Posted by: peribadirasulullah | Januari 26, 2018

Pandangan Imam Al-Ghazali Tentang Pendidikan

Foto

Tahafut AL-Falasifah Dan Pandangan Imam
Al-Ghazali Tentang Pendidikan

2.1. Biografi Imam Al-Ghazali
Perlu diketahui bahwa kehidupan Imam al-Ghazali dibagi 3 (tiga) fase kehidupan yaitu:
1) Fase pra-keraguan, fase yang bisa dikesampingkan. Karena pada fase ini al-Ghazali masih seorang pelajar yang belum mencapai tarap kematangan intelektual, yang mempersiapkan diri untuk menjadi seorang yang memiliki pendapat independen. Fase ini Al-Ghazali telah bercerita bahwa ada keraguan yang menghantuinnya sejak masih muda.
2) Fase kedua, fase terjadinya keraguan, keraguan yang keras maupun yang ringan. Fase ini terjadi dalam rentang waktu yang lama, yang berawal sejak usia muda sampai al-Ghazali memasuki dunia tasauf dan memperoleh hidayah Allah. Di tengah fase ini al-Ghazali menulis karya-karyanya dalam ilmu kalam, kritik terhadap filsafat dan aliran bathiniyah. Pada saat itu Al-Ghazali mengajar di dua sekolah yaitu, Naisabur dan Baghdad. Pada fase ini al-Ghazali juga menulis tentang tahafut al-falasifah yang beliau katakan sebagai sarana mendustakan mazhab para filosof. Sedangkan untuk mengafirmasi mazhab yang benar beliau menyatakan setelah selesai penyusunan kitab tahafut ini beliau dengan petunjuk Allah (berjanji) akan menyusun kitab dengan tema Qowa’id al-aQa’id (prinsip-prinsip keyakinan). Al-Ghazali memenuhi janjinya, menulis bukunya yang terkenal Qowa’id al-aQa’id.
3) Fase ketiga, yaitu fase dimana al-Ghazali telah mendapat petunjuk pada pandangan ketersingkapan tabir sufistik (al-kasyf ash-shufiyyah). Fase ini adalah fase yang memungkinkan untuk menjadikan karya-karyanya sebagai rujukan untuk menggambarkan mazhab yang benar versi al-Ghazali. Tetapi tidak semua karyanya pada fase ini layak untuk hal tersebut, karena pada fase ini al-Ghazali juga hadir dengan karyanya dalam pengertian mazhab yang lain.
Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad at-Thusi al- Ghazali adalah nama lengkap dari Imam al-Ghazali. Lahir di Thus, Khurasan, suatu tempat kira-kira sepuluh mil dari Naizabur, Persia. Tepatnya lahir pada tahun : 450 Hijriyah. Wafatnyapun di negeri kelahiran tersebut, pada tahun 505 Hijriyah. Perjalanan al-Ghazali dalam memulai pendidikannya di wilayah kelahirannya. Kepada ayahnya beliau belajar Al-qur’an dan dasar-dasar ilmu keagamaan lainnya, selanjutnya mempelajari dasar-dasar pengetahuan lainnya di Thus. Santunan kehidupan sebagaimana lazimnya waktu beliau untuk belajar fiqh pada Imam Kharamain, al-Ghazali mempelajari beragam mazhab dan ikhtilaf yang terjadi diantaranya perbedaan pendapat), mantik, hikmah, dan falsafah.
Setelah Imam Kharamain wafat, beliau pergi ke Baghdad dan mengajar di Nizhamiyah. Beliau mengarang kitab al-basith, al-wasith, al-wajiz, dan al-khulashah. Dalam ushul fiqih beliau mengarang kitab al-mustasfa, al-mankhul, bidayatul hidayah, dan kitab-kitab lain dalam berbagai bidang. Antara tahun 465-470 H. al-Ghazali belajar fiqih dan ilmu-ilmu dasar yang lain dari Ahmad Al-Radzaski di Thus, dan Abu Nasral Ismaili di Jurjan. Setelah al-Ghazali kembali ke Thus, dan selama 3 tahun di tempat kelahirannya, beliau mengaji ulang pelajaran di Jurjan sambil belajar tasawuf kepada Yusuf Al Nassai (w-487 H). Pada tahun itu al-Ghazali berkenalan dengan al-Juwaini dan memperoleh ilmu kalam dan mantiq.
Walaupun kemashuran telah diraihnya, al-Ghazali tetap setia terhadap gurunya sampai wafatnya pada tahun 478 H. Sebelum al Juwani wafat, beliau memperkenalkan Imam al-Ghazali kepada Nidzham Al-Mulk, perdana menteri sultan Saljuk Malik Syah. Nidzham adalah pendiri madrasah al-Nidzhamiyah. Di Naisabur ini imam al Ghazali sempat belajar tasawuf kepada Abu Ali Al-Faldl Ibn Muhammad Ibn Ali Al- Farmadi (w.477 H/1084 M). Setelah gurunya wafat, al Ghazali meninggalkan Naisabur menuju negeri Askar untuk berjumpa dengan Nidzham al Mulk. Di daerah ini beliau mendapat kehormatan untuk berdebat dengan ‘ulama. Dari perdebatan yang dimenangkannya, namanya semakin populer dan disegani karena keluasan ilmunya. Pada tahun 484 H/1091 M, al Ghazali diangkat menjadi guru besar di madrasah Nidzhamiyah, ini dijelaskan dalam bukunya al Munkid min al-Dhalal. Selama mengajar di madrasah, al- Ghazali mendalami filsafat secara otodidak, terutama pemikiran al- Farabi, Ibn Sina, Ibn Miskawih dan Ikhwan Al Shafa. Untuk membuktikan kemampuannya dalam bidang filsafat, al-Ghazali menulis karya Muqaddimah Tahafut al-Falasifah al-Musamma Maqashid al-Falasifah”.
Pada tahun 488 H/1095 M, imam al Ghazali dilanda keraguan terhadap ilmu-ilmu yang dipelajarinya (hukum teologi dan filsafat). Keraguan terhadap pekerjaan dan karya-karya yang dihasilkannya, menyebabkan ia menderita penyakit selama dua bulan dan sulit diobati. Karena itu, al Ghazali tidak dapat menjalankan tugasnya sebagai guru besar di Madrasah Nidzamiyah, yang akhirnya beliau meninggalkan Baghdad menuju kota Damaskus. Selama kira-kira dua tahun di Damaskus, al Ghazali melakukan uzlah, riyadhah, dan mujahadah. Kemudian beliau pindah ke Bayt al-Maqdis Palestina untuk melakukan hal serupa, untuk kemudian tergerak hatinya menunaikan ibadah haji dan menziarahi maqam Rosulullah Saw.
Sepulang dari tanah suci, al-Ghazali mengunjungi kota kelahirannya Thus, di sinilah beliau tetap berkhalwat dalam keadaan skeptis, berlangsung selama 10 tahun. Pada periode itulah beliau menulis karyanya yang terkenal Ihya’ al-Ulumuddin(menghidupkan kembali ilmu agama). Kemudian beliau mendirikan madrasah bagi para fuqaha dan Zawiyah–Khanaqoh untuk para Sufi. Di kota inilah beliau wafat pada tahun 505 H /1 Desember 1111 M. Abul Fajar al-Jauzi dalam kitabnya al-‘Asabah ‘inda Amanah mengatakan, Ahmad saudaranya al Ghazali berkata pada waktu shubuh, Al-Ghazali berwudhu dan melakukan sholat, kemudian beliau berkata: “ambillah kain kafan untukku, ” kemudian ia mengambil dan menciumnya lalu meletakkan di atas kedua matanya sambil berkata, ”Aku mendengar dan taat untuk menemui Al-Malik kemudian menjulurkan kakinya dan menghadap kiblat. al Ghazali yang bergelar hujjatul islam itu meninggal dunia menjelang matahari terbit di kota kelahirannya Thus (Mashad-Iran sekarang) pada hari senin 14 Jumadil Akhir 505 H (1111 M). Imam al Ghazali dimakamkan di Zhahir al Tabiran, ibu kota Thus.

2.2. Pemikiran Imam Al-Ghazali dalam Kitab Tahafut al-Falasifah
Dari segi bahasa, Tahafut berarti keguguran dan kelemahan. Orang mengatakan, tahafata’ts-tsaubu, artinya: kain jatuh dan rusak. Yang dimaksudkan ialah bahwa para filosof telah jatuh mati akibat tikaman maut yang diarahkan oleh al-Ghazali terhadap pemikiran mereka. Pada hakikatnya, tikaman itu mamang mematikan, mengenai inti masalah sehingga ilmu filsafat tidak lagi muncul sesudah itu (di dunia Islam), kendatipun adanya upaya mati-matian dari Ibn Rusyd untuk mempertahankannya
Al-Ghazali menulis buku Tahafutnya ketika sedang dalam fase skeptis ringan (asy-syakk al-khafif), yaitu ketika belum mendapat petunjuk pada hakekat kebenaran. Ini menuntut tidak adanya pengakuan atas tahafut sebagai salah satu sumber yang dapat dijadikan rujukan tentang ide dan orientasi pemikiran al-Ghazali. Al-Ghazali sendiri membagi seluruh karyanya menjadi dua. Pertama, kelompok karya yang istilahkan “yang terlarang bagi selain yang berkompeten” (al-madhnun biha ala ghairi ahliha). Kedua, karya-karya yang disajikan untuk konsumsi masyarakat umum (jumhur). Ia adalah kelompok karya yang memang diperuntukkan bagi masyarakat yang sesuai dengan tingkat intelektualitasnya. Kemudian ia menyebut tahafut termasuk kelompok kedua.
Tahafut al-falasifah adalah kitab yang disusun oleh al-Ghazali saat menjabat di Madrasah an-Nidhomiyah Bagdad. Isi dari tahafut al-falasifah adalah sanggahan-sanggahan al-Ghazali pada hasil pemikiran filsafat Yunani yang dibawa oleh Ibnu sina dan Ibnu Arabi’. Terdapat 20 perkara pemikiran filsafat yang dikritik dan coba diruntuhkan oleh al-Ghozali. Dalam 20 persoalan tersebut terdapat 3 persoalan yang oleh al-Ghazali yang dibantah logikanya dan dibantah hasil pemikirannya serta dikafirkan jika mempercayainya, yaitu keqodiman Alam, Allah tidak mengetahui partikularia-partikularia dan pengingkaran filosof akan kebangkitan jasmani di hari akhir. Sedang 17 persoalan sisa adalah persoalan-persoalan yang dibantah logikanya tapi belum tentu substansinya.
2.3. Konsep Pemikiran Pendidikan Menurut Al-Ghazali
2.3.1. Tujuan Pendidikan Menurut Al Ghazali
Menurut Al Ghazali, pendidikan dalam prosesnya haruslah mengarah kepada pendekatan diri kepada Allah dan kesempurnaan insan, mengarahkan manusia untuk mencapai tujuan hidupnya yaitu bahagia dunia dan akhirat. Pendekatan diri kepada Allah merupakan tujuan pendidikan. Orang dapat mendekatkan diri kepada Allah hanya setelah memperoleh ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itu sendiri tidak akan dapat diperoleh manusia kecuali melalui pengajaran.
Menurut Al Ghazali tujuan pendidikan dapat dibagi menjadi dua (Abu Muhammad Iqbal, 2013: 14):
1. Pertama: tercapainnya kesempurnaan diri yang bermuara pendekatan kepada Allah.
2. Kedua: kesempurnaan yang bermuara kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.
Tujuan pendidikan yang pertma ialah pendekatan diri kepada Allah. Pendidikan dalam prosesnya harus mengarahkan manusia menuju pengenalan dan kemudian pendekatan diri kepada tuhan pencipta alam. Semakin lama seseorang duduk dibangku pendidikan, semakin bertambah ilmu pengetahuannya, maka semakin mendekat kepada Allah. Menurut Al Ghazali tujuan pendidikan kesempurnaan yang bermuara kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. adalah diraihnya profesi manusia sesuai bakat dan kemampuannya. Sayarat untuk mencapai tujuan itu, manusia mengembangkan ilmu pengetahuan, baik yang termasuk fardhu’ain maupun fardhu kifayat. Dengan menguasai ilmu fardhu kifayah dan selanjutnya menguasai profesi tertentu, manusia dapat melaksanakan tugas-tugas keduniaan, dapat bekerja dengan sebaik-baiknya untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Dalam upaya mencapai tujuan yang diinginlan dalam pendidikan, Al-Ghazali menjelaskan materi pendidikan dalam kitab Ayyuha al-Walad(Abu Muhammad Iqbal, 2013: 14-16)
1) Ilmu,
Inti ilmu adalah pengetahuan yang membuat seseorang faham akan makna ketaatan dan ibadah. Sebab ketaatan dan ibadah dalam rangka melaksanakan perintak Allah dan larangannya harus mengikuti syariah.
2) Tasawuf,
Menurut Al-ghazali tasawuf memiliki dua karaktristik, yaitu istikomah dan sakinah(tenang) terhadap mahluknya. Sehingga barang siapa yang bisa istiqamah, berahlak mulia dan bergaul dengan santun, maka ia adalah seoarang sufi. Istiqamah adalah kesediaan seseorang untuk mengorbankan kepentingan dirinya.
3) Ubudiyah dan Tawakkal, Ikhlas dan Riya
Al-ghazali membagi ubudiyah menjadi tiga bagian. Pertama menjaga perintah syariah. Kedua, meninggalkan rdiha diri dalam rangka mencari ridla allah. Tawakal adalah usaha tau upaya untuk meneguhkan keyakinan kepada Allah sehubungan dengan apa-apa yang dijanjikannya. Ikhlas adalah menjadikan semua amal untuk Allah SWT, tidak merasa gembira dengan pujian manusia dan tidak peduli dengan celaan mereka. Riya adalah pengagungan terhadap manusia. Cara menghilangkannya adalah dengan menyadari bahwa semua manusia tunduk kepada kekuasaan Allah, atau dengan menganggap mereka benda-benda mati yang tidak mampu memberi kemudahan ataupun kesulitan.
2.3.2. Kurikulum Pendidikan
Kurikulum berarti seperangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik dalam satu periode jenjang pendidikan. Konsep kurikulum yang dikemukakan Al-Ghazali terkit erat dengan konsepnya mengenai ilmu pengetahuan. Dalam pandangan Al-Ghazali ilmu terbagi menjadi tiga bagian, sebagai berikut(Abu Muhammad Iqbal, 2013: 20-24):
a) Pertama, ilmu yang terkutuk baik sedikit maupun banyak, yaitu ilmu-ilmu yang tidak ada manfaatnya baik di dunia maupun di akherat, seperti ilmu sihir, ilmu nujum dan ilmu ramalan. Al-ghazali menilai terkadang ilmu-ilmu tersebut menimbulkan mudharat (kesusahan) baik yang memiliknya maupun orang lain. Contoh ilmu sihir dan ilmu guna-guna dapat mencelakakan orang, menyebarkan rasa sakit hati, permusuhan menimbulkan kejahatan dan lain sebaginnya.
b) Kedua, ilmu-ilmu yang terpuji baik sedikit maupun banyak, yaitu ilmu yang erat kaitannya dengan peribadatan dan macam-macamnya, seperti ilmu yang berkiatan dengan kebersihan diri dari cacat dan dosa serta ilmu yang dapat menjadi bekal untuk mengetahui yang baik serta melaksanakannya, ilmu-ilmu yang mengajarkan manusia cara-cara mendekatkan diri kepada Allah dan melakukan yang diridhainya, serta dapat membekali hidupnya diakherat.
c) Ketiga, ilmu-ilmu yang terpuji dalam kadar tertentu, atau sedikit dan tercela jika dipelajarinya secara mendalam itu dapat menyebabkan terjadinnya kekacauan dan kesemrawutan antara keyakinan dan keraguan, serta dapat pula membawa kekafiran, seperti ilmu filsafat. Ilmu filsafat dibagi olah Al-ghazali menjadi ilmu matematika, ilmu-ilmu logika, ilmu ilahiyah, ilmu fisika, ilmu politik dan ilmu etika.
2.3.3. Metode Pembelajaran
Metode pelajaran Islam dalam pelaksanaannya membutuhkan metode yang tepat untuk menghantarkan kegiatan pendidikannya ke arah tujuan yang dicita-citakan. Bagaimanapun dan sempurnanya suatu kurikulum atau materi pendidikan Islam, tidak akan berarti apa-apa, manakala tidak memiliki metode atau cara yang tepat dalam mentransformasikan kepada peserta didik. Ketidaktepatan dalam penerapan metode secara praktis akan menghambat proses belajar mengajar yang akan berakibat membuang waktu dan tenaga secara percuma. karenanya, metode adalah syarat untuk efisiensinya aktivitas kependidikan Islam.
Metode yang disarankan Al Ghazali dalm Abu Muhammad Iqbal, (2013: 26) diantaranya:
1) Metode pembiasaan: dalam hal ini bahwa pendidikan didasarkan atas mujahadah( ketekunan) dan latihan jiwa. Mujahadah dan riyadhoh nafsiyah( ketekunan dan latihan kejiwaan).
Al Ghazali dalam kitab ayuha al walad:
“Hai anakku! berapa malam yang kau gunakan untuk belajar ilmu( tikrar Al Ilmu) dan ngaji kitab(muthala’ah al-kutub) dan mengharamkan tidur atas dirimu? Aku tidak tahu apa yang menjadikan semangat dalam hidupmu? jika semangatmu hanya untuk harta dunia atau kedudukan di dunia atau untuk berbuat sombong, maka kehancuran lah yang akan Kau Dapatkan. Tetapi jika tujuan hidupmu untuk menghidupkan syariat nabi dan membersihkan akhlak maka keberuntungan lah yang akan Kau Dapatkan”(Abu Muhammad Iqbal, 2013: 26)”.
2) Metode cerita atau kisah. Metode ini dilatarbelakangi oleh kewajiban seseorang yang harus mengamalkan ilmunya, sebab seperti sabda Nabi: bahwa azab siksa yang paling pedih di akhirat nanti adalah dikenakan kepada orang Alim (berilmu) yang tidak diberi manfaat untuk mengamalkan ilmunya oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
2.3.4. Subjek pendidikan
Subjek pendidikan menurut Al Ghazali tidak bisa dilepaskan dari pola hubungan(relasi) guru dan murid. Karena kedua Hal inilah yang akan menentukan berhasil tidaknya tujuan pendidikan ibarat pendidikan Kalau sarana dan prasarana jelek akan tetap bisa berjalan, namun Kalau tidak ada guru Pendidikan tidak akan bisa berjalan.
a) Guru: tugas dan persyaratannya
Kedudukan guru dalam pandangan al-ghazali sangat mulia, Hal ini terlihat dari ungkapannya sebagai berikut:’ barangsiapa mengetahui mengamalkan dan mengajar maka dialah yang dinamakan dengan seorang besar di kerajaan langit dia adalah seperti matahari yang menerangi kepada selainnya dan Ia menerangi pada dirinya dan dia adalah seperti minyak kasturi yang mengharu nilainya sedang dia sendiri harum”.
Jadi seorang guru mengemban peran yang sangat penting karena pendidikan Islam adalah berintikan agama yang mementingkan akhlak meskipun mempunyai bermacam-macam cabang dan tujuan. Tugas seorang guru memberikan ilmu sebagai makanannya sebagai kebutuhan manusia yang tinggi disamping ia sebagai alat untuk sampai kepada Allah SWT.
Syarat seorang guru dapat menjadi wakil Rosulullah SAW. Haruslah seorang yang alim meski tidak semua orang yang alim dapat menjadi khalifah nya. Sebagian persyaratan itu adalah tidak mencintai dunia dan kedudukan; pernah belajar kepada seorang Syekh yang memiliki silsilah pembimbingan sampai kepada penghulu para nabi; memilih riyadhoh yang baik dalam membentuk sedikit makan sedikit bicara dan sedikit tidur banyak melakukan shalat sunnah sedekah dan puasa selama masa belajarnya sanksi harus berhasil meraih berbagai pekerti mulia seperti sabar rajin sholat syukur tawakal yakin Dermawan qana’ah berjiwa tenang santun rendah hati berilmu jujur dan benar pemalu Setia hikmah tenang tidak terburu-buru nafsu dan lain-lain. Dengan sifat-sifat ini seorang Syekh menjadi sejarah cahaya dari cahaya cahaya dari cahaya cahaya petunjuk nabi sehingga seorang syaikh pantas dijadikan panutan. Namun keberadaan sih semacam ini sangat jarang.
b) Kriteria guru yang baik
Sejalan dengan uraian tersebut diatas Al Ghazali sampai pada uraian mengenai kriteria guru yang baik. Menurutnya bahwa guru yang dapat diserahi tugas mengajar adalah guru yang selain cerdas dan sempurna akhlaknya juga guru yang baik akhlaknya dan kuat fisiknya. Dengan kesempurnaan akal seorang guru dapat memiliki berbagai ilmu pengetahuan secara mendalam dan dengan akhlaknya yang baik seorang guru dapat menjadi contoh dan teladan bagi para muridnya dan dengan kuat fisiknya seorang guru dapat melaksanakan tugas mengajarnya mendidik dan mengarahkan murid-muridnya.
Selain sifat umum yang harus dimiliki guru seorang guru juga harus memiliki sifat-sifat khusus atau tugas-tugas tertentu. Al-Ghazali dalam Abu Muhammad Iqbal, (2013: 27-30) diantaranya:
1) Rasa kasih sayang
2) Tidak boleh menuntut upah atas jerih payah mengajarnya
3) Sebagai pengarah dan penyuluh yang jujur dan benar di hadapan murid-muridnya
4) Memiliki rasa simpati halus dan tidak menggunakan kekerasan, cacian, Makian dan sebagainya.
5) Sebagai teladan atau panutan yang baik dihadapan murid-muridnya
6) Memiliki prinsip mengakui adanya perbedaan potensi yang dimiliki murid secara individual dan memperlakukannya sesuai dengan tingkat perbedaan yang dimiliki murid tersebut.
7) Harus memahami bakat tapi syarat dan kewajiban muridnya sesuai dengan tingkat perbedaan usianya.
8) Berpegang teguh kepada prinsip yang diucapkannya.
c) Sifat murid yang baik
Dengan dasar pemikiran ini maka seorang murid yang baik adalah murid yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut Al-Ghazali dalam Abu Muhammad Iqbal, (2013: 31-33).
1) Seorang murid harus berjiwa bersih terhindar dari budi pekerti yang hina dan sifat-sifat tercela lainnya.
2) Seorang murid yang baik juga harus menjauhkan diri dari persoalan-persoalan duniawi mengurangi keterikatan dengan dunia mengurangi keterikatan dengan dunia dan masalah-masalahnya yang dapat mengganggu lancarnya penguasaan ilmu.
3) Seorang murid yang baik tandanya sikap rendah hati atau tawadhu
4) Khusus untuk murid yang baru hendaknya jangan mempelajari ilmu-ilmu yang saling berlawanan.
5) Seorang murid yang baik anaknya mendahulukan mempelajari yang wajib.
6) Seorang murid yang baik tidaknya mempelajari ilmu secara bertahap
7) Seorang murid pundaknya tidak Mempelajari satu disiplin ilmu sebelum menguasai disiplin ilmu sebelumnya
8) Seorang murid dendanya juga mengenal nilai setiap ilmu yang dipelajarinya

2.3.5. Evalusi Pendidkan
Pendapat Al Ghazali mengenai evaluasi ada aneh memang terutama bagi orang yang terbiasa menghadapi evaluasi melalui kertas dan pensil dengan item-item yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu evaluasi Al Gazali adalah evaluasi melalui hidup dengan segala cobaan Bukankah pendidikan itu kehidupan seperti John dewey, bukan sekedar persiapan untuk hidup’. Kalau pendidikan adalah kehidupan maka orang yang menghadapi evaluasi dalam pendidikan haruslah betul-betul muncul dari kehidupan itu. Speknya harus di rekayasa dari situasi sebenarnya dan untuk menjawabnya bisa baca buku malah kalau perlu ujian diadakan di perpustakaan sehingga kalau lupa satu formula dalam statistik misalnya bisa pergi membaca sederetan buku statistik yang ada di perpustakaan Bukankah dalam kehidupan sehari-hari kita sebenarnya tidak pernah menghafal formula dan kehidupan juga tidak menuntut kita menghafal formula-formula itu yang dituntutnya ialah menyelesaikan masalah yang dihadapi.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad at-Thusi al Ghazali adalah nama lengkap dari Imam al-Ghazali. Lahir di Thus, Khurasan, suatu tempat kira-kira sepuluh mil dari Naizabur, Persia. Tepatnya lahir pada tahun : 450 Hijriyah. Wafatnyapun di negeri kelahiran tersebut, pada tahun 505 Hijriyah. Perjalanan al-Ghazali dalam memulai pendidikannya di wilayah kelahirannya.
2. Menurut Al Ghazali, pendidikan dalam prosesnya haruslah mengarah kepada pendekatan diri kepada Allah dan kesempurnaan insan, mengarahkan manusia untuk mencapai tujuan hidupnya yaitu bahagia dunia dan akhirat.
3. tujuan pendidikan menurut Al-Ghazali.
 Pertama: tercapainnya kesempurnaan diri yang bermuara pendekatan kepada Allah.
 Kedua: kesempurnaan yang bermuara kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.
4. Kurikulum pendidikan menurut Al-Ghazali.
 Pertama, ilmu yang terkutuk baik sedikit maupun banyak, yaitu ilmu-ilmu yang tidak ada manfaatnya baik di dunia maupun di akherat, seperti ilmu sihir, ilmu nujum dan ilmu ramalan. Al-ghazali menilai terkadang ilmu-ilmu tersebut menimbulkan mudharat (kesusahan) baik yang memiliknya maupun orang lain.
 Kedua, ilmu-ilmu yang terpuji baik sedikit maupun banyak, yaitu ilmu yang erat kaitannya dengan peribadatan dan macam-macamnya, seperti ilmu yang berkiatan dengan kebersihan diri dari cacat dan dosa serta ilmu yang dapat menjadi bekal untuk mengetahui yang baik serta melaksanakannya, ilmu-ilmu yang mengajarkan manusia cara-cara mendekatkan diri kepada Allah dan melakukan yang diridhainya, serta dapat membekali hidupnya diakherat.
 Ketiga, ilmu-ilmu yang terpuji dalam kadar tertentu, atau sedikit dan tercela jika dipelajarinya secara mendalam itu dapat menyebabkan terjadinnya kekacauan dan kesemrawutan antara keyakinan dan keraguan, serta dapat pula membawa kekafiran, seperti ilmu filsafat.
5. Evalusi menurut Al-Ghazali, adalah evaluasi melalui hidup dengan segala cobaan Bukankah pendidikan itu kehidupan seperti John dewey, bukan sekedar persiapan untuk hidup’. Kalau pendidikan adalah kehidupan maka orang yang menghadapi evaluasi dalam pendidikan haruslah betul-betul muncul dari kehidupan itu.

Daftar Pustaka

Abu Muhammad Iqbal, (2013). Konsep Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan. Madiun:Jaya Star nine.
Imam Al-Ghazali. (1986). Tahafut Al-Falasifah: Kerancuan Para Filosof. Edisi ke v. Diterjemahkan oleh: Ahmad Maimun: Bandung: Penenrbit Maja.
M. Sholihin, (2001). Epistemologi Ilmu Dalam Sudut Pandang Al Ghazali, Bandung: cv Pustaka Setia.

Dikongsi secara terbuka

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out /  Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out /  Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out /  Tukar )

Connecting to %s

Kategori

%d bloggers like this: