Posted by: peribadirasulullah | Mac 7, 2014

Gadis Jelita mesir telah berjaya menempah 1bilik dalam Neraka

https://i1.wp.com/www.akhwatmuslimah.com/wp-content/uploads/2014/03/mayat3.jpg

Akhwatmuslimah.com – Baca dan hayati sepenuhnya cerita di bawah ini yang benar – benar terjadi di bumi islam sendiri yaitu Iskandariah , Mesir. Moga kisah yang cukup menyayat hati ini akan menyadarkan kita semua dari terus leka dengan permainan dunia yang melalaikan.

Pada suatu hari , seorang gadis yang terpengaruh dengan cara hidup masyarakat Barat menaiki sebuah minibus untuk menuju ke tujuan di wilayah Iskandariah . Sayangnya meskipun tinggal di bumi yang terkenal dengan tradisi keislaman , pakaian gadis tersebut sangat mencolok . Bajunya agak tipis dan seksi hampir terlihat segala yang patut disembunyikan bagi seorang perempuan dari pandangan pria atau mahramnya .

Gadis itu dalam lingkungan 20 tahun . Di dalam bus itu , ada seorang tua yang dipenuhi uban menegurnya : ” Wahai pemudi ! Alangkah baiknya jika kamu berpakaian yang baik , yang sesuai dengan ketimuran dan adat serta agama Islam kamu , itu lebih baik dari kamu berpakaian begini yang pastinya menjadi korban pandangan liar kaum pria …. ” Nasihat orang tua itu .

Namun, saran yang sangat bertetapan dengan tuntutan agama itu dijawab oleh gadis itu dengan jawaban yang mengejek : ” Siapalah kamu hai orang tua ? Apakah kamu mencoba meingatkan aku supaya menutup aurat sepenuhnya sedangkan tua kandungku sendiri tidak pernah menasihatiku ? Apakah kamu ingin aku berpakaian menutup aurat sedangkan aku masih ingin bebas menayangkan tubuh ku di depan umum ? Apakah di tangan kamu ada  kunci syurga ? Atau apakah kamu memiliki semacam kekuatan yang menentukan aku bakal berada di surga atau neraka ?
“Setelah menghamburkan kata – kata yang sangat menghiris perasaan orang tua itu , gadis itu tertawa mengejek panjang . Tidak cukup hanya itu , si gadis lantas mencoba memberikan ponselnya kepada orang tua tadi sambil melafazkan kata – kata yang lebih dahsyat . ” Jika ISLAM itu BENAR , tempatkan rumahku di Neraka , juga handphone ku ini dan hubungilah Allah serta tolong tempatkan sebuah kamar di neraka jahanam untukku , ” katanya lagi lantas tertawa meledek tanpa mengetahui bahwa dia sedang mempertikaikan hukum Allah dengan begitu biadab .

Orang tua tersebut sangat terkejut mendengar jawaban dari si gadis manis . Sayang sekali , wajahnya yang ayu tidak sama dengan perilakunya yang buruk . Penumpang – penumpang yang lain turut terdiam bahkan ada yang menggelengkan kepala kebingungan . Semua yang di dalam bus tidak menghiraukan gadis muda yang tidak menghormati hukum – hukum agama itu dan mereka tidak ingin menasehatinya karena khawatir dia akan akan menghina agama dengan lebih parah lagi .

Sepuluh menit kemudian bus pun tiba di halte . Gadis seksi bermulut sengit tersebut tertidur di depan pintu bus . Puas sopir bus termasuk para penumpang yang lain mengejutkannya tapi gadis tersebut tidak sadarkan diri . Tiba tiba orang tua tadi memeriksa nadi si gadis . Sedetik kemudian dia menggeleng . Gadis itu telah kembali menemui Tuhannya dalam keadaan yang tidak disangka .
Para penumpang menjadi cemas dengan berita yang menggemparkan itu . Dalam suasana kelam kabut itu , tiba tiba tubuh gadis itu terjatuh ke pinggir jalan. Orang banyak segera berkejar untuk menyelamatkan jenazah tersebut . Tapi sekali lagi mereka terkejut . Sesuatu yang aneh menimpa jenazah yang terbujur kaku di jalan raya . Mayatnya menjadi hitam seolah – olah dibakar api . Dua tiga orang yang mencoba mengangkat mayat tersebut juga keheranan karena tangan mereka terasa panas dan hampir terbakar sebaik saja menyentuh tubuh si mayat . Akhirnya mereka memanggil pihak keamanan menyiapkan mayat itu .

Begitulah kisah ngeri lagi memilukan yang menimpa gadis malang tersebut .  Apakah hasratnya memesan sebuah kamar di neraka dimakbulkan Allah ? Na’uzubillah , sesungguhnya Allah itu Maha Berkuasa di atas segala sesuatu . Sangat baik kita jadikan iktibar dan pelajaran dengan kisah benar ini sebagai Muslim sejati. Jangan sesekali kita mempertikaikan hukum Allah maupun sunnah Rasul – Nya saw dengan degradasi atau mengejek. Kata kata seperti ajaran Islam tidak sesuai lagi dengan arus modernitas dunia hari ini atau sembahyang tidak akan buat kita jadi kaya dan sejenisnya adalah kata – kata yang sangat kasar dan menghina Allah , pencipta seluruh alam .

Ingatlah teman , kita bisa melupakan kematian , tetapi kematian tetap akan terjadi kepada kita . Hanya waktunya saja yang akan menentukan kapan kita akan kembali ke alam barzakh . Janganlah menjadi orang yang bodoh , siapakah orang yang bodoh itu ? Mereka itulah orang yang ingin melawan Tuhan Rabbil ‘alamin . Bila Anda enggan melaksanakan perintah Tuhan berarti Anda ingin melawan perintah Tuhan .

Sewaktu di sekolah anda tunduk dengan hukum sekolah , dalam pekerjaan anda tunduk dengan hukum yang digambar oleh majikan anda , di dalam negeri anda tunduk di bawah hukum negara Anda . Begitu terobsesi sekali anda terhadap hukum itu sehingga terlalu prihatin takut kalau melanggar hukum tersebut . Bila anda berpijak di bumi ini , anda juga tunduk dengan hukum yang  telah di gubal oleh yang pemilik yang membuat bumi ini . Sama samalah kita memohon agar Allah selalu memberi kita petunjuk di atas jalan yang benar dan agar Dia memberikan kekuatan agar kita selalu dapat menjaga lidah kita , amin . Kisah ini dibagi dan diceritakan bersama oleh sahabat saya sendiri yang berasal di Malaysia dan kini berada di perantauan sana. [ ]

http://www.akhwatmuslimah.com/2014/03/1737/naudzubillah-kisah-gadis-mesir-yang-memesan-tempat-di-neraka/

Posted by: peribadirasulullah | Mac 4, 2014

Betapa sayangnya Rasulullah SAW kepada umatnya

https://fbcdn-sphotos-h-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn1/t1/s640x640/189041_10151104036410843_1361153700_n.jpg

Betapa besar cinta Rasulullah kepada kita, tetapi sedetik pun kita tak rasa cinta kepada Rasulullah, langsung tidak rasa bersalah apabila meninggalkan sunnah baginda..

“Ya Allah, kau tanamkanlah rasa cinta ku kepada Mu dan Rasul-Mu”.. Tak dapat bayangkan macam mana perasaan para sahabat ketika nabi wafat. Tapi kita sekarang, tak rasa sedih langsung walaupun Rasulullah telah meninggalkan kita.

Daripada Abbas r.a Rasulullah saw bersabda : “Orang yang pertama dibangkitkan dari kubur di hari kiamat ialah Muhammad saw”

Jibrail a.s akan datang kepadanya membawa seekor buraq. Israfil datang membawa bendera dan mahkota. Izrail datang membawa pakaian-pakaian syurga. Israfil bersuara “wahai roh yg baik ! Kembalilah ke tubuh yg baik maka, kubur terbelah dua. Pada seruan yg kedua pula, kubur mula terbongkar. Pada seruan yang ketiga, ketika rasulullah saw berdiri, baginda saw telah membuang tanah di atas kepala dan janggut baginda saw. Baginda saw melihat kanan dan kiri. Baginda saw menangis sehingga mengalir air matanya ke pipi.

Baginda saw bersabda “kekasihku Jibrail! Gembirakanlah aku !”

Jibrail as berkata: “apaakah yang kamu lihat di hadapanmu ?”

Baginda saw bersabda: “bukan seperti itu pertanyaanku.”

Jibrail as berkata: “adakah kamu tidak melihat bendera kepujian yg terpacak di atasmu ?”

Baginda saw bersabda: “bukan itu maksud pertanyaanku.

Baginda saw bersabda: “aku bertanya kepadamu akan umatku. Dimana perjanjian mereka ?”

Baginda saw bersabda: “nescaya akan, kuatlah pertolongan pada hari ini. Aku akan mensyafaatkan umatku.”

Jibrail as menyeru “wahai sekelian makhluk, datanglah kamu semua ke tempat perhimpunan yg telah disediakan oleh Allah taala”

Umat-umat dtg di dlm keadaan satu-satu kumpulan. Setiap kali nabi Muhammad saw berjumpa satu umat baginda saw akan bertanya: “di mana umatku ?”

Jibrail as berkata: “wahai Muhammad! Umatmu adalah umat yang terakhir.” Apabila nabi Isa as dtg, Jibrail as menyeru: tempatmu!” Maka nabi Isa as dan Jibrail as menangis.

Nabi Muhammad saw berkata: “mengapa kamu berdua menangis.” Jibrail as berkata: “bagaimana keadaan umatmu, Muhammad?” Nabi Muhammad bertanya: “dimana umatku ?” Jibrail as berkata: “mereka semua telah dtg. Mereka berjalan lambat dan perlahan.”

Apabila mendengar cerita demekian, nabi Muhammad saw menangis lalu bertanya: “wahai Jibrail! Bagaimana keadaan umatku yg berbuat dosa?”

Jibrail as berkata:,”lihatlah mereka wahai Muhammad saw!”

Nabi Muhammad saw bertemu umatnya yg berdosa. Mereka menangis serta memikul beban di atas belakang mereka sambil menyeru: “wahai Muhammad!”

Nabi Muhammad saw bersabda: “wahai umatku.” Mereka berkumpul di sisinya. Umat-umatnya menangis.

Allah taala berfirman di dalam keaddan dia amat mengetahui sesuatu yg tersembunyi: “di mana umat Muhammad saw?” Jibrail as berkata: “mereka adalah sebaik umat.”

Allah taala berfirman: “wahai Jibrail! Katakanlah kepada kekasihku Muhammad saw bahawa umatnya akan dtg untuk ditayangkan di hadapanku.”

Jibrail as kembali di dalam keadaan menangis lalu bertanya: “wahai Muhammad! Umatmu telah datang untuk ditayangkan kepada Allah taala”

Nabi Muhammad saw berpaling ke arah umatnya lalu berkata: “sesungguhnya kamu telah dipanggil untuk dihadapkan kepada Allah taala”

Allah taala berfirman: “hari ini, kami akan nenbalas setiap jiwa dengan apa yang telah mereka usahakan.

Hari ini, aku akan memuliakan sesiapa yang mentaatiku. Dan, aku akan mengazab sesiapa yang menderhaka terhapaku.

Suara jeritan dan tangisan semakin kuat. Nabi Muhammad saw menyeru: “tuhanku.. Penguasaku penghuluku..! Aku tidak meminta untuk diriku. Sesungguhnya aku meminta untuk umatku darimu!”

Ketika itu juga, mereka jahanam berseru: “siapakah yg memberi syafaat kepada umatnya ?”

Neraka pun berseru: “wahai tuhanku.. Penguasaku dan penghuluku! Selamatkanlah Muhammad dan umatnya dari seksaanya! Selamatkanlah mereka dari kepanasanku. Bara apiku, penyiksaanku dan azabku! Sesungguhnya mereka adalah umat yang lemah. Mereka tidak akan sabar dengan penyeksaan.”

Nabi Muhammad saw lebih-lebih lagi sedih. Air matanya telah hilang dan kering dari pipinya. Sekali, baginda saw sujud di hadapan arsy Allah swt dan sekali lagi, baginda saw rukuk untuk memberi syafaat bagi umatnya.

Para nabi melihat keluh kesah dan tangisannya. Mereka berkata: “maha suci Allah! Hamba yang paling dimuliakan Allah taala ini begitu mengambil bearat, hal keadaan umatnya.

Fatimah r.a bertanya: “di mana aku hendak mendapatkanmu di hari kiamat nanti, wahai bapaku?” Baginda saw menjawab: “kamu akan menjumpaiku di sebuah telaga ketika aku sedang memberi minum umatku.”

Tatkala umat nabi Muhammad sedang mencari mimbar nabi Muhammad untuk mendapatkan syafaat pada hari kiamat

Mariam, Asiah, Khadijah dan Fatimah Az-Zahra sedang duduk. Ketika Mariam melihat umat nabi Muhammad saw dia berkata: “ini umat nabi Muhammad saw. Mereka telah sesat dari nabi mereka.”

Suara Mariam, telah didengari oleh nabi Muhammad saw. Nabi Adam a.s berkata kepada nabi Muhammad saw “ini umatmu, wahai Muhammad! Mereka berkeliling mencarimu untuk meminta syafaat kepada Allah taala”

Nabi Muhammad saw menjerit dari atas minbar lalu bersabda: “marilah kepadaku, wahai umatku! Wahai sesiapa yang beriman dan tidak melihatku. Aku tidak pernah lari dari kamu melainkan aku sentiasa memohon kepada Allah taala untukmu!”

Umat nabi Muhammad saw berkumpul di sisinya. Ketika di atas sirat, nabi Muhammad saw bersabda kepada malaikat malik: “wahai malik! Dengan kebenaran Allah taala ke atasmu, palingkanlah wajahmu dari umatku sehingga mereka dapat melepasi! Jika tidak, hati mereka akan gementar apabila melihatmu.

Nabi Muhammad saw berhenti di atas sirat

Setiap kali, baginda saw melihat seorang dari umatnya bergayut di atas sirat, baginda saw akan menarik tanganya dan membangunkan dia kembali.

Nabi Muhammad saw berkata “tuhan! Selamatkan mereka! Tuhan!  Selamatkan mereka!

Sahabat muslimin dan muslimat…
Pernah kita fikir selama ini adakah kita jalankan segala saranan Rasulullah??
Pernah kita fikir pengorbanan baginda???
Pernah kita ada rasa untuk mencintai baginda???

Pernah kita hargai betapa sayangnya baginda pada kita???
Tika sakaratul mautnya…..
Perkataan apa yang keluar dari mulut baginda???
Ummati…ummati…ummati….

Pernah kita hargai betapa cintanya baginda pada kita???
Tika jasadnya dibangunkan…
Perkataan apa yang keluar dari mulut baginda???
Ummati…ummati…ummati….

YA ALLAH…

tiada kata yang bisa keluar dari mulut ini…
tiada ungkapan yang dapat digantikan dengan betapa kasihnya Rasullullah pada umatnya..

Cintailah Rasulullah saw, kerana sesungguhnya baginda amat menyayangi kita semua khususnya kepada UMATnya yang tercinta. Sayangnya Rasulullah kepada kita….

http://johneox.wordpress.com/sayangnya-rasulullah-kepada-kita/

Posted by: peribadirasulullah | Mac 4, 2014

Kelebihan menyampai dan menyebarkan Ilmu Agama

https://fbcdn-sphotos-d-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn2/t31/p843x403/1085111_10151546700255843_790799138_o.jpg

WAJIB MENYAMPAIKAN ILMU AGAMA DAN KELEBIHANNYA

Firman Allah Taala, maksudnya: “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan dari keterangan-keterangan dan pertunjuk hidayat, sesudah Kami menerangkannya kepada manusia di dalam kitab suci,  mereka itu dilaknat oleh Allah dan dilaknat oleh sekalian makhluk. ” (159, Surah Al-Baqarah).

“Dan (ingatlah!) ketika Allah mengambil perjanjian setia daripada orang-orang yang telah diberikan kitab, iaitu: Demi sesungguhnya hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada umat manusia dan jangan sekali-kali kamu menyembunyikannya ..” (187, Surah Ali Imran).

Hadis Kedua Puluh Tujuh

27- عَنْ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِيُبَلِّغ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ فَإِنَّ الشَّاهِدَ عَسَى أَنْ يُبَلِّغَ مَنْ هُوَ أَوْعَى لَهُ مِنْهُ. (البخاري ومسلم)

27 – Dari Abi Bakrah r.a., dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Hendaklah orang yang hadir (mendengar hadis ku) menyampaikannya kepada orang-orang tidak hadir kerana sesungguhnya diharap orang yang disampaikan hadis itu kepadanya lebih hafaz dan lebih faham daripada yang menyampaikannya.

(Bukhari dan Muslim)

Hadis yang kedua puluh tujuh ini menerangkan bahawa:

(1) Soal menyampaikan ilmu agama adalah menjadi tugas kepada setiap orang yang mengetahuinya.

(2) Orang yang disampaikan kepadanya sesuatu ilmu agama,  boleh jadi ia lebih faham dari orang yang menyampaikannya.

Huraiannya:

1 – Soal menyampaikan ilmu agama: 

Agama Islam adalah agama untuk seluruh umat manusia dan segala bangsa dan dalam setiap masa,  turun temurun hingga hari qiamat. Untuk meneruskan perkembangan Islam dalam segala tempat dan segala zaman itu, Nabi Muhammad s.a.w. , meninggalkan pesannya yang berupa perintah supaya tiap-tiap orang yang mendengar hadis Baginda dan ajaran-ajaran yang dibawanya, menyampaikannya kepada orang yang belum mendengarnya.

Dengan itu nyatalah bahawa tugas menyampaikan sesuatu hadis atau sesuatu hukum agama bukanlah tertentu kepada seseorang dengan jalan dilantik, tetapi dengan sendirinya menjadi kewajipan sesiapa jua yang menghadiri mana-mana majlis pelajaran agama, atau hadis Nabi,  atau hukum-hukum Islam,  menyampaikannya kepada orang-orang yang tidak hadir bersama,  dengan sungguh-sungguh jujur dan amanah. 

Demikianlah seterusnya dari seorang kepada yang lain, masing-masing menjalankan tugas menyampaikan ajaran-ajaran Islam,  walaupun orang yang menyampaikan itu sendiri tidak begitu faham akan maksud hadis atau hukum yang hendak disampaikannya itu.

2 – Kewajipan orang yang disampaikan kepadanya sesuatu ilmu agama:

Orang yang disampaikan kepadanya pelajaran itu, wajib menerimanya. Tentang soal memahami maksud hadis atau hukum yang diterimanya, maka ia tidaklah terikat dengan fahaman orang yang menyampaikannya, bahkan ia boleh menyatakan fahamannya dengan berdasarkan kaedah yang tertentu dalam ilmu agama.

Pendeknya orang yang menyampaikan sesuatu hadis atau sesuatu ilmu agama dan Rasulullah s.a.w. boleh diterima daripadanya walaupun orang itu tidak begitu faham akan hadis atau ilmu yang disampaikannya; dan ia akan beroleh pahala dengan usaha penyampaiannya itu serta dikira dan golongan ahli agama.

Hadis Kedua Puluh Lapan

28- عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ. (البخاري والترمذي)

28 – Dari Abdullah bin ‘Amr ra., dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Sampaikanlah (apa yang kamu dapat) dari ku walau satu ayat sekalipun; dan ceritakanlah (apa yang sampai kepada kamu) darihal Bani Israel dan (dalam pada itu) tidak ada salahnya (kalau kamu tidak ceritakan). Dan (ingatlah!) sesiapa yang berdusta terhadapku dengan sengaja,  maka hendaklah ia menyediakan tempatnya dalam neraka. 

(Bukhari dan Tirmizi)

Hadis yang kedua puluh lapan ini menerangkan bahawa:

(1) Ilmu agama,  walau sedikit sekalipun, wajib juga disampaikan.

(2) Kisah-kisah Bani Israel boleh diceritakan.

(3) Balasan buruk bagi orang yang berbuat dusta terhadap Rasulullah s.a.w.

Huraiannya:

1 – Soal menyampaikan ilmu agama:

Ilmu agama tidak harus sama sekali disembunyikan, bahkan tiap-tiap seorang yang mengetahuinya wajib menyampaikannya kepada orang yang belum mengetahuinya walau pun ilmu itu hanya satu ayat dan Al-Qur’an atau satu hadis atau satu hukum. Dengan itu akan tersebarlah ilmu pengetahuan dan hukum-hukum Islam kepada seluruh umat manusia sebagaimana yang ditugaskan kepada Rasulullah s.a.w. dan umatnya.

2 – Kisah-kisah Bani Israel: 

Kisah-kisah Bani Israel tidak salah diceritakan, asalkan kisah-kisah itu tidak diyakini dustanya. Itu pun mana-mana yang mengandungi pengajaran dan mendatangkan iktibar, seperti kisah kaum yang diperintahkan membunuh diri untuk bertaubat dan dosa mereka menyembah patung anak lembu, dan kisah kaum yang telah diubah keadaan mereka kepada keadaan monyet dan babi kerana kesalahan mereka melanggar perintah dengan melakukan tipu helah.

3 – Balasan berbuat dusta terhadap Nabi Muhammad S.A.W. 

Dalam hal menyampaikan apa yang datang dari Rasulullah s.a.w., tiap-tiap seorang hendaklah berhati-hati supaya ia tidak melakukan sesuatu yang dusta terhadap Baginda dengan mengatakan perkara yang disampaikannya itu berpunca dari Baginda pada hal yang sebenarnya tidak demikian.

Memperkatakan sesuatu yang dusta terhadap Baginda amat buruk kesannya kepada ajaran dan hukum-hukum Allah yang dibawa oleh Baginda. Oleh itu sesiapa yang sengaja melakukan perkara yang demikian maka berhaklah ia menerima azab seksa yang dijanjikan oleh Baginda dalam hadisnya ini.

Al-Ubbi, ahli hadis yang terkenal pensyarah kitab Sahih Muslim mengingatkan dengan berkata:  perkara yang hampir kepada dusta atau yang berupa dusta,  ialah memperkatakan kalimah-kalimah dalam hadis Nabi dengan sebutan yang salah (yang tidak menurut kaedah Bahasa!Arab); oleh itu, maka tiap-tiap seorang yang beriman hendaklah berjaga-jaga dengan bersungguh-sungguh mengenai hal yang tersebut. Demikianlah juga diperingatkan oleh Imam Nawawi. Al-Ubbi berkata lagi: Sebagai bukti tentang apa yang dikatakan oleh Imam Nawawi dalam hal ini, ialah apa yang telah disalinkan oleh Ibnu Al-Salah dan Al-Asma’i yang pernah mengatakan: “Bahawa perkara yang sangat dibimbangkan terhadap seseorang penuntut ilmu hadis apabila ia tidak mengetahui ilmu Bahasa Arab, akan termasuk (di antara orang-orang) yang dimaksudkan oleh Nabi s.a.w. (sesiapa yang berdusta terhadapku dengan sengaja,  maka hendaklah ia menyediakan tempatnya di dalam neraka), kerana Baginda tidak pernah menuturkan sabdanya dengan cara yang salah pada kaedah-kaedah Bahasa Arab, maka pada bila-bila masa sahaja engkau meriwayatkan hadis dan Baginda dan engkau menyebutnya dengan cara yang salah, bermakna engkau berdusta terhadap Baginda!”.

Dengan yang demikian – kata Ibnu Al-Salah lagi – adalah menjadi tanggungan seseorang penuntut hadis untuk mempelajari Nahu dan ilmu bahasa Arab sekadar yang dapat menyelamatkan dirinya dari perbuatan menuturkan hadis-hadis dengan cara yang salah dan dari merosakkan maksudnya yang sebenar serta dari akibatnya yang buruk. 

Bagi pembaca-pembaca hadis Rasulullah s.a.w., hendaklah mereka menerima bacaan Hadis itu dari mulut ahli ilmu hadis yang menjaga dan memelihara sebutannya dengan betul,

Hadis Kedua Puluh Sembilan

29- عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أَلْجَمَهُ اللَّهُ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. (أبو داود والترمذي)

29- Dari Abu Hurairah, r.a., dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Sesiapa yang ditanyakan kepadanya mengenai sesuatu ilmu (agama), lalu ia menyembunyikannya nescaya Allah mengekang mulutnya dengan kekang dari api neraka,  pada hari qiamat kelak.”

( Abu Daud dan Tirmizi)

Hadis yang kedua puluh sembilan ini menerangkan tentang:

Balasan yang seburuk-buruknya bagi orang yang menyembunyikan ilmu agama.

Huraiannya:

Sebagaimana yang sedia diketahui, bahawa soal menyampaikan ilmu agama adalah suatu perintah yang ditetapkan oleh Allah Taala dan Rasul Nya Nabi Muhammad s.a.w. , .iaitu tiap-tiap seorang yang mengetahui sesuatu masalah agama,  dituntut menyampaikannya kepada orang lain, sebagaimana ia dituntut mengamalkannya untuk kebaikan dirinya sendiri, kerana tujuan ilmu agama itu dipelajari ialah untuk diamalkan dan mendatangkan faedah,  sama ada kepada diri sendiri atau kepada orang lain.

Oleh itu, sesiapa yang menyembunyikan sesuatu masalah agama,  atau tidak mahu menyebarkannya atau menerangkannya kepada orang yang bertanyakan masalah itu kepadanya, sudah tentu ia menentang perintah Allah dan Rasul-Nya dan menentang tujuan ilmu yang ada padanya. Dengan yang demikian, sudah sepatutnya ia dikenakan azab seksa yang seberat-beratnya sebagaimana yang tersebut dalam Hadis ini.

Berdasarkan hadis yang tersebut dan juga Hadis-hadis yang lain yang berhubung dengannya, alim ulama membuat kesimpulan bahawa orang yang ditanyakan kepadanya sesuatu masalah agama, wajiblah ia menerangkannya, dengan syarat: 

Pertama – Orang yang bertanya itu berhak mengetahui masalah yang ditanyakan;

Kedua – Masalah yang ditanyakan itu dari perkara-perkara “fardu ain” kepadanya!

Hadis Ketiga Puluh

30عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٍ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ وَرَجُلٍ آتَاهُ اللَّهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا. (البخاري ومسلم والترمذي)

30 – Dari Ibnu Mas’ud, r.a., dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Tidak digalakkan adanya perasaan iri hati melainkan kepada dua keadaan:  (Pertama) keadaan orang yang dikurniakan Allah harta benda, serta menjadikannya menguasai dirinya menghabiskan hartanya itu pada perkara kebajikan yang sebenar-benarnya; dan (kedua) keadaan orang yang dikurniakan Allah ilmu pengetahuan agama, lalu ia beramal dengannya dan mengajarkannya.”

(Bukhari, Muslim dan Tirmizi)

Hadis yang ketiga puluh ini menerangkan tentang:

Dua Kelebihan yang sangat-sangat digalakkan beriri hati kepadanya.

Huraiannya:

Nikmat-nikmat yang diberikan Allah kepada hambanya amatlah banyak,  tidak terhitung. Di antaranya dua perkara yang sangat tinggi nilainya dan besar kelebihannya untuk mencapai keredhaan Allah Taala.

Yang pertama – nikmat pemberian harta benda kepada seseorang yang dapat menguasai dirinya dan berjaya mengalahkan perasaan tamak halubanya, sehingga dapatlah ia membelanjakan hartanya itu pada perkara kebajikan yang sebenar-benarnya, bukan membelanjakannya dengan cara membazir atau kerana riak atau kerana menurut kemahuan nafsunya semata-mata.

Kedua – nikmat pemberian ilmu pengetahuan agama kepada seseorang yang menyedari tugasnya, lalu menggunakan ilmunya itu untuk mengamalkannya dan mengajarkannya kepada orang lain.

Rasulullah s.a.w. menerangkan dalam hadis ini: Bahawa dua nikmat pemberian yang tersebut amatlah besar kelebihannya sehingga mustahaklah tiap-tiap seorang beriri hati dan berusaha dengan bersungguh-sungguh semoga Allah mengurniakannya nikmat-nikmat itu supaya dapatlah ia menggunakannya menurut cara yang sebaik-baiknya seperti yang digunakan oleh dua orang yang tersebut.

Dengan berlakunya keadaan yang demikian, maka sempurnalah kebaikan seseorang meliputi jasmaninya dan rohaninya.

Hadis Ketiga Puluh Satu

31- عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا. (مسلم وأبو داود والترمذي)

31 -Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Sesiapa yang mengajak ke jalan mengerjakan sesuatu amal yang baik,  adalah baginya pahala sebanyak pahala orang-orang yang menurutnya, dengan tidak mengurangi sedikit pun pahala itu dari pahala-pahala mereka; dan (sebaliknya) sesiapa yang mengajak ke jalan mengerjakan sesuatu amal yang menyesatkan,  adalah ia menanggung dosa sebanyak dosa orang-orang yang menurutnya, dengan tidak mengurangi sedikit pun dosa itu dan dosa-dosa mereka.”

(Muslim, Abu Daud dan Tirmizi)

Hadis yang ketiga puluh satu ini menerangkan: 

Kelebihan orang yang mengajak mengerjakan amal yang baik dan sebaliknya.
Huraiannya:

Sesuatu amal kebajikan, atau sesuatu perkara yang menyesatkan,  banyak juga dilakukan orang dengan sebab ajakan atau pimpinan atau pun arahan orang lain. Demikian pula orang yang mengajak itu, banyak juga dapat menarik orang-orang melakukan perkara-perkara yang disebarkannya itu sama ada baik atau buruk. 

Oleh itu, sesiapa yang mengajak melakukan sesuatu perkara, maka ia adalah bertanggungjawab terhadap perkara itu.

Dalam hadis ini, Rasulullah s.a.w. menegaskan bahawa setiap orang yang mengajak ke jalan mengerjakan sesuatu amal salih, sama ada amal itu kecil atau besar,  maka ia diberi pahala sebanyak pahala yang didapati oleh orang yang menurut ajakannya, kerana dialah yang berusaha menyebabkan amal yang baik itu tersebar dikerjakan orang.

Sebaliknya, sesiapa yang mengajak ke jalan melakukan sesuatu amalan sesat,  maka ia akan menanggung dosa,  sebanyak dosa yang ditanggung oleh orang-orang yang menurut ajakannya, kerana dialah yang berusaha menyebabkan perkara yang menyesatkan itu tersebar dilakukan orang.

Demikianlah besarnya kelebihan dan kebaikan yang akan didapati oleh orang-orang yang mengajak, memimpin, menunjuk dan menyebabkan berlakunya sesuatu amalan yang diredhai Allah;  dan sebaliknya amatlah besar padahnya bagi orang-orang yang menyebabkan berlakunya sebarang perkara yang dimurkai Allah `Azza wa Jalla.

Hadis Ketiga Puluh Dua

32- عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ عَنْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ غَيْرَهُ فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ. (الترمذي وأبو داود)

32 – Dari Zaid bin Thabit r.a., dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Semoga Allah menyerikan wajah dan memperelokkan keadaan orang yang mendengar dari kami sebarang hadis lalu ia memeliharanya (dengan ingatannya atau dengan tulisannya), supaya ia dapat menyampaikannya (kepada orang lain); – kerana boleh jadi ada pembawa sesuatu hadis hukum kepada orang yang lebih faham daripadanya dan boleh jadi juga pembawa sesuatu hadis hukum itu, ia sendiri bukanlah seorang yang memahaminya.”(Tirmizi dan Abu Daud)

Hadis yang ketiga puluh dua ini menerangkan tentang:

(1) Kelebihan orang yang berkhidmat memelihara hadis-hadis Rasulullah s.a.w.

(2) Orang yang menyampaikan hadis disyaratkan “Hafaznya” tidak disyaratkan “Fahamnya”.

Huraiannya;

(1) Kelebihan orang yang berkhidmat memelihara Hadis-hadis Nabi S.A.W.

Orang-orang yang memelihara hadis-hadis Rasulullah s.a.w. amatlah besar jasanya! Apabila mendengar sesebuah hadis,  mereka menghafaznya atau menulisnya dengan cermat,  kemudian mereka menghebahkannya dengan sepenuh tanggungjawab.  Ini bermakna mereka bekerjasama dengan Rasulullah s.a.w. menunaikan kewajipan dalam hal mengembangkan agama Islam yang dibawa oleh Baginda. Dengan yang demikian, sudah selayaknya perkhidmatan mereka mendapat balasan yang sebaik-baiknya.

Dalam hadis ini, Rasulullah s.a.w menegaskan bahawa perkhidmatan mereka dihargai oleh Baginda dengan mendoakan semoga Allah Taala menyerikan wajah mereka dan menjadikan mereka berpuas hati dengan nikmat-nikmat yang dikurniakan kepada mereka di dunia dan di akhirat.

(2) Orang yang menyampaikan hadis disyaratkan menghafaznya dan memeliharanya betul-betul, tidak disyaratkan memahaminya.

Hadis-hadis Rasulullah s.a.w. hendaklah disebarkan. Apa yang mesti disebarkan itu ialah kata-kata yang disabdakan oleh Baginda.

Ada pun tentang makna maksud hadis-hadis itu, terpulanglah kepada masing-masing memahaminya, kerana boleh jadi orang yang menyampaikan sesebuah hadis itu tidak memahaminya atau kurang mendalaminya, meskipun demikian, ia berkewajipan juga menyebarkannya. Dalam pada itu, boleh jadi orang yang disampaikan kepadanya itu boleh memahami lebih mendalam dari orang yang menyampaikannya.

http://www2.islamgrid.gov.my/frame2/mastika-hadith-rasulullah-saw-rumi

https://www.facebook.com/ImamWaleed

Posted by: peribadirasulullah | Mac 4, 2014

27 Perkara menyebabkan rosaknya Iman dan Islam

https://fbcdn-sphotos-d-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn2/t1/s403x403/1456088_10151965037075843_1097031380_n.jpg

Perkara-perkara yang menyebabkan rosaknya iman dan Islam itu terbahagi kepada tiga bahagian. 

Bahagian yang pertama:

(1) I’tiqad kepercayaan yang bertentangan dengan dasar-dasar Islam,  I’tiqad bahawa alam ini qadim, tidak ada penciptanya, atau alam ini kekal selama-lamanya. 

(2) I’tiqad bahawa pencipta alam ini baharu, atau menyerupai mana-mana jenis makhluk atau bersifat dengan sifat-sifat baharu, atau pun mempunyai anak isteri,  atau berbilang-bilang atau menerima mati. 

(3) I’tiqad menafikan kebenaran apa yang disampaikan oleh Rasulullah s.a.w., atau i’tiqad bahawa Nabi Muhammad yang sebenar ialah yang disebutnya Muhammad yang batin bukan Muhammad yang zahir,  atau i!tiqad bahawa kerasulan Nabi Muhammad s.a.w. , hanya untuk orang-orang Arab sahaja, atau i’tiqad bahawa hukum-hukum Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w.  ialah hukum-hukum lapuk yang tidak sesuai dengan keadaan zaman,  atau i’tiqad mengingkari mana-mana Rasul Tuhan,  atau i’tiqad bahawa ada lagi Nabi dan Rasul yang lain yang diutus oleh Allah membawa syariat sesudah Nabi Muhammad s.a.w., Khatam an-Nabiyyin.

(4) – I’tiqad bahawa tidak ada dosa dan pahala,  tidak ada Syurga dan Neraka,  tidak ada bangkit hidup semula sesudah mati,  tidak ada hari qiamat dan segala perkara yang berlaku padanya.

(5) I’tiqad bahawa roh orang-orang mati berpindah-pindah dari satu tubuh ke satu tubuh yang lain.

(6) I’tiqad agama kafir lebih baik dari agama Islam. 

(7) Perasaan ragu-ragu terhadap mana-mana satu dari perkara-perkara yang tersebut di atas.

(8) Berbalik-balik hati di antara hendak menjadi kafir atau tidak, atau bercita-cita hendak menjadi kafir pada masa yang akan datang. 

Bahagian yang kedua:

Perkataan, iaitu tiap-tiap perkataan yang mencaci,  menghina,  merendah-rendah, mengejek-ngejek dan mempermain-mainkan nama Allah,  sifat-sifat-Nya, Malaikat-malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, Kitab-kitab-Nya, Ayat-ayat-Nya dan Hukum-hukum-Nya serta hukum-hukum yang diterangkan oleh Rasul-Nya.

Dan juga perkataan yang menolak,  menafi dan mengingkari segala perkara yang sekata alim ulama menthabitkannya atau menafikannya serta diketahui oleh orang ramai bahawa perkara itu dari agama. 

Misalnya seperti katanya mengenai mana-mana hukum Islam:

(1) “Hukum apa ini?”

(2) “Hukum ini sudah lapuk.”

(3) “Zaman sekarang tak patut diharamkan riba kerana menghalangi kemajuan.”

(4) “Dalam zaman yang serba maju ini kaum wanita tak perlu dibungkus-bungkus.”

(5) “Berzina kalau suka sama suka apalah haramnya?”

(6) “Minum arak kalau dengan tujuan hendak menyihatkan badan untuk beribadat apa salahnya?”

(7) “Berjudi kalau masing-masing sudah rela menerima untung ruginya apa salahnya?”

(8) “Kalau hendak sangat menurut hukum-hukum Islam sampai qiamat kita tak maju. “

(9) Berkata:  “Perbuatan yang demikian tidak beradab” – apabila diceritakan bahawa Nabi Muhammad s.a.w., selepas makan:  Menjilat sisa makanan di jarinya.

(10) Berkata:  “Aku tak mahu memotong kuku sekalipun sunat” – apabila diberitahu bahawa memotong kuku adalah sunat. 

(11) Berkata: “Si anu dah mula menyalak” – semasa ia mendengar azannya.

(12) Membaca ayat-ayat suci,  hadis-hadis Nabi dan nama-nama Tuhan dengan cara mempersenda dan mempermain-mainkannya.

(13) Kata-kata mengkafirkan seseorang Islam, pada hal orang itu tidak diyakini ada padanya sesuatu sebab yang menjadikannya kafir, sebagaimana yang diterangkan oleh hadis Ibn Umar yang diriwayatkan oleh Muslim.

(14) Kata-kata menggantungkan jadi kafir dengan sesuatu keadaan. 

Misalnya

(a) Seseorang dituduh melakukan sesuatu perkara, lalu ia berkata: “Kalau aku lakukan perkara itu jadilah aku kafir”, sekiranya ia berdusta, yakni ia sebenarnya telah melakukan perkara yang dituduhkan kepadanya itu, maka jadilah ia kafir, kecuali kata-kata itu dituturkan dengan tujuan hanya hendak melepaskan diri dari tuduhan itu sahaja, bukan dengan tujuan redhanya menjadi kafir.

Sungguhpun demikian ia telah melakukan dosa besar dengan kata-kata yang tersebut, dan sekiranya ia benar,  yakni ia tidak melakukan perkara yang dituduh orang kepadanya, maka tidaklah ia menjadi kafir, tetapi ia berdosa kerana perkatannya itu memberi erti ketiadaan tetap keazamannya berpegang teguh kepada agama Islam.

(b) Seseorang diingatkan supaya jangan ia berzina umpamanya, lalu ia berkata: “Kalau aku berzina kafirlah aku”, sekiranya kata-kata itu dituturkan dengan tujuan tidak redha mencemarkan dirinya dengan perbuatan zina seperti tidak redhanya menjerumuskan dirinya menjadi kafir, maka tidaklah ia menjadi kafir, tetapi ia berdosa dengan menggunakan perkataannya itu dengan alasan yang tersebut; dan sekiranya kata-kata itu dituturkan dengan tujuan redha menjadi kafir kalau ia lakukan perbuatan zina maka jadilah ia kafir dengan kata-katanya yang tersebut, kerana apabila seseorang Islam redhakan kufur,  menjadilah ia kafir (Murtad), Wal Iyazubillah. Hukum yang tersebut terkandung dalam hadis Thabit bin al-Dhahak, yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ibn Majah.

Bahagian yang ketiga:

Perbuatan, iaitu:

(1) Tiap-tiap perbuatan yang dilakukan untuk menghormati dan mengagungkan mana-mana makhluk dengan cara yang ditentukan hanya untuk membesar dan mengagungkan Allah, seperti sujud kepada makhluk walau pun tidak dengan niat untuk menghormatinya sama seperti Tuhan,  atau tunduk kepada mana-mana makhluk sehingga sampai had sekurang-kurangnya ruku’ sembahyang dengan tujuan menghormatinya seperti menghormati Allah; kalau tidak dengan tujuan itu maka tidaklah menjadikan orang yang melakukan itu murtad,  tetapi hukumannya tetap haram. 

(2) Melakukan upacara ibadat terhadap sesuatu makhluk yang disembah oleh orang-orang kafir menurut upacara yang mereka lakukan.

(3) Melakukan mana-mana cara ibadat terhadap yang lain dari Allah Azza wa Jalla. 

(4) Meletakkan ayat-ayat suci,  hadis-hadis Nabi,  nama-nama Tuhan, Rasul-rasul-Nya, Malaikat-Nya dan Ilmu-ilmu agama di tempat najis atau kotor dengan tujuan menghina dan merendah-rendahkannya; kalau tidak dengan tujuan yang tersebut maka hukumannya tetap haram.  Demikian juga haramnya menggunakan kertas-kertas yang tertulis padanya Ayat-ayat suci, Hadis-hadis Nabi dan Nama-nama Allah serta ilmu agama untuk membungkus, mengesat serta menyapu sesuatu; tetapi kalau perbuatan yang dilakukan itu dengan tujuan menghina atau mempersenda-sendakannya maka orang yang melakukan itu menjadi murtad. 

(5) Meninggalkan sembahyang. 

Orang yang meninggalkan sembahyang fardu,  jika ia ingkarkan wajibnya, jadilah ia kafir murtad keluar dari agama Islam,  kerana ia mengingkari satu perkara yang memang diketahui oleh orang ramai bahawa perkara itu adalah satu perkara yang wajib di atas tiap-tiap orang Islam, selama akalnya sihat.

Kalau ditinggalkan dengan sebab malas sahaja, pada hal ia i’tiqadkan wajibnya, maka mengenai orang ini alim ulama berselisih kepada tiga pendapat: 

Pertama – Orang itu tidak menjadi kafir, tetapi ia menjadi fasik yang wajib atas pihak yang berkuasa bertindak menyuruhnya berbuat kembali mengerjakan sembahyang, dan sekiranya ia tidak mahu bertaubat maka kenalah dilakukan ke atasnya “Hukuman Had” iaitu dibunuh dengan pedang. 

Kedua – Orang itu jadi kafir juga, sama dengan keadaan orang yang mengingkari wajibnya.

Ketiga – Orang itu tidak menjadi kafir dan tidak pula dibunuh, tapi di “Ta’zir” dengan dipenjarakan sehingga ia mengerjakan sembahyang.

Ketiga-tiga pendapat yang tersebut serta alasan-alasannya diterangkan oleh al-Imam al-Nawawi dalam Syarah Muslim, mengenai hadis Jabir yang menyatakan keburukan orang yang meninggalkan sembahyang yang termaklum.

Perkara-perkara yang diterangkan satu-persatu di atas itu adalah sebahagian dari misal-misal yang disebutkan oleh alim ulama bahawa orang yang melakukannya menjadi murtad. Mereka menetapkan hukuman yang tersebut dengan berdasarkan: Ayat 40 Surah Yusuf,  ayat 65 Surah al-Taubah, Ayat 37 Surah Fussilat dan ayat-ayat Surah al-Kafirun serta hadis Mu’az bin Jabal yang diriwayatkan oleh Ibn Majah, dan hadis Qais bin Sa’ad yang diriwayatkan oleh Abu Daud.  Maksud kedua-dua hadis itu: Bahawa Rasulullah s.a.w., melarang mereka sujud kepada Baginda s.a.w., serta menerangkan bahawa tidak harus seseorang sujud kepada yang lain dari Allah. 

Dengan keterangan yang tersebut hendaklah diingat bahawa seseorang yang cintakan keselamatan dirinya dan agamanya, jangan sekali-kali mendekati, apa lagi melakukan, sebarang perkara yang hukumnya berkisar di antara jadi murtad dan berdosa besar.  Semoga Allah selamatkan kita dengan taufik dan hidayat-Nya.

Cara-cara masuk Islam:

Mana-mana orang yang hendak masuk Islam, sama ada orang murtad atau orang kafir asli, hendaklah ia menyempurnakan perkara-perkara yang berikut:

(1) Melafazkan dua kalimah syahadat:

  أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

Memadai juga menyebut erti “dua kalimah syahadat” itu dengan bahasa sendiri serta mengakui maksud kandungannya.

Memadai menyebut yang demikian bukan sahaja kepada orang yang tidak mengetahui Bahasa Arab bahkan juga kepada orang yang mengetahui bahasa itu.

Juga memadai dengan menyatakan pengakuan hatinya bahawa: Allah ialah Tuhan Yang Maha Esa dan Nabi Muhammad s.a.w., ialah utusan Allah.

(2) Kepada orang kafir yang berfahaman bahawa kerasulan Nabi Muhammad s.a.w., itu hanya kepada bangsa Arab sahaja – hendaklah ditambah pengakuannya bahawa: Kerasulan Baginda s.a.w., umum kepada umat manusia seluruhnya.

(3) Kepada orang yang menjadi murtad dengan mana-mana satu sebab yang diterangkan dahulu, hendaklah ditambah pengakuannya:Bahawa ia bertaubat daripada melakukan perkara yang dengan sebabnya dia telah menjadi murtad.

Semoga Allah menjauhkan kita dari segala apa jua yang merosakkan iman dan Islam, dengan mengurniakan kita taufik dan hidayat ke jalan keselamatan dan kebahagiaan.

http://www2.islamgrid.gov.my/frame2/mastika-hadith-rasulullah-saw-rumi

Posted by: peribadirasulullah | Mac 4, 2014

Apabila Kemuliaan Islam dibeli oleh wanita eropah

https://fbcdn-sphotos-d-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn2/t1/1508184_372108976262780_1135775576_n.jpg

Diceritakan seorang wanita muslimah berpurdah sedang membeli-belah di salah satu pasaraya di Perancis.

Setelah selesai mendapatkan barang-barang yg dicarinya, dia segera pergi ke kaunter utk membayar.
Kebetulan cashier yg ditujunya adalah seorang wanita keturunan Arab yg berpakaian tdk menutup auratnya.

Cashier tersebut memandang wanita berpurdah itu dgn pandangan mengejek, kemudian dia mulai mengira nilai barang belanjaan wanita tersebut sambil melemparkannya dgn kasar ke atas meja.

Namun wanita berpurdah itu tdk terpengaruh dgn provokasi wanita cashier itu, dia tetap tenang, bahkan sangat tenang, hingga membuat wanita cashier semakin geram dan tdk dpt lagi menguasai diri, lalu berkata dengan nada memperlekehkan,

“Kita mempunyai berbagai masalah dan permasalahan di sini, Purdah kamu ini adalah salah satu masalah. Kita datang ke sini untuk mencari duit, bukan untuk pamer agama maupun sejarah. Kalau kamu mau menjalani agama atau mengenakan purdah, pergilah sana ke negerimu dan jalani agamamu sesukamu.”

Wanita berpurdah itu berhenti memasukkan barang belanjaannya ke dalam troli, lalu memandang wanita cashier tersebut… Dia membuka purdahnya dan ternyata dia adalah wanita kulit putih, dgn sepasang mata biru, lalu dia berkata,
“Aku adalah wanita Perancis asli, begitu pula ayah dan nenekku. Ini adalah Islam-ku dan ini adalah negeriku. Kamu telah menjual agama kamu, sementara kami membelinya.

Subhanallah

Semoga cerita yang sederhana ini dapat memberi pengajaran
yang berharga dalam perjuangan dan mempertahankan agama Allah
♥|LIKE|SHARE|COMMENT|♥ Islam Di Hatiku

Islam Agama Ku
Islam Agama Ku’s Photos
Posted by: peribadirasulullah | Mac 4, 2014

Al-Quran dalam mangkuk tandas selepas gejala murtad di Pantai Timur

https://fbcdn-sphotos-b-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn2/t1/1456084_667455556634689_1834889552_n.jpg

Apa yang berlaku di masjid kampung Limbongan kota putera Besut pagi tadi tidak sepatutnya berlaku dinegara yang kita dakwa dan sebut majoriti ummat Islam ini, apabila al Quran dicampak dalam tandas dan kemudian di selerakkan dalam masjid sudah cukup mengambarkan tragisnya iman ummat Islam pada hari ini, mudahan peristiwa ini tidak dilakukan oleh mereka yang berakal yang waras tetapi dilakukan oleh mereka yang hilang kewarasannya!! diharap pihak berkuasa segera mengambil tindakkan.. cukuplah dgn mereka yang menghina hadis sahaja yang belum didakwa, lebih parah peristiwa seumpama ini pula!!.. ummat akhir zaman!!

https://www.facebook.com/UstazAhmadDusuki

Selasa, 4 Mac 2014

Penduduk di Kampung Limbongan di Besut dan sekitarnya hari pagi tadi digempar apabila menyedari ada pihak tidak bertanggungjawab menceroboh masjid kampung itu dan merosakkan beratus-ratus naskhah Al-Quran dan kitab hari ini.

Dalam kejadian yang disedari kira-kira pukul 2.30 pagi itu, Al-Quran, kitab dan buku yasin milik masjid itu didapati dibuang merata tempat termasuk di dalam dan luar kawasan masjid berkenaan, setelah dikoyak-koyakkan.

Yang menyedihkan terdapat beberapa naskhah Al-Quran dibuang ke dalam mangkuk tandas.

Laporan Polis seperti dilampirakan di bawah:-
As salam YDH Tuan. Untuk makluman YDH Tuan. Bersabit Kg Raja Rpt: 1071/14, P/Penyiasat: Insp.Azira Bt Md Razak, 4/3/2014@0310hrs

Butir-butir Pengadu:
Nama: Engku Mi Bin Engku Hassan
Kp: 530105065037
Umur: 61
Kerja: Berniaga/KRT/SRS
Alamat: 1394 Kg Limbonhan 22200 Kg Raja Besut Trg


Ringkasan kes:

Pada 4/3/2014 jam lebih 1.30 pagi semasa pengadu sedang buat rondaan KRT/SRS di kawasan Kg Limbongan Kg Raja Besut Trg telah singgah di Masjid Kg Limbongan dapati dalam keadaan baik.

Seterusnya pengadu buat rondaan dan singgah di rumah kediaman YB Mahadi Bin Musa yang terletak berhampiran. Pada 4/3/2014 jam l/kurang 2.30 pagi pengadu pergi semula ke kawasan Masjid Kg Limbongan Kg Raja telah dimaklumkan oleh anggota SRS yang membuat rondaan bermotorsikal mengatakan bahawa telah menjumpai Al-Quran dalam keadaan berselerak di depan tangga pintu masuk masjid, di dalam mangkuk tandas,dan di tempat solat. Terdapat juga barang-barang lain seperti kipas dinding dan pintu sliding tempat solat telah dirosakkan dan di pecahkan. Pengadu syaki perbuatan tersebut dikhianati oleh orang yang tidak dikenalpasti.

Hasil siasatan IO:

(1) temubual dan rakam percakapan pengadu.

(2) Hasil rakaman percakapan pengadu dapati pengadu tidak kenalpasti saspek yang melakukan perbuatan tersebut. Menurut pengadu tiada saksi yang nampak semasa kejadian berlaku.

(3) Ke tempat kejadian bersama Jurufoto Kpl/D Ramli Sulaiman iaitu Tempat kejadian adalah di Masjid Kg Limbongan Kg Raja Besut Trg. Tiada alat CCTV dipasang.

(4) Pohon bantuan Unit Forensik D10 IPK Trg untuk siasatan lanjut tempat kejadian di ketuai oleh Insp Shamendra.

(5) Arahkan CPJ/Detektif dapatkan maklumat lanjut dan kesan saspek yang disyaki.
Perkembangan lanjut akan dimaklum semula.Terima kasih YDH Tuan.


Al Quran Berselerak
Sekitar tangga Masjid
Dalam Mangkuk tandas      
 

Mengikut papaan CCTV ada 2 kelibat masuk dengan memakai top keledar pada pukul 11.28 malam. Daripada pergerakan yang terus ke hadapan mimbar menunjukkan kelibat berkenaan agak mahir dengan kedudukan masjid dan ini dipercayai adalah orang Islam sendiri.

Walaubagaimana pun pihak polis masih belum mengesahkannya melainkan siasatan rapi dibuat.

Ada kesan darah pada muka hadapan pintu masjid dipercayai adalah kesan darah kaki kelibat yang menyempak peralatan masjid dan pintu ketika ingin masuk masjid.

Perkara ini sedang disiasat termasuk dengan bantuan anggota forensik yang didatangkan dari Ibu pejabat Kontinjen Polis Kuala Terengganu dan penduduk dan masyarakat Islam diminta bertenang.

Sila layari blog dibawah untuk melihat video perbuatan terkutuk terhadap Al-Quran di

1 Malaysia :

http://tempayanretak.blogspot.com/2014/03/rosak-al-quran-di-kg-limbongan.html

Posted by: peribadirasulullah | Mac 3, 2014

Wanita yang berbicara menggunakan ayat Al-Quran

https://fbcdn-sphotos-e-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash3/t1/1622267_267899910036919_1315433696_n.jpg

Semoga Catatan ini bisa menjadi bahan Renungan Buat Kita Tentang
Pentingnya menjaga Lidah Kita karena kelak semua yang keluar dari mulut kita akan
dimintai pertangungjawaban
Berkata Abdullah bin Mubarak Rahimahullahu Ta’ala :
Saya berangkat menunaikan Haji ke Baitullah Al-Haram, lalu berziarah ke makam
Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam. Ketika saya berada disuatu sudut jalan, tiba-tiba saya
melihat sesosok tubuh berpakaian yang dibuat dari bulu. Ia adalah seorang ibu yang sudah
tua. Saya berhenti sejenak seraya mengucapkan salam untuknya. Terjadilah dialog dengannya beberapa saat.
Dalam dialog tersebut wanita tua itu , setiap kali menjawab pertanyaan Abdulah bin
Mubarak, dijawab dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an. Walaupun jawabannya tidak
tepat sekali, akan tetapi cukup memuaskan, karena tidak terlepas dari konteks pertanyaan
yang diajukan kepadanya.
Abdullah : “Assalamu’alaikum warahma wabarakaatuh.”
Wanita tua : “Salaamun qoulan min robbi rohiim.” (QS. Yaasin : 58) (artinya : “Salam
sebagai ucapan dari Tuhan Maha Kasih”)
Abdullah : “Semoga Allah merahmati anda, mengapa anda berada di tempat ini?”
Wanita tua : “Wa man yudhlilillahu fa la hadiyalahu.” (QS : Al-A’raf : 186 ) (“Barang siapa
disesatkan Allah, maka tiada petunjuk baginya”)
Dengan jawaban ini, maka tahulah saya, bahwa ia tersesat jalan.
Abdullah : “Kemana anda hendak pergi?”
Wanita tua : “Subhanalladzi asra bi ‘abdihi lailan minal masjidil haraami ilal masjidil aqsa.”
(QS. Al-Isra’ : 1) (“Maha suci Allah yang telah menjalankan hambanya di waktu malam dari
masjid haram ke masjid aqsa”)
Dengan jawaban ini saya jadi mengerti bahwa ia sedang mengerjakan haji dan hendak
menuju ke masjidil Aqsa.
Abdullah : “Sudah berapa lama anda berada di sini?”
Wanita tua : “Tsalatsa layaalin sawiyya” (QS. Maryam : 10) (“Selama tiga malam dalam
keadaan sehat”)
Abdullah : “Apa yang anda makan selama dalam perjalanan?”
Wanita tua : “Huwa yut’imuni wa yasqiin.” (QS. As-syu’ara’ : 79) (“Dialah pemberi aku
makan dan minum”)
Abdullah : “Dengan apa anda melakukan wudhu?”
Wanita tua : “Fa in lam tajidu maa-an fatayammamu sha’idan thoyyiban” (QS. Al-Maidah :6)
(“Bila tidak ada air bertayamum dengan tanah yang bersih”)

Abdulah : “Saya mempunyai sedikit makanan, apakah anda mau menikmatinya?”
Wanita tua : “Tsumma atimmus shiyaama ilallaiil.” (QS. Al-Baqarah : 187) (“Kemudian
sempurnakanlah puasamu sampai malam”)
Abdullah : “Sekarang bukan bulan Ramadhan, mengapa anda berpuasa?”
Wanita tua : “Wa man tathawwa’a khairon fa innallaaha syaakirun ‘aliim.” (QS. AlBaqarah:158) (“Barang siapa melakukan sunnah lebih baik”)

Abdullah : “Bukankah diperbolehkan berbuka ketika musafir?”
Wanita tua : “Wa an tashuumuu khoirun lakum in kuntum ta’lamuun.” (QS. Al-Baqarah :
184) (“Dan jika kamu puasa itu lebih utama, jika kamu mengetahui”)
Abdullah : “Mengapa anda tidak menjawab sesuai dengan pertanyaan saya?”
Wanita tua : “Maa yalfidhu min qoulin illa ladaihi roqiibun ‘atiid.” (QS. Qaf : 18) (“Tiada
satu ucapan yang diucapkan, kecuali padanya ada Raqib Atid”)
Abdullah : “Anda termasuk jenis manusia yang manakah, hingga bersikap seperti itu?”
Wanita tua : “Wa la taqfu ma laisa bihi ilmun. Inna sam’a wal bashoro wal fuaada, kullu
ulaaika kaana ‘anhu mas’ula.” (QS. Al-Isra’ : 36) (“Jangan kamu ikuti apa yang tidak kamu
ketahui, karena pendengaran, penglihatan dan hati, semua akan dipertanggung jawabkan”)
Abdullah : “Saya telah berbuat salah, maafkan saya.”
Wanita tua : “Laa tastriiba ‘alaikumul yauum, yaghfirullahu lakum.” (QS.Yusuf : 92) (“Pada
hari ini tidak ada cercaan untuk kamu, Allah telah mengampuni kamu”)
Abdullah : “Bolehkah saya mengangkatmu untuk naik ke atas untaku ini untuk melanjutkan
perjalanan, karena anda akan menjumpai kafilah yang di depan.”
Wanita tua : “Wa maa taf’alu min khoirin ya’lamhullah.” (QS Al-Baqoroh : 197) (“Barang
siapa mengerjakan suatu kebaikan, Allah mengetahuinya”)
Lalu wanita tua ini berpaling dari untaku, sambil berkata :
Wanita tua : “Qul lil mu’miniina yaghdudhu min abshoorihim.” (QS. An-Nur : 30)
(“Katakanlah pada orang-orang mukminin tundukkan pandangan mereka”)
Maka saya pun memejamkan pandangan saya, sambil mempersilahkan ia mengendarai
untaku. Tetapi tiba-tiba terdengar sobekan pakaiannya, karena unta itu terlalu tinggi baginya.
Wanita itu berucap lagi.
Wanita tua : “Wa maa ashobakum min mushibatin fa bimaa kasabat aidiikum.” (QS. AsySyura’30) (“Apa saja yang menimpa kamu disebabkan perbuatanmu sendiri”)

Abdullah : “Sabarlah sebentar, saya akan mengikatnya terlebih dahulu.”
Wanita tua : “Fa fahhamnaaha sulaiman.” (QS. Anbiya’ 79) (“Maka kami telah memberi
pemahaman pada nabi Sulaiman”)
Selesai mengikat unta itu saya pun mempersilahkan wanita tua itu naik.
Abdullah : “Silahkan naik sekarang.”
Wanita tua : “Subhaanalladzi sakhkhoro lana hadza wa ma kunna lahu muqriniin, wa inna ila robbinaa munqolibuun.” (QS. Az-Zukhruf : 13-14) (“Maha suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini pada kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Sesungguhnya
kami akan kembali pada tuhan kami”)
Saya pun segera memegang tali unta itu dan melarikannya dengan sangat kencang. Wanita
tua itu berkata lagi.
Wanita tua : “Waqshid fi masyika waghdud min shoutik” (QS. Lukman : 19) (“Sederhanakan
jalanmu dan lunakkanlah suaramu”)
Lalu jalannya unta itu saya perlambat, sambil mendendangkan beberapa syair, Wanita tua itu berucap.
Wanita tua : “Faqraa-u maa tayassara minal qur’aan” (QS. Al- Muzammil : 20) (“Bacalah
apa-apa yang mudah dari Al-Qur’an”)
Abdullah : “Sungguh anda telah diberi kebaikan yang banyak.”
Wanita tua : “Wa maa yadzdzakkaru illa uulul albaab.” (QS Al-Baqoroh : 269) (“Dan
tidaklah mengingat Allah itu kecuali orang yang berilmu”)
Dalam perjalanan itu saya bertanya kepadanya.
Abdullah : “Apakah anda mempunyai suami?”
Wanita tua : “Laa tas-alu ‘an asy ya-a in tubda lakum tasu’kum” (QS. Al-Maidah : 101)
(“Jangan kamu menanyakan sesuatu, jika itu akan menyusahkanmu”)
Ketika berjumpa dengan kafilah di depan kami, saya bertanya kepadanya.
Abdullah : “Adakah orang anda berada dalam kafilah itu?”
Wanita tua : “Al-maalu wal banuuna zinatul hayatid dunya.” (QS. Al-Kahfi : 46) (“Adapun
harta dan anak-anak adalah perhiasan hidup di dunia”)
Baru saya mengerti bahwa ia juga mempunyai anak.
Abdullah : “Bagaimana keadaan mereka dalam perjalanan ini?”
Wanita tua : “Wa alaamatin wabin najmi hum yahtaduun” (QS. An-Nahl : 16) (“Dengan
tanda bintang-bintang mereka mengetahui petunjuk”)
Dari jawaban ini dapat saya fahami bahwa mereka datang mengerjakan ibadah haji
mengikuti beberapa petunjuk. Kemudian bersama wanita tua ini saya menuju perkemahan.
Abdullah : “Adakah orang yang akan kenal atau keluarga dalam kemah ini?”
Wanita tua : “Wattakhodzallahu ibrohima khalilan” (QS. An-Nisa’ : 125) (“Kami jadikan
ibrahim itu sebagai yang dikasihi”) “Wakallamahu musa takliima” (QS. An-Nisa’ : 146)
(“Dan Allah berkata-kata kepada Musa”) “Ya yahya khudil kitaaba biquwwah” (QS. Maryam
: 12) (“Wahai Yahya pelajarilah alkitab itu sungguh-sungguh”)
Lalu saya memanggil nama-nama, ya Ibrahim, ya Musa, ya Yahya, maka keluarlah
anak-anak muda yang bernama tersebut. Wajah mereka tampan dan ceria, seperti bulan yang baru muncul. Setelah tiga anak ini datang dan duduk dengan tenang maka berkatalah wanita itu.

Wanita tua : “Fab’atsu ahadaku bi warikikum hadzihi ilal madiinati falyandzur ayyuha azkaa
tho’aaman fal ya’tikum bi rizkin minhu.” (QS. Al-Kahfi : 19) (“Maka suruhlah salah seorang
dari kamu pergi ke kota dengan membawa uang perak ini, dan carilah makanan yang lebih
baik agar ia membawa makanan itu untukmu”)
Maka salah seorang dari tiga anak ini pergi untuk membeli makanan, lalu
menghidangkan di hadapanku, lalu perempuan tua itu berkata :
Wanita tua : “Kuluu wasyrobuu hanii’an bima aslaftum fil ayyamil kholiyah” (QS. AlHaqqah
: 24) (“Makan dan minumlah kamu dengan sedap, sebab amal-amal yang telah kamu kerjakan  di hari-hari yang telah lalu”)

Abdullah : “Makanlah kalian semuanya makanan ini. Aku belum akan memakannya
sebelum kalian mengatakan padaku siapakah perempuan ini sebenarnya.”
Ketiga anak muda ini secara serempak berkata :
“Beliau adalah orang tua kami. Selama empat puluh tahun beliau hanya berbicara
mempergunakan ayat-ayat Al-Qur’an, hanya karena khawatir salah bicara.”
Maha suci zat yang maha kuasa terhadap sesuatu yang dikehendakinya. Akhirnya
saya pun berucap :
“Fadhluhu yu’tihi man yasyaa’ Wallaahu dzul fadhlil adhiim.” (QS. Al-Hadid : 21)
(“Karunia Allah yang diberikan kepada orang yang dikehendakinya, Allah adalah
pemberi karunia yang besar”)
[Disarikan oleh: DHB Wicaksono, dari kitab Misi Suci Para Sufi, Sayyid Abubakar bin
Muhammad Syatha, hal. 161-168] dari Situs Al-Muhajir
Shared By Kisah Penuh Hikmah
http://virouz007.wordpress.com/

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayatayat

dari Tuhannya lalu dia berpaling daripadanya dan melupakan apa yang
dikerjakan oleh kedua tangannya Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di
atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula)
sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk,
niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya. (QS. 18:57)

http://www.slideshare.net/sallehfaiz5/savedfiles?s_title=17-kisah-penuhhikmah&user_login=12090247

Posted by: peribadirasulullah | Mac 2, 2014

Rahsia disebalik Hajar Aswad sentiasa harum

https://i2.wp.com/images.alwatanvoice.com/news/large/9998441091.jpg

لحجر الأسود هو حجر بيضي الشكل، لونه أسود ضارب للحمرة، وبه نقط حمراء وتعاريج صفراء، وقطره حوالي ثلاثين سنتيمترا، ويحيط به إطار من الفضة عرضه عشرة سنتيمترات، يقع في حائط الكعبة في الركن الجنوبي الشرقي من بناء الكعبة على ارتفاع متر ونصف المتر من سطح الأرض، وعنده يبدأ الطواف.

وروى الحاكم أن النبي -صلى الله عليه وسلم- قبَّل الحجر الأسود وبكى طويلا، ورآه عمر فبكى لما بكى، وقال: “يا عمر هنا تُسكب العبرات”. وثبت أن عمر -رضي الله عنه- قال وهو يقبله: “والله إني لأعلم أنك حجر لا تضر ولا تنفع، ولولا أني رأيت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يقبلك ما قبلتك”، رواه البخاري ومسلم.

ويبين هذا المقطع طريقة تبخير الحجر الاسود من قبل السلطات السعودية.

http://www.alwatanvoice.com/arabic/news/2014/02/22/499129.html

Posted by: peribadirasulullah | Mac 2, 2014

Robot Iran mengajar kaifiat solat untuk pelajar sekolah rendah

https://i1.wp.com/images.alwatanvoice.com/news/large/9998442596.jpg

رام الله – دنيا الوطن

يظهر الفيديو رجل الي ايراني يعلم الأطفال الصلاة عن طريق اداء حركات الصلاة أمامهم

http://www.alwatanvoice.com/arabic/news/2014/02/27/501333.html

Posted by: peribadirasulullah | Mac 2, 2014

14 Penyakit berbahaya disebabkan pikiran yang Negatif

https://fbcdn-sphotos-b-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash3/t1/1981902_634330613304892_1884002159_n.jpg

Pikiran Negatif Ternyata Tidak Baik Bagi Kesehatan

Dalam Buku “The Healing dan Discovering the Power of the Water” (By: Dr. Masaru Emoto) disimpulkan bahwa :

1. MARAH selama 5 menit akan menyebabkan sistem imun tubuh kita mengalami depresi selama 6 jam.

2. DENDAM dan MENYIMPAN KEPAHITAN akan menyebabkan imun tubuh kita mati.. Dari situlah bermula segala penyakit, seperti Stress, Kolesterol, Hipertensi, Serangan Jantung, Rhematik, Arthtritis, Stroke (perdarahan/penyumbatan pembuluh darah)…..

3. Jika kita sering membiarkan diri kita Stress, maka kita sering mengalami Gangguan Pencernaan.

4. Jika kita sering merasa KHAWATIR, maka kita mudah terkena penyakit Nyeri Punggung.

5. Jika kita MUDAH TERSINGGUNG, maka kita akan cenderung terkena penyakit Insomnia (susah tidur).

6. Jika kita sering mengalami KEBINGUNGAN, maka kita akan terkena Gangguan Tulang Belakang Bagian Bawah.

7. Jika kita sering membiarkan diri kita merasa TAKUT yang BERLEBIHAN, maka kita akan mudah terkena penyakit GINJAL.

8. Jika kita suka ber-NEGATIVE THINKING, maka kita akan mudah terkena DYSPEPSIA (penyakit sulit mencerna).

9. Jika kita mudah EMOSI & cenderung PEMARAH, maka kita bisa rentan terhadap penyakit HEPATITIS.

10. Jika kita sering merasa APATIS (tidak pernah peduli) terhadap lingkungan, maka kita akan berpotensi mengalami Penurunan Kekebalan Tubuh.

12. Jika kita sering MENGANGGAP SEPELE semua persoalan, maka hal ini bisa mengakibatkan penyakit Diabetes.

13. Jika kita sering merasa KESEPIAN, maka kita bisa terkena penyakit Demensia Senelis (berkurangnya memori dan kontrol fungsi tubuh).

14. Jika kita sering BERSEDIH dan merasa selalu RENDAH DIRI, maka kita bisa terkena penyakit Leukemia (kanker darah putih).

Mari kita selalu BERSYUKUR atas segala perkara yang telah terjadi karena deng?n bersyukur, maka HATI ini menjadi BERGEMBIRA dan menimbulkan ENERGI POSITIF dalam tubuh untuk mengusir segala penyakit tersebut di atas.

Semoga bermanfaat buat kita semua.

https://www.facebook.com/pages/Sebelum-Engkau-Halal-BagiKu/138509376220354

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Ikut

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,704 other followers