Posted by: peribadirasulullah | Januari 29, 2018

Mengenali 12 Ummul Mukminin

Foto

12 UMMUL MUKMININ (IBU KAUM MUKMININ)

Dalam menjatuhkan reputasi agama Islam kaum Orientalis  dan sarjana-sarjana barat sering  menggunakan pernikahan Rasulullah ﷺ sebagai bahan serangan mereka. Berbagai tuduhan mereka lancarkan untuk memperlihatkan buruknya kondisi rumahtangga Rasulullah ﷺ sehingga orang tak lagi bisa percaya pada ajaran Islam.

Adalah salah jika mereka menganggap Islam dapat dengan mudah dihancurkan. Islam adalah agama yang kuat dan selalu memiliki jawaban untuk segala pertanyaan. Salah satu alasan yang paling masuk akal mengapa orang cenderung menyerang Islam menggunakan rumahtangga Rasulullah ﷺ sebagai senjata adalah karena mereka tidak mengenal istri-istri Rasulullah ﷺ secara pribadi, dan sebagiannya lagi karena tidak memahami kesulitan hidup yang mereka hadapi.

Ummul Mukminin, yang memiliki pengertian Ibu Kaum Mukmin, merupakan gelar khusus yang hanya disandangkan pada istri-istri Rasulullah ﷺ . Mereka berjumlah duabelas orang dengan spesifikasi yang istimewa pada masing-masing individunya, mereka adalah:

1. Khadijah binti Khuwailid bin Asad al-Quraisyiyyah al-Asadiyah, istri pertama Rasulullah ﷺ, dinikahi 15 tahun sebelum kerasulan ketika Nabi Muhammad jejaka 25 tahun, sedangkan Khadijah janda 40 tahun. Sebelumnya Khadijah telah menikah dua kali, pertama dengan Abu Halah bin Zarah at-Tamimi dan kemudian dengan Atiq bin Aziz at-Tamimi. Sebelum mereka menikah, Khadijah mempercayakan pengelolaan barang dagangannya kepada pemuda Muhammad. Tertarik akan pribadi dan kejujurannya, Khadijah meminangnya untuk menjadi suaminya. Dari pernikahan itu mereka dikaruniai enam orang anak: Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummi Kaltsum, Fathimah, dan Abdullah. Dari keenam putra-putri mereka, hanya Fathimah yang menurunkan keturunan yang sampai sekarang tersebar di seluruh dunia. Khadijah berperan besar pada masa-masa awal penyebaran Islam. Dia mendedikasikan hartanya bagi kepentingan Islam. Khadijah wafat 2 tahun sebelum Rasulullah ﷺ hijrah, dalam usia 65 tahun. Tahun wafatnya bersamaan dengan wafatnya Abu Thalib, paman Rasulullah ﷺ .

2. Saudah binti Zam’ah, istri kedua Rasulullah ﷺ, dinikahi setelah Khadijah wafat. Sebelum menikah dengan Rasulullah ﷺ ia istri Sakran bin Umar al-Amiri. Suami istri ini termasuk orang-orang pertama yang beriman. Karena dinista kaum Quraisy, mereka hijrah ke Habsyah. Setelah kembali ke Mekkah, Sakran meninggal. Saudah hidup sebagai janda lanjut usia, tanpa pelindung; bapaknya sendiri masih musyrik. Atas desakan bibinya, Khaulah binti Hakim, Rasulullah ﷺ menikahinya. Meskipun berstatus sebagai istri, ia tidak pernah meminta haknya selaku umumnya seorang istri. Dia berkata: “Demi Allah, sesungguhnya saya tidak ingin menikah. Tetapi saya ingin bangkit kelak di hari kiamat sebagai istri Rasulullah.” Saudah wafat di akhir masa Khalifah Umar bin Khaththab

3. Zainab binti Huzainah bin Abdullah bin Umar bin Abdi Manaf bin Hilal bin Amir bin Sa’sa’ab al-Hilaliyah. Ia menikah dengan Rasulullah ﷺ tahun 11 H. Sebelumnya dia pernah menikah dengan Abdullah bin Jahsy, salah satu syuhada Uhud. Pernikahannya dengan Rasulullah ﷺ tidak berlangsung lama karena wafat kira-kira dua bulan setelah pernikahannya. Ia terkenal dengan sebutan Umm al-Masakin (Ibu kaum miskin), karena senang memberi makan dan sedekah kepada fakir miskin.

4. Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq, lahir 2 tahun sebelum kerasulan. Pernikahannya dengan Rasulullah ﷺ tidak menghasilkan keturunan. Ia banyak mendengar Al-Qur’an dan hadits langsung dari Rasulullah ﷺ . Melalui Aisyah umat Islam mengetahui bagaimana Rasulullah ﷺ menjalankan kewajibannya sebagai suami, sampai hal-hal yang sangat pribadi yang patut diketahui umat Islam untuk diteladani. Aisyah juga dikenal sebagai orang yang cerdas, banyak mengetahui hukum-hukum dan ilmu fara’id (hukum pembagian harta waris) yang rumit. Aisyah wafat pada tahun 47 atau 48 H. Darinya para ulama menerima 2.210 hadits, termasuk hadits-hadits pergaulan suami-istri yang tidak akan diterima dari perawi lain.

5. Juariyah binti Al-Harits, dinikahi Rasulullah ﷺ enam tahun setelah hijrah. Pertemuannya dengan Rasulullah ﷺ terjadi ketika Bani Mustaliq menyerang kaum muslimin. Juariyah ikut di dalamnya. Serangan Bani Mutaliq dapat dipatahkan, Juariyah menjadi tawanan Qais bin Tsabit. Ia akan dibebaskan dengan syarat membayar tebusan. Oleh karena tidak memiliki uang tebusan, ia menghadap Rasulullah ﷺ mengadukan nasibnya. Rasulullah ﷺ bersabda: “Apakah engkau menginginkan agar aku membayar tebusanmu, kemudian aku menikahimu?” Juariyah setuju dan Rasulullah ﷺ menikahinya. Pernikahan mereka membuat hubungan kaum muslim dengan Bani Mustaliq menjadi erat. Juariyah wafat tahun 56 H.

6. Shofiyah binti Huyay bin Akhtab dinikahi Rasulullah ﷺ beberapa saat setelah Perang Khaibar. Shofiyah adalah putri raja dan suaminya juga bangsawan Khaibar yang memiliki benteng Qumus, beragama Yahudi, bernama Kinanah bin Rabi’. Setelah terjadi perang Khaibar, orang-orang Khaibar menjadi tawanan, termasuk Shofiyah. Sebagai bekas permaisuri raja, keadaan itu teramat menyedihkan. Kemudian ia masuk Islam dan bersedia dinikahi Rasulullah ﷺ . Setelah menjadi Ummul Mukminin, ia kembali menduduki tempat kehormatannya. Pernikahannya dengan Rasulullah ﷺ membuat orang-orang Khaibar ikut tergerak untuk masuk Islam. Shofiyah wafat sekitar tahun 50 H.

7. Ummu Salamah, nama aslinya adalah Hindun binti Abu Ummayah bin Mugirah bin Abdullah bin Amr bin Mahzum, dinikahi Rasulullah ﷺ pada tahun 2 H. Sebelum dinikahi Rasulullah ﷺ ia pernah menikah dengan Abdullah bin Asad al Mudirah dan memiliki anak bernama Salamah. Itu sebabnya ia dikenal dengan nama Ummu Salamah (Ibu Salamah). Suaminya ikut perang Uhud dan sempat terluka. Dalam peperangan dengan Bani Asad dia meninggal dunia.

Beberapa tahun setelah pernikahannya dengan Rasulullah ﷺ , Ummu Salamah mendampingi Rasulullah ﷺ dalam penaklukkan Mekkah, perang dengan orang Tha’if, perang melawan Bani Hawazin, dan perang melawan Bani Saqif. Ummu Salmah juga dikenal sebagai perawi hadits. Dia wafat sekitar tahun 59 atau 61 H.

8. Ramlah binti Abu Sofyan. Sebelum masuk Islam ia menikah dengan Ubaidillah bin Yahsi al Asadi, sepupu Rasulullah ﷺ . Ramlah dan suaminya masuk Islam, sementara orang tua mereka tetap musyrik bahkan memusuhinya. Karena tekanan dari kaum musyrik Quraisy Mekkah, Ramlah beserta suaminya hijrah ke Habsyah. Di tengah perjalanan hijrah yang sulit itu, Ramlah melahirkan, sementara suaminya kembali murtad. Meskipun sendirian dan menderita diperantauan Ramlah tetap teguh mempertahankan keimanannya. Kabar penderitaannya itu sampai kepada Rasulullah ﷺ . Melalui surat yang disampaikan Raja Najasyi, Rasulullah ﷺ meminangnya. Ramlah menerima pinangan itu dan menunjuk Kalid bin Sa’id bin As bin Ummayah sebagai walinya. Ketika itu dia tetap tinggal di Habsyah karena pertimbangan keamanan. Sesudah Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, beliau memerintahkan para sahabat untuk mencari umat Islam yang terpencar-pencar di pengungsian termasuk yang masih ada di Habsyah. Ramlah ikut bersama mereka kembali ke Madinah dan untuk pertama kalinya bertemu dengan Rasulullah ﷺ . Ramlah wafat tahun 44 H di masa pemerintahan adiknya, Mu’awiyah bin Abu Sofyan.

9. Hafshah binti Umar bin Khaththab, lahir lima tahun sebelum kerasulan. Pertama kali dia menikah dengan Hunain bin Hufazah, salah seorang sahabat yang ikut hijrah ke Habsyah dan ikut Perang Uhud. Ia wafat tahun 3 H. Setelah menjanda beberapa tahun Hafshah dinikahi Rasulullah ﷺ . Kehadirannya di tengah-tengah rumahtangga Rasulullah ﷺ sempat menimbulkan konflik. Ketika hadir Mariyah al-Qibtiyyah, Hafshah cemburu berat. Ia mengajak istri-istri Rasulullah ﷺ yang lain untuk mempengaruhi suami mereka agar membenci Mariyah. Rasulullah ﷺ sempat menjauhi Mariyah hingga turun ayat 1 surat At-Tahrim menegur beliau. Setelah Rasulullah ﷺ wafat, atas usul Umar bin Khaththab, Khalifah Abu Bakar mengumpulkan naskah Al-Qur’an yang tadinya berserakan baik di catatan-catatan pribadinya maupun hafalan para sahabat. Naskah Al-Qur’an lengkap pertama yang dikenal dengan ‘Mushaf Abu Bakar’ itu disimpan di rumah Hafshah. Naskah tersebut baru dikeluarkan pada zaman Khalifah Utsman untuk diperbanyak.

10. Maimunah binti Al-Harits adalah seorang janda yang dinikahi Rasulullah ﷺ beberapa saat setelah Fath Makkah. Ketika Rasulullah ﷺ beserta kaum muslim memasuki kota Mekkah, kaum musyrik yang tidak ingin bersahabat menyingkir keluar Mekkah. Akan tetapi tiba-tiba datang Maimunah dengan mengendarai unta sambil berteriak-teriak: “Unta ini beserta penunggangnya dipersembahkan untuk Allah dan Rasul-Nya.” Perbuatan Maimunah tersebut mengundang cemoohan khalayak ramai, karena belum tentu Rasulullah ﷺ mau. Abbas memberitahukan kemauan Maimunah ini kepada Rasulullah ﷺ . Ketika berita itu sampai kepada Rasulullah ﷺ , beliaupun menerima kemauan Maimunah dan menikahinya. Hal ini beliau lakukan semata-mata untuk menghindarkan Maimunah dari cemoohan dan rasa putus asa. Maimunah wafat pada tahun 15 H.

11. Zainab binti Jahsy bin Rubab bin Ya’mar bin Sabrah bin Murrah bin Kasir bin Ganam bin Daudun bin Asad bin Khuzaimah. Ibunya bernama Umainah binti Abdul Muthalib bin Hasyim; jadi masih saudara sepupu Rasulullah ﷺ . Sebelumnya Zainab adalah istri Zaid bin Haritsah, anak angkat Rasulullah ﷺ . Ia dinikahi Rasulullah ﷺ tahun 3 H. Pernikahannya ini sekaligus menghapus pandangan masyarakat Arab ketika itu yang menyamakan status anak angkat sama dengan anak kandung, termasuk pencantuman nama nasab bapak angkat, sehingga bekas istri anak angkat tidak boleh dinikahi bapak angkat.

Zainab wafat tahun 20 H. Sebelum wafat ia berkata: “Aku telah menyediakan kain kafan untukku. Umar akan mengirimkannya untukku. Oleh karena itu saya minta, salah satunya diberikan pada yang memerlukannya. Bila masih ada hak-hakku supaya disedekahkan kepada yang memerlukannya.”

12. Mariyah binti Syam’un al-Qibtiyyah, ibunya berdarah Romawi. Ia lahir dan dibesarkan di Ansuna suatu desa sebelah timur Sungai Nil. Pada masa remajanya ia tinggal di istana Raja Muqauqis Mesir sebagai pelayan istana. Ketika Habib bin Abu Balta’ah diutus menyampaikan surat dari Rasulullah ﷺ kepada Raja Muqauqis, sebetulnya raja mengakui kerasulan Muhammad ﷺ tetapi takut akan kehilangan kewibawaannya di hadapan rakyatnya, yang berarti pula akan kehilangan mahkotanya. Oleh karena itu ia membalas surat Rasulullah ﷺ dengan penuh penghormatan sambil mengirimkan Mariyah dan saudaranya, Sirrin, serta 1.000 misqal emas, 20 stel pakaian tenunan Mesir, madu lebah, kayu cendana, minyak kesturi, keledai lengkap dengan pelananya dan seekor himar putih. Mereka tiba di Madinah pada tahun 7 H. Rasulullah ﷺ menikahi Mariyah, sementara adiknya, Sirrin, dinikahkan dengan penyair Hassan bin Tsabit. Kehadiran Mariyah di antara istri-istri Rasulullah ﷺ membuat mereka cemburu, terutama Hafshah dan Aisyah, lebih-lebih setelah Mariyah hamil dan melahirkan Ibrahim (wafat pada usia satu setengah tahun). Mariyah wafat pada tahun 16 H pada masa Khalifah Umar bin Khaththab.

وَاللّهُ أعلَم بِالصَّوَاب

(sumber: Ensiklopedia Islam Indonesia, Penerbit Djambatan)

‎۞ اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ۞


Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out /  Tukar )

Google photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google anda. Log Out /  Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out /  Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out /  Tukar )

Connecting to %s

Kategori

%d bloggers like this: