Posted by: peribadirasulullah | Januari 27, 2018

PA SHOLEH YANG SHOLIH

Foto

PA SHOLEH YANG SHOLIH

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh
Santun malam sahabat SATAMA

Pada suatu hari, Pak Soleh yang tajir dan berprofesi sebagai pengusaha sukses sedang menginap di sebuah hotel mewah berbintang lima di Semarang.

Usai melakukan qiyamul-lail yang sudah menjadi rutinitasnya, ia bergegas ke luar hotel untuk mencari masjid terdekat untuk shalat Shubuh berjamaah. Waktu saat itu menunjukkan bahwa waktu adzan Shubuh kira-kira setengah jam ke depan. Sehingga Ia ingin jalan-jalan sebentar sebelum sholat shubuh.

Begitu Ia keluar dari lobby hotel, Pak Soleh pun meminta kepada tukang becak yang sedang mangkal di depan Hotel untuk mengantarnya keliling Semarang. Kira-kira belasan menit sudah sang Tukang becak mengayuhkan pedal becaknya, sayup-sayup terdengar suara tarkhim yang mengisyaratkan waktu shubuh akan tiba.

Sejurus kemudian, si Tukang Becak berkata santun kepada penumpangnya;
“Mohon maaf ya Pak. Boleh tidak bapak saya pindahkan ke becak lain?”

Pak Soleh membalas, “Memangnya bapak mau ke mana?”

“Mohon maaf pak. Saya mau pergi ke masjid!” jawab si Tukang Becak.

Terus terang Pak Soleh yang Solih itu pun kaget sekaligus kagum atas jawaban si Tukang Becak. Namun ia ingin mencari alasan mengapa si Tukang Becak tersebut sedemikian hebat kemauannya hingga ingin pergi ke masjid.

“Kenapa harus pergi ke masjid Pak? Oh ya, saya juga mau tanya nama Bapak siapa?” tanyanya.

Si Tukang Becak dengan polos menjawab, “Saya Ibnu Pak. Saya sudah lama bertekad untuk selalu bisa mengumandangkanadzan di masjid agar orang-orang bangun dan melaksanakan solat Shubuh. Sayang khan Pak, kalau kita tidak shalat Shubuh” jelas Ibnu singkat.

Jawaban ini semakin membuatnya bertambah kagum. Namun Ia belum begitu puas sehingga ia melontarkan pertanyaan yang menggoyah keimanan Ibnu.

“Pak Ibnu, bagaimana kalau Pak Ibnu tidak usah ke masjid, tapi Pak Ibnu temani saya saja keliling-keliling kota, dan saya akan membayar Rp 700 ribu sebagai imbalannya?”

“Mohon maaf Pak, Uang Rp. 700 ribu itu memang cukup besar, apalagi untuk ukuran orang seperti saya. Dan saya sangat berterima kasih atas kebaikan hati Bapak. Namun pahala shalat sunnah Fajar ini tidak ada bandinganya Pak. Lebih mahal daripada dunia beserta isinya, dan itu yang sangat saya yakini Pak”, dengan santun Ibnu menolak tawaran itu.

Pak Soleh terkejut dan begitu takjub atas ketaatan Ibnu. Bahkan ketika ia memberikan tawaran dua kali lipat, tetap saja Ibnu menolak. Kekaguman pun membawanya menyadari bahwa ada pelajaran berarti yang sedang ia dapati dari seorang guru kehidupan; Si Tukang Becak, bernama Ibnu.

Beberapa saat kemudian, Ibnu dan Pak Soleh pun tiba di salah satu masjid. Usai sholat dan puas berdoa, Pak Soleh yang tajir itu lalu berdiri dan menghampiri tubuh Ibnu. Ia gamit tangan Ibnu untuk berjabat lalu memeluk tubuhnya dengan erat. Sementara Ibnu belum mengerti apa maksud perbuatan yang dilakukan Pak Soleh.

Dalam pelukan itu, Pak Soleh membisikkan kalimat ke telinga Ibnu,
“Mohon pak Ibnu tidak menolak tawaran saya kali ini.”

“Maksud Bapak? Bapak mau menyuruh saya menemani Bapak keliling lagi? Kalau sekarang, dengan senang hati, Saya takkan menolak, Pak.”

“Begini, Pak Ibnu. Dalam doa munajat kepada Allôh tadi, saya sudah bernazar untuk memberangkatkan pak Ibnu berhaji tahun ini ke Baitullah menemani saya. Mohon bapak jangan menolak tawaran saya ini.”

Bagai kilat yang menyambar, betapa hati Ibnu teramat kaget mendengar penuturan Pak Soleh. Kini Ibnu pun mengeratkan pelukan ke tubuh Pak Soleh dan ia berkata, “Subhanallôh walhamdulillâh ya Allôh. Terima kasih pak!” matanya berkaca-kaca.

Begitulah kisah singkat tentang Si Solih dan seorang tukang becak yang memiliki kebulatan tekad dan prinsip yang benar-benar ia lakukan dengan sepenuh hati.

Tidak menjadi masalah jika seorang harus bergelut dengan kemiskinan. Tetapi yang terpenting Ia harus memiliki akhlak yang baik dan prinsip beragama yang benar-benar dia jalankan.

Kadang kita melihat begitu banyak orang yang sengaja meninggalkan solat walaupun ia tahu itu wajib. Entah apa yang ada dalam fikiran mereka tersebut, padahal solat itu jelas-jelas kewajiban bagi orang Islam. Dan Allôh Ta’ala menyeru kita untuk menjadikan sabar dan solat sebagai penolong kita.

Selan itu “Amal pertama yang dihisab dari seorang hamba di hari kiamat adalah shalat. Dan barangsiapa yang baik shalatnya, maka baik pula segala amalan yang lain, dan barangsiapa yang rusak (ditolak) shalatnya, maka rusak (ditolak) pula segala amalan lainnya”
(HR Thabrani)

Semoga Sang Pencipta senantiasa mencurahkan rohmat dan kasih sayang-Nya kepada kita semua. Aamiiin


Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out /  Tukar )

Google photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google anda. Log Out /  Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out /  Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out /  Tukar )

Connecting to %s

Kategori

%d bloggers like this: