Posted by: peribadirasulullah | Oktober 11, 2016

4 Darjat Manusia Dalam Melalui Ujian Allah SWT

Photo: 4 Tingkatan Sikap Ketika Menghadapi Cobaan
๐Ÿ’ซ๐Ÿ’ซ๐Ÿ’ซ๐Ÿ’ซ๐Ÿ’ซ๐Ÿ’ซ

Pada tulisan sebelumnya, penulis membahas tentang arti sabar dan macam-macam kesabaran. Ada kesabaran dalam melakukan taat, ada kesabaran dalam menjauhi maksiat, dan ada kesabaran dalam menerima takdir Allah. Kali ini akan bawakan tingkatan sikap manusia ketika menghadapi cobaan atau dalam menerima takdir Allah.

1. Marah

Tingkatan yang pertama adalah marah dengan takdir yang Allah berikan. Boleh jadi ia marah dalam hatinya dengan bergumam, boleh jadi ia ucapkan dengan lisannya. Orang yang marah dengan takdir Allah, maka ia dikhawatirkan terjerumus dalam perbuatan kesyirikan dengan sebab ia mencela takdir. Dan marah kepada takdir pada hakikatnya marah kepada Allah.

Allah Taโ€™ala berfirman,

ูˆูŽู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุนู’ุจูุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุญูŽุฑู’ูู ููŽุฅูู†ู’ ุฃูŽุตูŽุงุจูŽู‡ู ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ุงุทู’ู…ูŽุฃูŽู†ู‘ูŽ ุจูู‡ู ูˆูŽุฅูู†ู’ ุฃูŽุตูŽุงุจูŽุชู’ู‡ู ููุชู’ู†ูŽุฉูŒ ุงู†ู’ู‚ูŽู„ูŽุจูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ูˆูŽุฌู’ู‡ูู‡ู ุฎูŽุณูุฑูŽ ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ูˆูŽุงู„ุขุฎูุฑูŽุฉูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ู‡ููˆูŽ ุงู„ู’ุฎูุณู’ุฑูŽุงู†ู ุงู„ู’ู…ูุจููŠู†ู

โ€œDan di antara manusia, ada yang menyembah Allah di pinggiran. Jika ia diberi nikmat berupa kebaikan, maka tenanglah hatinya. Namun jika ujian menimpanya, maka berubahlah rona wajahnya, jadilah ia merugi di dunia dan di akhirat.โ€ (QS. Al-Hajj: 11).

Jika ia marah dengan lisannya, akan muncul kata-kata berupa umpatan, celaan, bahkan perkataan celaka dan yang semisal dengannya. Jika ia marah dengan perbuatannya, ia akan melakukan perbuatan seperti menampar pipi, merobek kerah baju, menarik narik rambut dan perbuatan yang semisal.

2. Sabar

Tingkatan kedua adalah sabar, sebagaimana ungkapan seorang penyair arab,

ุงู„ุตุจุฑ ู…ุซู„ ุงุณู…ู‡ ู…ุฑ ู…ุฐุงู‚ุชู‡ ู„ูƒู† ุนูˆุงู‚ุจู‡ ุฃุญู„ู‰ ู…ู† ุงู„ุนุณู„

Sabar itu memang seperti namanya (sebuah nama tumbuhan), yang rasanya pahit

Namun hasil dari kesabaran akan lebih manis dari madu

Ketika seseorang merasakan beratnya ujian dan tidak suka dengan ujian yang menimpanya, namun ia lebih memilih bersabar sehingga ia merasa ada atau tidaknya ujian sama saja. Meskipun ia tidak menyukainya, namun keimanannya menghalanginya untuk marah.

Bersabar ketika menghadapi cobaan hukumnya wajib, dan seseorang yang tidak bersabar ketika itu akan terjerumus dalam dosa. Dan sabar adalah tingkatan yang paling minimal yang dimiliki oleh seorang Muslim ketika menghadapi cobaan. Adapun tingkatan yang lebih tinggi dari sabar, hukumnya sunnah dan lebih afdhal (utama).

3. Ridha

Tingkatan ketiga lebih tinggi dari tingkatan sebelumnya, yaitu ridha. Ia jadikan ujian dan nikmat yang menimpanya sama saja, yaitu sama-sama bagian dari takdir dan ketetapan Allah, meskipun musibah tersebut membuat hatinya sedih, karena ia adalah seorang yang beriman pada qadha dan qadar.

Dimana saja Allah tetapkan qadha dan qadarnya, seperti tertimpa kesulitan atau mendapatkan kemudahan, tatkala mendapat nikmat atau sebaliknya yaitu tertimpa musibah, semua itu sama saja baginya. Bukan karena matinya hati, namun karena kesempurnaan ridha dengan takdir Allah, sebagai Rabb yang mengatur urusannya. Jika ia melihat dalam kacamata takdir Allah, baginya sama saja antara nikmat dan musibah. Sehingga hal inilah yang menjadi pembeda antara sabar dan ridha.

4. Syukur

Ini adalah tingkatan tertinggi dan yang paling utama dalam menghadapi cobaan. Karena ia bisa bersyukur atas musibah yang menimpanya. Oleh karena itu, ia bisa menjadi hamba Allah yang penuh rasa syukur ketika ia melihat masih banyak orang lain yang lebih berat musibahnya dibandingkan dirinya. Musibah dalam hal dunia lebih ringan dibandingkan musibah dalam hal agama, karena adzab di dunia lebih ringan dibandingkan adzab di akhirat.

Pada hakikatnya, musibah adalah penghapus dosa dan akan menjadi tambahan kebaikan di sisi Allah tatkala ia menjadi hamba yang bersyukur. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam

ู…ูŽุง ูŠูุตููŠุจู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ูŽ ู…ูู†ู’ ู†ูŽุตูŽุจู ูˆูŽู„ูŽุง ูˆูŽุตูŽุจู ูˆูŽู„ูŽุง ู‡ูŽู…ูู‘ ูˆูŽู„ูŽุง ุญูุฒู’ู†ู ูˆูŽู„ูŽุง ุฃูŽุฐู‹ู‰ ูˆูŽู„ูŽุง ุบูŽู…ูู‘ ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ุงู„ุดูŽู‘ูˆู’ูƒูŽุฉู ูŠูุดูŽุงูƒูู‡ูŽุง ุฅูู„ูŽู‘ุง ูƒูŽููŽู‘ุฑูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุจูู‡ูŽุง ู…ูู†ู’ ุฎูŽุทูŽุงูŠูŽุงู‡ู

โ€œTidaklah suatu kelelahan, sakit, kesedihan, kegundahan, bahkan tusukan duri sekali pun, kecuali akan menjadi penghapus dosa baginya.โ€ (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Demikianlah tingkatan skiap menghadapi cobaan, kita berharap bisa digolongkan minimal sebagai orang bersabar, tatkala tertimpa musibah, dan berusaha semaksimal mungkin menjadi orang yang ridha dan bersyukur tatkala tertimpa musibah. Semoga Allah hapuskan dosa kita semua dengan sebab musibah yang menimpa diri kita. Wallahul Muwaffiq.

Referensi: Al-Qaulul Mufid โ€˜ala Kitabit Tauhid, karya Syaikh Ibnu Utsaimin.

 

 

4 Tingkatan Sikap Ketika Menghadapi Cobaan
๐Ÿ’ซ๐Ÿ’ซ๐Ÿ’ซ๐Ÿ’ซ๐Ÿ’ซ๐Ÿ’ซ

Pada tulisan sebelumnya, penulis membahas tentang arti sabar dan macam-macam kesabaran. Ada kesabaran dalam melakukan taat, ada kesabaran dalam menjauhi maksiat, dan ada kesabaran dalam menerima takdir Allah. Kali ini akan bawakan tingkatan sikap manusia ketika menghadapi cobaan atau dalam menerima takdir Allah.

1. Marah

Tingkatan yang pertama adalah marah dengan takdir yang Allah berikan. Boleh jadi ia marah dalam hatinya dengan bergumam, boleh jadi ia ucapkan dengan lisannya. Orang yang marah dengan takdir Allah, maka ia dikhawatirkan terjerumus dalam perbuatan kesyirikan dengan sebab ia mencela takdir. Dan marah kepada takdir pada hakikatnya marah kepada Allah.

Allah Taโ€™ala berfirman,

ูˆูŽู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุนู’ุจูุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุญูŽุฑู’ูู ููŽุฅูู†ู’ ุฃูŽุตูŽุงุจูŽู‡ู ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ุงุทู’ู…ูŽุฃูŽู†ู‘ูŽ ุจูู‡ู ูˆูŽุฅูู†ู’ ุฃูŽุตูŽุงุจูŽุชู’ู‡ู ููุชู’ู†ูŽุฉูŒ ุงู†ู’ู‚ูŽู„ูŽุจูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ูˆูŽุฌู’ู‡ูู‡ู ุฎูŽุณูุฑูŽ ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ูˆูŽุงู„ุขุฎูุฑูŽุฉูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ู‡ููˆูŽ ุงู„ู’ุฎูุณู’ุฑูŽุงู†ู ุงู„ู’ู…ูุจููŠู†ู

โ€œDan di antara manusia, ada yang menyembah Allah di pinggiran. Jika ia diberi nikmat berupa kebaikan, maka tenanglah hatinya. Namun jika ujian menimpanya, maka berubahlah rona wajahnya, jadilah ia merugi di dunia dan di akhirat.โ€ (QS. Al-Hajj: 11).

Jika ia marah dengan lisannya, akan muncul kata-kata berupa umpatan, celaan, bahkan perkataan celaka dan yang semisal dengannya. Jika ia marah dengan perbuatannya, ia akan melakukan perbuatan seperti menampar pipi, merobek kerah baju, menarik narik rambut dan perbuatan yang semisal.

2. Sabar

Tingkatan kedua adalah sabar, sebagaimana ungkapan seorang penyair arab,

ุงู„ุตุจุฑ ู…ุซู„ ุงุณู…ู‡ ู…ุฑ ู…ุฐุงู‚ุชู‡ ู„ูƒู† ุนูˆุงู‚ุจู‡ ุฃุญู„ู‰ ู…ู† ุงู„ุนุณู„

Sabar itu memang seperti namanya (sebuah nama tumbuhan), yang rasanya pahit

Namun hasil dari kesabaran akan lebih manis dari madu

Ketika seseorang merasakan beratnya ujian dan tidak suka dengan ujian yang menimpanya, namun ia lebih memilih bersabar sehingga ia merasa ada atau tidaknya ujian sama saja. Meskipun ia tidak menyukainya, namun keimanannya menghalanginya untuk marah.

Bersabar ketika menghadapi cobaan hukumnya wajib, dan seseorang yang tidak bersabar ketika itu akan terjerumus dalam dosa. Dan sabar adalah tingkatan yang paling minimal yang dimiliki oleh seorang Muslim ketika menghadapi cobaan. Adapun tingkatan yang lebih tinggi dari sabar, hukumnya sunnah dan lebih afdhal (utama).

3. Ridha

Tingkatan ketiga lebih tinggi dari tingkatan sebelumnya, yaitu ridha. Ia jadikan ujian dan nikmat yang menimpanya sama saja, yaitu sama-sama bagian dari takdir dan ketetapan Allah, meskipun musibah tersebut membuat hatinya sedih, karena ia adalah seorang yang beriman pada qadha dan qadar.

Dimana saja Allah tetapkan qadha dan qadarnya, seperti tertimpa kesulitan atau mendapatkan kemudahan, tatkala mendapat nikmat atau sebaliknya yaitu tertimpa musibah, semua itu sama saja baginya. Bukan karena matinya hati, namun karena kesempurnaan ridha dengan takdir Allah, sebagai Rabb yang mengatur urusannya. Jika ia melihat dalam kacamata takdir Allah, baginya sama saja antara nikmat dan musibah. Sehingga hal inilah yang menjadi pembeda antara sabar dan ridha.

4. Syukur

Ini adalah tingkatan tertinggi dan yang paling utama dalam menghadapi cobaan. Karena ia bisa bersyukur atas musibah yang menimpanya. Oleh karena itu, ia bisa menjadi hamba Allah yang penuh rasa syukur ketika ia melihat masih banyak orang lain yang lebih berat musibahnya dibandingkan dirinya. Musibah dalam hal dunia lebih ringan dibandingkan musibah dalam hal agama, karena adzab di dunia lebih ringan dibandingkan adzab di akhirat.

Pada hakikatnya, musibah adalah penghapus dosa dan akan menjadi tambahan kebaikan di sisi Allah tatkala ia menjadi hamba yang bersyukur. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam

ู…ูŽุง ูŠูุตููŠุจู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ูŽ ู…ูู†ู’ ู†ูŽุตูŽุจู ูˆูŽู„ูŽุง ูˆูŽุตูŽุจู ูˆูŽู„ูŽุง ู‡ูŽู…ูู‘ ูˆูŽู„ูŽุง ุญูุฒู’ู†ู ูˆูŽู„ูŽุง ุฃูŽุฐู‹ู‰ ูˆูŽู„ูŽุง ุบูŽู…ูู‘ ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ุงู„ุดูŽู‘ูˆู’ูƒูŽุฉู ูŠูุดูŽุงูƒูู‡ูŽุง ุฅูู„ูŽู‘ุง ูƒูŽููŽู‘ุฑูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุจูู‡ูŽุง ู…ูู†ู’ ุฎูŽุทูŽุงูŠูŽุงู‡ู

โ€œTidaklah suatu kelelahan, sakit, kesedihan, kegundahan, bahkan tusukan duri sekali pun, kecuali akan menjadi penghapus dosa baginya.โ€ (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Demikianlah tingkatan skiap menghadapi cobaan, kita berharap bisa digolongkan minimal sebagai orang bersabar, tatkala tertimpa musibah, dan berusaha semaksimal mungkin menjadi orang yang ridha dan bersyukur tatkala tertimpa musibah. Semoga Allah hapuskan dosa kita semua dengan sebab musibah yang menimpa diri kita. Wallahul Muwaffiq.

Referensi: Al-Qaulul Mufid โ€˜ala Kitabit Tauhid, karya Syaikh Ibnu Utsaimin.


Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Kategori

%d bloggers like this: