Posted by: peribadirasulullah | September 30, 2011

Hamza Yusuf Hanson-Allah SWT Memberi Peluang Kedua

“Islam merupakan ajaran yang paling mendetail.”

Peristiwa yang mengguncang New York, Amerika Serikat, pada 11 September 2001, telah mengubah hidup seorang muslim AS, Hamza Yusuf Hanson. Dia, yang semula hanya dikenal di kalangan tertentu, lantas diundang Presiden George W. Bush ke Gedung Putih, yang meminta nasihat untuk urusan Islam. Kini, semua orang di Negeri Pam Sam itu mengenalnya.

Dalam buku Seeking Truth Finding Islam, karya Anwar Holid, ditulis pada tahun 1977, ketika umurnya 17 tahun, Hamza, yang saat itu masih non-muslim dan bernama Mark Hanson, mengalami kecelakaan mobil di Santa Barbara, hingga hampir mati. Ketika berhadapan dengan maut itulah, kegelisahan yang lazim muncul seputar pencarian makna kehidupan mendapat penguatan. Seperti, “Apa tujuan hidup ini?”, “Ke mana aku menuju?”, “Apa yang sedang aku lakukan di dunia ini?”

Ternyata, Hanson tidak mendapatkan jawaban yang menuaskan dari agama yang dianutnya selama ini. Maka, ia berusaha mencari rujukan kitab agama lain. Dan dalam proses perawatan ia membaca Al-Quran, yang akhirnya mengubah keyakinannya. Padahal Hanson, yang lahir pada tahun 1960 di Walla Walla di pedalaman negara bagian Washington, oleh orangtuanya diharapkan menjadi pendeta Kristen Ortodoks. Ayahnya seorang dosen humaniora dan penganut Katholik, sedangkan ibunya penganut Gereja Yunani Ortodoks, aktivis hak-hak sipil lulusan Universitas California, Berkeley. Tumbuh di Northern, California, keluarga Hanson besar dalam tradisi Gereja Yunani Ortodoks. Ia dimasukkan ke sekolah Katholik.

Setelah masuk Islam, Mark Hanson mengubah namanya menjadi Hamza Yusuf. “Tuhan memberi kesempatan kedua kepada saya,” tuturnya. “Islam merupakan ajaran yang paling mendetail.”

Khazanah Spiritual Islam

Untuk mendalami Islam, Hamza Yusuf berkelana ke negara-negara Arab dan Afrika Utara. Dia menghabiskan waktu empat tahun di Uni Emirat Arab untuk belajar bersama para ulama terbaik di negeri itu, lantas ke Arab Saudi, Aljazair, Maroko, dan Mauritania selama enam tahun. Gurunya antara lain Syaikh Muhammad Al-Fatrati dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Syaikh Baya bin Salik, kepala pengadilan Islam di Al-A’in, Uni Emirat Arab, Syaikh Muhammad Syahbani, mufti Abu Dhabi.

Setelah lebih dari sepuluh tahun di negara-negara Arab dan Afrika Utara, dia kembali ke AS untuk melanjutkan pendidikannya di bidang keperawatan di Imperial Valley College, California. Kemudian ia mengambil kajian agama di San Jose State University.

Pada 1996 dia mendirikan Zaytuna Institute di Califonia. Di sana pula dia tinggal bersama keluarganya dengan lima anak lelaki. Institut ini berbasis di Hayward, San Francisco.

Di Zaytuna Institute, ia mencurahkan perhatiannya pada metode studi tradisional dan ilmu-ilmu Islam. Lembaga pendidikan ini menekankan ajaran tasawuf dalam konteks masa kini, juga kursus-kursus yang berusaha memadukan pertemuan pemikiran Islam dan Barat dengan metodologi dasar-dasar Islam: Al-Quran dan sunnah.

Ia mendatangi berbagai negara, terutama untuk berbagai khazanah spiritual Islam, tasawuf, dan isu-isu kontemporer. Bahkan ia juga menjadi pengajar di Universitas Al Qarawiyin di Fez, Maroko.

Solusi yang Pas

Berkenaan dengan Peristiwa 11 September 2001, Hamza Yusuf dalam salah satu pidatonya memberikan pesan yang amat jelas, “Pada 11 September 2001, Islam telah dibajak di pesawat itu sebagai korban yang tak bersalah.”

Hamza Yusuf adalah pembicara yang populer dan punya kharisma. Pemikirannya mampu menyumbangkan rasa percaya diri kepada pemuda muslim Barat yang kecewa pada kondisi sosial masyarakatnya bahkan frustrasi oleh sesama muslim yang terlalu sempit menafsirkan Islam.

Dia mempraktekkan moral pengalaman yang pernah terjadi pada dirinya bahwa Islam adalah undangan untuk semua umat manusia. Memang dia kerap dianggap terlalu lunak oleh kelompok Islam garis keras, tapi madzhab jalan tengah akan menganggapnya sebagai solusi yang pas buat Islam dalam konteks Amerika.

Pada 13 Oktober 2007, ia bersama 138 ulama dan sarjana Islam dari seluruh dunia menandatangani surat terbuka ulama Islam kepada pemimpin Nasrani. Dalam surat itu diserukan perdamaian antara kaum muslim dan Kristen, berusaha membangun kerja sama bagi landasan dan pemahaman yang sama di antara pemeluk kedua agama tersebut, terutama berdasar pada dua perintah utama: cinta Tuhan dan cinta sesama manusia.

Rujukan:

http://majalah-alkisah.com/index.php/cahaya-hati/630-hamza-yusuf-hanson-tuhan-memberi-kesempatan-kedua


Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out /  Tukar )

Google photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google anda. Log Out /  Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out /  Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out /  Tukar )

Connecting to %s

Kategori

%d bloggers like this: