Posted by: peribadirasulullah | Februari 11, 2011

Gadis suci dari Basrah

https://peribadirasulullah.files.wordpress.com/2011/02/rabiah.jpg?w=195

Perawan Suci Dari Basrah Jenjang Sufisme Rabi’ah Adawiayah
Oleh: AJ Siraaj & A.H Mahmud
Keluaran: Fajar Pustaka
Halaman: 320 Mukasurat

Rabi’ah Adawiyah sentiasa bangun pada tengah malam untuk melakukan ibadah, bermunajat kepada Allah yang maha tinggi, bertawassul kepada-Nya, memohon perkenan-Nya, memohon ampunan dan menyatakan bertaubat, bersedih dan menangis, seraya mengharapkan rahmat-Nya. Zikrullah (Mengingati Allah) adalah perkara yang selalu menghiasi lisannya, juga di dalam hatinya, baik pada saat ia terjaga maupun dalam keadaan tertidur, baik saat berdiri maupun saat duduk. Rabi’ah tidak menyenandungkan apapun, selain hanya mengharapkan keridhaan-Nya. Ia juga tidak disibukkan oleh keluarga yang berbahagia, suami yang terhormat serta harta yang melimpah. Saat yang paling berharga bagi kaum wanita adalah ketika ada lelaki datang meminangnya. Saat pertunangan merupakan saat yang sangat indah bagi seorang anak perawan, saat itulah ia merasa paling cantik, diajak mengharungi suka duka berumah tangga, memadu cinta sehidup semati. Kemudian hari pernikahan, hari yang mengubah status dirinya dari seorang anak remaja menjadi raja sehari. Pikiran yang penuh dengan keindahan. Pada saat dia masih berusaha untuk membebaskan dirinya dari perasaan cinta yang bisa menandingi kecintaannya kepada Allah s.w.t. Rabiah Al-Adawiyah memandang kaum lelaki tidak lebih sekadar saudara yang tulus dan ikhlas. Menurut Rabiah pasangan antara wanita dengan lelaki ibarat langit dan bumi. Saling memberi, tanpa ada yang menuntut balasan. Bumi sudah sewajarnya berterima kasih kepada langit yang telah banyak memberi. Dan langit pun harus berterima kasih pula kepada bumi yang telah mahu menerima pemberiannya. Artinya, perhubungan pergaulan antara lelaki dan perempuan itu tidak harus dinodai dan dikotori oleh nafsu.

https://peribadirasulullah.files.wordpress.com/2011/02/cintasuci.jpg?w=179

Cinta Suci Perawan Sufi Pengembaaan Rohani Rabiah Al-Adawiyah
Oleh: Ibnu Mahalli Abdullah Umar
Keluaran: Kreasi Wacana
Halaman: 379 mukasurat
Membaca kitab nie terasa seakan-2 hidup semasa Rabiah Al Adawiyah. Penulis juga mengaku bahawa sumbanya banyak diperoleh dari muridnya iaitu Abdah binti Abi Syawal. Ana nukilkan sedikit soal jawab Rabiah: 

Seseorang bertanya kepada Rabiah: Wahai Rabiah, bagaimanakah hubunganmu dengan Allah di dunia ini ?
Rabiah menjawab: Seperti hubungan antara tamu dengan tuan rumah. Seorang tamu tidak perlu bersusah payah melayani dirinya, kerana tuan rumahlah yang berkewajiban memuliakan dan melayani keperluan tetamu.

Orang itu bertanya: Mengapa kamu tidak langsung mengemukakan permasalahan dirimu kepada Allah dengan berdoa ?, bukankah Allah memerintahkan kepada kita untuk berdoa, dan berjanji akan memperkenankan doanya ?
Rabiah menjawab: Saya merasa tidak perlu menyibukkan diri dengan melakukan hal tersebut. Jadi kenapa perlu saya bersusah payah berdoa, sedangkan saya telah mendapat jaminan dari sisi-Nya. Dia yang paling mengetahui seluruh rahsia diriku, dan dia pula yang lebih mengerti keperluanku sebelum saya ucapkan kepada seseorang.

Seseorang bertanya: Engkau seorang yang banyak menangis, tapi seolah-olah engkau tidak mengasihi terhadap dirimu sendiri. Mengapa hal ini engkau lakukan, wahai Rabiah.
Rabiah menjawab: Orang yang memaksakan dirinya bekerja keras ketika di dunia, akan memperoleh kenikmatan dan kasih sayang kelak iaitu pada hari kiamat.

Orang itu bertanya: Engkau tidak berhenti bersedih dan berduka cita, apakah yang menyebabkan engkau demikian?
Rabiah menjawab: Hal yang menyebabkan saya berduka-cita dan bersedih adalah kerana saya sama sekali tidak mengerti apakah Allah meredhai atau memurkai diriku.

Orang itu bertanya: Selama ini kita lihat dirimu seperti orang yang terbuang, dari manakah asalmu, wahai Rabiah ?
Rabiah menjawab: Saya dari negeri akhirat.

Orang itu bertanya: Dari negeri akhirat ? lalu engkau mahu pergi kemana ?
Rabiah menjawab: Saya mahu pergi ke alam akhirat.

Orang itu bertanya: Apakah yang engkau perbuat di dunia ini ?
Rabiah menjawab: Saya bermain-main saja terhadap dunia.

Orang itu bertanya: Apa maksudmu bermain-main itu ?
Rabiah menjawab: Saya makan roti di dunia, tetapi saya beramal untuk akhirat.


Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out /  Tukar )

Google photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google anda. Log Out /  Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out /  Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out /  Tukar )

Connecting to %s

Kategori

%d bloggers like this: