Posted by: peribadirasulullah | April 3, 2015

Perayaan Kaum Musyrikin Yang Dirayakan Oleh Umat Islam Sedunia

Inilah Kerusakan Perayaan Tahun Baru, Kaum Muslimin Jangan Ikut-ikutan!

(Panjimas.com)- Seluruh manusia di berbagai negara sangat antusias menyambut perhelatan yang hanya setahun sekali ini walau kondisi  lembur dan tidak tidur semalaman. Mereka dengan rela dan sabar menunggu upacara pergantian tahun,  sebuah agenda yang tidak bermanfaat lagi hura-hura, karena dalam islam seorang muslim yang baik yaitu mereka yang meninggalkan segala hal yang tidak memiliki nilai manfaat, dan sudah menjadi Sunnatullah diantara kaum musliminin akan ada orang-orang yang mengikuti Jejak orang-orang kafir.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ  . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ  وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ

Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“ (HR. Bukhari no. 7319)

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ

Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim no. 2669).

Ibnu Taimiyah menjelaskan, tidak diragukan lagi bahwa umat Islam ada yang kelak akan mengikuti jejak Yahudi dan Nashrani dalam sebagian perkara. Lihat Majmu’ Al Fatawa, 27: 286.

Syaikhul Islam menerangkan pula bahwa dalam shalat ketika membaca Al Fatihah kita selalu meminta pada Allah agar diselamatkan dari jalan orang yang dimurkai dan sesat yaitu jalannya Yahudi dan Nashrani. Dan sebagian umat Islam ada yang sudah terjerumus mengikuti jejak kedua golongan tersebut. Lihat Majmu’ Al Fatawa, 1: 65.

Imam Nawawi –rahimahullah– ketika menjelaskan hadits di atas menjelaskan, “Yang dimaksud dengan syibr(sejengkal) dan dziroo’ (hasta) serta lubang dhob (lubang hewan tanah yang penuh lika-liku), adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan Nashroni. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan berbagai penyimpangan, bukan dalam hal-hal kekafiran mereka yang diikuti. Perkataan beliau ini adalah suatu mukjizat bagi beliau karena apa yang beliau katakan telah terjadi saat-saat ini.”  (Syarh Muslim, 16: 219)

Sejarah Tahun Baru Masehi

Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM (sebelum masehi). Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.

Dari sini kita dapat menyaksikan bahwa perayaan tahun baru dimulai dari orang-orang kafir dan sama sekali bukan dari Islam. Perayaan tahun baru terjadi pada pergantian tahun kalender Gregorian yang sejak dulu telah dirayakan oleh orang-orang kafir.

Secara lebih rinci, berikut adalah beberapa kerusakan yang terjadi seputar perayaan tahun baru masehi.

Kerusakan Pertama: Merayakan Tahun Baru Berarti Merayakan ‘Ied (Perayaan) yang Haram

Perlu diketahui bahwa perayaan (‘ied) kaum muslimin hanya ada dua yaitu ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha. Anas bin Malik mengatakan, “Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, “Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha”.

Syaikh Sholeh Al Fauzan menjelaskan bahwa perayaan tahun baru itu termasuk merayakan ‘ied (hari raya) yang tidak disyariatkan karena hari raya kaum muslimin hanya ada dua yaitu Idul Fithri dan Idul Adha. Menentukan suatu hari menjadi perayaan (‘ied) adalah bagian dari syari’at (sehingga butuh dalil).

Kerusakan Kedua: Merayakan Tahun Baru Berarti Tasyabbuh (Meniru-niru) Orang Kafir

Merayakan tahun baru termasuk meniru-niru orang kafir. Dan sejak dulu Nabi kitashallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mewanti-wanti bahwa umat ini memang akan mengikuti jejak orang Persia, Romawi, Yahudi dan Nashrani. Kaum muslimin mengikuti mereka baik dalam berpakaian atau pun berhari raya.

Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang penuh lika-liku, pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?

Lihatlah apa yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa yang beliau katakan benar-benar nyata saat ini. Berbagai model pakaian orang barat diikuti oleh kaum muslimin, sampai pun yang setengah telanjang. Begitu pula berbagai perayaan pun diikuti, termasuk pula perayaan tahun baru ini.

Ingatlah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara tegas telah melarang kita meniru-niru orang kafir (tasyabbuh). Beliau bersabda, ”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka

Kerusakan Ketiga: Merekayasa Amalan Tanpa Tuntunan di Malam Tahun Baru

Kita sudah ketahui bahwa perayaan tahun baru ini berasal dari orang kafir dan merupakan tradisi mereka. Namun sayangnya di antara orang-orang jahil ada yang mensyari’atkan amalan-amalan tertentu pada malam pergantian tahun.

Daripada waktu kaum muslimin sia-sia, mending malam tahun baru kita isi dengan dzikir berjama’ah di masjid. Itu tentu lebih manfaat daripada menunggu pergantian tahun tanpa ada manfaatnya”, demikian ungkapan sebagian orang. Ini sungguh aneh. Pensyariatan semacam ini berarti melakukan suatu amalan yang tanpa tuntunan. Perayaan tahun baru sendiri adalah bukan perayaan atau ritual kaum muslimin, lantas kenapa harus disyari’atkan amalan tertentu ketika itu? Apalagi menunggu pergantian tahun pun akan mengakibatkan meninggalkan berbagai kewajiban sebagaimana nanti akan kami utarakan.

Jika ada yang mengatakan, “Daripada menunggu tahun baru diisi dengan hal yang tidak bermanfaat (bermain petasan dan lainnya), mending diisi dengan dzikir. Yang penting kan niat kita baik.” Maka cukup kami sanggah niat baik semacam ini dengan perkataan Ibnu Mas’ud ketika dia melihat orang-orang yang berdzikir, namun tidak sesuai tuntunan Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang melakukan dzikir yang tidak ada tuntunannya ini mengatakan pada Ibnu Mas’ud, ”Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.” Ibnu Mas’ud lantas berkata,  “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun mereka tidak mendapatkannya.

Jadi dalam melakukan suatu amalan, niat baik semata tidaklah cukup. Kita harus juga mengikuti contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baru amalan tersebut bisa diterima di sisi Allah.

Kerusakan Keempat: Mengucapkan Selamat Tahun Baru yang Jelas Bukan Ajaran Islam

Komisi Fatwa Saudi Arabia, Al Lajnah Ad Daimah ditanya, “Apakah boleh mengucapkan selamat tahun baru Masehi pada non muslim, atau selamat tahun baru Hijriyah atau selamat Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? ” Al Lajnah Ad Daimah menjawab, “Tidak boleh mengucapkan selamat pada perayaan semacam itu karena perayaan tersebut adalah perayaan yang tidak masyru’ (tidak disyari’atkan dalam Islam).”

Kerusakan Kelima: Meninggalkan Shalat Lima Waktu                          

Betapa banyak kita saksikan, karena begadang semalam suntuk untuk menunggu detik-detik pergantian tahun, bahkan begadang seperti ini diteruskan lagi hingga jam 1, jam 2 malam atau bahkan hingga pagi hari, kebanyakan orang yang begadang seperti ini luput dari shalat Shubuh yang kita sudah sepakat tentang wajibnya. Di antara mereka ada yang tidak mengerjakan shalat Shubuh sama sekali karena sudah kelelahan di pagi hari. Akhirnya, mereka tidur hingga pertengahan siang dan berlalulah kewajiban tadi tanpa ditunaikan sama sekali. Na’udzu billahi min dzalik. Ketahuilah bahwa meninggalkan satu saja dari shalat lima waktu bukanlah perkara sepele. Bahkan meningalkannya para ulama sepakat bahwa itu termasuk dosa besar.[9] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengancam dengan kekafiran bagi orang yang sengaja meninggalkan shalat lima waktu. Buraidah bin Al Hushoib Al Aslamiy berkata, ”Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.”Oleh karenanya, seorang muslim tidak sepantasnya merayakan tahun baru sehingga membuat dirinya terjerumus dalam dosa besar.

Kerusakan Keenam: Begadang Tanpa Ada Hajat

Begadang tanpa ada kepentingan yang syar’i dibenci oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Termasuk di sini adalah menunggu detik-detik pergantian tahun yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.”

Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al Khottob sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!”Apalagi dengan begadang ini sampai melalaikan dari sesuatu yang lebih wajib (yaitu shalat Shubuh)?!

Kerusakan Ketujuh: Terjerumus dalam Zina

Jika kita lihat pada tingkah laku muda-mudi saat ini, perayaan tahun baru pada mereka tidaklah lepas dari ikhtilath (campur baur antara pria dan wanita) dan berkholwat (berdua-duan), bahkan mungkin lebih parah dari itu yaitu sampai terjerumus dalam zina dengan kemaluan. Inilah yang sering terjadi di malam tersebut dengan menerjang berbagai larangan Allah dalam bergaul dengan lawan  jenis. Inilah yang terjadi di malam pergantian tahun dan ini riil terjadi di kalangan muda-mudi.

Kerusakan Kedelapan: Mengganggu Kaum Muslimin

Merayakan tahun baru banyak diramaikan dengan suara mercon, petasan, terompet atau suara bising lainnya. Ketahuilah ini semua adalah suatu kemungkaran karena mengganggu muslim lainnya, bahkan sangat mengganggu orang-orang yang butuh istirahat seperti orang yang lagi sakit. Padahal mengganggu muslim lainnya adalah terlarang sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seorang muslim adalah seseorang yang lisan dan tangannya tidak mengganggu orang lain.”[13]

Ibnu Baththol mengatakan, “Yang dimaksud dengan hadits ini adalah dorongan agar seorang muslim tidak menyakiti kaum muslimin lainnya dengan lisan, tangan dan seluruh bentuk menyakiti lainnya. Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Orang yang baik adalah orang yang tidak menyakiti walaupun itu hanya menyakiti seekor semut”.Perhatikanlah perkataan yang sangat bagus dari Al Hasan Al Basri. Seekor semut yang kecil saja dilarang disakiti, lantas bagaimana dengan manusia yang punya akal dan perasaan disakiti dengan suara bising atau mungkin lebih dari itu?!

Kerusakan Kesembilan: Melakukan Pemborosan yang Meniru Perbuatan Setan

Perayaan malam tahun baru adalah pemborosan besar-besaran hanya dalam waktu satu malam. Jika kita perkirakan setiap orang menghabiskan uang pada malam tahun baru sebesar Rp.1000 untuk membeli mercon dan segala hal yang memeriahkan perayaan tersebut, lalu yang merayakan tahun baru sekitar 10 juta penduduk Indonesia, maka hitunglah berapa jumlah uang yang dihambur-hamburkan dalam waktu semalam? Itu baru perkiraan setiap orang menghabiskan Rp. 1000, bagaimana jika lebih dari itu?!  Padahal Allah Ta’ala telah berfirman (yang artinya),  “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’: 26-27).

Kerusakan Kesepuluh: Menyia-nyiakan Waktu yang Begitu Berharga

Merayakan tahun baru termasuk membuang-buang waktu. Padahal waktu sangatlah kita butuhkan untuk hal yang manfaat dan bukan untuk hal yang sia-sia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi nasehat mengenai tanda kebaikan Islam seseorang, “Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.”Semoga kita merenungkan perkataan Ibnul Qoyyim, “(Ketahuilah bahwa) menyia-nyiakan waktu lebih jelek dari kematian. Menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu (membuatmu lalai) dari Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanyalah memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.”

Seharusnya seseorang bersyukur kepada Allah dengan nikmat waktu yang telah Dia berikan. Mensyukuri nikmat waktu bukanlah dengan merayakan tahun baru. Namun mensyukuri nikmat waktu adalah dengan melakukan ketaatan dan ibadah kepada Allah, bukan dengan menerjang larangan Allah. Itulah hakekat syukur yang sebenarnya. Orang-orang yang menyia-nyiakan nikmat waktu seperti inilah yang Allah cela. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?” (QS. Fathir: 37). Qotadah mengatakan, “Beramallah karena umur yang panjang itu akan sebagai dalil yang bisa menjatuhkanmu. Marilah kita berlindung kepada Allah dari menyia-nyiakan umur yang panjang untuk hal yang sia-sia.”Wallahu walliyut taufiq. [nzal/dbs]

http://panjimas.net/kajian/2014/12/31/inilah-kerusakan-perayaan-tahun-baru-kaum-muslimin-jangan-ikut-ikutan/

Posted by: peribadirasulullah | April 3, 2015

Maksiat Dan Dosa Adalah Doa untuk mendapat Bala Allah SWT

https://i1.wp.com/panjimas.net/wp-content/uploads/2014/12/musibah.jpg

PANJIMAS.COM – Alhamdulillah Segala puji bagi Allah Yang Maha Kuasa dan semoga keselamatan dan Rahmat-Nya senantiasa terlimpahkan kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabat, serta seluruh pengikutnya.

Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun, Jelang akhir tahun 2014, indonesia kembali berduka. Musibah tanah longsor Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah menelan banyak korban jiwa.

Dari 108 korban yang hilang tertimbun longsor, baru sekitar 39 orang yang berhasil ditemukan dalam keadaan meninggal dunia.

Semua orang dibuat sibuk akan bencana ini, dari relawan, sampai pemerintahan, tak ketinggalan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho mengatakan pihaknya telah melakukan analisis penyebab longsor bekerja sama dengan Ikatan Ahli Bencana Indonesia dan sejumlah ahli asal Universitas Gadjah Mada (UGM).

Ya, mereka sibuk mencari dan meneliti faktor ilmiah atau kauni kenapa terjadi bencana, dan banyak manusia ketika terjadi bencana hanya terfokus untuk meniliti factor penyebab bencana dari sisi ilmu pengetahuan, namun mereka lupa factor penyebab bencana dari sisi syar’i, sehingga dengan bencana itu mereka tidak semakin taqarrub namun malah semkain jauh dari Syariat Allah Ta’ala. (Baca:  Astaghfirullah, Ternyata ini Kisah di Balik Bencana Tanah Longsor Dusun Jemblung Banjarnegara)

Allah memutuskan perkara-perkara yang berlaku pada makhluknya, hukum-hukum-Nya berlaku pada hamba-hambaNya terkadang sesuai dengan kebijaksanaan-Nya dan karunianya, dan terkadang sesuai dengan kebijaksanaan-Nya dan keadilan-Nya, Dan Tuhanmu tidak akan berbuat dzalim kepada siapapun

وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا هُمُ الظَّالِمِينَ

Dan tidaklah Kami menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS. 43:76)

Maksiat dan Dosa Penyebab Bencana

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30)

Ibnu Qoyyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan,

“Di antara akibat dari berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat dan akibat dosa adalah mendatangkan bencana (musibah). Oleh karena itu, hilangnya suatu nikmat dari seorang hamba adalah karena dosa. Begitu pula datangnya berbagai musibah juga disebabkan oleh dosa.”

Hal ini selaras dengan perkataan Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu,

مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ

“Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat.” (Al Jawabul Kaafi, 74)

Perkataan ‘Ali –radhiyallahu ‘anhu- di sini selaras dengan firman Allah Ta’ala,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30)

Oleh karena itu, sudah sepatutnya setiap hamba merenungkan hal ini. Ketahuilah bahwa setiap musibah yang menimpa kita dan datang menghampiri negeri ini, itu semua disebabkan karena dosa dan maksiat yang kita perbuat. Betapa banyak kesyirikan merajalela di mana-mana, dengan bentuk tradisi ngalap berkah, memajang jimat untuk memperlancar bisnis dan karir, mendatangi kubur para wali untuk dijadikan perantara dalam berdoa.

Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-An’am- 82)

Jika kita telusuri kisah-kisah umat terdahulu yang jatuh ke dalam kehancuran, maka kitakan dapati mereka adalah orang-orang yang telah berbuat syirik kepada Allah. Mereka menyekutukan Allah dengan selain-Nya dan mereka lebih mendahulukan hawa nafsu dari beriman kepada Allah Ta’ala.

Lihatlah kehancuran kaum Nabi Nuh yang disebabkan karena kesyirikan dan keangkuhan mereka. Allah berfirman , “Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya)“. (QS. Al A’raf:64)

Lihat pula kehancuran kaum Nabi Hud yang juga disebabkan kesyirikan dan kufur nikmat mereka. Allah mengisahkan perdebatan antara Nabi Hud ‘alaihissalam dengan kaumnya dalam firman-Nya surat Al A’raf ayat 70-71,

Mereka berkata, “Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami?, maka datangkanlah adzab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar”.

Ia (Hud) berkata, “Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa adzab dan kemarahan dari Rabb-mu. Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang nama-nama (berhala) yang kamu dan nenekmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu. Maka tunggulah (adzab itu), sesungguhnya aku juga termasuk orang yang menunggu bersama kamu“.

Dalam ayat yang lain, Allah telah mengabarkan kehancuran mereka. Allah berfirman (yang artinya), “Maka tatkala mereka melihat adzab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka, “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”.(Bukan)! Bahkan itulah adzab yang kamu minta supaya datang dengan segera, (yaitu) angin yang mengandung adzab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Rabbnya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa” (QS. Al Ahqaf:24-25)

Maka Nabi Ibrahim ‘alaihis salam ketika meminta keberkahan dan keamanan untuk kota Mekah, beliau barengi dengan doa berlindung dari kesyirikin,

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim : 35). [AH]

http://panjimas.net/kajian/2014/12/15/tidaklah-bencana-turun-melainkan-karena-dosa/

Posted by: peribadirasulullah | April 3, 2015

Arab Saudi meminta Russia hentikan bekalan senjata kepada syiah basar

9fa0831d452978349c5c18d0

Menteri Luar Negeri Arab Saudi Saud Al-Faisal, Minggu (29/3) menyerukan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin – sekutu utama rezim Suriah Bashar Al-Assad – untuk menindaklanjuti suratnya sendiri kepada para pemimpin Arab di mana ia menyetujui penyelesaian cepat atas krisis Suriah.

“Presiden Rusia berbicara tentang kekejaman di Suriah seolah-olah (Moskow) bukanlah faktor penting di balik terjadinya kekejaman itu,” ujar Al-Faisal.

“(Moskow) memasok rezim Suriah dengan senjata strategis dan (rezim) menggunakannya dalam memerangi rakyatnya sendiri dan itu melanggar hukum Rusia yang melarang penjualan senjata ke negara-negara yang menggunakannya untuk peperangan dibanding pertahanan,” tambahnya saat mengikuti KTT Arab, yang diselenggarakan selama dua hari di kota resor Mesir, Sharm Al-Sheikh.

Dia mengatakan rezim Suriah telah kehilangan legitimasi.

Dalam sebuah surat kepada KTT Arab, Putin mengatakan ia mendukung penyelesaian damai untuk konflik di negara-negara Timur Tengah, termasuk Suriah.

“Kami mempertimbangkan kemungkinan penyelesaian cepat dari situasi krisis di Suriah, Libya, dan Yaman atas dasar prinsip-prinsip hukum internasional, melalui dialog yang luas dan mencari kesepakatan nasional menjadi lebih penting,” kata Putin dalam surat itu, yang dibacakan dalam KTT oleh Ketua Liga Arab Nabil Al-Arabi.

Nasib Al-Assad di masa depan politik Suriah telah runtuhnya sebagaimana gagalnya proses pembicaraan di Jenewa yang didukung PBB antara tahun 2012 dan 2014.

Pembicaraan tersebut bertujuan mencapai penyelesaian politik bagi krisis di Suriah.

KTT Arab datang setelah serangan militer yang dipimpin Saudi terhadap kelompok Syiah Houthi di Yaman.

Houthi telah mengendalikan ibukota Yaman, Sanaa sejak September 2014 dan berusaha memperluas pengaruh mereka di provinsi-provinsi lainnya. (aa/muqawamah.com)

http://muqawamah.com/arab-saudi-desak-rusia-hentikan-suplai-senjata-ke-rezim-suriah.html

Posted by: peribadirasulullah | April 3, 2015

syiah iran menyeksa Ulama Sunni kerana menunaikan Solat

Biadab, ulama sunni ini disiksa hanya karena mendirikan shalat

IRAN (Arrahmah.com) – Milisi bersenjata asal Iran menyiksa seorang ulama ahlussunnah bernama Syaikh Faruq Ad-Dauri hanya karena ia mendirikan shalat, lansir Islammemo pada Senin (30/3/2015).

Foto yang menunjukkan bentuk siksaan milisi Syiah tersebut diketahui disebar di media sosial oleh seorang syaikh ternama asal Saudi, ‘Awad Al-Qarni. Ia sendiri disebut-sebut mendapatkan foto tersebut dari aktivis Irak yang sedang berjuang menghadapi kekejaman milisi Syiah di sana.

Dari foto tersebut diketahui, Syaikh Ad-Dauri disiksa dengan cara kedua tangan dan kakinya diikat, lalu sebuah kayu panjang diletakkan di antara dua kakinya. Penyiksaan ini sendiri dikabarkan telah menyebabkan tulang belakang Syaikh Sunni tersebut lumpuh, lansir dakwatuna.

Hingga detik ini diberitakan bahwa para milisi Syiah Irak yang didukung oleh Iran kerap melakukan tindakan kekerasan, namun informasi tentang kejahatan mereka kerap ditutupi oleh media.

(banan/arrahmah.com)

– See more at: http://www.arrahmah.com/news/2015/04/03/biadab-ulama-sunni-ini-disiksa-hanya-karena-mendirikan-shalat.html#sthash.KFhF1H6M.dpuf

Foto Mujahidin Suriah berhasil merebut perbatasan terakhir dengan Yordania

Jum’at, 13 Jumadil Akhir 1436 H / 3 April 2015 12:00

– See more at: http://www.arrahmah.com/foto/foto-mujahidin-suriah-berhasil-merebut-perbatasan-terakhir-dengan-yordania.html#image-1

https://i1.wp.com/www.voa-islam.com/photos5/FSA.jpg

Daulah Islamiyyah Bebaskan Pengungsi Palestina dari Blokade & Salurkan Bantuan

SURIAH (voa-islam.com) – Rabu (01/04/15) kebahagian meliputi kamp pengungsian muslimin Palestina yang berada di Peengungsian Yarmouk, Damaskus Suriah, setelah Daulah Islamiyyah masuk membebaskan mereka dari blokade rezim thoghut Suriah terhadap kamp tersebut selama empat tahun.

Dan untukpertama kalinya, setelah sekian lama diblokade, bahan-bahan makanan masuk bersama Daulah Islamiyyah.

Politisi oposisi, Bassam Jaarah, dalam akun resiminya di jejaring sosial twitter  mengomentari orang-orang yang mengkritisi masuknya Daulah Islamiyyah. “Katakanlah ini pembebasan… katakanlah ini penjajahan… katakanlah semau kalian karena pendeknya pandangan kalian. Akantetapi, apakah mengusik kalian, masuknya makanan dan obat-obatan (oleh Islamic State) untuk menyelamatkan pengungsi kamp itu dari kematian karena kelaparan?” tuturnya.

Bassam membenarkan berita operasi para pejuang Daulah Islamiyyah membuka blokade yang mengakibatkan para pengungsi mati kelaparan.

Sementara itu, Khalid Sya’ban, seorang jurnalis, menuturkan, “Tidak benar berita yang disebarkan tentang bentrok antara pejuang Daulah Islamiyyah dan penduduk Kamp Yarmouk. Kondisinya normal dan ada penyambutan dari warga” ujar Khalid.[hanif/sfwan]

http://www.voa-islam.com/read/world-news/2015/04/02/36192/daulah-islamiyyah-bebaskan-pengungsi-palestina-dari-blokade-salurkan-bantuan/#sthash.6ktxPNus.QvB1E37Y.dpbs

Posted by: peribadirasulullah | April 2, 2015

Saya selalu sibuk

Pernahkan kita menjumpai seorang sahabat yang saat kita minta bantuan menjawab : “SAYA SIBUK”? Atau bahkan diri kita sendiri kerap kali mengatakan : ” SAYA SIBUK, jadi maaf tidak bisa ikut acara A, acara B, acara C”. Tanpa sadar kalimat ini secara tidak langsung telah menghancurkan diri kita, menghancurkan kepercayaan pihak lain terhadap diri kita.
Usahakan sesibuk apapun diri ini, jangan sampai kemudian mengeluarkan alasan “SAYA SIBUK”. Dua suku kata ini akan mengamputasi kemampuan yang ada dalam diri kita. Adalah sangat menyedihkan diri kita sendiri, apabila dengan ringannya kita mengatakan “SAYA SIBUK” dalam setiap permintaan bantuan yang mendekati kita.

Entah apa jadinya peradaban umat manusia ini apabila semua personal mengatakan “SAYA SIBUK”, seakan semuanya sudah beres dan terlepas dari berbagai tanggung jawab keumatan.Personal yang dalam dirinya tidak berusaha untuk mencoba memanajemen diriniya sehingga dapat mengatur ritme kehidupanya menjadi lebih bermakna.

Pribadi-pribadi yang selalu menggunakan “SAYA SIBUK” juga akan kehilangan berbagai moment yang sangat berharga. Ingatlah bahwa apabila ada pihak luar membutuhkan dirinya, maka seharusnya kita semua bersyukur kepada Allah. Ternyata keberadaan kita dimuka bumi inidibutuhkan juga oleh pihak lain. Dan yang terpenting bahwa dengan kita menjadi solusi akan problem atau amanah pihak lain nantinya akan mengundang rasa ke Maha Pemurahan Allah akan kesulitan yang kita alami.

“SAYA SIBUK” juga akan memotong habis Rahmat Allah, karena secara tidak sadar telah membentengi diri dengan menolak sebuah permintaan bantuan dari pihak lain dan lebih memilih aktivitas yang menurut dirinya jauh sangat bermakna. Dan yang sangat kecil nilainya apabila yang dipilih hanya untuk kepentingan sempit pribadi.

Betapa banyak sudah disuguhkan contoh bahwa mereka yang sanggup membuang dua kata “SAYA SIBUK” kemudian lahir kembali menjadi pribadi-pribadi yang mempunyai kemashlahatan bagi peradaban ini.

Hidup bukanlah seperti ”0″ dan “1″, apabila sudah mempunyai agenda, kemudian menolak agenda berikutnya. Sejatinya karunia kemampuan akal yang Allah berikan agar kita mengatur agenda yang awal dan yang datang belakangan. Perlunya seni mengatur yang pada akhirnya membuahkan sebuah KARYA besar yang saling menguatkan bukan menegasikan.

Apabila 24 jam waktu yang Allah karuniakan kepada kita, kita hanya sibuk dalam mengurusi urusan peribadi dan tanpa ada 1 detik pun membahas kepentingan umat, bisa jadi ada yang salah dalam diri kita.

Belum ada kata terlambat untuk membuang “KATA SIBUK” dalam diri kita, mulai hari ini apabila ada seruan yang membutuhkan bantuan kita mari kita jawab ” SAYA SIAP dan SAYA USAHAKAN”.

Eko Setiawan (http://www.islamedia.web.id/2012/10/saya-sibuk.html)

– See more at: http://rushendra.com/blog/saya-sibuk/#sthash.gT1OZ6i9.dpuf

Posted by: peribadirasulullah | April 2, 2015

4 Tindakan Melahirkan Kesyukuran Kepada Allah SWT

https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcReJPD5EbrIdkm2cFYXDayiaY8hlteDnwIANuxlf_v6niKrzUhG

https://i2.wp.com/rushendra.com/blog/wp-content/uploads/2013/02/Model-5-Pilar-Syukur.jpg

Menurut Ibnu Qayyim Al Jauziyah syukur adalah terlihatnya tanda-tanda nikmat Allah pada lidah hamba-Nya dalam bentuk pujian, dalam hatinya dalam bentuk cinta kepada-Nya, dan pada organ tubuh dalam bentuk taat dan tunduk kepada-Nya. Dalam definisi syukur ini terkandung tiga unsur, yaitu: pujian lisan, cinta dalam hati dan ketaatan dalam perbuatan.

Syukur sejatinya tidak menambah apapun kepada pelakunya melainkan kenikmatan dan kebahagiaan. Dengan bersyukur, manusia menjadi lebih berbahagia dan menjadi lebih bertambah nikmatnya. Syukur dengan demikian, memiliki korelasi positif dengan kesuksesan.


Pada tahun 1998, Profesor Emmons mulai mengkaji tentang syukur. Profesor Emmons melibatkan para mahasiswanya dalam penelitiannya tentang syukur. Saat itu, sang profesor menyuruh sebagian dari para mahasiswa tersebut untuk menuliskan lima hal yang menjadikan mereka bersyukur setiap hari. Sedangkan mahasiswa selebihnya diminta mencatat lima hal yang menjadikan mereka berkeluh kesah (galau).

Apa yang terjadi? Tiga pekan kemudian, mahasiswa yang bersyukur memberitahukan adanya peningkatan dalam hal kesehatan jiwa-raga dan semakin membaiknya hubungan kemasyarakatan dibandingkan rekan mereka yang suka menggerutu.

Itulah fakta ilmiah yang mengungkap rahasia bersyukur. Bahwa diantara dampak bersyukur adalah meningkatnya kesehatan jiwa-raga dan membaiknya hubungan kemasyarakatan. Artinya, dengan bersyukur, bertambahlah nikmat. Dengan bersyukur, semakin dekatlah seseorang dengan kesuksesan. Penelitian ini sangat sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim : 7).

Bagaimana memperkuat rasa syukur kepada Allah? Ada 5 pilar untuk memperkuat rasa syukur:

– See more at: http://rushendra.com/blog/5-pilar-syukur/#sthash.nCljmeJS.dpuf

Posted by: peribadirasulullah | April 2, 2015

Kuda Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Posted by: peribadirasulullah | April 2, 2015

Menangis Kerana Mendapat Smartphone dan Cincin Emas Daripada Majikan

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori