Posted by: peribadirasulullah | September 25, 2018

Keterbatasan Manusia Dalam Semua Bidang

S 3fe829-misteridankeunikantubuhmanusia

Allah SWT Melengkapkan Manusia Dengan Berbagai Sistem Yang Diperlukan Untuk Mengatur Kehidupan-Manusia Terlalu Kerdil Dihadapan Allah SWT

Manusia memiliki kekuatan fisik. Dilengkapi kekuatan akal, pikiran, hawa nafsu, ambisi, dan lain sebagainya yang bersifat nonfisik. Kedua perangkat tersebut menjadi bukti kekuasaan Allah SWT yang telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya (QS at-Tin). Wajah tampan rupawan, cantik jelita, dilengkapi peran dan fungsi pancaindra yang sempurna (QS al-Infithar).

Namun, manusia juga harus menempuh proses pelemahan:”Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan kamu sesudah keadaan lemah itu, kuat, kemudian Dia menjadikan kamu sesudah kuat itu, lemah kembali dan beruban. Dia menjadikan apa saja yang dikehendaki-Nya, dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa. (QS ar-Rum: 54).

Kekuatan dan kekuasaan manusia, sebagai bagian dari berbagai jenis makhluk ciptaan Allah SWT, memiliki batas. Baik batas usia, kebugaran, daya pikir, maupun kekuasaan atas segala sesuatu yang meliputi harta, takhta, pangkat, jabatan, dan lain-lain. Tidak ada yang langgeng. Semua akan menemui ujung pada titik tertentu.Apakah berupa ajal kematian, apakah berupa selesainya suatu garapan pada satu bidang kerja. Ada yang mulus. Ada yang rumit ruwet. Sehingga ditandai kehancuran mengenaskan.

Tidak ada yang abadi di muka bumi (QS ar-Rahman: 26). Setiap yang bernyawa akan menemui maut (QS Ali Imron: 185). Termasuk dalam hal kekuasaan duniawi. Banyak orang yang mendapat amanah kekuasaan dari Allah SWT, melalui rakyat yang memilih seseorang menjadi pemimpin formalnya. Mulai dari tingkat tertinggi hingga terendah. Tapi kekuasaan nyata tetap ada pada Allah SWT.

Dia Maha Pemilik Kekuasaan. Memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mencabutnya dari siapa saja yang Dia kehendaki pula. Dia memuliakan siapa saja yang Dia kehendaki, dan menghinakan siapa saja yang Dia kehendaki pula. Dia pemilik segala kebajikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS Ali Imran: 26).

Karena itu, di dalam kitab suci Quran, terdapat kisah-kisah para penguasa zaman dulu, yang sombong dan arogan, menyalahgunakan kekuasaannya untuk berbuat zalim. Bukan saja terhadap manusia, rakyat yang seharus dipimpin serta diayomi, melainkan juga zalim kepada Allah SWT. Sebut saja Namrudz dan rezimnya, yang menentang dakwah tauhid Nabi Ibrahim AS.Bahkan, mereka menangkap dan membakar Nabi Ibrahim AS. (QS al-Anbiya: 69).

Atau rezim Fir’aun yang menentang dakwah Nabi Musa AS.Dengan mengandalkan kehebatan pasukan dan harta kekayaan, yang menjadikan Firaun mampu membangun pasak bumi, berupa piramid-piramid mirip bukit menjulang tinggi. (QS al-Fajr: 10), Firaun mencoba melemahkan dakwah Musa AS. Hingga pada akhirnya, Fir’aun dan balatentaranya ditenggelamkan di laut. (QS Thaha: 78). Semua itu mencontohkan, betapa kekuasaan?terutama yang disalahgunakan?sangat rawan ditelan kehancuran.

Pada zaman modern, tak sedikit pula contoh penguasa terjungkal akibat perilakunya yang menyimpang dari amanah, melanggar undang-undang, peraturan, norma, dan etika. Banyak pula contoh yang terjadi di tingkat lokal kabupaten, kota, malah kampung dan desa.

Itu menunjukkan, kekuatan dan kekuasaan manusia amat terbatas. Sangat kecil dibandingkan Maha Pemilik Kekuasaan, Allah SWT, yang memerintahkan semua manusia beriman dan bertakwa kepada-Nya. Menjadi lemah, tua, beruban, pikun, dan sebagainya, merupakan bukti yang harus ditafakuri, karena akan menimpa siapa saja, baik kaum elite maupun kaum alit. Tak ada alasan untuk merasa tampan, kaya, punya kuasa, sehingga merasa bebas berbuat sewenang-wenang.

OLEH : H USEP ROMLI HM (REPUBLIKA)

http://ceramahmotivasi.com/artikel-islami/keterbatasan-manusia/

Posted by: peribadirasulullah | September 25, 2018

Kepentingan Adab-adab Niat

2de90-love

Seorang Muslim membenarkan pentingnya keberadaan niat dan urgensinya bagi seluruh amalan, baik yang berkaitan dengan masalah keagamaan maupun keduniaan, keseluruhan amal tersebut sangat tergantung bagaimana niatnya. Niat inilah yang menjadi ukuran suatu amal itu dikatakan kuat atau lemah, sah atau rusak (batal), semua tergantung bagaimana niatnya. Keyakinan seorang Muslim terhadap keharusan niat bagi setiap amal serta kewajiban untuk memperbaikinya bersandar kepada:

Pertama: Firman Allah,

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (Al-Bayyinah: 5).

FirmanNya,

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama’.” (Az-Zumar: 11).

Kedua: Sabda Rasulullah SAW,

“Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang hanya memperoleh apa yang dia niatkan itu.” [Muttafaq ‘alaih; al-Bukhari, no. 1; Muslim, no. 1907]

Juga sabdanya,

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa-rupa dan harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan perbuatan kalian.” [Muttafaq ‘alaih; Muslim, no. 2564]

Yang dimaksudkan dengan Allah melihat ke dalam hati adalah melihat bagaimana niatnya, sehingga dapat dikatakan bahwa niat adalah sesuatu yang membangkitkan sebuah tindakan (amal) dan yang menjadi motivatornya Nabi SAW telah bersabda,

“Barangsiapa yang berkeinginan melakukan kebaikan naman dia belum dapat melakukannya, maka dicatat baginya satu kebaikan.” [Diriwayatkan oleh Muslim, no. 130]

Dengan sekedar memiliki kemauan yang baik saja, maka amal itu menjadi shalih mendapatkan pahala dan balasan. Itu semua karena keutamaan niat yang baik.

Di dalam sebuah hadits, Nabi SAW bersabda,

“Manusia ada empat macam, yaitu: Orang yang diberi Allah SWT ilmu dan harta dan dia mengamalkan ilmunya terhadap hartanya, maka ada orang lain yang berkata, ‘Andaikan Allah SWT memberikan kepadaku semisal yang diberikan kepadanya, maka aku akan melakukan sebagaimana yang telah dia lakukan,’ maka kedua orang tersebut sama di dalam mendapatkan pahala. Dan seseorang yang diheri oleh Allah harta dan dia tidak diberikan ilmu sehingga dia menghamburkan hartanya, maka ada orang yang berkata, ‘Andaikan Allah memberikan kepadaku semisal yang diberikan kepadanya, maka aku akan melakakan seperti yang dia lakukan itu,’ maka kedua orang tersebut sama di dalam mendapatkan dosa.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, no. 4228, dengan sanad yang bagus]

Oleh karena itu orang yang berniat dengan niat yang baik, maka ia diberi pahala amal shalih. Dan orang yang mempunyai niat buruk juga mendapatkan dosa sebagaimana orang yang berbuat buruk, semuanya ini semata-mata kembali kepada niat.

Ketika berada di Tabuk Nabi SAW bersabda,

“Sesungguhnya di Madinah ada beberapa kaum, yang tidaklah kami menyeberangi lembah, tidaklah kami menginjak tanah yang membuat orang kafir marah, tidaklah kami memberikan nafkah, dan tidaklah kami di timpa kelaparan, melainkan pasti mereka menyertai kami di dalam hal tersebut, padahal mereka di Madinah. Lalu ditanyakan kepada beliau, “Bagaimana itu bisa terjadi wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mereka terhalang oleh udzur (halangan), maka mereka menyertai kita dengan niat yang baik.” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 2508; dan al-Bukhari, no. 2839, secara ringkas]

Niat yang baik ternyata telah menjadikan orang yang tidak ikut berperang mendapatkan pahala sebagaimana mereka yang ikut berperang, orang yang tidak ikut berjihad mendapatkan pahala sebagaimana orang yang berjihad. Demikian pula dengan sabda Nabi SAW,

“Jika ada dua orang Muslim saling bunuh dengan kedua pedangnya, maka kedua-duanya masuk neraka.” Lalu ditanyakan, “Wahai Rasulullah, orang yang membunuh sudah jelas, maka bagaimana dengan yang dibunuh?” Beliau menjawab, “Dia juga berkeinginan untuk membunuh temannya.” [Muttafaq ‘alaih; al-Bukhari, no. 31; Muslim, no, 2888]

Maka dihitung sama antara niat dan keinginan buruk antara si pembunuh -yang dia masuk neraka- dengan yang terbunuh, andaikan ia tidak berniat buruk juga (membunuh), maka dia tentu masuk surga.

Nabi SAW juga pernah bersabda,

“Barangsiapa yang menjanjikan suatu mahar terhadap seorang perempuan (yang dinikahinya) dan Allah mengetahai bahwa ia berniat tidak akan melunasinya terhadapnya, lalu dia membujuknya dengan Nama Allah sehingga mendapatkan kemaluannya dengan cara yang batil, (maka) dia akan bertemu dengan Allah pada hari dia akan bertemu denganNya dalam keadaan sebagai seorang pezina. Dan barangsiapa yang berhutang sesuatu dari sesearang dan Allah mengetahui bahwa dia berniat tidak akan melunasinya kepada pemiliknya, lalu dia membujuknya dengan Nama Allah sehingga berhasil mendapatkan hartanya dengan cara yang batil, (maka) dia akan bertemu dengan Allah pada hari dia akan bertemu denganNya dalam keadaan sebagai seorang pencuri.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, no. 18453; dan Ibnu Majah, no. 2410, beliau hanya menyebutkan hutang saja tanpa mahar]

Dengan niat yang buruk, maka sesuatu yang mubah dapat berubah menjadi haram, yang tadinya boleh menjadi terlarang, apa yang tadinya tidak berdosa, maka akhirnya menjadi berdosa.

Kesemua ini menegaskan tentang kebenaran keyakinan seorang Muslim akan pentingnya niat, keagungan, dan urgensinya yang amat besar. Oleh karena itu dia membangun seluruh amalnya dengan niat yang baik dan benar, dan berusaha sekuat tenaga agar jangan sampai beramal tanpa ada niat atau tujuan, dan jangan sampai beramal namun dengan niat yang tidak baik.

Jadi niat adalah ruh dari amal dan merupakan tiang penyangganya, kebaikan amal tergantung dari kebaikan niat, dan buruknya amal juga tergantung kepada buruknya niat. Dan setiap amal yang tidak dilandasi dengan niat yang baik dari pelakunya, maka itu adalah riya’, memaksakan diri yang justru dimurkai Allah.

Sebagaimana seorang Muslim berkeyakinan bahwa niat adalah rukun [Niat adalah rukun ditinjau dari permulaan perbuatan dan syarat ditinjau dari kelanjutan perbuatan] amal dan syaratnya, dia juga memandang bahwa niat bukan hanya sekedar ucapan lisan, “Saya niat begini dan begini,” bukan pula cukup hanya kemauan jiwa (diri sendiri). Niat adalah bangkit dan tergeraknya hati untuk mengerjakan perbuatan yang dimaksudkan dengan tujuan yang benar, baik untuk mendapatkan manfaat maupun mencegah mudarat, baik yang sedang terjadi maupun yang akan terjadi. Dia juga merupakan keinginan untuk melakukan suatu perbuatan karena mencari ridha Allah atau karena menjalankan perintahNya.

Ketika seorang Muslim meyakini bahwa perbuatan yang mubah dapat berubah menjadi ketaatan yang berpahala dengan sebab niat yang baik, dan suatu ketaatan jika tidak dibarengi dengan niat yang baik akan berubah menjadi kemaksiatan yang justru mendatangkan dosa dan siksa, namun dia tidak memandang bahwa perbuatan maksiat dapat dipengaruhi oleh niat yang baik sehjngga berubah rnenjadi ketaatan. Misalkan saja, ada seseorang yang menggunjing orang lain dengan niat untuk menyenangkan perasaan orang lain, maka tetap saja hal itu dinilai sebagai kemaksiatan kepada Allah dan berdosa, dan niatnya yang dia pandang baik itu tidak ada manfaatnya sama sekali.

Begitu pula orang yang membangun masjid dengan harta yang haram, maka dia tidak mendapatkan apa-apa. Orang yang mendatangi pesta tari-tarian dan pesta pamer aurat, atau membeli kupon undian untuk menggiatkan proyek sosial atau digunakan untuk amal perjuangan (jihad) dan semisalnya, dia tetap bermaksiat kepada Allah, mendapatkan dosa dan tidak berpahala.

Demikian juga orang yang membangun kubah-kubah di atas kubur orang-orang shalih atau menyembelih sembelihan untuk mereka dengan niat karena mencintai orang shalih, maka dia telah bermaksiat kepada Allah dan perbuatannya mendapatkan dosa, meskipun apa yang dia niatkan itu baik dalam pandangannya. Hal itu karena tidaklah suatu perbuatan berubah menjadi ketaatan dengan adanya niat yang baik, kecuali jika hal itu adalah mubah dan dibolehkan mengerjakannya (oleh syara’). Adapun yang haram, maka tidak dapat berubah menjadi ketaatan dalam kondisi bagaimana pun juga.

Referensi : Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jaza’iri, Minhajul Muslim, Darul Haq, Jakarta, 2016

http://ceramahmotivasi.com/artikel-islami/adab-adab-niat/

Posted by: peribadirasulullah | September 25, 2018

Adab Terhadap Rasulullah SAW

39a9a-prophet_muhammad__s_name_3_by_callligrapher

Seorang Muslim merasakan di lubuk hatinya yang paling dalam kewajiban beradab dengan sempurna terhadap Rasulullah SAW. Demikian itu karena beberapa sebab berikut:

  1. Sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas setiap Muslim laki-laki maupun perempuan untuk beradab kepada beliau, sebagaimana ditegaskan di dalam Firman Allah SWT,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan RasulNya.” (Al-Hujurat: 1)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara kalian melebihi suara Nabi, dan janganlah kalian berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kalian terhadap sebagian yang lain, supaya (pahala) amalan kalian tidak terhapus sedangkan kalian tidak menyadari.” (Al-Hujurat: 2).

“Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Hujurat: 3).

“Sesungguhnya orang-orang yang memanggilmu dari luar kamar(mu), kebanyakan mereka tidak mengerti. Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka sesungguhnya itu lebih baik bagi mereka” (Al-Hujurat: 4-5)

“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasal di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain).” (An-Nur: 63)

“Sesunggahnya orang-orang Mukmin yang sejati adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam suatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya.” (An-Nur: 62).

“Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang yang beriman kepaala Allah dan RasulNya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena suatu keperluan, berilah izin kepada siapa saja yang kamu kehendaki di antara mereka” (An-Nur: 62).

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul, hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum pembicaraan itu. Yang demikian ilu adalah lehih baik bagimu dan lebih bersih; jika kamu tiada memperoleh (yang akan disedekahkan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Mujadilah: 12).

  1. Sesungguhnya Allah SWT telah mewajibkan atas orang-orang Mukmin untuk menaati dan mencintainya. Firman Allah SWT,

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul.” (Muhammad: 33).

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” (An-Nur: 63).

“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (Al-Hasyr: 7).

“Katakanlah, ‘jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu’.” (Ali Imran: 31).

Apabila ia wajib menaatinya dan diharamkan menyelisihinya, maka itu menuntut dirinya beradab terhadapnya di dalam segala kondisi.

  1. Sesungguhnya Allah telah menjadikan beliau sebagai al-Hakim (pemutus segala perkara), lalu Allah menjadikan beliau sebagai imam (pemimpin) dan al-Hakim. Allah SWT berfirman,

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu.” (An-Nisa`: 105).

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.” (Al-Ma’idah: 49).

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa’: 65).

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat.” (Al-Ahzab: 21).

Beradab dengan pemimpin dan penguasa diwajibkan oleh seluruh agama, ditetapkan oleh akal dan logika yang sehat.

  1. Sesungguhnya Allah telah mewajibkan untuk mencintainya, berdasarkan penuturan beliau,

“Demi Dzat yang jiwaku berada di TanganNya, salah seorang di antara kalian tidak beriman (dengan sempurna) sehingga aku lebih ia cintai daripada anak, orang tua dan seluruh manusia” [Muttafaq ’alaih; al-Bukhari, no. 15; Muslim, no. 44]

Barangsiapa yang wajib dicintai,maka wajib pula beradab di hadapannya dan bersopan santun kepadanya.

  1. Apa yang Allah istimewakan untuk beliau berupa keindahan jasad dan akhlak, dan apa yang Allah anugerahkan kepadanya berupa kesempurnaan jiwa dan dzat; beliau adalah makhluk yang paling tampan dan sempurna secara mutlak. Barangsiapa yang demikian kondisinya, maka bagaimana tidak wajib beradab terhadapnya?

Inilah beberapa faktor yang rnengharuskan beradab terhadap beliau dan selain itu masih banyak lagi, tetapi bagaimana tata cara beradab terhadapnya? Dan dengan bentuk apa? Inilah yang seyogyanya untuk kita ketahui!

Beradab terhadap beliau dapat dilakukan dengan hal-hal berikut ini:

  1. Menaatinya, mengikuti jejaknya, dan mengimplementasikan segenap langkah-langkahnya di dalam seluruh aktivitas kita, baik di dalam urusan dunia maupun agama.
  2. Mengutamakan kecintaan kepadanya, menghormatinya dan mengagungkannya melebihi kecintaan, penghormatan, dan pengagungan kepada makhluk lainnya.
  3. Mencintai orang yang beliau cintai, memusuhi orang yang beliau musuhi, ridha terhadap apa saja yang menjadi keridhaannya dan marah terhadap apa saja yang menyebabkan kemarahannya.
  4. Mengagungkan dan memuliakan namanya ketika disebut, bershalawat dan salam kepadanya, menghormatinya, menjunjung binggi akhlak dan keutamaannya.
  5. Membenarkan setiap apa yang beliau kabarkan, baik di dalam urusan dunia, agama maupun perkara ghaib di dalam kehidupan dunia dan akhirat.
  6. Menghidupkan sunnahnya, menerapkan syariatnya, menyebarkan dakwahnya dan menunaikan wasiat-wasiatnya.
  7. Merendahkan suara di sisi kuburnya dan di dalam masjidnya bagi orang yang Allah muliakan untuk menziarahinya, memuliakannya dengan berdiri di sisi kuburannya.
  8. Mencintai orang-orang yang shalih, membela dan menolong mereka dengan kecintaannya, dan membenci orang-orang yang berbuat fasik dan memusuhi mereka dengan kebenciannya.

lnilah beberapa fenomena beradab terhadap beliau.

Seorang Muslim selalu berupaya semaksimal mungkin untuk melaksanakan dan menjaganya dengan sempurna; karena kesempurnaan dan kebahagiaannya tergantung kepadanya. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita agar kita dapat beradab terhadap Nabi kita dan menjadikan kita termasuk pengikut, penolong, dem golongan beliau.

Dan semoga Dia memberikan rizki kepada kita untuk menaatinya dan tidak menghalangi kita dari menclapatkan syafa’at beliau. Ya Rabb kami, kabulkanlah.

Referensi : Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jaza’iri, Minhajul Muslim, Darul Haq, Jakarta, 2016

http://ceramahmotivasi.com/minhajul-muslim/adab-terhadap-rasulullah-saw/

Posted by: peribadirasulullah | September 25, 2018

Adab Terhadap Al-Quran

al-quran

Seorang Muslim beriman terhadap kemahasucian kalam Allah SWT kemuliaannya, dan keutamaannya atas segala perkataan. Sesungguhnya al-Qur`an itu adalah kalam Allah yang tidak membawa kebathilan, baik dari arah depan maupun belakang. Barangsiapa berkata dengannya, niscaya dia benar dan barangsiapa yang berhukum dengannya, niscaya ia akan adil. Ahli al-Qur`an adalah Ahli Allah (wali Allah) dan manusia pilihanNya. Orang yang berpegang teguh dengannya, niscaya akan selamat dan beruntung, sedangkan orang yang berpaling darinya, niscaya akan binasa dan rugi.

Keimanan seorang Muslim terhadap keagungan Kitab Allah SWT, kemahasucian dan kemuliaannya akan bertambah dengan riwayat hadits yang berasal dari manusia yang mana al-Qur’an diturunkan kepadanya, yang diberikan wahyu kepadanya, makhluk pilihan dan Penghulu kita, Muhammad bin Abdullah, Rasulullah SAW yang menerangkan tentang keutamaannya, seperti sabda beliau,

“Bacalah al-Qur’an, karena sesungguhnya ia nanti pada Hari Kiamat akan datang sebagai pemberi syafaat kepada ahlinya (penghafal al-Qur’an).” [Diriwayatkan oleh Muslim, no. 804]

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur`an dan mangajarkannya.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 5027]

Sabda beliau,

“Ahli al-Qur`an adalah orang yang dekat dengan Allah dan orang-orang kepercayaannya.” [Diriwayatkan oleh an-Nasa’i, Ibnu Majah, no. 215; dan al-Hakim 1/743 dengan isnad hasan]

Juga sabda beliau,

“Sesungguhnya hati itu bisa berkarat sebagaimana layaknya besi bisa berkarat,” ditanyakan (kepada beliau), “Wahai Rasulullah, bagaimanu caranya menjadikannya mengkilau lugi?” Beliau menjawub,” (Dengan) membaca al-Qur’an dan mengingat kematian.” [Diriwayatkan oleh al-Baihaqi di dalam Syu’ab al-Iman, 2/353, dengan isnad dhaif]

Suatu ketika salah seorang musuh bebuyutan datang kepada Rasulullah SAW ia berkata, “Hai Muhammad, bacakanlah kepadaku al-Qur’an”, kemudian beliau membaca, “Sesungguhnyu Allah memerintahkan kamu berlaku adil, berbuat kebaikan, memberi kepada kerabat dekat; melarang perbuatan keji, mungkar dan permusuhan” (An-Nahl: 90).

Belum selesai Rasulullah SAW membacanya, musuh tersebut meminta beliau mengulangi bacaannya karena kagum akan keagungan lafazhnya, kesucian makna-maknanya, terpesona dengan kejelasannya (al-bayan) dan karena tertarik dengan kekuatan pengaruhnya, belumlah dia meninggalkan tempat kecuali dia mengakui dan menyatakan kesaksiannya atas kemahasucian kalam Allah SWT dan keagungannya; ia berkata dengan kalimat: Demi Allah, sesungguhnya ia memiliki kelezatan dan keindahan. Dan sesungguhnya bawahnya itu berdaun rindang dan atasnya berbuah lebat. Tiada seorang pun yang mampu berbicara seperti ini! [Diriwayatkan oleh lbnu Jarir. Musuh tersebut adalah al-Walid bin al-Mughirah sebagaimana diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan isnad jayyid]

Oleh karena itu, seorang Muslim selain ia menghalalkan apa yang dihalalkannya, mengharamkan apa yang diharamkannya, berpegang teguh dengan adabnya dan berakhlak dengan akhlaknya, maka ketika membacanya ia juga berpegang teguh dengan adab-adab sebagai berikut:

  1. Membacanya dalam keadaan dan kondisi yang paling sempurna, yaitu suci, menghadap kiblat, duduk dengan sopan dan penuh tenang.
  2. Membacanya dengan tartil (perlahan-lahan) dan tidak tergesa-gesa. Tidak membaca (mengkhatamkan)nya dalam waktu kurang dari tiga malam, berdasarkan sabda beliau,

“Barangsiapa yang membaca al-Qu’ran dalam waktu kurang dari tiga malam, niscaya ia tidak memahami makna-maknanya.” [Diriwayatkan oleh Ashhab as-Sunan, Abu Dawud, no. 1390; Ibnu Majah, no. 1347; dan at-Tirmidzi, no. 2949 dan beliau menshahihkannya]

Rasul SAW memerintahkan Abdullah bin Amr RA untuk mengkhatamkan al-Qur`an dalam waktu tujuh hari sekali [Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 5052, Muslim, no. 1159], sebagaimana pula Abdullah bin Mas’ud, Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit mengkhatamkannya setiap pekan sekali.

  1. Khusyu’ ketika membacanya, menampakkan kesedihan, menangis atau berusaha menangis jika tidak bisa menangis, berdasarkan sabda Rasul SAW,

“Bacalah al-Qur`an dan menangislah, jika kalian tidak bisa, maka berusahalah menangis.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, no. 1337 dengan isnad jayyid]

  1. Membaguskan suara ketika membacanya, Rasulullah SAW bersabda,

“Hiasilah al-Qur’an dengun suara kalian.“ [Diriwayatkan oleh Ahmad, no, 18024; Ibnu Majah, no. 1342; an-Nasa`i, no. 1015; al-Hakim 1/761 dan beliau menshahihkannya]

Sabda beliau,

“Bukanlah termasuk golongan kami orang yang tidak melagukan (memperindah bacaan) al-Qur`an.” [Muttafaq ’alaih; al-Bukhari, no. 7527]

Sabda beliau yang lain,

“Allah tidak mendengarkan sesuatu sebagaimana Dia mendengarkan NabiNya melagukan al-Qur`an.” [Muttafaq ’alaih; al-Bukhari, no. 5024, Muslim, no. 792]

  1. Menyembunyikan bacaannya, jika khawatir timbul riya` atau sum’ah di dalam dirinya atau khawatir mengganggu orang yang sedang shalat, berdasarkan sabda beliau SAW,

“Orang yang mengeraskan bacaan al-Qur’an laksana orang yang menampakkan terang-terangan sedekahnya.” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 1333, at-Tirmidzi, no. 2919]

Telah dimaklumi bahwa sedekah itu dianjurkan untuk dirahasiakan, kecuali jika mendatangkan faidah yang hendak dituju, seperti memotivasi orang-orang untuk melakukannya, demikian juga mem baca al-Qur’an.

  1. Membacanya dengan merenungkan dan memikirkannya disertai rasa pengagungan kepadanya, menghadirkan hatinya, serta memahami makna dan rahasia yang dikandungnya.
  2. Hendaknya ketika membacanya, ia tidak termasuk orang-orang yang lalai dan menyelisihinya, karena kadangkala hal tersebut menyebabkan laknat terhadap dirinya sendiri, demikian itu karena ketika ia membaca,

“Kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang mendustakan (al-Qur`an).” (Ali Imran: 61)

“Laknat Allah atas orang-orang yang berbuat zhalim.” (Al-A’raf: 44)

apabila ia seorang pendusta atau berbuat zhalim, maka berarti ia telah melaknat dirinya sendiri. Riwayat berikut ini menjelaskan kadar kesalahan orang-orang yang berpaling dari Kitab Allah dan orang-orang yang lalai darinya serta orang-orang yang disibukkan dengan selainnya. Telah diriwayatkan bahwa di dalam Taurat, sesungguhnya Allah telah berfirman, “Apakah kamu tidak malu terhadapku, bahwa telah datang kepadamu sebuah kitab dari sebagian saudaramu, padahal kamu sedang berjalan di jalan, lantas kamu berhenti lalu duduk karenanya, membacanya dan mentadaburinya huruf demi huruf hingga tiada satu pun darinya yang luput darimu? lni adalah kitabKu yang Aku turunkan kepadamu. Lihatlah bagaimana Aku memerinci perkataan di dalamnya untumu, berapa kali Aku ulang di dalamnya untukmu agar kamu memperhatikan panjang dan lebarnya, kemudian kamu berpaling darinya? Maka jadilah Aku lebih rendah dalam pandanganmu daripada sebagian saudaramu, wahai hambaKu! Sebagian saudaramu duduk di sisimu lalu kamu menghadapnya dengan penuh perhatian dan kamu dengarkan pembicaraannya dengan segenap hati. Apabila seseorang sedang berbicara atau ada seseorang yang menyibukkan dirimu dari mendengarkan pembicaraannya, maka kamu memberi isyarat kepadanya agar diam. Dan inilah Aku yang datang kepadamu dan rnengajak berbicara, tetapi kamu berpaling dengan segenap hati dariKu. Apakah kamu hendak menjadikan diriKu lebih rendah (hina) daripada sebagian saudaramu di sisimu?”

  1. Berupaya semaksimal mungkin untuk meneladani sifat-sifat ahli al-Qur`an (yaitu penghafal al-Qur`an) yang mereka itulah Ahli Allah (Wali Allah) dan manusia pilihanNya, serta berkarakter seperti karakter mereka, sebagaimana Abdullah bin Mas’ud pernah berkata, “Seyogyanya seorang qari’ (orang yang gemar membaca) al-Qur`an itu dikenal dengan (menghidupkan) malam harinya (dengan shalat malam) ketika orang-orang lelap tertidur, (menyemarakkan) siang harinya (dengan puasa) ketika manusia asyik makan minum, (menghiasi hari-harinya) dengan ratapan tangisnya ketika manusia larut dalam canda dan tawa, dengan kewara’annya ketika manusia mencampurkan (antara yang haq dengan yang bathil dan yang haram dengan yang halal), dengan diamnya ketika manusia tenggelam berbincang-bincang, dengan kekhusyu’annya (di dalam shalat) ketika manusia merusaknya, dan dengan kesedihannya ketika manusia bergembira ria.”

Muhammad bin Ka’ab berkata, “Dahulu kami mengenal qari’ al-Qur`an itu pucat warna (kulit muka)nya yang menunjukkan sering bergadang malam dan panjang tahajjudnya.“

Wuhaib bin al-Ward berkata, “Pernah dikatakan kepada seseorang, ’Mengapa kamu tidak tidur?’ la menjawab, ‘Sesungguhnya keajaiban-keajaiban al-Qur`an telah menyirnakan tidurku’, Dzun Nun pernah bersenandung:

Al-Qur’an dengan janji dan ancamannya

telah menghalangi biji mata dengan malam harinya,

ia tidak tidur di malam hari.

Mereka memahumi perkataan Raja Yang Mahaagung

dengun pemahaman yang membuat leher merasa hina dina

dan tunduk patuh kepadaNya.

Referensi : Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jaza’iri, Minhajul Muslim, Darul Haq, Jakarta, 2016

http://ceramahmotivasi.com/minhajul-muslim/adab-terhadap-kalam-allah-swt-al-quran-al-karim/

Posted by: peribadirasulullah | September 25, 2018

Adab Terhadap Allah SWT

allah11

  • Seorang Muslim memperhatikan segala sesuatu yang telah diberikan Allah kepadanya dengan tiada terhingga, yakni berupa kenikmatan yang tak terhitung, terlindungnya dia pada saat menempel di dalam rahim ibunya ketika berupa nuthfah (air mani), menentukan perjalanan hidupnya hingga hari bertemu dengan Rabbnya. Maka ia bersyukur kepada Allah atas nikmat itu dengan lisannya, yakni memuji dan menyanjungNya secara semestinya. Juga bersyukur kepada Allah dengan anggota badan dengan cara menggunakannya di dalam ketaatan kepada Allah SWT, maka ini menjadi adab seorang Muslim kepada Allah, dan bukan bagian dari adab yang baik seseorang mengingkari nikmat, tidak mengakui karunia pemberi, dan mengingkariNya, serta kebaikan dan nikmatNya.

Allah SWT berfirman,

“Dan apa saja nikmat yang ada padamu maka dari Allah-lah datangnya.” (An-Nahl: 53).

Juga FirmanNya,

“Dan jika kalian menghtung nikmat Allah, maka kalian tidak akan sanggup menghitungnya” (An-Nahl: 18).

“Karena itu, ingatlah kalian kepadaKu niscayu Aku ingat (pula) kepada kalian, dan bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kalian mengingkuri (nikmat)Ku.” (Al-Baqarah: 152).

  • Seorang Muslim memperhatikan bahwa Allah mengetahui apa yang dilakukan dan mengawasi seluruh tindak tanduknya, maka hatinya akan dipenuhi dengan keagunganNya, dan jiwanya menjadi tunduk dan selalu mengagungkanNya. Lalu dia akan takut untuk bermaksiat kepadaNya, malu untuk menyelisihi perintahNya, dan keluar dari ketaatan terhadapNya. lni semua merupakan adab kepada Allah SWT karena bukan termasuk adab yang baik seorang hamba terang-terangan bermaksiat kepada Rabbnya, atau membalas kebaikanNya dengan berbagai keburukan dan perilaku rendahan padahal Dia menyaksikan dan melihatnya, Allah SWT berfirman,

“Mengapa kalian tidak percaya akan kebesaran Allah. Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kalian dalam beberapa tingkatan kejadian?” (Nuh: 13-14).

“Dia (Allah) mengetahui apa-apa yang kalian rahasiakan dan apa-apa yang kalian perlihatkan.” (An-Nahl: 19).

“Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari al-Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Rabbmu biar pun sebesar dzarrah (atom) di bumi ataupun di langit.” (Yunus: 61).

  • Seorang Muslim yakin bahwa Allah berkuasa atasnya, Dialah yang memegang ubun-ubunnya (menguasainya) dan bahwasanya tidak ada tempat berlindung dan lari dariNya kecuali hanya kepadaNya semata. Maka hendaknya ia lari menuju Allah, menghambur ke hadapanNya, menyerahkan seluruh urusan hanya kepadaNya, dan bertawakal kepadaNya. lni semua merupakan adab kepada Rabb dan Penciptanya.

Oleh karena itu tidaklah beradab jika seseorang lari kepada sesuatu yang tidak memiliki tempat pelarian, bersandar kepada yang tidak memiliki kemampuan apa pun serta bertawakal kepada yang tidak memiliki daya upaya dan kekuatan. Allah SWT berfirman,

“Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya.” (Hud: 56).

FirmanNya yang lain,

“Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” (Adz-Dzariyat: 50).

Juga FirmanNya,

“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Al-Ma’idah: 23).

  • Seorang Muslim juga memperhatikan kelemahlembutan Allah SWT kepadaNya di setiap urusannya, memperhatikan kasih sayang Allah kepada dirinya dan seluruh makhlukNya, lalu berkeinginan kuat untuk mendapatkan tambahan kelembutan dan kasih sayang itu. Sehingga dirinya akan selalu merendahkan diri kepadaNya dengan kerendahan yang murni dan dengan doa, bertawassul kepadaNya dengan perkataan yang baik dan amal shalih.

Ini semua merupakan adab terhadap Allah yang menguasaiNya, maka bukanlah orang yang beradab orang yang berputus asa dari mencari tambahan rahmatNya yang luasnya meliputi segala sesuatu, berputus asa dari kebaikan Allah yang tak terhingga yang mencakup seluruh alam semesta, serta kelembutanNya yang tercurah untuk segenap makhluk. Allah SWT berfirman,

“Dan rahmatKu meliputi segala sesuatu.” (Al-A’raf: 156).

“Allah Mahalembut terhadap hamba-hambaNya.” (Asy-Syura: 19).

“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah” (Yusuf: 87).

“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (Az-Zumar: 53).

  • Seorang Muslim memperhatikan bagaimana dahsyatnya siksaan Rabbnya, kerasnya azab dan kecepatan hisabNya, sehingga dia bertakwa (takut) kepadaNya dengan menaatiNya, dan menjaga diri terhadapNya dengan meninggalkan segala kemaksiatan, maka ini pun merupakan bentuk adab kepada Allah. Sehingga tidaklah seseorang itu beradab, menurut orang yang berakal, apabila ia menentang Allah dan berlaku aniaya (zhalim), padahal ia seorang hamba yang lemah namun justru menentang Rabb yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa, Mahakuat lagi Mahaperkasa, Dia telah berfirman,

“Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (Ar-Ra’d: 11).

“Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras.” (Al-Buruj: 12).

“Allah Mahaperkasa lagi mempunyai balasan (siksa).” (Ali Imran: 4).

  • Seorang Muslim hendaknya memandang kepada Allah SWT ketika ia berbuat maksiat atau keluar dari ketaatan kepadaNya, bahwa seakan-akan ancamanNya telah sampai kepadanya, azabNya seakan telah turun, dan balasanNya telah tiba di sekitarnya. Demikian pula ketika dia melakukan ketaatan dan mengikuti syariatNya, maka seakan-akan Allah telah membuktikan janjiNya kepadanya. Seolah-olah keridhaanNya telah diberikan, sehingga dengan itu jadilah ia seorang Muslim yang berbaik sangka kepada Allah. Dan baik sangka (husnuzhzhan) kepada Allah merupakan salah satu adab seorang Muslim kepada Allah, maka bukan merupakan adab kepada Allah jika seorang Muslim berburuk sangka (su’udzhan) kepadaNya, sehingga dia keluar dari ketaatan kepadaNya, mengira bahwa Allah tidak memperhatikannya serta tidak akan memberikan balasan atas dosa yang dia kerjakan itu, padahal Allah SWT telah berfirman,

“Bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Rabbmu, prasangka itu telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Fushshilat: 22-23).

  • Juga bukan merupakan adab kepada Allah jika seseorang bertakwa kepada Allah, menaatiNya namun berprasangka bahwa Allah tidak akan memberikan balasan kepadanya atas amal baik yang telah dia kerjakan itu, atas ketaatan, dan ibadahnya, padahal Allah SWT telah berfirman,

“Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepadaNya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (An-Nur: 52)

“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97).

Dan FirmanNya,

“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pan tidak dianiaya (dirugikan)” (Al-An’am: 160).

Kesimpulan dari pembahasan ini adalah bahwa syukurnya seorang Muslim kepada Rabbnya atas nikmat yang diberikan, rasa malu kepadaNya ketika condong kepada perbuatan maksiat, kembali kepadaNya secara benar, bertawakal kepadaNya serta mengharap rahmatNya, kemudian takut terhadap siksaNya, berbaik sangka kepadaNya akan kebenaran janjiNya serta pelaksanaan ancaman bagi siapa yang dikehendaki di antara hamba-hambaNya, maka ini semua merupakan adab-adab terhadap Allah SWT. Semakin tinggi tingkat tamassuk (berpegang teguh) dengan adab ini dan semakin seseorang menjaganya, maka akan semakin tinggi derajatnya, makin naik kedudukannya dan terus menanjak posisinya, serta kemuliaannya makin besar sehingga jadilah dia termasuk di antara orang-orang yang berada dalam wilayah (cinta dan pembelaan) Allah, dalam pemeliharaanNya, diliputi rahmatNya serta berhak mendapatkan kenikmatan-kenikmatan dariNya.

Inilah yang senantiasa didamba-dambakan oleh seorang Muslim dan yang menjadi cita-citanya sepanjang hidup.

Ya Allah, berikanlah kepada kami cinta dan pembelaanMu, janganlah Engkau halangi kami dari penjagaanMu, dan jadikanlah kami semua di sisiMu sebagai al-muqarrabin (orang yang dekat denganMu), ya Allah, ya Rabb seru sekalian alam.

Referensi : Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jaza’iri, Minhajul Muslim, Darul Haq, Jakarta, 2016

http://ceramahmotivasi.com/minhajul-muslim/adab-terhadap-allah-azza-wa-jalla/

Posted by: peribadirasulullah | September 24, 2018

Allah SWT Tidak Suka Mereka Yang Sombong

K 47

Assalamualaikum Warahmatullah Hiwabarakatuh, Mohon jasa baik semua pihak untuk like Page Dibawah dan dengan rendah hati IHYA ASSUNNAH SOLUTION memohon insan-insan mulia dari Malaysia, Singapore, Indonesia dan Brunei Darus Salam bagi menabur amal bakti melalui kami kepada masyarakat Islam Melayu Champa di Selatan Kemboja, jadikan kami sebagai jambatan penghubung kepada mereka:

https://web.facebook.com/IHYA-Assunnah-1184250164973202/

Sila kunjungi laman ilmiah dibawah :

https://peribadirasulullah.wordpress.com/

Posted by: peribadirasulullah | September 24, 2018

Allah SWT Amat menCintai Mereka Yang Sentiasa Infaq Di Jalan Allah SWT

K 46

Assalamualaikum Warahmatullah Hiwabarakatuh, Mohon jasa baik semua pihak untuk like Page Dibawah dan dengan rendah hati IHYA ASSUNNAH SOLUTION memohon insan-insan mulia dari Malaysia, Singapore, Indonesia dan Brunei Darus Salam bagi menabur amal bakti melalui kami kepada masyarakat Islam Melayu Champa di Selatan Kemboja, jadikan kami sebagai jambatan penghubung kepada mereka:

https://web.facebook.com/IHYA-Assunnah-1184250164973202/

Sila kunjungi laman ilmiah dibawah :

https://peribadirasulullah.wordpress.com/

Posted by: peribadirasulullah | September 24, 2018

Dermalah sesuatu yang terbaik di jalan Allah SWT

K 45

 

Assalamualaikum Warahmatullah Hiwabarakatuh, Mohon jasa baik semua pihak untuk like Page Dibawah dan dengan rendah hati IHYA ASSUNNAH SOLUTION memohon insan-insan mulia dari Malaysia, Singapore, Indonesia dan Brunei Darus Salam bagi menabur amal bakti melalui kami kepada masyarakat Islam Melayu Champa di Selatan Kemboja, jadikan kami sebagai jambatan penghubung kepada mereka:

https://web.facebook.com/IHYA-Assunnah-1184250164973202/

Sila kunjungi laman ilmiah dibawah :

https://peribadirasulullah.wordpress.com/

Posted by: peribadirasulullah | September 24, 2018

Allah SWT Memberi Hidayah Kepada Mereka Yang Allah SWT Kehendakki

K 44

Assalamualaikum Warahmatullah Hiwabarakatuh, Mohon jasa baik semua pihak untuk like Page Dibawah dan dengan rendah hati IHYA ASSUNNAH SOLUTION memohon insan-insan mulia dari Malaysia, Singapore, Indonesia dan Brunei Darus Salam bagi menabur amal bakti melalui kami kepada masyarakat Islam Melayu Champa di Selatan Kemboja, jadikan kami sebagai jambatan penghubung kepada mereka:

https://web.facebook.com/IHYA-Assunnah-1184250164973202/

Sila kunjungi laman ilmiah dibawah :

https://peribadirasulullah.wordpress.com/

Posted by: peribadirasulullah | September 23, 2018

HIDUP MUSLIM BERPRINSIP

K 41

HIDUP MUSLIM BERPRINSIP

Oleh Ustaz Idris Sulaiman, 10 Mei 2018

Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan. Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepadaNya lah jua kita kembali.

DOA MUSLIM KETIKA MENDAPAT MUSIBAH

Ya Allah, kurniakan buat daku pahala dalam musibah yang menimpa atas diriku, dan gantilah ia dengan apa yang lebih baik daripadanya.

MUSLIM TIDAK BERPUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH & DAN IA ADALAH SIFAT ORANG KUFUR

Sesungguhnya manusia merancang, dan Allah jualah sebaik-baik perancang. Barangkali sebahagian bersedih dan berduka, tetapi sebagai seorang Muslim kita tidak berkata melainkan dengan kata-kata yang diredai Allah. Janganlah kamu berputus asa daripada rahmat serta pertolongan Allah. Sesungguhnya tidaklah orang yang berputus asa daripada rahmat dan pertolongan Allah melainkan orang-orang yang kufur.

PRINSIP MUSLIM ADALAH ‘WAJIB TAAT KEPADA PEMERINTAH MUSLIM’ DALAM HAL MAKRUF

Barangkali sebahagian bersangka bahawa Muslim yang taat kepada pemerintahnya akan berpaling tadah apabila pemerintah yang baharu diangkat. Perlu ditegaskan, sama sekali tidak! Prinsipnya tetap sama. Tidak ada apa-apa yang berubah.

Kami dengar dan kami taat dalam hal-hal yang makruf. Malah kami membantu serta mempertahankannya.

APABILA BERBALAH KEKUATAN AKAN HILANG (AL-ANFAL:46) & KEPENTINGAN ‘JAGA KESATUAN’

Apa yang penting ialah bagi Umat Islam sedar tentang betapa pentingnya menjaga kesatuan dan perpaduan. Ketahuilah bahawa apabila masyarakat Islam berbalah, maka ketika itu musuh-musuh Islam akan mengambil kesempatan. Perkara ini tidak boleh dibiarkan berlaku.

MENJAGA KEPENTINGAN AGAMA HENDAKLAH DIUTAMAKAN

Menjaga kepentingan Agama dan Umat Islam hendaklah sentiasa diutamakan. Hal ini hanya akan dapat dicapai dengan cara kita terus menggiatkan dakwah kepada masyarakat, menyebarkan ajaran-ajaran Islam yang berteraskan Kitab Allah dan Sunnah RasulNya menurut kefahaman Salaf As-Soleh, di samping menghubungkan tali silaturahim dan memupuk kasih sayang sesama Umat Islam demi menjaga kesepakatan dan kesatuan antara kita. Bersatu kita teguh, bercerai kita roboh.

SEMOGA ALLAH MEMBERI TAUFIK DAN HIDAYAH KEPADA PEMIMPIN BAHARU NEGARA

Semoga Allah memberikan taufik dan hidayahNya kepada pemimpin baharu Negara, mengurniakan petunjuk buatnya untuk terus memartabatkan Agama dan memperkasakan Umat. Sesungguhnya Dia Yang Maha Mendengar lagi Maha Perkasa.

Kepada Allah jua kita memohon petunjuk.

” BERSAMA MEMERANGI RASUAH DAN PECAH AMANAH “.

” DENGAN ISLAM DAN BERAKHLAK MULIA, ISLAM AKAN DIPANDANG MULIA TETAPI DISEBALIKNYA, DENGAN BERAKHLAK KEJI (MAZMUMAH) AGAMA ISLAM DIPANDANG HINA “.

Older Posts »

Kategori