Posted by: peribadirasulullah | Jun 4, 2017

Gambaran Ibadah Para Salafush Shalih

No automatic alt text available.

Image may contain: sky, text and outdoor

Renungan Bersama Ihya Assunnah Solution

*Keadaan Salafush Shalih Di Malam Hari (1)*
————————————————

*BEBERAPA GAMBARAN MENGENAI QIYAAMUL LAIL*

Oleh :
Muhammad bin Suud Al-Uraifi

Keadaan Salafush Shalih di Malam Hari
Salafush Shalih adalah orang-orang yang berpaling dari dunia dan menggantinya (dengan akhirat) dan mereka tidak menjual perjanjian Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan harga yang sedikit.
Mereka adalah orang-orang yang mengkhawatirkan kemalangan (di akhirat) dan mereka mencemaskan yang terdahulu dalam hal yang ghaib dan tersembunyi, maka hal itu akan menghalangi antara mereka dengan apa yang mereka inginkan, mereka selalu menunggu akhir ajalnya, bagaimana keadaannya, mereka itulah wali-wali Allah Subhanahu wa Ta’ala yang shalih.

Gambaran Ibadah Para Salafush Shalih

1. ‘Amir bin Qais rahimahullah

Dia adalah panutan, seorang wali, seorang yang zuhud dan rahib umat ini.

Mengenai dirinya, al-Hasan berkata, “‘Amir melakukan shalat di antara dua shalat ‘Isya’ (Maghrib dan ‘Isya’), kemudian pulang ke rumahnya, lalu makan roti dan tidur sejenak, kemudian bangun untuk melakukan shalat, kemudian sahur dan keluar (untuk melakukan shalat Shubuh berjama’ah).”[1]

Dia melakukan shalat hingga kedua telapak kakinya membengkak, lalu dia berkata, “Wahai orang yang selalu memerintahkan keburukan, sesungguhnya engkau diciptakan hanyalah untuk beribadah.”[2]

Istrinya pernah berkata, “Orang-orang sedang tidur sedangkan engkau tidak tidur.”
Dia menjawab, “Sesungguhnya Neraka Jahannam tidak akan membiarkan aku tertidur.”[3]

Qatadah berkata, “Tatkala kematiannya menjelang, ‘Amir menangis, lalu ada yang bertanya, ‘Apa yang membuatmu menagis?’
Dia menjawab, ‘Tidaklah aku menangis karena takut akan kematian, juga bukan karena tamak atas dunia ini, akan tetapi aku menangis atas rasa haus di tengah hari dan ibadah di malam hari (karena tidak dapat melanjutkan lagi).'”[4]

2. Ar-Rabi’ bin Khutsaim rahimahullah

Dia adalah pemimpin yang menjadi panutan, seorang ahli ibadah dan salah seorang imam terkenal.
Ketika Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu melihatnya, beliau berkata, “Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).
Demi Allah, seandainya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatmu, pastilah beliau akan mencintaimu.”[5]

Dia adalah seorang pendiam, selalu khusyu’, sangat memelihara pandangannya hingga sebagian orang mengira bahwa dia adalah orang buta, maka ketika pelayan wanita Ibnu Mas’ud melihatnya, dia berkata (kepada Ibnu Mas’ud), “Temanmu yang buta telah datang.”
Lalu Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu tertawa (karenanya).[6]

Diriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin ‘Ajlan, dia berkata, “Pada suatu malam, aku pernah bermalam bersama ar-Rabi’ bin Khutsaim, lalu dia bangun untuk melakukan shalat, ketika melewati ayat ini : أَمْ حَسِبَ الَّذِيـنَ اجْتَـرَحُوا السَّيِّئَاتِ ‘Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu’
(Al-Jaatsiyah: 21), dia terdiam pada malamnya itu, hingga ketika memasuki waktu Shubuh, dia tidak melewati ayat ini ke ayat lainnya dikarenakan isak tangisnya yang semakin menjadi-jadi.”[7]

Tatkala ibundanya melihat dia sering menangis dan selalu bersungguh-sungguh serta apa yang diperbuatnya dengan dirinya, maka dia berkata kepadanya, “Wahai anakku, bisa jadi engkau akan mati terbunuh, tidakkah engkau takut jika engkau mati karena ini?”
Dia menjawab, “Ya,” lalu ibundanya bertanya, “Siapakah dia hingga kami meminta kepada mereka agar mereka mau memaafkan dirimu dan membiarkan hak mereka darimu? Demi Allah, jika mereka melihat apa yang engkau temui, pastilah mereka akan mengasihanimu dan berbuat baik kepadamu.”
Lalu dia menjawab, “Aku membunuh diriku sendiri.”
Yang dia maksud adalah membunuhnya dengan kemaksiatan dan dosa.[8]

3. ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz rahimahullah

Dia adalah khalifah yang zuhud dan cerdas, dia adalah khalifah Bani Umayyah yang paling sengsara.
Dia termasuk imam mujtahid dan termasuk dalam jajaran al-Khulafaur Rasyidin.

Istrinya, Fathimah pernah berkata, “Mughirah menceritakan kepada kami bahwa tidak ada orang yang paling banyak berpuasa dan ibadah daripada ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz dan aku tidak pernah melihat seorang pun yang paling takut kepada Rabb-nya selain dia. Setelah selesai melakukan shalat ‘Isya’, dia duduk di masjidnya, kemudian mengangkat kedua tangannya, lalu tiada henti-hentinya dia menangis hingga matanya tertidur, kemudian tidak lama kemudian dia terbangun, dan tiada henti-hentinya dia ber-do’a sambil mengangkat kedua tangannya hingga matanya tertidur. Semua ini dilakukannya sepanjang malamnya.”[9]

Makhul berkata, “Seandainya aku bersumpah, pastilah aku akan menepatinya, aku tidak pernah melihat orang yang paling zuhud dan paling takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala selain ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz.”[10]

Fathimah, istri ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz pernah menangis hingga pandangannya tertutup, lalu kedua saudaranya, yaitu Muslimah dan Hisyam, dua orang putera ‘Abdul Malik mengunjunginya, lalu keduanya bertanya, “Urusan apa yang membuatmu demikian?
Apakah suaminya yang membuatmu sedih? Memang tidak ada orang seperti dirinya yang dapat membuat orang sedih, ataukah ada suatu hal keduniaan yang hilang dari dirimu? Ketahuilah, harta dan keluarga kami ada di hadapanmu.” Fathimah menjawab: “Tidak ada yang membuatku sedih dan tidak ada hal keduniaan pun yang aku sesalkan, hanya saja, demi Allah, aku pernah melihat suamiku pada suatu malam, lalu aku baru mengetahui bahwa yang membuatnya keluar menuju hal itu adalah suatu kegaduhan besar yang pernah aku lihat, sungguh hatinya itu telah menenangkan pengetahuannya.” Keduanya bertanya, “Apa yang engkau lihat darinya?” Fathimah menjawab, “Aku pernah melihatnya pada suatu malam, dia berdiri melakukan shalat, lalu tibalah dia membaca ayat ini :

يَوْمَ يَكُوْنُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوْثِ. وَتَكُوْنُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوْشِ

‘Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran, dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.’
[Al-Qaari’ah: 4-5]

Lalu dia menjerit, ‘Aduh alangkah buruknya.’
Kemudian dia melompat, lalu terjatuh, lalu aku melihatnya tampak lemah hingga aku mengira bahwa nyawanya akan keluar, kemudian dia tampak tenang, hingga aku mengira bahwa ajalnya telah tiba, kemudian dia mulai siuman, lalu berseru, ‘Aduh alangkah buruknya.’ Kemudian dia melompat dan berjalan mengelilingi rumah dan berkata, ‘Celakalah diriku pada hari di mana manusia seperti anai-anai yang bertebaran dan gunung-gunung laksana bulu yang dihambur-hamburkan.'” Fathimah berkata, “Tiada henti-hentinya dia melakukan hal seperti di atas hingga terbit fajar, kemudian dia terjatuh seakan-akan dirinya telah meninggal dunia hingga terdengar suara adzan menandakan waktu shalat Shubuh telah tiba.
Demi Allah, aku tidak lagi mengingat malamnya itu demikian hanya saja kedua mata-ku telah mengantuk dan aku tidak kuasa menolak kesedihanku.”[11]

4. Tsabit al-Bannani rahimahullah

Dia adalah seorang imam panutan, Syaikhul Islam dan kunci dari sekian kunci kebaikan.

Ghalib al-Qaththan meriwayatkan dari Bakar al-Muzani, “Barangsiapa ingin melihat manusia pada masa ini yang paling rajin ibadahnya, maka hendaklah dia melihatnya pada diri Tsabit al-Bannani.”[12]

Syu’bah berkata, “Tsabit al-Bannani selalu membaca al-Qur-an setiap hari dan setiap malam dan dia selalu berpuasa sepanjang masa.” [13]

Hammad bin Zaid berkata, “Aku pernah melihat Tsabit menangis hingga tulang-tulang rusuknya tampak berlawanan.” [14]

Hammad bin Salamah berkata, “Tsabit pernah membaca ayat :

أَكَفَـرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ سَـوَّاكَ رَجُلاً

‘Apakah kamu kafir kepada (Rabb) yang menciptakanmu dari tanahnm, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan seorang laki-laki yang sempurna.’
(Al-Kahfi: 37), dan dia melakukan shalat malam sambil menangis dengan kerasnya dan mengulang-ulang ayat ini.”[15]

Tsabit selalu melakukan shalat malam, maka ketika memasuki waktu Shubuh, dia memegang kedua telapak kakinya dengan tangannya, lalu dia memijatnya, kemudian dia berkata : “Orang yang beribadah telah berlalu dan dia memutuskanku, aduh alangkah sedihnya.” [16]

Tsabit pernah berkata, “Aku merasakan susahnya shalat selama dua puluh tahun dan aku juga merasakan nikmatnya shalat selama dua puluh tahun.”[17]

Dia juga pernah berkata, “Tidak ada sesuatupun yang aku jumpai di hatiku yang lebih nikmat daripada shalat malam.”[18]

5. Sufyan ats-Tsauri rahimahullah

Dia adalah seorang imam, seorang hafizh (hafal banyak hadits) dan pemimpin ulama pada masanya.

Ibnu Mahdi berkata, “Aku selalu mengintip Sufyan dari malam ke malam, dia bangkit dalam kondisi yang menakutkan, dia memanggil-manggil, ‘Neraka, Neraka, Neraka’ telah menyibukkanku dari tidur dan keinginan-keinginan.”[19]

‘Abdurrazzaq berkata, “Tatkala Sufyan datang mengunjungi kami, kami memasak makanan untuknya, lalu dia memakannya, kemudian aku membawakan kismis Tha-if untuknya, lalu diapun memakannya, kemudian dia berkata, ‘Wahai ‘Abdurrazzaq, berilah makanan kepada keledai dan suruhlah dia bekerja keras.’ Kemudian dia berdiri untuk melakukan shalat hingga Shubuh.” [20]

‘Ali bin al-Fudhail bercerita, “Aku pernah melihat Sufyan sedang melakukan sujud, lalu aku melakukan thawaf sebanyak tujuh putaran sebelum dia mengangkat kepalanya.”[21]

Sufyan selalu keluar rumah dan berkeliling di malam hari, dia membasahi wajahnya dengan air hingga rasa kantuk pergi darinya.[22] Namun se kalipun dia selalu beribadah dengan bersungguh- sungguh, pernah juga terdengar dia berkata : “Aku senang jika aku selamat dari urusan ini sekedarnya saja, tidak menyengsarakanku dan tidak pula menguntungkanku.”
[23]

6. ‘Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah

Dia adalah salah seorang tokoh dan Syaikhul Islam, dia adalah orang ‘alim pada masanya dan pemimpin orang-orang yang bertakwa pada zamannya.

Nu’aim bin Hammad berkata, “Seorang laki-laki pernah berkata kepada Ibnul Mubarak, ‘Malam tadi aku membaca al-Qur-an dalam satu raka’at.’
Lalu Ibnul Mubarak berkata, ‘Akan tetapi aku mengenal seseorang yang semalaman tiada henti-hentinya mengulang-ulangi ayat : أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ‘Bermegah-megahan telah melalai-kanmu’ ( At-Takaatsur: 1), hingga Shubuh, dia tidak mampu melanjutkan ayat ini.’ Yang dimaksud adalah dirinya sendiri.”[24]

Muhammad bin A’yun, sahabat Ibnul Mubarak dan dia adalah seorang yang dermawan kepadanya, dalam beberapa perjalanan pernah berkata, “Pada suatu malam, ketika kami berada dalam peperangan melawan Romawi, Ibnul Mubarak pergi untuk meletakkan kepalanya memperlihatkan kepadaku bahwa dia sedang tidur. Lalu aku pun meletakkan kepalaku seakan-akan diriku pun ikut tidur.
Lalu dia mengira bahwa diriku telah tidur, lalu dia bangun untuk melakukan shalat dan tiada henti-hentinya dia melakukan demikian hingga terbit fajar, dan aku selalu mengintipnya. Tatkala terbit fajar, dia membangunkanku dan mengira bahwa aku memang tidur. Dia berkata, ‘Hai Muhammad,’ lalu saya menjawab, ‘Sesungguhnya aku tidak tidur semalam.’ Tatkala dia mendengar ucapanku ini, aku tidak melihatnya setelah itu berbicara kepadaku dan tidak lagi memperhatikanku sedikitpun selama peperangannya ini seakan-akan hal itu tidak membuatnya senang karena kelicikan yang kuperbuat terhadapnya.
Aku selalu merasakan hal itu hingga dia meninggal dunia dan belum pernah aku melihat orang yang lebih mencintai kebaikan daripada dirinya.”[25]

Tatkala menjelang kematiannya, Ibnul Mubarak tersenyum dan membaca ayat :

لِمِثْلِ هَذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُونَ

“Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja.”
[Ash-Shaaffaat: 61]
Dan dia bersya’ir :

وَتَضْحَكُ لِلْمَـنَايَا وَهِيَ تَبْكِـي
لأَنَّكَ قَـدْ حَمَلْتَ لَهَا سِـلاَحَا

Engkau menertawakan kematian, padahal dia itu menagis
Karena engkau telah membawakan senjata untuknya.

7. Waki’ bin al-Jarrah rahimahullah

Dia adalah seorang imam, seorang hafizh (hafal banyak hadits), ahli hadits negeri Iraq dan salah seorang imam dalam agama ini.

Yahya bin Aktsam berkata : “Aku pernah menemani Waki’ ketika ia di rumah dan dalam perjalanan, dia selalu berpuasa sepanjang tahun dan mengkhatamkan seluruh al-Qur-an dalam satu malam.” [26]

Yahya bin Ma’in berkata, “Aku tidak pernah melihat orang yang seperti Waki’, dia selalu menghadap ke kiblat, melakukan shalat malam, selalu berpuasa dan menghafalkan haditsnya.”[27]

Yahya bin Ayyub menceritakan dari sebagian teman Waki’, dia berkata, “Waki’ tidak tidur sebelum dia membaca juznya, sepertiga al-Qur-an setiap malamnya, kemudian dia bangun di akhir malam, lalu dia membaca surat-surat al-mufashshal (surat-surat pendek), kemudian dia duduk, lalu mulailah dia memohon ampunan hingga terbit fajar.”[28]

Ibrahim bin Waki’ berkata, “Ayahku selalu melakukan shalat hingga tidak tersisa seorang pun di rumah kami melainkan dia tetap melakukan shalat, termasuk pelayan wanita kami yang berkulit hitam.”[29]

Al-Hasan bin Abi Yazid berkata, “Aku pernah menemani Waki’ bin al-Jarrah ketika melakukan perjalanan menuju Makkah, aku tidak pernah melihatnya bersandar dan aku tidak pernah melihatnya tidur di sekedupnya (tandunya).”[30]

[Disalin dari kitab “Kaanuu Qaliilan minal Laili maa Yahja’uun” karya Muhammad bin Su’ud al-‘Uraifi diberi pengantar oleh Syaikh ‘Abdullah al-Jibrin, Edisi Indonesia Panduan Lengkap Shalat Tahajjud, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]

8. Imam Abu Hanifah rahimahullah

Jika seseorang telah terkenal, keutamaannya telah tersiar, dan ilmunya telah bertambah, maka dia akan menjadi seperti lautan yang tidak ada tepiannya. Demikianlah halnya dengan Abu Hanifah.

Diriwayatkan dari Asad bin ‘Amr, bahwa Abu Hanifah melakukan shalat ‘Isya’ dan Shubuh hanya dengan satu wudhu’ selama empat puluh tahun (semalaman dia tidak tidur dan tidak melakukan hal-hal yang membatalkan wudhu’-Pent).[31]

Diriwayatkan dari al-Qadhi Abu Yusuf, dia berkata, “Ketika aku berjalan bersama Abu Hanifah, tiba-tiba aku mendengar seseorang berkata kepada orang lain : ‘Ini dia Abu Hanifah, dia tidak tidur semalaman.’
Lalu Abu Hanifah berkata: ‘Demi Allah, dia tidak menceritakan tentang diriku dengan apa yang tidak aku lakukan.’ Maka dia selalu menghidupkan malamnya dengan shalat, tunduk patuh kepada Allah dan berdo’a.”[32]

Yazid bin al-Kumait berkata, “Abu Hanifah adalah orang yang sangat takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, pada suatu malam ketika waktu ‘Isya’, ‘Ali bin al-Husain, seorang muadzin membacakan kepada kami surat az-Zalzalah, sedangkan Abu Hanifah berada di belakangnya.
Lalu Abu Hanifah berdiri melakukan shalat hingga Shubuh sambil berkata, ‘Wahai Rabb Yang membalas kebaikan sebesar biji sawi dengan kebaikan pula, wahai Rabb Yang membalas kejahatan sebesar biji sawi dengan kejahatan pula, lindungilah an-Nu’man (nama asli Abu Hanifah), hamba-Mu ini dari api Neraka dan dari kejahatan apa yang mendekatkan kepadanya, masukkanlah dia ke dalam luasnya rahmat-Mu.'”[33]
Ada sebuah sya’ir berbunyi :

أَعِدْ ذِكْرَ نُعْمَانَ لَنَا إِنْ ذَكَـرَهُ
كَمَا الْمِسْكُ مَا كَرَرَتْهُ يَتَضَوَّعُ

Ulangilah dzikir an-Nu’man untuk kami, sesungguhnya dzikirnya itu
Bagaikan minyak misik yang semerbak harumnya, tidak akan aku ulangi.

9. Imam Malik bin Anas rahimahullah

Dia adalah Abu ‘Abdillah, pendiri madzhab, pembawa hujjah umat ini dan imam negeri Hijrah (Madinah).

Az-Zubair bin Habib berkata, “Aku pernah melihat Malik ketika memasuki satu bulan, dia menghidupkan malam pertama bulan tersebut dan aku mengira bahwa dia melakukan ini hanyalah untuk membuka bulan tersebut dengannya.”[34]

Fathimah binti Malik berkata, “Malik selalu melakukan shalat setiap malam pada bagiannya, maka ketika tiba malam Jum’at, dia menghidupkan seluruhnya.”

Al-Mughirah berkata, “Aku pernah keluar pada suatu malam setelah orang-orang benar-benar telah tertidur, lalu aku melintasi Malik bin Anas, aku melihatnya tengah berdiri melakukan shalat. Tatkala dia selesai dari bacaan al-Faatihah, dia mulai membaca surat at-Takaatsur :

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ. حَتَّى زُرْتُمُ الْمَـقَابِرَ. كَلاَّ سَوْفَ تَعْلَمُونَ. ثُمَّ كَلاَّ سَوْفَ تَعْلَمُونَ. كَلاَّ لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ. لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ. ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ. ثُمَّ لَتُسْئَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

‘Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.
Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatan itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat Neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).’

Lalu dia menangis cukup lama dan kemudian dia pun mengulangi ayat ini dan kembali menangis.
Apa yang aku dengar dan aku lihat dari sosok Malik ini telah membuatku melupakan keperluanku yang membuatku keluar untuknya.
Tiada henti-hentinya aku berdiri, sedangkan dia tetap mengulang-ulang ayat tersebut dan menangis hingga terbit fajar. Tatkala dia melihat fajar telah jelas, barulah dia ruku’. Kemudian aku pulang ke rumahku, lalu aku berwudhu’ dan kemudian pergi ke masjid, tiba-tiba Malik sudah berada di tempatnya (di masjid) dan jama’ah ada di sekelilingnya. Tatkala memasuki waktu Shubuh, aku melihat pada wajahnya tampak cahaya dan keindahan darinya.”

Abu Mush’ab berkata, “Malik selalu memanjangkan ruku’ dan sujud dalam wiridnya (aktifitas yang selalu dilakukan setiap hari) dan ketika dia berdiri dalam shalatnya, seakan-akan dia itu laksana sebatang kayu kering yang tidak bergeming sedikit pun.”

Ibnul Mubarak berkata, “Ketika aku melihat Malik, aku melihatnya termasuk orang-orang yang khusyu’.
Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengangkat dengan suatu rahasia antara diri-Nya dan dia.”[35]

10. Imam asy-Syafi’i rahimahullah

Dia adalah imam pada masanya, orang alim pada zamannya, pembela hadits dan ahli fiqih agama ini.

Al-Hafizh Ibnu ‘Asakir meriwayatkan bahwa pada suatu hari Imam asy-Syafi’i membaca ayat :

هَذَا يَوْمُ الْفَصْلِ جَمَعْنَاكُمْ وَاْلأَوَّلِينَ. فَإِن كَانَ لَكُمْ كَيْدٌ فَكِيدُونِ. وَيْلُ يَوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِينَ

“Ini adalah hari keputusan; (pada hari ini) Kami mengumpulkanmu dan orang-orang yang terdahulu.
Jika kamu mempunyai tipu daya, maka lakukan-lah tipu dayamu itu terhadap-Ku, kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang men-dustakan.”
(Al-Mursalaat: 38-40), maka tiada henti-hentinya dia menangis hingga pingsan, semoga Allah merahmatinya.[36]
Ada yang mengatakan bahwa setiap bulannya, Imam asy-Syafi’i mengkhatamkan al-Qur-an sebanyak tiga puluh kali.[37]

Husain al-Karabisi berkata, “Aku pernah bermalam bersama Imam asy-Syafi’i, maka kira-kira selama sepertiga malam, dia melakukan shalat dan aku tidak melihatnya membaca lebih dari lima puluh ayat, jika pun lebih banyak, maka dia hanya membaca seratus ayat.
Dia tidak melewatkan satu ayat rahmat pun, melainkan dia meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk dirinya sendiri dan untuk seluruh kaum Muslimin.
Dan dia tidak melewatkan satu ayat adzab pun, melainkan dia berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala darinya dan dia meminta keselamatan untuk dirinya sendiri dan seluruh kaum Muslimin, seakan-akan padanya telah terhimpun harapan dan kecemasan.”[38]

Ibnu Katsir mengomentari ungkapan di atas : “Demikianlah ibadah yang sempurna, yaitu jika di dalamnya terhimpun harapan dan kecemasan, sebagaimana di sebutkan dalam hadits shahih bahwa ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati ayat rahmat, maka beliau berhenti, lalu memohon dan ketika melewati ayat adzab, beliau berhenti dan me-mohon perlindungan.”[39]

11. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah

Beliau adalah seorang imam dalam arti yang sebenarnya, beliau adalah Syaikhul Islam, pembela Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pengekang bid’ah, tokoh orang-orang zuhud dan pemilik sanad.

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Ahmad, dia berkata, “Setiap harinya ayahku membaca al-Qur-an sebanyak tujuh kali dan dia mengkhatamkan al-Qur-an setiap tujuh hari, dan pada setiap tujuh malam dia juga biasa mengkhatamkan al-Qur-an selain pada waktu shalat di siang hari.
Pada suatu saat, dia melakukan shalat ‘Isya’, lalu tidur sebentar dan kemudian bangun hingga Shubuh, ketika itu dia melakukan shalat dan berdo’a.”[40]

‘Abdullah bin Ahmad juga berkata, “Dalam sehari semalam, ayahku melakukan shalat sebanyak tiga ratus raka’at.
Tatkala dia jatuh sakit akibat cambukan-cambukan tersebut (ketika terjadi fitnah tentang polemik bahwa al-Qur-an adalah makhluk,-Pent.), hal itu membuatnya lemah, maka akhirnya dia melakukan shalat dalam sehari semalam sebanyak seratus lima puluh raka’at.”[41]

Hilal bin al-‘Ala’ berkata, “Asy-Syafi’i, Yahya bin Ma’in dan Ahmad bin Hanbal pernah keluar menuju Makkah, tatkala mereka sampai di Makkah, mereka singgah di suatu tempat.
Asy-Syafi’i langsung berbaring dan Yahya bin Ma’in pun demikian, sedangkan Ahmad bin Ahmad berdiri melakukan shalat.
Tatkala memasuki waktu Shubuh, asy-Syafi’i berkata, ‘Sungguh aku telah membahas dua ratus masalah untuk kaum muslimin.’
Yahya bin Ma’in berkata : ‘Aku telah menghilangkan dua ratus pendusta dari hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’
Dan Ahmad berkata, ‘Aku telah melakukan shalat beberapa raka’at yang di dalamnya aku telah mengkhatamkan al-Qur-an.'”[42]

12. Syaikhul Muhadditsin Abu ‘Abdillah al-Bukhari rahimahullah

Hadits-haditsnya telah diterima oleh ummat ini, direkomendasikan oleh orang-orang pintar, diberikan komentar oleh para ulama, dihafal oleh orang-orang yang cerdas dan dibawa oleh kendaraan-kendaraan unta.

Muhammad al-Warraq berkata, “Abu ‘Abdil-lah al-Bukhari selalu melakukan shalat pada waktu sahur sebanyak tiga belas raka’at.”[43]

Bakr bin Munir berkata, “Pada suatu malam, Muhammad al-Bukhari melakukan shalat, tiba-tiba seekor lalat kerbau (sejenis serangga) menyengatnya sebanyak tujuh belas kali, tatkala selesai shalat, al-Bukhari berkata, ‘Lihatlah binatang yang telah menyakitiku ini (seakan-akan dia menganggapnya ringan).'”[44]

Pada waktu sahur, dia membaca al-Qur-an kira-kira antara separuh dan sepertiga al-Qur-an, maka ketika waktu sahur, dia bisa mengkhatam-kan al-Qur-an pada setiap tiga malam sekali.

Disebutkan dalam sebuah sya’ir :

مَـنَاقِبُ كَنُجُـوْمِ اللَّيْلِ ظَاهِـرَةٌ
قَدْ زَانَهَا الدِّيْنَ وَاْلأَخْلاَقَ وَالشِّيَمَ

Biografi yang cukup jelas bagaikan bintang-bintang di malam hari

Sungguh biografinya ini telah dihiasi oleh agama, akhlak dan adat kebiasaan.

Gambaran Ibadah Para Tabi’in Wanita :

1. Mu’adzah al-‘Adawiyah رحمها الله

Dia adalah seorang wanita ahli ibadah, wanita zuhud dan murid dari Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma.

Ketika siang hari, Mu’adzah berkata, “Ini adalah hariku di mana aku akan mati padanya.”
Maka Mu’adzah tidak tidur hingga sore hari.
Dan ketika malam, ia pun berkata, “Ini adalah malamku di mana aku akan mati padanya.” Maka ia pun tidak tidur hingga Shubuh.[45]

Diriwayatkan bahwa Mu’adzah tidak memakai bantal ketika tidur setelah pernikahannya dengan Abu ash-Shahba’ hingga ia meninggal.
Dia pernah berkata, “Sungguh aneh keadaan mata yang masih bisa tertidur, padahal dia telah mengetahui lamanya tidur di kegelapan alam kubur.”

Diriwayatkan bahwa Mu’adzah melakukan shalat pada siang hari sebanyak enam ratus raka’at.[46]

Sebagian penya’ir melontarkan sya’irnya :

أَثَـارَ التَّـذَاكِرُ أَحْـزَانُـهُ
فَـثَارَ وَأَبْـدَى لَنَا شَأْنُـهُ
وَقَـامَ وَسَتَرَ الدُّجَى مُسْبِلُ
فَأَسْبَلَ بِالدَّمْـعِ أَجْفَانُـهُ
وَبَكَى ذُنُوْبًا لَهُ قَـدْ مَضَتْ
فَأَبْـكَى عَـدَاهُ وَخَـلاَنُهُ
وَمَنْ لَمْ يَكُنْ قَلْبُـهُ جُمْرَةُ
فَهَـذَا لِعُمْرِكَ قَـدْ كَانَـهُ

Bekas-bekas dzikir adalah kesedihannya
Maka bergejolak dan tampaklah bagi kita akan keadaannya.
Kegelapan telah berdiri dan menutupi sambil menurunkan
Maka turunlah kelopak matanya akibat air mata.
Dia menangisi dosa-dosanya yang telah lalu
Maka dia membuat orang lain dan kekasih-nya menangis.
Barangsiapa yang hatinya itu bukan berupa bara api
Maka demi usiamu, inilah dia adanya.[47]

2. Hafshah bintu Sirin رحمهما الله

Dia adalah saudara perempuan Muhammad bin Sirin.
Dia termasuk wanita ahli ibadah dan wanita yang taat. Dia termasuk wanita yang dapat dipercaya (tsiqah) yang menjadi tempat mendapatkan hadits.

Hisyam bin Hassan berkata, “Tempat tidur Hafshah bintu Sirin adalah tempat shalatnya selama empat puluh tahun.”

Mahdi bin Maimun berkata, “Hafshah bintu Sirin menetap di tempat shalatnya selama tiga puluh tahun, dia tidak akan keluar kecuali jika ada yang bertanya atau karena memenuhi hajatnya.”

‘Abdul Karim bin Mu’awiyah berkata, “Disebutkan kepadaku dari Hafshah bintu Sirin bahwa dia selalu membaca separuh al-Qur-an setiap malam, dia berpuasa selama setahun penuh dan tidak berpuasa hanya pada dua hari raya dan hari-hari tasyriq saja.”

Hafshah pernah berkata, “Wahai para pemuda, ambillah bagian dari diri kalian selama kalian masih muda.
Demi Allah, sesungguhnya aku tidak melihat adanya amal perbuatan kecuali di kala masih muda.”[48]

Disebutkan dalam sebuah sya’ir :

لَوْ عَلِمَ الرَّاقِـدُوْنَ مَا رَقَـدُوْا
وَلاَ تَـهَنِى مَـنَامَـهُ أَحَـدُ
يَا أَيُّـهَا النَّائِمُـوْنَ وَيْحَكُـمْ
قَدْ فَازَ مَنْ فِي الظَّلاَمِ يَجْتَـهِدُ
إِنْ كُنْـتُمْ نَـوْمًـا فَإِنَّ لَـهُ
رِجَالُ صِـدْقٍ لَهُ قَـدِ انْفَرِدُوْا

Seandainya orang-orang yang tidur itu mengetahui, pastilah mereka tidak akan tidur.

Dan tiada seorang pun yang bisa tidur tenang.
Wahai orang-orang yang tidur, sungguh kalian celaka.
Sungguh beruntunglah orang yang bersungguh-sungguh di dalam kegelapan.
Jika kalian tidur, maka dia akan memilikinya.

Orang-orang yang jujur telah menyendiri (darinya).[49]

[Disalin dari kitab “Kaanuu Qaliilan minal Laili maa Yahja’uun” karya Muhammad bin Su’ud al-‘Uraifi diberi pengantar oleh Syaikh ‘Abdullah al-Jibrin, Edisi Indonesia Panduan Lengkap Shalat Tahajjud, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote :

[31]. Siyar A’laamin Nubalaa’ (VI/399).
[32]. Siyar A’laamin Nubalaa’ (VI/399).
[33]. Taariikh Baghdaad (III/157).
[34]. Lihat Tartiibul Madaarik wa Taqriibul Masaalik li Ma’rifati A’laami Madzhab Malik, karya al-Qadhi ‘Iyah, (I/177).
[35]. Lihat Tartiibul Madaarik (I/178).
[36]. LihatManaaqib asy-Syafi’i, karya Ibnul Atsir, (hal. 108) dan Manaaqib asy-Syafi’i, karya Ibnu Katsir, (hal. 210).
[37]. Lihat Manaaqib asy-Syafi’i, karya al-Baihaqi, (II/159) dan Tadzkiratul Huffaazh, karya adz-Dzahabi, (I/362).
[38]. Manaaqib asy-Syafi’i, karya ar-Razi, (hal. 127).
[39]. Manaaqib asy-Syafi’i, karya Ibnu Katsir, (hal. 213).
[40]. Lihat Hilyatul Auliyaa’, (IX/181).
[41]. Lihat Siyar A’laamin Nubalaa’, (XI/212).
[42]. Lihat Manaaqib al-Imam Ahmad bin Hanbal, karya Ibnul Jauzi (hal. 287).
[43]. Siyar A’laamin Nubalaa’ (II/441).
[44]. Lihat Taariikh Baghdaad (II/12).
[45]. Lihat Mukhtashar Qiyaamil Lail, (hal. 26).
[46]. Lihat Shifatush Shafwah, (IV/19).
[47]. Ash-Shalaah wat Tahajjud, (hal. 344).
[48]. Lihat Shifatush Shafwah, (IV/21-26).
[49]. Lihat ash-Shalaah wat Tahajjud, (hal. 396).

Nota Penting :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Assalamualikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Denngan segala hormatnya kami ingin menarik perhatian Yang Dihormati Tan Sri / Dato’ Sri/ dato’ Seri/ Dato’ Sri/Datuk Seri/ Datuk/Dato’/Tuan/puan/ Muslimin/Muslimat, Saudara/Saudari yang dirahmati Allah SWT sekalian,

Bantulah Kami Dalam Menjayakan Program Infaq kepada anak yatim, muallaf, pendakwah, para imam, fakir miskin  dan mahasiswa serta mahasiswi di Selatan Kemboja , hulurkan sumbangan Ikhlas Anda Melalui  Tabung Ihya Assunnah Solution Maybank  553131011505 * Sebarang cadangan kirimkan melalui gmail : ihyaassunnah68@gmail.com Tel No:0199576237

Untuk mengetahui kegiatan kami , sila layari

https://peribadirasulullah.wordpress.com/2017/04/24/pengenalan-ihya-assunnah-solution/

#ihyaassunnah

https://www.facebook.com/IHYA-Assunnah-1184250164973202/?ref=aymt_homepage_panel

https://www.facebook.com/salleh.faiz.5

https://www.facebook.com/muslimkemboja.melayuchampa?fref=ts

https://peribadirasulullah.wordpress.com/

Aktiviti  terkini sempena kedatangan bulan Ramadhan 1438 Hijrah/2017 Masihi

https://peribadirasulullah.wordpress.com/2017/06/01/ihya-assunnah-solution-menunaikan-amanah-anda/

https://peribadirasulullah.wordpress.com/2017/05/31/ihya-assunnah-solution-menunaikan-amanah-yang-terima-2017/

https://peribadirasulullah.wordpress.com/2017/06/03/semarak-ramadhan-di-bumi-selatan-kemboja/

Umat Islam Kemboja Turut Mengalami Kekurangan Zat Dalam Pemakanan Sehingga Menyebabkan Berbagai Penyakit:

https://peribadirasulullah.wordpress.com/2017/06/01/ikan-ajaib-di-kemboja/

 

 


Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Kategori

%d bloggers like this: