Posted by: peribadirasulullah | Disember 2, 2016

Hari Mulut Tidak Dibenarkan Berkata-Kata

2016-1-2-downloaded-with-1stbrowser

Posted by: peribadirasulullah | Disember 2, 2016

Tawaran VVVIP terhad Istana untuk dijual

Photo

 

Mahligai Mewah Untuk Di Jual Kepada Rakyat Biasa miliki segera :
Jenis Rumah : Syurga.
Jumlah Pintu : 8 Pintu.
Kunci : La Ilaha Illallah.
Lokasi : Puncak Firdaus.
Bahan Binaan : Emas Dan Perak.
Keluasan : Seluas langit dan bumi.
Terma Dan Syarat : Tidak Pernah Syrik Kepada Allah SWT.
Tarikh Penyerahan : Pada Hari Qiamat.
Tawaran Istimewa : Mereka Yang SentiasaTakut Kepada Larangan Allah SWT.
Ya Allah Jadikanlah Sahabat-sahabatku untuk memahami arahan Mu.

Saham yang dijamin selamat oleh Allah SWT melalui

Bantulah Kami Dalam Menjayakan Program Mewaqafkan Al-Quran Terjemahan Dalam Bahasa Khmer / Kemboja Dan Membiayai Kelas-Kelas Al-Quran Di Selatan Kemboja.  Hulurkan sumbangan Ikhlas Anda Walaupun RM 10 Melalui  Tabung Ihya Assunnah Solution Maybank  553131011505 * Sebarang cadangan kirimkan melalui gmail : ihyaassunnah68@gmail.com Tel No:0199576237

☛Daripada Abu Said al-Khudri r.a, dari Nabi S.A.W,
Baginda telah bersabda yang maksudnya:

”Mana-mana orang mukmin yang memberi makan kepada seorang mukmin semasa ia lapar, nescaya Allah memberi makan kepadanya pada hari kiamat dari buah-buahan Syurga dan mana-mana orang mukmin yang memberi minum kepada seorang mukmin semasa ia dahaga, nescaya Allah memberi minum kepadanya pada hari kiamat dari minuman syurga yang tersimpan dengan sebaik-baiknya dan mana-mana orang mukmin yang memberi pakai kepada seorang mukmin semasa ia memerlukan pakaian, nescaya Allah memberi pakaian kepadanya dari pakaian syurga. (At-Tirmidzi)

Posted by: peribadirasulullah | Disember 2, 2016

Hayatilah Persaudaraan Islam

n-1

Renungkanlah kalimat-kalimat ini, janganlah engkau terpedaya bahwasanya engkau adalah ahli ibadah, engkau melihat dirimu bahwasanya engkau adalah yang suka ibadah ini..ibadah itu..sehingga engkau tidak merasakan dosa yang telah meliputimu tanpa engkau sadari karena kurangnya ilmu. Adapun seseorang jika ia berilmu dan adapun seorang muslim atau wanita muslimah jika ia mengetahui perintah Allah maka akan ada dalam hatinya rasa takut. Allah berfirman:

?إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ?[فاطر:28]

Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hambaNya adalah orang-orang yang berilmu (QS Fatir: 28)

Maka jika seseorang melakukan dosa maka akan ada dihati rasa takut, ia tidak tahu apa yang akan Allah lakukan padanya akibat dosa tersebut, yang terkadang dosa tersebut dilakukan dengan lisan atau dengan hati atau dengan anggota-anggota tubuh.

#tadabburdaily

SALIMAH PRIHATIN UMMAH

Sebagaimana yang kita semua sedia maklum saudara Islam kita iaitu kaum Rohingya di Arakan Myanmar telah di tindas dan diperlakukan dengan kejam sekali.

Mereka telah di bunuh beramai-ramai, wanita-wanita di rogol dan kanak-kanak juga telah dibunuh secara tragis. Kini darah dan airmata mengalir kembali di Bumi Arakan.

Foto-foto ini mengungkapkan apa yang berlaku melebihi seribu ungkapan.

Kaum Rohingya telah di usir dari kampung halaman mereka dan telah menjadi pelarian dalam negara sendiri. Keperluan mendesak sekarang ialah bekalan makanan.

Atas nama kemanusiaan dan keprihatinan, NGO SALIMAH Malaysia ( Persatuan Persaudaraan Muslimah Malaysia) merayu kepada para dermawan yang budiman sudi apa kira nya menghulurkan sedikit bantuan untuk Rohingya.

 

Sumbangan bolehlah disalurkan kepada :
Persatuan Persaudaraan Muslimah Malaysia (SALIMAH)
Bank: Bank Islam Malaysia Bhd.
Akaun No. 1203 80101 07403

Sila maklumkan/pm kepada Bendahari (Pn Samtinar, jumlah sumbangan) setelah bank in.

Untuk keterangan lanjut, sila hubungi:
1. Pn Asiah Ahmad: 0133999621
2. Pn Siti Fatimah Likin: 0133677773
3. Pn Samtinar Abd Rahman : 0162781158

Setiap sumbangan amat dihargai sebagai usaha meringankan beban dan penderitaan saudara-saudari Rohingya di Arakan.

Salimah Kebangsaan Malaysia

#ihyaassunnah

Posted by: peribadirasulullah | Disember 2, 2016

Apa jua tindakan kita akan bertanggungjawab di hadapan Allah SWT

Janganlah kamu mengatakan sesuatu yang kamu sendiri tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati setiap orang kelak di akhirat akan diminta tanggung jawab. [Al-Isra’, 17 : 36]

‘Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu ‘Abbas radiyallahu anhu berkata berkenaan “وَلاَ تَقْفُ”, iaitu maksudnya: “Jangan kamu mengatakan”

Berkenaan ayat diatas, Al-Aufi berkata maksudnya: “Dan jangan kamu menuduh seseorang yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya”

Muhammad Ibnul Hanafiyyah pula berkata: “Maksudnya adalah larangan memberikan kesaksian palsu”

Qatadah berkata bahwa maksudnya: “Janganlah kamu mengatakan bahawa aku melihat sedangkan kamu tidak melihat, aku mendengar sedangkan kamu tidak mendengar, aku mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahuinya. Karena sesungguhnya Allah akan bertanya semua itu kepadamu”

Setelah menyebutkan pendapat para Salaf tentang ayat ini, imam Ibnu Katsir rohimahulloh berkata: “Kesimpulan penjelasan yang mereka sebutkan adalah: bahwa Allah Ta’ala melarang berbicara tanpa ilmu, yaitu (berbicara) hanya dengan persangkaan yang merupakan perkiraan dan khayalan.” (Tafsir Al-Qur’anul Azhim), seperti firman Allah:

“Jauhilah kebanyakkan dari persangkaan, sesungguhnya sebahagiaan persangkaan itu adalah dosa” (al-Hujuraat 49:12)

Dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Jauhilah prasangka, karena sesungguhnya prasangka adalah ucapan yang paling dusta, dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan, dan janganlah kalian saling menghendap-hendap, dan janganlah kalian saling membenci, dan janganlah kalian saling membelakangi, dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR al-Bukhari)

Disebutkan didalam Sunan Abi Dawud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Seburuk-buruk kendaraan yang ditunggangi seseorang adalah apabila berkata: “Mereka menyangka” (HR Abu Dawud, lihat Sahihul Jami’ no 2846)

hadits lain disebutkan bahwa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya perbuatan menga-adakan yang paling dusta, adalah ketika seseorang mengaku melihat sesuatu dengan kedua matanya, sedangkan ia tidak melihatnya” (HR al-Bukhari no. 7043)


#tadabburdaily

Posted by: peribadirasulullah | Disember 1, 2016

7 Sunnah Hebat

Post by @sudeman.

Sumber: 7 Sunnah Hebat

Posted by: peribadirasulullah | November 27, 2016

16 Kelebihan Berdakwah Di Jalan Allah SWT

Photo

16 Alasan Mengapa Kita Mesti Berdakwah

Setiap kali berkurang kemauan dan hasrat untuk berdakwah, maka ingatlah pahala-pahala dan buah-buah yang agung bagi siapa yang berdakwah ke jalan Allah pada artikel berikut ini

By Ahmad Zainuddin, Lc.

Segala puji hanya milik Allah semata Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada para kerabatnya, para shahabat seluruhnya, wa ba’du:

Aku melihat seorang laki-laki warga Negara Filipina, ia dulu adalah seorang pendeta dan misionaris, kemudian Allah Azza wa Jallamemberikan kepadanya hidayah! Lalu mari kita perhatikan apakah yang ia kerjakan setelah Allah membukakan hatinya untuk memeluk agama Islam?

Dia mulai mendakwahi anak bangsanya sehingga masuk islam di tangannya 4000 orang! Dan yang demikian itu hanya dalam beberapa tahun saja! Kira-kira berapa banyak orang yang akan memeluk agama Islam di tangan mereka yang 4000 itu, dan akhirnya kebaikan terus melambung naik sampai hari kiamat! Alangkah beruntungnya ia…

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Artinya: “Barangsiapa yang menunjukkan kepada sebuah kebaikan maka baginya seperti pahala pelakunya[1].”

An Nawawi rahimahullah berkata: “ia menunjukkan dengan perkataan, lisan, isyarat dan tulisan.”

Saudaraku muslim…

Berdakwah kepada agama Allah Azza wa Jalla termasuk keta’atan yang paling tinggi dan ibadah yang paling agung, ia membutuhkan dari seluruhnya cara-cara yang bermacam-macam, keikhlashan, kesungguhan, kesabaran untuk menyampaikan agama ini, mempertahankan dan memperjuangkannya dari kehancuran:

{يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (1) قُمْ فَأَنْذِرْ (2)} [المدثر: 1، 2]

Artinya: “Hai orang yang berkemul (berselimut),  bangunlah, lalu berilah peringatan![2].”

Jika bukan kita penganut agama Islam yang bekerja untuk agama ini, maka siapakah gerangan yang akan mengerjakannya?!

Allah Azza wa Jalla telah memuliakanmu dengan nikmat Islam dan memudahkan bagimu perkara-perkara dan memudahkan bagimu jalan sehingga kamu berjalan di jalan yang paling agung, Ibnul Qayyim berkata: “Berdakwah ke jalan Allah Ta’ala adalah tugasnya para rasul dan para pengikutnya.”

Saudaraku muslim…

Siapa yang memberikan sebuah buku maka ia adalah pendakwah, siapa yang menghadiahkan kaset maka ia adalah seorang pendakwah, siapa yang mengajarkan oang yang bodoh maka ia adalah seoorang pendakwah, dan barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan maka ia adalah seorang pendakwah, siapa yang menyampaikan sepatah kata maka ia adalah seorang pendakwah…pintu-pintu yang luas dan jalan yang mudah dan gampang, segala puji hanya milik Allah, setiap kali berkurang kemauan dan hasrat menjadi lemah, maka ingatlah pahala-pahala dan buah-buah yang agung bagi siapa yang berdakwah ke jalan Allah, di antaranya:

Pertama: mengikuti para nabi Alaihimus shalatu wa Salaam dan mencontoh mereka

{قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ } [يوسف: 108]

Artinya: “Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik[3].”

Al Farra berkata: “Wajib bagi setiap yang mengikutinya untuk berdakwah kepada apa yang ia dakwah dan menyebutkan Al Quran dan nasehat”.

Kedua: bergegas untuk mendapatkan kebaikan dan kemauan di dalam mendapatkan pahala

karena Allah Azza wa Jalla memuji para pendakwah:

{وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ } [فصلت: 33]

Artinya: “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?[4].”

Asy Syaukani berkata: “Tidak ada yang lebih baik darinya dan yang lebih jelas dari jalannya dan tidak ada yang lebih banyak pahalanya dibanding  amalannya”.

Ketiga: berusaha untuk mendapatkan pahala-pahala yang besar kebaikan-kebaikan yang banyak dengan hanya perbuatan yang sedikit

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan kabar gembira dengan sabdanya:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Artinya: “Barangsiapa yang menunjukkan kepada sebuah kebaikan maka baginya seperti pahala pelakunya[5].”

Jika anda menunjukkan seseorang kepada agama Islam maka bagi anda seperti pahala islamnya, amalannya, shalatnya dan puasanya dan tidak mengurangi hal tersebut dari pahalanya sedikitpun, dan pintu ini sangat agung dan luas, siapa yang diberi taufik oleh Allah Azza wa Jallaia akan masuk ke dalamnya.

Keempat: taufik dan pendekatan kepada kebenaran: bahwasanya ia adalah buah yang sangat jelas dari dakwah

Allah Ta’ala berfirman:

{وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ} [العنكبوت: 69]

Artinya: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik[6].”

Al Baghawi berkata: “Orang-orang yang berjihad melawan orang-orang musyrik untuk memperjuangkan agama kiat”.

Kelima: Harapan shalihnya keturunan

Karena sesungguhnya di dalam hal tersebut terdapat Qurratu ‘ain di dunia dan akhirat, dan Allah tidak menghilangkan pahala orang yang telah berbuat kebaikan. Allah Ta’ala berfirman:

{وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا } [النساء: 9]

Artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar[7].”

dan termasuk dari perkataan yang benar yang paling agung adalah berdakwah kepada Agam Allah.

Keenam: termasuk dari buah dari berdakwah adalah memberatkan timbangan-timbangan kebaikan kita pada hari ditunjukkannya amal perbuatan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Artinya: “Barangsiapa yang menyeru kepada sebuah petunjuk maka baginya pahal seperti pahala-pahala orang-orang yang mengikutinya, hal tersebut tidak mengurangi akan pahala-pahala mereka sedikitpun dan barangsiapa yang menyeru kepada sebuah kesesatan maka atasnya dosa  seperti dosa-dosa yang mengikutinya, hal tersebut tidak mengurangi dari dosa-dosa mereka sedikitpun[8].”

Ketujuh: Melakukan dakwah kepada Allah merupakan sebagian dari sebab-sebab kemenangan dan keberuntungan di dunia dan akhirat

Allah Ta’ala berfirman:

وَالْعَصْرِ(1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ(2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

Artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran[9].”

Kedelapan: Berdakwah kepada agama Allah termasuk dari sebab-sebab yang mendatangkan kemenangan melawan musuh-musuh

Allah Ta’ala berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ} [محمد: 7]

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu[10].”

Karena dengan dakwah maka Allah akan disembah sesuai dengan yang disyri’atkan-Nya, kemungkaran-kemungkaran akan hilang, dan akan tumbuh di dalam umat ini rasa kejayaan dan kemuliaan sehingga jalan di jalan kemenangan dan kekuasaan.

Kesembilan: dengan berdakwah kepada agama Allah maka akan didapatkan kedudukan-kedudukan yang tinggi

Syaikh Abdurrahman As Sa’dy rahimahullah berkata: “Dan kedudukan ini yaitu kedudukan berdakwah adalah kesempurnaan yang bagi orang-orang shiddiq, yang telah menyempurnakan akan diri mereka dan selain mereka, dan mereka akan mendapatkan warisan yang sempurna dari para rasul”.

Kesepuluh: dari buah hasil berdakwah adalah shalawat Allah, para malaikat-Nya dan penduduk langit dan bumi atas pengajar manusia kebaikan

karena apa yang ia akan sampaikan hanyalah ilmu yang diwarisi dari firman Allah Ta’ala dan sabda rasul-Nya yang mulia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ حَتَّى النَّمْلَةَ فِى جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya dan penghuni bumi dan langit sampai semut yang berada di lubangnya dan bahkan sampai ikan benar-benar bershalwat atas pengajar manusia kebaikan[11].”

Kesebelas: Berdakwah kepada agama Allah mengangkat derajat di dunia dan akhirat

Ibnul Qayyim berkata: “Sesungguhnya pangkat makhluq yang paling mulia di sisi Allah adalah pangkat kerasulan dan kenabian, karenanya Allah mengutus dari manusia seorang rasul bergitu pula dari jin”.

Kedua belas: Termasuk buah hasil berdakwah adalah terus mengalirnya pahala si pendakwah setelah wafatnya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا مَا عَمِلَ بِهِ فِي حَيَاتِهِ وَبَعْدَ مَمَاتِهِ حَتَّى يَتْرُكَ

Artinya: “Barangsiapa yang mensunnahkan sunnah yang baik maka baginya pahala amalan tersebut selama dikerjakan di dalam kehidupannya dan setelah wafatnya sampai ditinggalkan[12].”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إلَّا مِنْ ثَلَاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya: “Jika seorang anak keturunan Adam meninggal maka terputus amalnya kecuali dati tiga perkara…”, dan salah satu diantaranya adalah: “Ilmu yang bermanfa’at.”

Ketiga belas: Kecintaan Allah Azza wa Jalla bagi siapa yang memperjuangkan agama-Nya dan menyampaikan risalah-Nya

Al Hasan ketika mengomentari firman Allah Ta’ala:

{وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ } [فصلت: 33]

Artinya: “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?[13]. “

Beliau berkata: “Dia adalah orang yang beriman, menerima seruan Allah lalu menyeru manusia kepada apa yang ia telah dia terima dari seruan tersebut lalu ia beramal shalih ketika menerimanya, maka orang ini adalah orang yang dicintai oleh Allah, ia adalah wali Allah”.

Keempat belas: dari buah hasil berdakwah yang dicintai yang disenangi oleh jiwa dan melapangkan dada

dan juga menolong untuk selalu terus (dalam berdakwah) dan mampu melawan dalam keadaan yang sempit, yaitu doa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam agar terang wajah bagi yang menyampaikan sabda beliau,

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِى فَبَلَّغَهَا

Artinya: “Allah mencerahkan wajah seseorang yang telah mendengar perkataanku lalu ia sampaikan[14].”

Maka berbahagaialah orang yang merasakan doa ini dan mendapatkan bagian darinya.

Kelima belas: Doa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam agar mendapatkan rahmat bagi siapa yang menyampaikan sabda beliau

termasuk hal yang paling agung yang membantu untuk selalu berjalan dengan semangat:

رحم الله امرأ سمع منى حديثا فحفظه حتى يبلغه غيره

Artinya: “Allah merahmati seseorang yang telah mendengar dariku sebuah hadits lalu ia menghafalnya  kemudian ia sampaikan kepada orang lain[15].”

Dan di zaman sekarang terkumpul syarat-syarat untuk menyampaikan, Al Quran, kaset-kaset yang bernuansa islam telah tersedia, agar sampai kepada orang yang di dakwahi dalam keadaan yang sempurna dan baik, saya teringat bahwa seorang laki-laki masuk Islam kemudian ia datang ke Negara ini dan bermukim di sini beberapa tahun kemudian pulang ke negaranya dan tidak ada seorangpun dari manusia yang mengajaknya ke agama Allah, sampai ada kesempatan baginya untuk bekerja yang lain lagi dan setelah setahun ia pulang bersama sebuha perusahaan di bidang perbaikan hotel-hotel.

Ia berkata: lalu pada suatu hari aku dapatkan sebuah tulisan singkat diletakkan di atas meja dapur setelah keluarnya orang yang menyewa hotel tersebut, ternyata di dalamnya terdapat pengetahuan-pengetahuan tentang Islam, lalu jadilah inti pencarianku adalah tentang Islam dan bertanya seputarnya, sampai akhirnya akupun masuk Islam dan masuk islam bersamaku bapak dan ibuku serta istriku dan aku berusaha untuk memasukkan sisa dari keluargaku sekarang masuk ke dalam Islam, maka bagaimanakah kesenangan seorang pendakwah yang meletakkan tulisan singkat tersebut kelak pada hari kiamat, jika seluruh keluarga itu dan yang lainnya menerima dan itu semua akan terdapat di buku amalan dan kebaikan dia?

Keenam belas: berdakwah kepada agama Allah adalah shadaqah dari beberapa cara shadaqah

Allah Ta’ala berfirman,

{الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ} [البقرة: 3]

Artinya: “(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka[16].”

Al Hasan berkata: “Termasuk infaq yang paling afdhal adalah infaq ilmu”.

Aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla menjadikan kita dari para pendakwah kepada agama-Nya dan memberikan kepada kita seluruhnya keikhlashan di dalam perkataan dan perbuatan.

*) Disusun oleh Abdul Malik Al Qasim,

Penerjemah: Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc

Artikel www.muslim.or.id

[1]Hadits riwayat Muslim

[2] QS. Al Mudatstsir:1-2

[3] QS. Yusuf:108

[4] QS. Fushshilat:33

[5] Hadits riwayat Muslim

[6] QS. Al Ankabut:69

[7] QS. An Nisa-‘:9

[8] Hadits riwayat Muslim

[9] QS. Al Ashr:1-3

[10] QS. Muhammad:10

[11] Hadits riwayat Tirmidzi

[12] Hadits riwayat Ath Thabarani

[13] QS. Fushshilat:33

[14] Hadits riwayat Ibnu Majah

[15] Hadits riwayat Ahmad

[16] QS. Al Baqarah:3

Sumber: http://muslim.or.id/8283-ayo-berdakwah.html

 

Posted by: peribadirasulullah | November 27, 2016

BANGKITLAH WAHAI UMMAT ISLAM !!!

Photo

BANGKITLAH WAHAI UMMATKU !!

Tidak asing lagi fakta kehidupan yang sedang dijalani oleh umat islam sekarang ini, berbagai petaka, bencana, penindasan, pelecehan dan berbagai fakta pilu lainnya.

Dari hari ke hari, pendengaran kita tiada hentinya mendengarkan berbagai berita yang menyayat-nyayat hati, mata kita membaca berbagai lembaran kelam dari sejarah umat Islam.

Musuh-musuh dari segala aliran dan bangsa dengan bengisnya menindas, menjajah, dan merampas hak umat Islam.

Dengan segala kerakusan dan keserakahannya mereka merampas segala keindahan umat Islam.

Semua itu berlangsung tanpa ada daya dan upaya yang dapat dilakukan oleh umat Islam untuk menangkal atau menyingkapnya.

Fakta ini benar-benar seperti yang digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits berikut:

Tak lama lagi berbagai bangsa akan ramai-ramai bersekongkol atas kalian, bak persekongkolan para pemakan ramai-ramai menuju kepada piring hidangannya. Maka seorang sahabat bertanya: “Apakah karena kami kala itu berjumlah sedikit?” Beliau menjawab: “Bahkan kalian kala itu berjumlah banyak, akan tetapi kalian buih bak buih air bah, dan sungguh Allah akan menyirnakan rasa takut dari dada musuh-musuh kalian, dan Ia akan mencampakkan Al Wahanu di jantung-jantung kalian.” Maka salah seorang sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, apakah Al Wahanu itu?” Beliau menjawab: “Cinta terhadap dunia dan benci akan kematian.” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan lainnya, serta dishohihkan oleh Al Albany)

Walau demikian, kita tidak boleh berkecil hati atau merasa putus asa, karena Allah Ta’ala telah memberikan jaminan bahwa kemenangan, dan kejayaan pasti akan menghampiri hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertaqwa:
َ
“Dan sungguh-sungguh telah Kami tuliskan (tetapkan) di dalam Zabur sesudah (Kami tuliskan dalam Laih Mahfuzh) bahwasannya bumi ini akan di warisi oleh hamba-hamba-Ku yang soleh.” (QS. Al Anbiya’: 105)

Ibnu Katsir berkata:
“Allah Ta’ala mengabarkan bahwa hal ini (kemenangan orang-orang soleh-pen) telah dituliskan dalam kitab syar’i (taqdir syar’iyah) dan kitab Qodari (taqdir kauniyah), dan hal itu pasti terwujud.” (Tafsir Ibnu Katsir 3/201)

Pada ayat lain Allah berfirman:

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan beramal soleh, bahwa Ia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Ia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Ia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Ia ridhai untuk mereka. Dan Ia benar-benar akan menggantikan (keadaan) mereka setelah mereka berada dalam ketakutan, menjadi aman sentausa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tiada menyekutukan-Ku dengan sesuatu. Dan barang siapa yang (tetap) kufur sesudah janji ini, maka mereka itulah orang-orang fasik.” (QS. An Nur: 55)

Dan pada ayat lain Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Kami pasti menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari tegakkanya para saksi (hari Qiyamat)” (QS. Ghofir: 50)

Inilah janji Allah, inilah jaminan dari Allah, dan inilah sebagian dari imbalan bagi orang-orang yang memenuhi janji mereka kepada Allah.

Bila kita renungkan ketiga ayat di atas, niscaya kita dapatkan dengan jelas bahwa janji Allah ini tidaklah diberikan dengan tanpa syarat.

Akan tetapi janji Allah ini hanya dapat digapai dengan dua syarat:

1. Syarat Pertama: IMAN

2. Syarat Kedua: AMAL SHOLEH

Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
“Karena para sahabat (semoga Allah meridhoi mereka) sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang paling banyak menegakkan perintah-perintah Allah, dan paling ta’at kepada Allah Azza wa Jalla, maka pertolongan yang mereka dapatkan sesuai dengan amalan mereka. Mereka menegakkan kalimat Allah di belahan bumi bagian timur dan barat, maka Allah benar-benar meneguhkan mereka. Sehingga mereka berhasil menguasai umat manusia dan berbagai negeri. Dan tatkala umat Islam sepeninggal mereka melakukan kekurangan dalam sebagian syari’at, maka kejayaan mereka berkurang selarang dengan amalan mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir 3/302)

Sebenarnya, lembaran sejarah yang sedang dijalani oleh umat Islam pada zaman sekarang, tidaklah lebih berat bila dibandingkan dengan lembaran sejarah yang dijalani oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama sahabatnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dituduh sebagai tukang sihir, pendusta, dan dan disakiti serta diperangi.
Ada dari sahabatnya yang dibunuh dengan cara-cara sadis nan bengis, sebagaimana yang dialami oleh sahabat Yasir & Sumayyah.
Ada dari mereka yang disiksa dengan berbagai bentuk penyiksaan, sebagaimana yang dialami oleh Ammar bin Yasir, Khabbab bin Arat, Bilal dll.

Menjalani tantangan yang sangat berat ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap tegar meniti setiap tahapan dakwah, tanpa kenal lelah atau kecil hati.
Beliau berjuang sekuat tenaga guna mewujudkan kedua persyaratan diatas pada sahabatnya.

Dan tatkala ada dari sebagian dari sahabatnya yang merasa bahwa jalan menuju kejayaan terlalu panjang, dengan tegar beliau kembali menegaskan bahwa bila kedua persyaratan diatas telah terealisasi, maka jalan menuju kejayaan sangatlah pendek.

Mari kita simak beberapa bukti akan hal ini:

Abul ‘Aliyah menyatakan bahwa ayat 55 surat An Nur diturunkan pada awal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya diperintahkan untuk berperang, sehingga beliau dan para sahabatnya senantiasa dalam keadaan khawatir akan serangan musuh.
Oleh karenanya, mereka senantiasa menenteng senjata, sampai-sampai salah seorang sahabat berkata kepada beliau: “Akankah selama-lamanya kita akan berada dalam ketakutan semacam ini?, mungkinkah akan datang suatu saat yang aman sehingga kamipun meletakkan senjata?”
Maka Nabipun menjawab: “Tidaklah kalian bersabar melainkan hanya dalam waktu yang singkat, sampai akan datang suatu masa, yang padanya salah seorang dari kamu akan duduk berongkang-ongkang di tengah keramaian manusia, sedangkan tidak sepotong besipun (senjata) ada bersama mereka,” kemudian Allah menurunkan ayat di atas. (Tafsir At Thobary 18/159)

Imam Bukhori meriwayatkan dari sahabat Khabbab bin Arat radhiallahu ‘anhu, bahwa pada suatu hari beliau mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang berbaring di bawah naungan Ka’bah berbantalkan selimutnya.
Lalu sahabat Khabbab berkata kepada beliau:
“Tidakkah engkau memohonkan pertolongan untuk kami?
Tidakkah engkau berdoa kepada Allah untuk kami?”
Maka beliau menjawab:
“Dahulu pada umat sebelum kalian ada orang yang ditimbun dalam tanah, kemudian didatangkan gergaji, lalu diletakkan di atas kepalanya hingga terbelah menjadi dua.
Siksa itu tidaklah menjadikan ia berpaling dari agamanya.
Dan ada yang disisir dengan sisir besi, hingga terkelupas daging, dan nampaklah tulang atau ototnya, akan tetapi hal itu tidaklah menjadikan ia berpaling dari agamanya.
Sungguh demi Allah, urusan ini akan menjadi sempurna, sehingga akan ada penunggang kendaraan dari Sanaa’ hingga ke Hadramaut, sedangkan ia tidaklah merasa takut kecuali kepada Allah atau serigala atas dombanya.
Akan tetapi kalian adalah orang-orang yang terburu-buru.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada kisah ini kembali menggugah keimanan Khabbab kepada janji Allah.
Sebagaimana Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menegur sahabat Khabbab agar meninggalkan sikap terburu-buru dalam perjuangan di jalan Allah.

Bila sahabat Khabbab radhiallahu ‘anhu yang hanya meminta agar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memohonkan pertolongan dan berdoa, dinyatakan terburu-buru, maka bagaimana halnya dengan sikap banyak dari umat Islam pada zaman ini.
Dari mereka ada yang menempuh jalan demonstrasi, pengeboman, pendirian partai politik, dan menggalang dukungan dari siapapun, serta berkoalisi dengan partai apapun, tanpa perduli dengan azaz dan idiologinya.
Semua ini mereka lakukan di bawah slogan: Menyegerakan kejayaan bagi umat Islam?!! Mengusahakan jaminan hidup bermartabat bagi umat Islam?! Memperjuangkan nasib kaum muslimin?!! Bahkan dari mereka ada yang berkata: Bila umat islam tidak masuk parlemen, maka siapakah yang akan menjamin nasib mereka?!

Seakan-akan mereka tidak pernah mendengar jaminan dan janji Allah di atas. Seusai perjanjian Hudaibiyyah ditandatangani, sahabat Umar bin Khatthab radhiallahu ‘anhu yang tidak kuasa melihat sahabat Abu Jandal radhiallahu ‘anhu diserahkan kembali ke orang-orang Quraisy, berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Bukankah engkau adalah benar-benar Nabiyullah?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Ya.” Umarpun kembali berkata: “Bukankah kita di atas kebenaran, sedangkan musuh kita di atas kebatilan?” Nabipun menjawab: “Ya!” Umarpun berkata: “Lalu mengapa kita pasrah dengan kehinaan dalam urusan agama kita, bila demikian adanya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Sesungguhnya Aku adalah Rasulullah, dan aku tidak akan menyelisihi perintah-Nya, dan Allah adalah Penolongku.” Umar kembali berkata: “Bukankah engkau pernah mengabarkan kepada kami bahwa kita akan mendatangi Ka’bah, kemudian berthowaf di sekelilingnya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Iya, dan apakah aku pernah mengabarkan bahwa kita akan mendatangai Ka’bah pada tahun ini?” Umarpun menjawab: “Tidak.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpalinya: “Sesungguhnya engkau akan mendatangainya, dan akan bertowaf mengelilinginya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Pada kisah ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berusaha meneguhkan kembali keimanan Umar bin Khatthab kepada janji Allah agar tidak tergoyah. Dan mengungatkannya agar bersabar dalam menanti datangnya pertolongan Allah, yaitu dengan tetap taat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Demikianlah seyogyanya pertolongan Allah Ta’ala digapai.
Yaitu dengan keimanan yang benar dan kokoh dan kesabaran yang teguh.

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan Kami jadikan dari mereka pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, ketika mereka bersabar dan adalah mereka selalu meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As Sajdah: 24)

Ibnul Qayyim berkata: “Pada ayat ini Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Ia telah menjadikan mereka (pengikut nabi Musa-pen) sebagai pemimpin-pemimpin yang dijadikan panutan oleh generasi setelah mereka, berkat kesabaran dan keyakinan mereka.
Sebab dengan kesabaran dan keyakinan, kepemimpinan dalam hal agama dapat dicapai.
Karena seorang penyeru kepada jalan Allah Ta’ala, tidaklah akan terealisasi cita-citanya, melainkan bila ia benar-benar yakin akan kebenaran misi yang ia surukan, ia menguasai ilmu tentangnya.
Ia juga bersabar dalam menjalankan dakwah menuju jalan Allah, yaitu dengan tabah menahan beban dakwah dan menahan diri dari segala hal yang akan meluluhkan tekad dan cita-citanya.
Barang siapa demikian ini halnya, maka ia termasuk para pemimpin yang telah mendapat petunjuk dari Allah Ta’ala.” (I’ilamul Muwaqi’in 4/135)

Kisah antara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sahabat Umar bin Khatthab radhiallahu ‘anhu di atas, tentu tidak selaras dengan doktrin sebagian orang bahwa: yang paling penting sekarang ini adalah kita bergerak, umat islam harus bertindak, sekarang ini bukan lagi saatnya untuk menyoal tentang asma’ was sifat, sunnah, atau bid’ah, sedangkan saudara kita di sana dibantai, di sini ditindas, disana diserang dst. Sekarang ini bukan saatnya untuk bertanya sunnah atau bid’ah? Sekarang ini saatnya kita bersatu, menggalang dukungan, melupakan segala perbedaan, dan berusaha mencari titik temu, dst.

Doktrin ini tidaklah diucapkan kecuali oleh orang yang tidak mengenal keagungan Allah Ta’ala:

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya kalian mengerjakan berbagai amalan, yang di mata kalian lebih lembut dibanding rambut, padahal kami dahulu semasa hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggapnya sebagai amalan yang membinasakan.” (Riwayat Bukhori)

Tatkala Kholifah Umar bin Al Khotthab terluka akibat tusukan Abu Lu’lu’ah Al Majusi, ia dijenguk oleh seorang pemuda yang berkata:
“Bergembiralah wahai Amirul Mukminin dengan kabar gembira dari Allah untukmu; engkau telah menjadi sahabat Rasulullah, dan banyak berjasa untuk Islam sebagaimana yang engkau ketahui sendiri, kemudian engkau dipilih menjadi pemimpin, dan engkaupun berlaku adil, kemudian engkau mati syahid.”
Umarpun menjawab:
“Aku berandai-andai itu semua cukup, tidak atasku dan juga tidak untukku.”
Tatkala pemuda itu telah berpaling, ternyata sarungnya menyentuh tanah. Umar-pun berkata:
“Panggillah kembali pemuda itu,”
lalu ia berkata kepadanya:
“Wahai anak saudaraku! Naikkanlah bajumu, karena dengan cara itu bajumu akan lebih awet, dan engkau lebih bertaqwa kepada Rabb-mu.” (Riwayat Bukhori)

Pada akhir hayatnya, Kholifah Umar bin Khatthab masih juga perhatian dengan masalah isbal.
Beliau atau sahabat lainnya yang hadir kala itu tidak ada yang berkata:
“Sekarang, bukan saatnya berbicara tentang isbal, sekarang saatnya berbicara tentang calon pengganti kholifah,” atau ucapan yang semakna.

Kholifah Umar bin Abdul Aziz pernah berkirim surat kepada salah seorang panglimanya:

“Hendaknya engkau senantiasa bertaqwa kepada Allah dalam setiap situasi yang engkau hadapi, karena ketakwaan kepada Allah adalah senjata paling ampuh, taktik paling bagus, dan kekuatan paling hebat. Janganlah engkau dan kawan-kawanmu lebih waspada dalam menghadapi musuh dibanding menghadapi perbuatan maksiat kepada Allah.
Karena perbuatan dosa lebih aku khawatirkan atas masyarakat dibanding tipu daya musuh mereka.
Kita memusuhi musuh kita dan mengharapkan kemenangan atas mereka berkat tindak kemaksiatan mereka. Kalaulah bukan karena itu, niscaya kita tidak kuasa menghadapi mereka, karena jumlah kita tidak seimbang dengan jumlah mereka, kekuatan kita tidak setara dengan kekuatan mereka.
Bila kita tidak mendapat pertolongan atas mereka berkat kebencian kita terhadap kemaksiatan mereka, niscaya kita tidak dapat mengalahkan mereka hanya dengan kekuatan kita.

Jangan sekali-kali kalian lebih mewaspadai permusuhan seseorang dibanding kewaspadaanmu terhadap DOSA DOSAMU SENDIRI.
Janganlah kalian lebih serius menghadapi mereka dibanding menghadapi dosa-dosa kalian.

Ketahuilah bahwa kalian senantiasa diawasi oleh para malaikat pencatat amalan.
Mereka mengetahui setiap perilaku kalian sepanjang perjalanan dan peristirahatan kalian.
Hendaknya kalian merasa malu dari mereka, dan berlaku santun dihadapan mereka.
Jangan sekali-kali menyakiti mereka dengan tindak kemaksiatan kepada Allah, padahal kalian mengaku sedang berjuang di jalan Allah.

Janganlah sekali-kali kalian beranggapan bahwa:
“Sesungguhnya (perbuatan) musuh-musuh kita lebih jelek dibanding kita, sehingga tidak mungkin mereka dapat mengalahkan kita, walaupun kita berbuat dosa.
Betapa banyak kaum yang telah dikuasai oleh orang-orang yang lebih jelek, akibat dari perbuatan dosa kaum tersebut.”

Mohonlah pertolongan kepada Allah dalam menghadapi diri kalian, sebagaimana kalian memohon pertolongan kepada-Nya dalam menghadapi musuh kalian. Sebagaimana kamipun turut memohon hal tersebut untuk diri kita dan juga untuk kalian.”
(Hilyatul Auliya’ 5/303)

Subhanallah, suatu pesan yang layak untuk dituliskan dengan tinta emas, dan dibacakan kepada setiap orang yang di hatinya sedang berkobar-kobar api perjuangan demi Islam.

SUDAH SEPANTASNYA PESAN INI DIAJARKAN KEPADA SETIAP PEMUDA ISLAM YANG INGIN MEMPERJUANGKAN NASIB ISLAM DAN UMATNYA.

Kisah peperangan uhud dan peperangan Hunain adalah contoh kecil bagi ucapan Kholifah Umar bin Abdul Aziz:
Janganlah sekali-kali kalian beranggapan bahwa: “Sesungguhnya (perbuatan) musuh-musuh kita lebih jelek dibanding kita,…”

Pada perang Uhud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama sahabatnya menghadapi kaum kafir Quraisy.
Mereka datang ke madinah guna membalas dendam atas kekalahan mereka pada perang Bader.
Sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melanggar perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar tidak meninggalkan pos penjagaan mereka di atas gunung, walau terjadi kejadian apapun.
Sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada mereka;

“Tetaplah kalian berada di pos kalian, dan janganlah kalian berhanjak pergi, walaupun kalian menyaksikan burung-burung telah menyambar-nyambar kami.” (Al Baihaqy dll)

Akan tetapi perintah ini oleh sebagian sahabat yang bertugas menjaga pos di atas gunung dilanggar.
Mereka berdalih, perang telah usai, dan musuh mulai lari tunggang-langgang, sehingga mereka merasa perlu untuk ikut mengumpulkan rampasan perang dan menawan musuh yang berhasil di tangkap. Akibat pelanggaran yang dilakukan oleh sebagian sahabat ini, terjadilah kekalahan dan petaka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terluka dan terjatuh hingga pingsan, lebih dari tujuh puluh sahabat terbunuh dll.

Pada kisah ini, sebagian sahabat melanggar perintah untuk ittiba’ (meneladani dan mentaati) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan pada perang Hunain, sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalai akan Allah, sehingga mereka merasa percaya diri dan beranggapan tidak akan terkalahkan, karena jumlah mereka banyak. Sebagaimana Allah kisahkan hal ini dalam surat At Taubah 25:

“Sesungguhnya Allah telah menolong kalian di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu terperdaya oleh banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, k emudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai.” (QS. At Taubah: 25)

Pada kisah ini sebagian sahabat yang merasa percaya diri dengan jumlah pasukan dan melalaikan tawakkal kepada Allah, maka mereka ditimpa kekalahan, walaupun akhirnya para sahabatnya yang telah kokoh keimanannya, segera kembali dan berjihad melawan musuh. Dan akhirnya Allah Ta’ala melimpahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya kemenangan.
Pada kisah ini, kaum muslimin terkalahkan pada awal peperangan, akibat rasa ujub dan lupa tawakkal, sehingga terjadi kekeliruan dalam hal tauhid kepada Allah.

Bila kita sedikit menoleh kepada realita umat Islam pada zaman kita ini, maka kita dapatkan sangat jauh beda.

Bukan sekedar dosa-dosa kecil yang diremehkan, akan tetapi berbagai dosa besar bahkan syirikpun tidak lagi diperdulikan.

Berapa ribu kuburan yang dikeramatkan?

Berapa juta ajimat dikantongi umat islam?

Berapa ribu paranormal dan para-tidak-normal bebas membuka praktek umum.

Berapa ribu habib dan kyai bebas mengajarkan bid’ah dan kesesatannya?

Adakah orang yang merasa terusik, atau menggalang kekuatan dan dukungan untuk mengingkari itu semua?

Kebanyakan umat Islam sekarang ini disibukkan dengan urusan jabatan dan perebutan jatah kursi.
Mereka sewot bila ada pejabat yang korupsi, akan tetapi tidak pernah sewot sedikitpun bila ada kuburan yang dikultuskan, atau bid’ah yang diajarkan.

Sebenarnya fakta ini bukanlah hal baru, akan tetapi senantiasa terjadi di sepanjang masa, mari kita simak kisah berikut:

“Dari sahabat Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu ia menuturkan:
Datang kepadaku salah seorang dari anshar (penduduk madinah) pada masa khilafah Utsman, kemudian ia berbicara kepadaku, ternyata ia memerintahkanku untuk mencela Utsman, dan ia adalah orang yang lisannya berat (susah berbicara) sehingga ia tidaklah dapat menyampaikan maksudnya dengan jelas, dan ketika ia telah selesai berbicara, sayapun menjawab: “Dahulu kami (para sahabat), semasa hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Orang paling utama dari umat ini ialah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman. Dan sungguh demi Allah, kami tidaklah mengathui bahwa Utsman pernah membunuh seorang jiwa tanpa alasan yang dibenarkan, tidak juga pernah melakukan dosa besar. Akan tetapi yang menjadi permasalahan ialah harta kekayaan ini (harta kekayaan khilafah/negara), bila ia memberikannya kepada kalian, kalian ridho, dan bila ia berikannya kepada karib kerabatnya kalian menjadi murka. Sesungguhnya kalian ini ingin menjadi seperti orang-orang Persia dan Romawi, mereka tidaklah pernah memiliki seorang pemimpin, melainkan mereka bunuh sendiri.” (Riwayat Ahmad, Al Khollah dan At Thobrani)

Sebagai penutup tulisan singkat ini, saya cukupkan dengan menyebutkan hadits berikut:

“Bila kalian telah (sibuk dengan) mengikuti ekor-ekor sapi, berjual beli dengan cara ‘inna[1] dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan melekatkan kehinaan ditengkuk- tengkuk kalian, kemudian kehinaan tidak akan dicabut dari kalian hingga kalian kembali kepada keadaan kalian semula dan bertaubat kepada Allah.” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Al Baihaqy dan dishohihkan oleh Al Albany). Wallahu a’alam bisshowab.

[1] Jual beli ‘Innah ialah seseorang menjual kepada orang lain suatu barang dengan pembayaran dihutang, kemudian seusai barang diserahkan, segera penjual tadi membeli kembali barang tersebut dengan harga yang lebih murah dan dengan pembayaran kontan.

*

Penulis: Ust. Muhammad Arifin Badri, M.A.

Artikel www.muslim.or.id

Posted by: peribadirasulullah | November 27, 2016

MENGHADAPI KEGAGALAN MENURUT PERSPEKTIF ISLAM

 

n-1
“Tidak ada jalan pintas menuju kesuksesan. Kesuksesan akan datang pada mereka yang berusaha mendapatkannya, bukan pada mereka yang hanya mengharapkannya. Jangan pernah putus asa karena yang mudah putus asa tidak pernah sukses dan orang sukses tidak pernah putus asa”

Kesedihan, kekecewaan, frustasi, dan kemalangan adalah kata-kata yang bersinonim dengan kegagalan. Berbagai bentuk kegagalan memenuhi sudut-sudut kehidupan. Gagal dalam belajar, gagal dalam meraih angka atau nilai yang tinggi, gagal dalam berwiraswasta, gagal dalam berkarir, gagal dalam mencari jodoh, gagal dalam membangun keluarga bahagia, gagal menepati janji, gagal dalam sebuah pertandingan, dan lain-lain, semuanya akrab dengan kehidupan manusia. Kegagalan demi kegagalan yang dialami seseorang tak jarang menimbulkan kekecewaan yang dalam, hingga hilangnya kepercayaan diri. Gagal menjadi kata yang ditakuti sehingga setiap orang berusaha menjauhinya. Kegagalan diibaratkan jurang yang memisahkan antara harapan dan kenyataan. Berapa banyak orang yang mengakhiri hidupnya dengan tragis karena tidak lagi menahan derita kegagalan.

Berikut ini ada lima tips dan trik menghadapi sebuah kegagalan, yaitu:

1. Bersikap Sabar

Bagi orang yang memegang teguh agama, setiap kegagalan bisa jadi sebagai musibah, bisa juga berarti cobaan atau ujian. Dalam menghadapinya membutuhkan kesabaran dan pengakuan bahwa hanya kepada Allahlah semuanya dikembalikan dan kita meminta jalan keluar, seperti Firman Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah: 155-156: “…Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”.

Kegagalan harus dijadikan cambuk menuju kerja yang lebih termotivasi. Dengan kegagalan justru terpicu dan terpacu untuk bangkit kembali. Kegagalan adalah persimpangan jalan menuju kesuksesan. Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Belajarlah dari kegagalan agar hal serupa tidak terulang lagi. Mereka yang justru memotivasi diri setelah mengalami kegagalan, mereka itulah orang yang sabar. Itulah cara pandang yang tepat. Kegagalan bukanlah hantu yang menakutkan. Ketakutan terhadap suatu kegagalan bisa menghancurkan orang yang mempunyai prospek yang baik. Kegagalan sebenarnya bukanlah hal yang terburuk, yang terburuk adalah mereka yang tidak pernah mencobanya sama sekali atau yang berhenti berjuang dan mudah menyerah. Yakini bahwa dalam setiap kegagalan, kesulitan selalu ada jalan keluar, selalu ada kemudahan. Firman Allah SWT dalam surat Al-Insyirah ayat 5-6:”Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”.

Jangan terkecoh dengan keberhasilan seseorang. Di balik kejayaan selalu ada jalan yang panjang yang berisikan catatan perjuangan dan pengorbanaan. Tak ada jalan pintas untuk sebuah kesuksesan. Bila anda terpesona pada kenyamanan yang diberikan oleh kesuksesan, anda bisa lupa dari keharusan untuk berupaya. Namun bila anda terkagum pada ketegaran seseorang dalam berusaha, anda menyerap energi kekuatan, keberanian dan kesabaran. Tak ada harga diskon untuk sebuah keberhasilan. Berusahalah terus. Pohon besar mampu menahan terjangan badai karena memiliki akar dan batang yang kokoh. Belasan tahun diperlukan untuk menumbuhkan dan melatih kekuatan. Bulan demi bulan, hujan menguatkan jaringan kayunya. Tahun demi tahun, pohon-pohon besar lain melindunginya dari terpaan hujan. Tak ada hitungan malam untuk mencetak sebongkah batang yang tegar. Tak ada hitungan siang untuk menumbuhkan akar yang kekar mencengkeram bumi. Hanya dengan kesabaranlah anda bisa meraih keberhasilan. Tumbuhkan kesabaran bukan sekedar kecepatan meraih sukses. Beberapa firman Allah SWT dalam Al-Qur’an menyinggung tentang kesabaran ini, diantaranya:

1) Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung (Ali-Imran: 200).

2) Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk (Al-Baqarah: 45).

3) Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (Al-Baqarah: 155).

4) Tatkala mereka nampak oleh Jalut dan tentaranya, mereka pun (Thalut dan tentaranya) berdo`a: “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir” (Al-Baqarah: 250).

5) Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar(Ali-Imran: 146).

6) Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorang pun yang dapat merubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu (Al-‘An’am: 34).

2. Belajar dari Kesalahan dan Segera Bangkit

Bila anda menganggap kegagalan sebagai sebuah masalah dan masalah dipandang sebagai beban, anda mungkin akan menghindarinya. Bila anda menganggap masalah sebagai tantangan, anda mungkin akan menghadapinya. Namun masalah merupakan hadiah yang dapat anda terima dengan suka cita. Dengan pandangan tajam, anda melihat keberhasilan di balik setiap masalah. Masalah adalah anak tangga menuju kekuatan yang lebih tinggi. Maka, hadapi dan ubahlah menjadi kekuatan untuk sukses anda. Tanpa masalah, anda tak layak memasuki jalur keberhasilan. Hadiah terbesar yang dapat diberikan oleh induk elang pada anak-anaknya bukanlah serpihan-serpihan makanan. Bukan pula eraman hangat di malam-malam yang dingin. Namun ketika mereka melempar anak-anak itu dari tebing yang tinggi. Detik pertama anak-anak elang itu menganggap induk mereka sungguh keterlaluan, menjerit ketakutan, menganggap sebentar lagi akan mati. Sesaat kemudian, bukan kematian yang mereka terima, namun kesejatian diri sebagai elang, yaitu terbang. Bila anda tak berani mengatasi masalah, anda tak akan menjadi seseorang yang sejati.

Tindakan yang harus dilakukan manakala kegagalan menimpa adalah ada kemauan yang keras untuk belajar dari kegagalan dan bangkit kembali, katakan pada diri sendiri “pasti ada jalan”. Pepatah mengatakan,”Where there is a will there is a way” (Dimana ada kemauan, disitu ada jalan). Ketika yakin bahwa “pasti ada jalan”, maka pikiran positif menyerbu membantu memecahkan masalah dan mencari jalan terbaik. Keyakinan ini mengubah secara otomatis energi negatif (mari kita menyerah, mari kita mundur, kita pasti gagal), menjadi energi positif (mari kita jalan terus, mari kita terus berjuang, kita pasti sukses). Kegagalan tidak terlepas dari kehidupan. Mereka yang lari dari suatu kegagalan adalah mereka yang lari dari suatu kehidupan. Cara terbaik menghadapi kegagalan adalah belajar dari kegagalan itu (mengambil hikmah) agar tidak pernah terulang kembali dan meneruskan untuk berjuang.

Tingkat kesuksesan anda tergantung pada satu orang, yaitu anda sendiri. Apa yang anda mampu kerahkan dalam hidup adalah apa yang anda akan dapat dari hidup. Anda tidak bisa meminjam, meminta, atau mencuri kesuksesan orang lain. Memang orang lain mampu mengilhami, mengajarkan, mendorong, dan menghibur anda. Tetapi satu-satunya yang menjalani hidup adalah anda dan yang mampu memberikan pilihan terbaik adalah diri anda sendiri. Kegagalan paling abadi adalah kegagalan untuk mulai bertindak. Bila anda sudah mencoba dan ternyata gagal, anda memperoleh sesuatu yang bisa dipelajari dan mungkin dicoba kembali. Anda tidak akan pernah gagal bila anda terus berusaha.

Kesuksesan adalah sebuah paket, dan bagian dari paket itu adalah kegagalan.Pandangan yang mengatakan bahwa orang sukses adalah orang yang tidak pernah gagal, adalah pandangan keliru. Orang sukses adalah orang yang tidak pernah berpikir dirinya kalah, ketika ia terpukul jatuh (gagal), ia bangkit kembali, belajar dari kesalahannya dan bergerak menuju inovasi yang lebih baik. Coba kita resapi Firman Allah SWT dalam surat Al-Muzzammil: 2: “Bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya)”. Dan juga Surat Al-Furqon: 47: “Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha”. Dalam ayat pertama, shalat di malam hari (tahajud) merupakan suatu ibadah, dan meskipun khitabnya untuk Rasul SAW, tapi berlaku pula bagi kita selaku umatnya, yakni dianjurkan untuk bangun/bangkit mendirikannya. Secara luas bisa dimaknai bahwa dalam kehidupan ini, baik ketika mendapat kesenangan maupun di saat mengalami suatu kegagalan, persoalan, permasalahan, maka segeralah menghadap Allah untuk shalat, segeralah untuk bangkit mendirikan shalat. Dalam surat Al-Baqarah: 45 seperti disebutkan di atas, mendirikan shalat merupakan salah satu cara untuk meminta pertolongan kepada Allah. Lalu ayat kedua, secara tersirat kita mesti memanfaatkan waktu siang hari itu untuk bangun/bangkit melakukan suatu usaha, tidak tinggal diam. Bangkit untuk berusaha ini secara luas bisa juga termasuk kita mesti bangkit berusaha untuk bertindak, bergerak, melupakan kegagalan, segera melakukan aksi, tidak berpangku tangan.

Bila kita membaca kisah nama-nama besar, kita tidak akan menemukan bahwa kesuksesan mereka adalah pemberian atau hanya karena kebetulan, melainkan kita akan menemukan serentetan perjuangan hidup-mati. Mereka mengalami terlebih dahulu kegagalan, berbagai ejekan, hinaan, dan berbagai sandungan lain hingga mereka mencapai suatu kesuksesan besar. Tidak ada kesuksesan yang gratis, semuanya harus ditebus dengan perjuangan dan kerja keras. Lihat saja sejarah Rasulullah SAW, ketika pertama kali mendakwahkan Islam, beliau dan pengikutnya dikucilkan, dicaci, dimaki, dihina, dilempar, sampai terluka dan berdarah. Namun dengan ketabahan dan kesabarannya akhirnya beliau sukses dalam menyebarkan dan mengembangkan ajaran Islam. Maka tidak berlebihan jika Michael H. Hart (2005) dalam bukunya 100 Tokoh Paling Berpengaruh Sepanjang Masa, menempatkan Nabi Muhammad Rasulullah SAW, sebagai orang nomor satu manusia yang paling berpengaruh di jagad raya ini.

3. Melihat Kelemahan Diri, Tidak Berburuk Sangka

Tetapi terkadang manusia aneh, ketika mendapat kemenangan, kesuksesan dan kejayaan, ingin seiisi dunia mengetahuinya. Namun manakala kegagalan menghampirinya, tak jarang ia mencari kambing hitam, menyalahkan karyawan, staf, guru, murid, orangtua, anak, tetangga, masyarakat, menyalahkan keadaan dan nasib. Bahkan tak jarang masalah itu dibawa ke rumah hingga keluarga pun menjadi ajang pelampiasan yang akhirnya istri/suami/anak disalahkan. Sekalipun mungkin orang lain pernah berbuat kesalahan atau merugikan, namun betapa sering manusia merugikan dirinya sendiri. Oleh karena itu, cara mengatasi kekecewaan dari suatu kegagalan, pandanglah diri sendiri, apakah mempunyai kelemahan yang tidak terlihat sebelumnya. Mengingat begitu banyak yang terbiasa memandang kehebatan dirinya sendiri sehingga lalai melihat kelemahan diri sendiri. Hilangkan sikap berburuk sangka (su’udzan) kepada orang lain dan hindari mencari-cari kesalahan orang lain. Allah SWT memberi peringatan dalam Surat Al-Hujurat: 12, yaitu: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang”.

4. Tumbuhkan Sikap Optimisme

Memandang kehidupan mesti dengan sikap optimisme. Optimisme adalah memandang hidup ini sebagai persembahan terbaik. Tidak ada sesuatu yang terjadi begitu saja dan mengalir sia-sia. Pasti ada tujuan. Pasti ada maksud. Allah SWT menciptakan hidup dan mati mempunyai tujuan tersendiri, yang salah satunya adalah seperti dalam surat Al-Mulk: 2, yaitu: “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. Mungkin saja anda mengalami pengalaman buruk yang tak mengenakkan, maka keburukan itu hanya karena anda melihat dari salah satu sisi mata uang saja. Bila anda berani menengok ke sisi yang lain, anda akan menemukan pemandangan yang jauh berbeda. Anda tidak harus menjadi orang tersenyum terus atau menampakkan wajah yang ceria. Optimisme terletak di dalam hati, bukan hanya terpampang di muka. Jadilah orang yang optimis, karena hidup ini terlalu rumit untuk dipandang dengan mengerutkan alis. Setiap tetes air yang keluar dari mata air akan mengetahui bahwa mereka mengalir menuju laut. Meski harus melalui anak sungai, selokan, kali keruh, danau dan muara, mereka yakin perjalanan mereka bukan tanpa tujuan.. Bahkan ketika menunggu di samudra, setiap tetes air tahu bahwa suatu saat panas dan angin akan membawa mereka ke pucuk-pucuk gunung. Menjadi awan dan menurunkan hujan. Sebagian menyuburkan rerumputan, sebagian tertampung dalam sumur-sumur, sebagian kembali ke laut. Menjalani kehidupan tak perlu bersusah hati. Bila kita mampu menjalani kehidupan dengah bersemangat, maka beban seberat apapun akan terasa ringan. Bila kita tak pernah kehilangan harapan dan selalu optimis, kita akan selalu menemukan jalan keluar dari suatu masalah. Apalagi dalam Islam ada konsep roja, yaitu mengharap akan rahmat dan perjumpaan dengan Allah kelak. Harapan terhadap keyakinan bahwa sebagai wujud kasih sayang-Nya, Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap permasalahan. Dalam surat Al-Kahfi: 110:”Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya”.

5. Tidak Pernah Putus Asa

Tidak ada jalan pintas menuju kesuksesan. Kesuksesan akan datang pada mereka yang berusaha mendapatkannya bukan pada mereka yang hanya mengharapkannya. Manakala manusia sukses dengan jabatan, karir, usaha, dan lain-lain, mereka senang, mereka sombong, lalai dan lupa kepada hakikat yang memberikan kesuksesan itu, yaitu Allah SWT. Namun sebaliknya, ketika ditimpa kesulitan, kesusahan, mereka berputus asa. Dalam surat Al-Isra: 83 Allah SWT berfirman:”Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia, dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa”. Juga firman-Nya dalam surat Fushilat: 49: “Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan”.Jangan pernah putus asa karena yang mudah putus asa tidak pernah sukses dan orang sukses tidak pernah putus asa. Allah SWT berfirman:”Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”(Yusuf: 87). Bahkan dalam surat Al-Hijr: 55, mempertegas dengan: “Maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa”. Orang yang berputus asa termasuk orang-orang yang sesat. Dalam surat Al-Hijr: 56 dinyatakan:”Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat”.

Putus asa adalah salah satu perkakas “Iblis”. Diceritakan, pada suatu saat iblis mengiklankan bahwa ia akan mengobral perkakas-perkakas kerjanya. Pada hari H, seluruh perkakasnya dipajang untuk dilihat calon pembelinya, lengkap dengan harga jualnya. Seperti kalau kita masuk ke dalam tokohardware, barang yang dijual sungguh menarik, dan semua barang kelihatan sangat berguna sesuai dengan fungsinya. Harganya pun tidak mahal. Barang yang dijual antara lain: Dengki, Iri, Tidak Jujur, Tidak Menghargai Orang lain, Tidak Tau Berterima Kasih, Malas, Dendam, dan lain-lainnya. Di suatu pojok display, ada satu perkakas yang bentuknya sederhana, sudah agak aus, tetapi harganya sangat tinggi, bahkan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain. Salah satu calon pembeli bertanya,”Ini alat apa namanya?”, Iblis menjawab: “Itu namanya putus asa”. “Kenapa harganya mahal sekali, padahal sudah aus?”, tanya pembeli. Iblis menjawab: “Ya, karena perkakas ini sangat mudah dipakai dan berdaya guna tinggi. Saya bisa dengan mudah masuk ke dalam hati manusia, saya dengan sangat mudah melakukan apa saja yang saya inginkan terhadap manusia tersebut. Barang ini menjadi aus karena saya sering menggunakannya kepada hampir semua orang., karena kebanyakan manusia tidak tahu kalau putus asa itu milik saya”.

Terakhir, hanya dengan melakukan pendekatan kepada Allahlah (berdzikir), hati manusia akan tenang, damai, sejahtera, bahagia, dan jauh dari putus asa. ”Ingatlah, hanya dengan berdzikir kepada Allah hati menjadi tenang” (Ar-Ra’d: 28).Ilahi adalah solusi yang mumpuni. Semoga. Amin.

#YeyenIdhamsyarif
#DakwahCinta
#UmatRasulullah

Posted by: peribadirasulullah | November 27, 2016

Kewajiban seorang muslim terhadap Agamanya

Photo

Kewajiban seorang muslim terhadap Agamanya (islam) setelah Mengimani atau meyakini kebenaran seluruh ajaran islam, bukan sekedar memahami dan mengamalkan, tapi juga harus menyebarkan, menjaga. Serta membelanya. Setidak nya ada lima kewajiban kaum muslim terhadap Agamanya (islam) yaitu:

Meng Iman ni islam, mendalami ilmunya, mengamalkan nya, mendakwahkan nya dan membelanya.

1. IMAN. yakin sepenuh hati bahwa islam yang terbaik dan paling benar.
2. ILMU. mempelajari dan memahami ajaran islam secara menyeluruh.
3. AMAL Mengamalkan ajaran islam seoptimal mungkin (mastatho’tum)
4. DAKWAH Menyebarkan kebenaran agama islam kepada orang lain.
5. JIHAD menjaga kehormatan dan membela nama baik islam dan Muslim.

Adapun berjuang mendakwahkan dan membela islam bisa dilakukan dengan ragam cara, dengan harta, jiwa, juga lisan.
Sabda Rasulullah:
“Perangilah orang-orang musyrik dengan harta kalian, jiwa kalian dan lisan kalian.”
(Hr Abu Daud dan Al Hakim dari Anas.)

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Al Hajj : 40)

Pelecehan, penghinaan dan Penistaan terhadap islam terus dilakukan Orang-orang kafir, pada zaman Nabi Muhammad.

Umat islam yang benar-benar dengan kemuslimannya tanpa dikomando akan bangkit membela nama baik agama yang dianutnya (islam).

Hal ini juga merupakan ujian bagi seorang muslim, akan masuk dalam golongan apakah mereka.

Jika ada seorang Muslim yang tidak bereaksi apa-apa saat yg ada menghina islam atau melecehkan Al Qur’an maka
patut dipertanyakan kemuslimannya.

Sepanjang hidup mereka, Orang-orang beriman melakukan usaha yang sungguh-sungguh untuk mendakwahkan ajaran-ajaran al Qur’an dikalangan manusia, dan mendakwahkan perintah Allah, disisi lain, disepanjang sejarah, selalu saja ada sekelompok orang-orang kafir yang menentang orang-orang yang beriman dan menghalangi mereka dengan kekerasan dan tekanan
Dalam Al Qur’an Allah menyatakan bahwa Dia akan selalu bersama-sama orang yang beriman dalam menghadapi orang-orang kafir, bahwa Dia akan menjadikan urusan orang-orang beriman menjadi mudah, dan bahwa Dia akan membela dan menolong orang-orang beriman.
Orang-orang beriman yang berjuang dengan Ikhlas dijalan Allah dapat merasakan semua ini dalam setiap detik dalam kehidupan mereka. Yakin Allah menjadikan urusan-urusan mereka dapat diselesaikan dengan mudah dan Allah memberikan kepada mereka kejayaan dan kebahagian.
Sesungguhnya Orang-orang kafir menyebarkan kesulitan bagi orang-orang beriman, menghalangi orang-orang beriman dari jalan Allah.

Firman Allah:
“Karena kesombongan mereka dimuka bumi dan rencana mereka yang jahat . Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakan nya sendiri. Tidaklah yang nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunah kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapatkan penggantian bagi sunah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunah Allah itu.” ( Fathir : 43 ).

Aksi bela islam, dalam bentuk apapun yang sejalan dengan nilai-nilai dan adab islam, merupakan bagian dari kewajiban seorang Muslim terhadap agama nya (islam).
Semoga niatan dalam beramal dan berjihad kelak hanya untuk membela islam sehingga syariat islam dapat berlaku seluas-luasnya dinegeri tercinta ini.

Intinya segala sesuatu yang akan dikerjakan tergantung dari niatnya.
Apabila niat kita tidak dikarenakan Allah adalah hal yang sia-sia untuk mendapatkan Ridha Allah swt.

Semoga Allah senantiasa menunjukkan jalan kebaikan untuk kita semua.
Senantiasa dijalan yang diridhai-Nya
Dijauhkan dari perbuatan maksiat

Kebahagiaan mu adalah kebahagian ku

Wassalam
Forum komunikasi DKM
Membangun Ukhuwah Islamiyah.

Posted by: peribadirasulullah | November 27, 2016

Allah SWT akan membantu mereka yang menolong agamanya.

 

Photo

Tolong Agama Allah, Allah Pasti Menolong

SEBAGAI seoran muslim yang mengaku beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, perlu membuktikan kesungguhan iman itu. Jangan hanya dilontarkan dalam lisan semata. Agar Allah pun yakin bahwa kita benar-benar berserah diri kepada-Nya dan menggantungkan hidup hanya pada-Nya.

Salah satu cara untuk membuktikan bahwa kita cinta pada Allah ialah dengan menolong agama Allah. Ya, tak dapat dipungkiri bahwa pasti akan selalu ada orang-orang yang tidak suka dengan agama Allah. Mereka yang tidak percaya akan adanya Allah dan menentang firman-Nya, tentu akan melakukan berbagai macam cara untuk menghancurkan keyakinan kita pada Allah.

Di sinilah kita yang yakin pada Allah, harus terus menegakkan keyakinan itu. Buat mereka sadar bahwa Allah itu benar-benar ada. Dan apa yang telah Allah katakan dalam kitab suci Al-Quran itu benar. Tak perlu kita takut melawan kesalahan dan kemungkaran. Sebab, Allah telah berjanji akan menolong kita. Dan janji Allah tidak pernah diragukan.

Allah mengungkapkan sebuah rahasia dalam Al-Qur’an, “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedu¬dukanmu,” (QS. Muhammad: 7)

Dalam Al-Qur’an, Allah menyatakan bahwa Dia akan selalu bersama-sama orang yang beriman dalam meng¬hadapi orang-orang munkar. Allah akan menjadikan urusan orang-orang ber¬iman menjadi mudah, dan Dia akan membela dan menolong orang-orang ber¬iman. Orang-orang beriman yang berjuang dengan ikhlas di jalan Allah dapat merasakan semua ini dalam setiap detik dalam kehidupan mereka, yakni Allah menjadikan urusan-urusan mereka dapat diselesaikan dengan mudah. Dan Allah memberikan kepada mereka kejayaan dan kebahagiaan.

Bahkan dalam situasi yang sangat sulit, Allah memberi¬kan kemudahan kepada orang-orang yang beriman. Ketika orang-orang lemah imannya berkeluh kesah, berputus asa, dan tidak melihat jalan keluar, Allah menurunkan bantuannya kepada orang-orang yang ber¬iman dan memberikan kejayaan kepada mereka.

Orang-orang beriman yang yakin akan pertolongan Allah tidak pernah kehilangan harapan, dan mereka menunggu dengan penuh kegembiraan untuk melihat bagaimana Allah akan menyelesaikan masalah mereka. Nabi Musa dan kaumnya merupakan contoh dari peristiwa ini.

Nabi Musa dan Bani Israel meninggalkan Mesir untuk menyelamatkan diri dari kekejaman Fir‘aun. Tetapi Fir‘aun dan bala tentaranya mengejar mereka. Ketika Nabi Musa dan kaumnya, Bani Israel, sampai di lautan, sebagian dari mereka yang imannya lemah merasa ketakutan dan kehilangan harapan, mereka berpikir akan terkejar oleh Fir‘aun. Namun, Nabi Musa berkata, “Sesung¬guhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan mem¬berikan petunjuk kepadaku,” (Q.s. asy-Syu‘ara’: 62).

Demikianlah Nabi Musa menunjukkan keimanannya bahwa Allah akan menolong orang-orang yang beriman. Ke¬mu¬dian Allah mengeringkan air laut sehingga memung¬kin¬kan Nabi Musa dan para pengikutnya melin¬tasi lautan untuk menuju ke pantai seberang dengan selamat. Sementara itu, Dia menutup lautan untuk Fir‘aun dan bala tentaranya sehingga mereka tenggelam.

Orang yang beriman, yang dekat dengan Allah, yang menjadikan Allah sebagai pelin¬dungnya, dan mengetahui bahwa Dia akan menolong orang-orang yang beriman, akan melihat rahasia-rahasia tersebut ditampakkan dalam setiap saat dalam kehidupannya. Tentu saja mukjizat seperti air laut yang mengering merupakan ayat-ayat (tanda-tanda) yang di¬tun¬jukkan oleh Allah kepada sebagian dari para utusan-Nya.

Namun demikian, jika orang-orang yang beriman merenungkan dengan ikhlas, bertafakkur tentang ciptaan Allah dan ayat-ayat Al-Qur’an dalam setiap peristiwa, mereka dapat melihat perwujudan dari pertolongan Allah yang menyerupai mukjizat dalam setiap situasi.

Older Posts »

Kategori