidak menghalalkan cara.’

Kita punya matlamat dan niat yang betul. Tidak ada yang tidak kena dengan niat itu. Niatnya ingin menegur silap si sahabat, niatnya hendak menunjukkan teladan yang terbaik, niatnya mahu berkongsi ilmu, niatnya mahu membawa seseorang ke arah kebaikan. Macam-macam lagi niat suci yang kita miliki.

Lalu, langkah dibawa. Diri mula merangka strategi bagi memastikan niat terlaksana. Jeng jeng jeng... kerana dari niat munculnya matlamat.

Tapi tidak dinafikan kadang-kadang kita tersilap membawa langkah. Tersilap mencatur strategi. Ada yang berniat menegur perangai sahabat yang dirasakan kurang elok, tapi tegurannya dibawa dengan penuh tidak berhikmah.

Saya bagi beberapa situasi.

Situasi Pertama

Suatu pagi nan indah, si A berjalan-jalan di sebuah ‘shopping complex’, sambil-sambil window shopping dan door shopping sekali.. lalu, jalan punya jalan, terlihat lah si A dan seorang temannya, si B.

Opss, ada minah la sebelah si B. Amboi-amboi siap cuit-cuit lagi. Mesra amat!!

“Tak boleh jadi ni, kemungkaran harus dicegah..” hati si A berbisik halus. Lalu,

” Oii, B! Apa pegang-pegang ni, kau tahu tak berdosa besar sentuh perempuan kalau belum kawin??! Maksiat ni kau tahu tak??!” Ditengkingnya si B di hadapan khalayak ramai. Semua di sekeliling membatu menyaksikan kejadian teriak meneriak tersebut.

Si B tercegangang…

“Bermesra dengan adik pun tak boleh ke??” ~

Situasi Kedua

“Sahaja aku mencintai makweku kerana Allah.”

Setiap hari, bangun sahaja dari tidur, si Fulan memperbaharui niatnya. Aku berpacaran kerana Allah. Cinta aku pada si Fulanah semata-mata kerana Allah. Aku nak bimbing dia jadi wanita solehah!” detik si Fulan di dalam hati.

Besar niatnya bukan?

Lalu, pukul 4 pagi setiap hari satu mesej dihantar pada si Fulanah..

“Assalamualaikum ya ukhti, jom kita bangun tahajud. Sama-sama raih redha-Nya. Bangun ye…

Tidak cukup dengan itu, kekadang diajakya untuk sama-sama menunaikan solat Dhuha.

Tak cukup lagi?

Dihantarnya mesej-mesej versi Islamik dan tazkirah kepada si Fulanah tiap-tiap hari. Tak main la mesej-mesej kosong ni. Berdosa!

Adakala keluar bersama.. opss, bukan berdua. Kena bertiga, lebih pun tidak mengapa asal jangan berdua, kata si Fulan. Biasanya adik si Fulan jadi orang ketiga, kadang-kadang rakan sebaya ikut serta.. begitulah.

Situasi Ketiga

“Exam tinggal 3 minggu lagi ni. Apa kata kita buat ‘study group’?” tutur seorang pemuda kepada seorang pemudi.

“Ok, boleh je. Ada siapa-siapa lagi ke nak join, ke kita berdua je?” tanya si pemudi.

“Em, aku dah tanya yang lain, mereka cakap mereka tak dapat ikut. Semua duduk jauh-jauh, biasa la tu, susah nak ‘commit.’”

“Tapi tak apa ke kita berdua je?”

“Ala, kita bukan buat apa pun. Setakat stadi je, bukan kerja sia-sia kita buat. Kau jangan risau, kita belajar la kat pondok depan masjid kampung kita tu.”

“Ok, set!”

Situasi Keempat

Fenomena gadis bertudung tapi terdedah aurat lainnya makin menjadi-jadi. Ditambah pula dengan kemunculan fesyen yang pelbagai. Kononnya dilabel dengan nama fesyen muslimah.

Si D berasa gerun dengan fenomena yang makin menular di kalangan teman-temannya. Buka Facebook, macam-macam fesyen yang dipaparkan. Atas rapi tertutup, tapi dada jelas ditayangkan .Baju pula ketat hingga tampak segala susuk tubuh. Ishh,apa nak jadi??

Lalu dia bertekad, “Aku mesti buat sesuatu!”

Si D lantas mencapai jubah dan tudung ala-ala turki, digayakannya dengan penuh sopan. Secalit mekap dioles ke kulit wajah. Maka 24 kali cermin ditilik ke seluruh badan. ‘Perfect!’ Aurat tertutup. Jubah longgar, tidak jarang, tidak tabaruj (menunjuk-nunjuk) sangat, dada pun dah ditutup. Tiada yang kurang.

Snap! Snap! Gambar jarak dekat ditangkap, jelas terpapar segala tahi lalat di muka. Posingnya persis seorang model. Kalah Nasha Aziz. I swear!!

Langkah seterusnya? Upload photo tersebut dalam Facebook, dan di tagnya teman-teman lain, lelaki dan perempuan semua di tagged.

Seungkap description mengenai gambar tersebut ditulis,

“Ayuh teman-teman, berpakaianlah mengikut syariat.” =)

Cantik tak saya?

Kesimpulan

Dalam zaman millenium ni, saya yakin majoriti masyarakat kita ke arah masyarakat yang madani dan berilmu. Sudah cukup bijak untuk menafsirkan maksud tulisan ini. Masing-masing punya akal untuk menentukan mana yang baik, mana yang buruk. Mana yang mengundang dosa dan mana yang menjemput pahala.

Cuma, adakalanya apabila kita sudah terbiasa dengan apa yang kita terbuat, mata hati sudah tertutup untuk menilai balik baik buruk perlakuan diri sendiri. Waktu ini, sememangnya nafsu sudah berjaya menguasai diri sendiri, hinggakan mata hati seakan tidak berupaya menunjukkan jalan yang betul.

“Dihiaskan (dan dijadikan indah) kepada manusia: kesukaan kepada benda-benda yang diingini nafsu, iaitu perempuan-perempuan dan anak-pinak; harta benda yang banyak bertimbun-timbun, dari emas dan perak; kuda peliharaan yang bertanda lagi terlatih; dan binatang-binatang ternak serta kebun-kebun tanaman. Semuanya itu ialah kesenangan hidup di dunia. Dan (ingatlah), pada sisi Allah ada tempat kembali yang sebaik-baiknya (iaitu Syurga)”
(Surah ali-Imran ayat 4)

Justeru marilah sama-sama kita  menilai kembali amalan kita. Jangan diundang dosa bersama pahala. Kerana takut nantinya pahala itu yang dikalahkan oleh dosa. Kita ingin mengumpul dosa, rupanya dalam masa yang sama dosa juga bertambah lantaran perlaksanaannya yang tidak mengikut jalan yang sebenar-benarnya (jalan syariat dan redha-Nya).

Artikel iluvislam.com

http://www.iluvislam.com/tazkirah/remaja-a-cinta/6701-mengumpul-pahala-menambah-dosa.html

Posted by: peribadirasulullah | September 26, 2013

Motivasi dan Harga Diri.

https://peribadirasulullah.files.wordpress.com/2013/09/db379-1.jpg

Tulisan kali ini saya letakkan nilai air mati kehampaan, pendustaan, kerapuhan dan penuh persoalan. Manakan tidaknya, sebagai manusia fitrahnya akan sentiasa mengharapkan sesuatu yang baik yang menjadi tunjang ke arah satu kehidupan yang baik. Persoalannya adakah kita membina penghidupan yang baik? Kehidupan biasa mungkin hanya cukup sekadar makan, pakai, tidur, kerja dan pelbagai urusan lain. Tapi penghidupan yang memerlukan daya usaha yang lebih iaitu sebagai khalifah Allah dimuka bumi ini.

Antara motivasi dan nilai diri mesti seiring. Jika lagu ia diibaratkan sebagai nada dan irama. Jika jari kita ibaratkan seperti isi dengan kuku. Jika badan kita ibaratkan ia seperti kulit dan daging. Keduanya saling bersangkutan. Dahulu, apabila ada orang bertanyakan saya tentang kenapa berhenti menulis buat seketika, jawabnya kerana saya diuji dengan apa yang saya tulis. Ya, atas asbab itulah saya berhenti menulis.

Bagi saya nilai diri seseorang bergantung terhadap penyerapan dan penghasilan ubat bernama “motivasi”. Tidak kira samada ia berbentu inside out atau outside in. Semuanya harus saling bergantungan. Sebagai umat islam, saya merasakan kita patut membinanya daripada luar ke dalam dan barulah kita dapat menghasilkan motivasi dalam ke luar. Ini yang dikatakan kitaran motivasi.

Kadang-kadang nilai diri kita lemah hasil daripada faktor persekitaran yang begitu menekan. Dalam apa jua bentuk samada datangnya daripada orang sekeliling ataupun banyaknya idea yang tidak tetap untuk kita pegang. Tahap nilai diri kita akan turut sama menurun akibat turunnya motivasi. Lantas, badan kita pula akan menzahirkannya. Lemah, kaku dan tidak bermaya.

Di saat itu, orang di sekeliling kita akan menyedari yang kita tidak lagi seperti biasa. Kita mengharapkan keteguhan khususnya daripada orang yang berada di sekeliling, namun tetap gagal. Kerana mereka pun tidak merasai apatah lagi untuk mengerti.

Bukan kita tidak mahu berubah

Saya percaya setiap manusia pastinya mengimpikan sebuah perubahan. Namun, apa yang membataskan mereka adalah acuan pemikiran mereka. Minda bawah sedar mereka memainkan stigma yang begitu negatif. Ia berbeza dengan orang yang memberi motivasi. Stigma minda mereka sentiasa positif. Apa yang perlu dilakukan bagi mereka yang mempunyai stigma positif ini adalah dengan membantu orang yang mempunyai stigma negatif  bukan mengikut cara mereka, tetapi mengikut pendekatan yang mampu stigma negatif lakukan.

“aku tidak boleh berubah kerana aku malas”
“aku bukan tak mahu buat tapi aku tak pandai”
“aku bukan tidak ada kesedaran tapi ia susah”

Mungkin bagi mereka yang mempunyai stigma positif akan merasakan alasan yang mereka berikan merupakan perkara atau masalah yang mudah dan boleh di atasi oleh mereka. Tapi bagi mereka yang mempunyai stigma negatif ia adalah terlalu sukar. Mereka seharusnya memahami orang lain atau apa yang disebutkan “memasukkan kaki ke dalam kasut seseorang, baru lah terasa bagaimana keadaannya”.

Berubah adalah bergantung pada tahap manusia mencarinya serta rahmat dan kasih sayang Allah terhadap hambaNya.

“Dan kami cabutkan segala dendam dan hasad dengki dari hati mereka, (di dalam Syurga) yang mengalir beberapa sungai di bawah (tempat) masing-masing, dan mereka pula bersyukur dengan berkata: “Segala puji tertentu bagi Allah yang memberikan hidayah dan pertunjuk untuk (mendapat nikmat-nikmat) ini, padahal kami tidak sekali-kali akan memperoleh pertunjuk kalau Allah tidak memimpin kami (dengan taufiqNya); sesungguhnya telah datang Rasul-rasul Tuhan Kami dengan membawa kebenaran”. Dan mereka diseru: “Itulah Syurga yang memberikan kamu mewarisinya dengan sebab apa yang kamu telah kerjakan”
(Surah Al-A’raf ayat 43)

Memupuk Nilai Sayang Dalam Diri

Antara cabaran kita pada zaman yang bersifat sendiri atau berseorangan “nafsi-nafsi” adalah suasana di mana sukarnya memupuk nilai sayang dalam diri. Sayang terhadap diri sendiri, orang lain, kaum keluarga, sahabat adalah bermula dengan mujuhadah. Nilai sayang pada ummah dan masyarakat adalah dengan mengajak mereka agar sama-sama menyayangi diri dengan melakukan kebaikan diiring dengan pencegahan terhadap perkara yang munkar.

Justeru, tanda sayangkan diri adalah dengan adanya rasa khauf dalam diri dari melakukan kemungkaran kerana dibimbangi kelak diri mendapat balasan daripada apa yang dilakukan samada kepada diri sendiri juga melibatkan orang lain. Samada balasan tersebut berlansung di dunia mahupun di akhirat kelak.

Bayangkan, terlalu sukarnya hidup tanpa kasih dan sayang. Dengan kasih sayang akan wujud lah bahagia. Orang yang kehilangan kasih sayang akan merasakan diri mereka jauh terjunam dalam lembah kebinasaan. Jika kita meletakkan nilai sayang, maka rasa marah kita akan reda. Jika kita ditolak akibat mengajak masyarakat ke arah kebaikan. Kita tidak akan marah. Itu hebatnya nilai kasih dan sayang.

Nabi Muhammad s.a.w apabila berdakwah ke Thaif, dilempar dengan batu. Namun, apabila malaikat menawarkan hempakan gunung kepada penduduk Thaif, dengan rasa kasih dan sayang Rasulullah memaafkan mereka dengan seribu pengharapan. Jika mereka tidak mahu beriman, mungkin anak cucu mereka akan menerima dakwah baginda. Ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad s.a.w iaitu meng-Esakan Allah SWT dan mengakui kerasulan baginda dengan kalimah tauhid Lailaha Illah Muhammadur Rasulullah.

Nilai Diri Terhadap Kesusahan

Hidup ini adalah medan ujian. Jangan di minta diringankan ujian tapi mintalah agar hati itu yang tabah. Diberatkan iman agar ujian yang berat terasa ringan. Usah di minta hidup yang senang kerana hidup ini tidak pernah mudah. Hakikat kehidupan itu jalannya sentiasa ada halangan. Mohonlah pada Allah, kerana hati itu milik Allah. Tiada mustahil bagi Allah. Tatkala doa dipanjatkan, hati itu boleh berubah dengan izinNya. Maka pintalah hati yang sentiasa tabah dan redha dalam mencari jalan penyelesaian. Ambil masa, jangan cepat melatah. Kadang-kadang bukan kita tidak mahu, tapi kurang mampu. Allah itu dekat dengan kita, mintalah kepadaNYA.

Teringat  kata-kata Dr. Ustaz Tariq Ramadan

“Apabila saya berpura-pura menjadi kuat, tiada siapa yang melihat air mata yang tersembunyi saya melainkan Allah. Apabila saya sedih dan perlu bahu untuk menangis di atasnya, tiada siapa yang menyokong saya tetapi Allah. Menyenangkan hati manusia adalah sangat susah, menyenangkan Allah adalah yang paling mudah. Kadangkala manusia menghukum saya untuk kesilapan yang tidak saya lakukan, Namun Allah mengabaikan dan memaafkan atas apa yang telah saya lakukan. Dialah Allah, Yang Maha Besar Maha Kuasa, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani, dan segala puji hanya pada Allah.”

Kesimpulannya

Hargailah diri sendiri. Siapa lagi yang akan lebih menghargai diri  kalau bukan diri kita sendiri. Motivasikan lah diri dengan janji-janji Allah SWT. Sesungguhnya janji Allah tidak sedikitpun ada pendustaan melainkan hanya kebenaran semata-mata. Apabila diri termotivasi dengan ayat-ayat Allah, pastinya nilai diri akan turut termotivasi seterusnya akan memberi motivasi kepada orang lain yang berada di sekeliling kita.

Pada saat kita memberi penghargaan kepada diri dengan sisipan motivasi yang membawa perubahan kepada diri, secara tidak sedar kita juga sebenarnya telah memupuk nilai sayang dalam diri kita. Memberikan diri kita yang terbaik seterusnya menyebarkan aura kebaikan itu kepada insan-insan di sekeliling kita. Mereka itulah insan-insan yang sentiasa dekat di hati kita. Insan yang kita sayangi sebagai ummat nabi Muhammad SAW. Kerana kita ummat baginda lah, maka rasa sayang itu membawa hati kita lebih cenderung kepada berkasih sayang.

Lantas, tatkala kasih sayang semakin mengairi taman persaudaraan kita – diri dan orang sekeliling, pastinya akan wujudnya kekuatan dalam nilai diri. Rasa termotivasi dengan adanya insan-insan di sekeliling. Rasa kuat dengan adanya jalinan kasih sayang sesama kita. Maka, semuanya bermula dari diri kita!

Di mana ada kemahuan untuk berubah, segalanya pasti akan berubah. Bi iznillah, InsyaAllah.

Artikel iluvislam.com

http://www.iluvislam.com/inspirasi/motivasi/6229-motivasi-dan-nilai-diri.html

Posted by: peribadirasulullah | September 26, 2013

Sudah solat tetapi tidak bahagia ???

https://i1.wp.com/www.iluvislam.com/wp-content/uploads/2010/10/20100830-Remaja.jpg

Assalamualaikum w.b.t. Apa khabar sahabat semua? Semoga sentiasa dirahmati dan dikasihi Allah.

Sudahkah kita benar-benar menghadapkan diri dan kehidupan kita sepenuhnya kepada Allah? Berapa peratus? Seratus peratus? Lima puluh peratus? Atau baru sepuluh peratus?

Tahukah anda bagaimana mahu mengukur tahap anda menghadap kepada Allah?

Mudah saja. Lihat sejauh mana anda menghadapkan diri kepada Allah sewaktu solat. Berapa peratuskan solat anda itu benar-benar sedar kepada Allah dan betul-betul menghadap kepada-Nya dan bukan menghadap kepada yang selain-Nya seperti kerja yang belum disiapkan, ikan di kuali atau kunci yang hilang.

Sebaik anda mengangkat takbiratul ihram, perhatikan kesedaran anda. Anda boleh berada dalam dua kesedaran, pertama kesedaran kepada Allah dan merasa dilihat Allah atau kesedaran nafs iaitu perkara-perkara berkaitan dunia dan hawa nafsu. Sekiranya kesedaran anda kepada Allah hanya sekitar sepuluh peratus sahaja dari keseluruhan solat itu, maka begitu jugalah sepuluh peratus sahaja anda menghadapkan diri dan kehidupan kepada Allah. Itulah cara mengukurnya kerana solat menggambarkan diri dan kehidupan anda.

Bayangkan di dalam sebuah kelas, sekiranya terdapat pelajar yang bercakap semasa guru bercakap, itu menunjukkan sikapnya yang sama di luar kelas iaitu tidak menghormati orang lain. Sikap kita di dalam solat sama dengan sikap kita di luar solat. Justeru, inilah rahsianya untuk kita mengubah sikap dan kehidupan kita kepada yang lebih baik. Iaitu dengan membaiki solat kita. Inilah latihan yang Allah sediakan.

Solat adalah suatu perbuatan yang dibuat berulang-ulang kali. Setiap perbuatan yang dibuat berulang kali akan menjadi perilaku atau sikap seseorang yang melakukan perbuatan itu. Justeru Allah mewajibkan hamba-Nya untuk solat dengan khusyuk iaitu dengan menghadapkan dirinya dengan penuh kepada Allah ketika solat. Inilah yang terungkap dalam Doa pembuka solat iaitu Doa Iftitah, “Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku ke wajah Allah yang menciptakan langit dan bumi” dan kalimah seterusnya “Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya kerana Allah”.

Bayangkan sekiranya seseorang itu menghayati apa yang dibacanya dalam doa Iftitah ini, iaitu dengan melakukan apa yang dibaca bukan sekadar membaca tanpa sedar, pastinya ia akan berubah menjadi perilaku. Bagaimana dia benar-benar menghadapkan wajahnya kepada Allah ketika dia membaca doa Iftitah pastinya dia terlatih untuk menghadapkan diri dan kehidupannya hanya untuk Allah. Inilah rahsia solat yang khusyuk. Apabila seseorang berjaya untuk solat dengan khusyuk maka dia juga berjaya menghadapkan diri dan kehidupannya kepada Allah di luar solat. Dia juga akan berjaya mencegah perbuatan keji dan mungkar kerana dia sentiasa sedar akan Allah setiap waktu dan ketika. Firman Allah; “.. Sesungguhnya solat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar”

Ramai umat Islam hari ini mempunyai masalah untuk solat dengan khusyuk. Apakah dan dimana puncanya masalah ini?

Pertamanya kerana tidak adanya ilmu bagaimana kaedahnya untuk khusyuk di dalam solat. Dari kecil, kita diajar dengan lengkap rukun-rukun dan sunat-sunat solat, kita diajar apa yang membatalkan solat tapi jarang sekali yang mengajar bagaimana untuk khusyuk dengan solat. Justeru, ilmu untuk solat dengan khusyuk tersangatlah penting agar solat kita menjadi solat yang khusyuk dan menghadapkan diri kepada Allah. Barulah hidup kita akan betul menghadap kepada Allah dan tidak selain-Nya. Dengan itu benarlah kalimah syahadah yang kita ucapkan bahawa tidak ada Tuhan lain yang kita hadapkan wajah kita selain Allah; tidak menghadap kepada wang dan harta, tidak menghadap kepada pangkat dan kemasyhuran yang dengan itu kita telah mensyirikkan Allah.

Keduanya, setelah kita belajar solat dengan khusyuk, mengapa kita masih mempunyai masalah untuk khusyuk? Ini adalah kerana dalam diri kita ada nafs (hawa nafsu) yang sering mengajak kepada kejahatan. Diri kita masih mempunyai banyak keinginan yang berkaitan dengan dunia.

Justeru ketika kita mahu menghadapkan diri kepada Allah di dalam solat, keinginan-keinginan dunia dari hawa nafsu akan menarik kesedaran terhadap Allah dan membawa kita kesedaran dunia dan isinya. Justeru solat kita menjadi tidak khusyuk kerana jiwa tidak menghadap kepada Allah tetapi kepada selain-Nya. Bagaimana untuk menghadapi masalah ini?

Allah sudah menyiapkan senjata untuk kita menawan hawa nafsu kita agar dia menjadi lemah dan tidak mampu untuk menarik perhatian kita dari Allah. Senjata itu adalah Puasa.

Hawa Nafsu kita berasal dari dorongan jasad kita. Puasa melemahkan jasad dan secara otomatisnya melemahkan dorongan untuk membesarkan hawa nafsu. Justeru latihan 30 hari di bulan Ramadhan adalah senjata yang sangat hebat untuk menawan hawa nafsu itu. Bayangkan setiap hari kita melemahkan jasad dan dorongannya. InsyaAllah di akhir bulan Ramadhan, kita akan berjaya menawan hawa nafsu yang selalu mengajak kepada kejahatan itu dan akhirnya berjaya solat dengan khusyuk dan menghadapkan secara penuh kepada Allah. Justeru kembalilah kita kepada Allah dalam keadaan suci dan itulah sebab kita sering mendengar ungkapan “kembalilah ke fitrah yang suci” di bulan Ramadhan.

Allah memberikan kita senjata yang kedua untuk benar-benar menawan hawa nafsu kita. Senjata yang kedua adalah zakat. Di dalam bulan Ramadhan kita digalakkan berzakat atau bersedekah. Memberi yang digalakkan Allah adalah memberi sesuatu yang dicintai. Contohnya seorang yang mempunyai banyak kambing, haruslah memilih kambing yang terbaik untuk disedekahkan. Mengeluarkan atau memberi harta yang dicintai ini akan membebaskan kita dari ikatan kecintaan harta dan dunia yang sering menarik kesedaran kita dari kesedaran ke Allah kepada kesedaran dunia dan isinya. Justeru dengan senjata yang kedua ini, kita akan lebih mudah untuk solat dengan khusyuk.

Apa jadi selepas bulan Ramadhan? Senjata sudah tidak digunakan lagi?

Pastinya kita memerlukan senjata ini setiap waktu dan ketika kerana kita harus menghadapkan diri dan kehidupan kita kepada Allah setiap bulan dan bukan hanya di bulan Ramadhan. Allah menggalakkan hamba-Nya untuk berpuasa enam hari di bulan Syawal. Justeru sebaiknya cubalah berpuasa enam hari berturut-turut agar dapat manfaat seperti bulan Ramadhan di mana kita benar-benar memerangi hawa nafsu yang cuba membesar dengan ‘open house’ di bulan Syawal. Jangan lupa untuk menggunakan juga senjata yang kedua iaitu zakat atau sedekah ketika kita berpuasa enam itu.

Apa yang berlaku selepas puasa enam? Rasulullah mengajar kita untuk berpuasa sunat Isnin dan Khamis. Puasa itu senjata yang tidak harus ditinggalkan. Justeru untuk memastikan kita mampu untuk sentiasa solat dengan khusyuk di mana kesedaran kita ke Allah berjaya dipertahankan (kerana hawa nafsu yang menarik kesedaran itu sudah berjaya dilemahkan dan ditawan) maka kita harus sentiasa menggunakan senjata Puasa ini secara berterusan.

Jangan lupa juga untuk keluarkan zakat atau bersedekah apabila melakukan Puasa Sunat Isnin dan Khamis. InsyaAllah kita dapat menghidupkan suasana Ramadhan setiap minggu; Isnin, Khamis berpuasa, Jumaat kita raya (ada khutbah Jumaat) dan jangan lupa bila ke Masjid untuk solat berjamaah, hulurkan wang yang kita cintai untuk jalan Allah atau kepada sesiapa yang memerlukan. Justeru orang Islam itu bersedekah setiap minggu.

Inilah rahsia hebat yang sering kita terlepas pandang. Solat, Puasa dan Zakat hanya jadi rutin beragama yang dilaksanakan tanpa memahaminya. Justeru di bulan Ramadhan yang sewajarnya bulan menawan hawa nafsu jadi bulan yang paling kuat membesarkan hawa nafsu, hawa nafsu makan semasa berbuka, hawa nafsu menukar perabot rumah, memberi emas, membeli langsir dan sebagainya. Jadilah Puasa kita itu hanya sekadar lapar dan dahaga yang disebutkan oleh Rasululah.

Dengan Ilmu solat dengan khusyuk dan dua senjata hebat, Puasa dan Zakat, insyaAllah kita akan mampu Solat dengan benar-benar menghadapkan wajah kita kepada Allah sepenuhnya. Justeru, begitulah juga kita di luar solat, insyaAllah benar-benar mampu menghadapkan diri dan kehidupan kita kepada Allah dan menjadikan hidup dan mati kita hanya untuk Allah. Inilah erti Kalimah Syahadah yang kita sebutkan. Barulah kita dikatakan telah menyempurnakan Syahadah kita.

Rumusannya, Solat adalah cermin diri dan kehidupan kita. Bagaimana kita solat, itulah diri dan kehidupan kita. Itulah sebab kenapa Solat adalah soalan yang pertama ditanya oleh Allah bila kita kembali menghadap-Nya satu hari nanti. Baik solat kita, baiklah kehidupan kita dan masuklah kita ke Syurga yang disediakan untuk orang-orang yang menjaga solatnya.

Belajarlah Solat dengan Khusyuk, rajinlah berpuasa dan lepaskanlah ikatan kecintaan kepada dunia dengan sering bersedekah dan berinfaq di jalan-Nya. Semoga kita dipanggil pulang oleh Allah sebagai jiwa yang tenang dan berjaya memasuki Wilayah Nafsul Mutmainnah yang didiami oleh ruh para kekasih Allah. Amin Ya Allah.

Firmah Allah yang bermaksud: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan puas lagi diredhaiNya, Masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaKu dan masuklah ke dalam syurgaKu” (Al-Balad: 27-30)

– Artikel Iluvislam.com

http://www.iluvislam.com/inspirasi/kembara-hidup/4528-solat-tapi-hidup-tidak-bahagia.html

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Ikut

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,692 other followers