Posted by: peribadirasulullah | Januari 10, 2014

Hukum mencium tangan bukan mahram-Dr Mashitah

SEBELUM ini kecoh di internet dan facebook serta twitter tentang penyebaran gambar, Ustazah Umno, Dr Mashitah Ibrahim sedang bersalam dan mencium tangan Tun Abdullah Badawi bekas Perdana Menteri Malaysia sambil diperhatikan oleh Menteri Agama, Jamil Khir.


Hari ini tersebar pula satu gambar yang dipetik dari salah sebuah artikel di Sinar Harian tentang soal jawab berhubung perkara itu yang ditulis oleh Dr Mashitah Ibrahim.

Dalam artikel di ruangan soal jawab “Anda musykil Dr Mashitah jawab” itu, beliau membincangkan tentang hukum bersalaman dan mencium tangan di antara lelaki dan wanita bukan mahram.

Antara isi penting yang dinyatakan ialah, Ulama berbeza pendapat tentang hal ini. Namun jika berjabat tangan disertai dengan perasaan ghairah dan boleh mendatangkan fitnah maka hukumnya adalah haram, tulis beliau.

Jadi apakah hukum beliau bersalam dan mencium tangan Pak Lah, lelaki yang bukan mahramnya? Adakah haram, harus, sunat, ataupun wajib?

Pandangan yang menyokong perbuatan di atas sehingga berpindah ke tajuk jimak.

Erm, politics aside…

Walaupun Mashitah ni ada hal dia sendiri dan aku sendiri pun tak gemar dia lepas dia persenda hudud… tapi dalam kes ini… memang apa yang dia tulis itu ada benarnya, silalah berlapang dada:

Hadis yang digunakan bagi mereka yang menyatakan salam itu haram adalah:
Al-Tabrani dan Al-Baihaqi sebagaimana diriwayatkan oleh Ma`qil ibn Yassar bahawa Rasulullah SAW telah bersabda dengan maksudnya, “Bahawa menyusukkan jarum besi ke dalam kepala seseorang daripada kamu adalah lebih baik daripada menyentuh seorang perempuan yang tidak halal baginya”. (Lihat Sahihul Jami’, hadith no. 4921)

Tetapi erti sentuh dalam bahasa Arab (dalam perkataan itu sendiri – mass, beerti hubungan jenis)

Jika hadith itu sahih dan diterima sekalipun di sisi ulama’ tertentu, namun ianya masih tidak dapat meyakinkan bahawa hadith tersebut boleh digunakan sebagai dalil haramnya bersalaman antara lelaki dan wanita ajnabi. Ini disebabkan, perkataan “menyentuh” (dalam bahasa Arab – “Al-Mass”) tidaklah merujuk kepada perbuatan bersentuhan semata-mata tanpa diiringi dengan nafsu sebagaimana yang berlaku dalam kes bersalaman antara lelaki dan perempuan ajnabi, tetapi perkataan tersebut digunakan oleh Al-Quran dan hadith merujuk dua makna iaitu hubungan kelamin dan perbuatan bersedapan yang menjadi mukadimah kepada hubungan jenis contohnya; cumbu, peluk, raba, atau “gurau senda” yang seumpamanya.

Contoh ayat Al-Quran yang menggunakan perkataan “sentuh” dengan makna “hubungan jenis”, ialah Surah Al `Imran: ayat 47:-

قَالَتْ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي وَلَدٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ قَالَ كَذَلِكِ اللّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاء إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُن فَيَكُونُ

Maksudnya; Maryam berkata:” Wahai Tuhanku! Bagaimanakah aku akan beroleh seorang anak, padahal aku tidak pernah disentuh oleh seorang lelaki pun?” Allah berfirman; “Demikianlah keadaannya, Allah menjadikan apa yang dikehendakiNya; apabila Ia berkehendak melaksanakan sesuatu perkara, maka Ia hanyalah berfirman kepadanya: ` Jadilah engkau ‘, lalu menjadilah ia.”

Nota:

Siti Maryam tidak berkahwin dan tidak pernah bersalam dengan selain Mahramnya.
Contoh satu lagi ialah Surah Al-Baqarah: ayat 237:-

وَإِن طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِن قَبْلِ أَن تَمَسُّوهُنَّ وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ إَلاَّ أَن يَعْفُونَ أَوْ يَعْفُوَ الَّذِي بِيَدِهِ عُقْدَةُ النِّكَاحِ وَأَن تَعْفُواْ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَلاَ تَنسَوُاْ الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ إِنَّ اللّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dan jika kamu ceraikan mereka sebelum kamu sentuh (bercampur) dengan mereka, padahal kamu sudah menetapkan kadar maskahwin untuk mereka, maka mereka berhak mendapat separuh dari maskahwin yang telah kamu tetapkan itu, kecuali jika mereka memaafkannya tidak menuntutnya); atau (pihak) yang memegang ikatan nikah itu memaafkannya (memberikan maskahwin itu dengan sepenuhnya). Dan perbuatan kamu bermaaf-maafan (halal menghalalkan) itu lebih hampir kepada taqwa. Dan janganlah pula kamu lupa berbuat baik dan berbudi sesama sendiri. Sesungguhnya Allah sentiasa melihat akan apa jua yang kamu kerjakan.

Nota:

Inilah cara terbaik golongan putar belit dalam agama dengan menjadian perbahasan Hukum Feqah ( Istilah Syarei )   kepada perbahasan bahasa arab biasa untuk memudahkan agenda pemesongan Islam.

Posted by: peribadirasulullah | Januari 10, 2014

4 Perkara menceriakan kehidupan anda

https://fbcdn-sphotos-e-a.akamaihd.net/hphotos-ak-frc3/1604561_607354385979882_757837135_n.jpg

1- Keredhaan menjadikan hidup lebih manis.

2- Senyuman dapat menghilangkan segala permasalahan.

3- Istighfar dapat menunaikan segala hajat.

4- Doa dapat menjadikan segala yang mustahil sebagai kenyataan.

‎ஜღوَتَوَاصَوْا بِالْحَقღஜ‎’s Photos

Posted by: peribadirasulullah | Januari 10, 2014

Kapsul Motivasi Ibadah

http://peribadirasulullah.files.wordpress.com/2014/01/1e91c-qq-194.jpg?w=374&h=278

Nota:

Sesiapa yang melakukan dosa dalam keadaan ketawa dia akan masuk Neraka dalam keadaan menangis.

Ketika seseorang mengerjakan ibadah, maka pasti ada yang melandasi/memotivasinya untuk menunaikan ibadah tersebut.

1. Diantara motivasi tersebut adalah, “agar semoga dengan ia melakukan ibadah ini, agar Allaah mengampuni dosa-dosanya.”

Karena memang, diantara fungsi amalan shaalih, adalah menghapuskan dosa.

Diantara dalilnya, adalah firman Allaah

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ

Sesungguhnya segala perbuatan yang baik itu, menghapuskan (dosa)
segala perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang
ingat.

(QS Hud: 114).

Rasuulullaah juga bersabda:

وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا

segera iringi perbuatan buruk itu dengan perbuatan baik, maka
(perbuatan baik itu) akan menghapusnya.

(HR Ahmad, at tirmidziy, dll)

Maka hal yang paling awal yang harus kita tanamkan dalam diri kita, bahwa kita itu adalah PENDOSA, dan PASTI BERBUAT DOSA. Sebagaimana dalam hadits qudsi; Rasuulullaah bersabda, bahwa Allaah berfirman:

يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا
أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِى أَغْفِرْ لَكُمْ

“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian BERBUAT DOSA di waktu SIANG dan MALAM, dan Aku MAHA PENGAMPUN atas dosa-dosa itu semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku mengampuni kalian.”

(HR. Muslim)

Maka dengan khabar inilah, hendaknya kita senantiasa ingat. Agar jangan sampai kita menganggap diri suci, menganggap kita bersih dari dosa… Padahal tidak ada SATU WAHYU PUN, TURUN DARI LANGIT kalau kita, termasuk orang yang dijamin surga.

Maka hendaknya mengingat akan hal ini. Yang dengan banyak ingat akan hal ini; akan menjadikan kita TAWADHU’ dihadapan Allaah, kemudian dihadapan sesama makhluq. Dan akan menjadikan kita hamba yang banyak beristighfar, dan banyak beramal shaalih.

Sudah terbukti; bahwa kebanyakan orang yang jauh dari taubat dan
istighfar, serta jauh dari amalan shaalih; adalah :

- mereka-mereka yang menyombongkan diri, merasa suci, merasa tidak berbuat dosa, bahkan menganggap dosa yang mereka lakukan itu biasa saja, bahkan bangga dengan dosanya.

- mereka-mereka yang lalai, bahkan pura-pura tidak tahu, bahkan tidak mau tahu tentang dosanya yang begitu banyak; atau bahkan tidak sadar kalau dirinya banyak dosa.

- mereka-mereka yang lupa, kalau mereka itu berdosa. Dan memang
manusia tempatnya lupa, maka ketika ingat, hendaklah kembali.

Maka hendaklah kita jangan sampai menjadi golongan pertama dan kedua, dan ketika kita lupa, hendaklah kita ingat; dan ketika ingat, hendaklah kembali kepadaNya.

Dengan mengingat dosalah, kita akan termotivasi untuk beramal shaalih, yaitu dengan beristighfar, bertaubat dan melakukan kebaikan-kebaikan.

2. Diantara motivasi lainnya, dan ini merupakan diantara motivasi paling tinggi diantara motivasi selainnya; yaitu, termotivasi untuk beribadah DALAM RANGKA MENSYUKURI NIKMAT ALLAAH.

Mengapa motivasi ini yang paling tinggi atah diantara yang paling tinggi?

Karena sekalipun seseorang itu tahu, kalau ia termasuk orang yang diterima taubatnya… Bahkan sekalipun ia tahu, kalau ia termasuk orang yang diterima amal kebaikannya… Maka hal tersebut tidaklah menghentikannya dari beribadah kepadaNya.

Mengapa?

Karena ketika Allaah menerima taubat dan amal kebaikannya, bukankah hal ini suatu yang patut ia syukuri? Dan bukankah bentuk syukur adalah dengan melakukan ibadah kepadaNya?

Maka sekalipun turun wahyu dari langit, bahwa ia termasuk orang yang diterima taubat dan amal shalihnya; maka ini bukan menghentikannya dari beramal, bahkan malah menjadikan ia tambah memperbanyak memperbaiki kualitas ibadahnya, dalam rangka syukurnya kepada Allaah. Yang telah memberinya taufiq untuk bertaubat, dan beramal.

Inilah yang kita dapati dalam diri para nabi dan rasuul, serta kita dapati dalam diri para shahabat yang telah dijaminkan surga.

Tidaklah memudharatkan mereka khabar bahwa telah ada jaminan ampunan dan surga untuk mereka, bahkan hal tersebut menyemangati mereka untuk tetap beribadah, bahkan mereka memperbanyak dan memperbaiki ibadah mereka; dalam hal mensyukuri hal ini.

Setiap kali mereka melakukan amalan shaalih, akan senantiasa diikuti amalan shaalih berikutnya dalam hal mensyukuri amalan sebelumnya… Teruus demikian… Bahkan ketika mengucapkan “alhamdulilaah”, maka inipun sesuatu yang patut untuk disyukuri, karena Allaah telah memberi hidayah kepadanya untuk mensyukuriNya.

Tahulah kita, HAKIKAT IBADAH itu TIADA BERBILANG… Karena memang, nikmatNya itu tiada berbilang…

Sebagaimana firmanNya :

وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya.

Oleh karenanya setelahnya Allaah berfirman :

إِنَّ الْإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

Sesungguhnya semua manusia itu, benar-benar sangat zalim dan benar
benar sangat kufur (terhadap nikmat Allah).

Maka dengan landasan dan motivasi syukur ini, akan menjadikan
pelakunya seorang yang sibuk beribadah; memperbanyak dan memperbaiki ibadahnya.

Dua motivasi ini, dapat kita jumpai dalam hadits berikut:

`Aa-isyah ketika melihat shalat malamnya Rasuulullaah yang sangat panjang sampai menjadikan kaki beliau bengkak, maka berkata :

لِمَ تَصنَعُ هذا يا رسولَ اللهِ ، وقد غفَر اللهُ لك ما تقدَّم من ذَنْبِك وما تأخَّ

Wahai Rasuulullaah, mengapa engkau beribadah sampai sedemikian rupa? sedangkan Allaah telah mengampuni dosa-dosamu yang terdahulu dan yang akan datang?

Rasuulullaah bersabda :

أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

“Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur?”

`Aa-isyah terheran dengan ibadahnya Rasuulullaah, padahal beliau telah ada jaminan untuk diampuni Allaah. Dalam kacamata, “beribadah dalam rangka menghapus dosa” maka semestinya tidak perlu lagi bagi beliau bersusah
payah sampai sedemikian rupa dalam peribadatan. Namun kemudian Rasuulullaah menjelaskan bahwa motivasi ibadahnya juga dalam rangka untuk mensyukuri segala nikmatNya. Sehingga meskipun beliau telah ada jaminan ampunan dan surga, maka hal itu tidak menghentikan beliau untuk beribadah kepadaNya; bahkan menambah semangat beliau untuk
senantiasa beribadah kepadaNya.

Maka hendaklah kita menjadikan motivasi diatas, sebagai motivasi kita dalam beribadah kepadaNya; semoga Allaah memberi taufiq, kemudahan, dan pertologan kepada kita semua, aamiin.

Semoga bermanfaat

http://abuzuhriy.com/diantara-motivasi-ibadah/

Posted by: peribadirasulullah | Januari 10, 2014

Jangan tertipu dengan nilai keduniaan

http://peribadirasulullah.files.wordpress.com/2014/01/35dd3-muslimszp9.jpg?w=412&h=147

Mungkin kebanyakan dari kita, ketika dikatakan “orang tertipu dengan dunia”, maka mungkin akan terbayang, seorang yang kaya raya, yang diluaskan Allaah rizkinya, yang dimudahkan dan dilancarkan urusan dunianya, sedangkan ia malah tidak bersyukur kepadaNya, bahkan jauh dan berpaling dariNya, bahkan mengkufuriNya.

Memang benar, ia termasuk orang yang tertipu dengan dunia… Akan tetapi jangan salah… Jangan dikira yg tertipu dengan dunia hanyalah mereka yang ‘berada’ saja… Mereka yang berkekuragan pun bisa termasuk orang yang tertipu dengan dunia…

Bagaimana ia bisa tertipu?

Jika ia menilai apapun yang menimpanya, hanya berdasarkan kacamata duniawi semata.

Sehingga kekurangan yang menimpa nya disikapi dengan ketidaksabaran, bahkan disikapi dengan MARAH KEPADA TAQDIR ALLAAH, atau bahkan secara terang-terangan MARAH kepada Allaah (sungguh ini merupakan kekufuran yang amat nyata)

Seperti yang Allaah firmankan :

فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”.

(Al Fajr : 15-16)

Ia mengira tolak ukur pemuliaan dan penghinaan Allaah itu berdasarkan kacamata duniawi saja.

Inipun karena sedikitnya atau bahkan ketiadaan imannya tentang Allaah dan hari aakhir.

Sebagaimana firmanNya:

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.

(Ar Ruum : 7)

Sehingga, ketika diberi cobaan, maka dia tidak bersabar, berputus asa, bahkan marah kepadaNya dan kepada taqdirNya.

Sebagaimana sabda Rasuulullaah :

تعِس عبدُ الدِّينارِ ، والدِّرهمِ ، والقَطيفةِ ، والخَمْيصةِ ، إن أُعطِي رضي ، وإن لم يُعْطَ لم يرْضَ

Celakalah hamba/penyembah dinar, (hamba/penyembah) dirham, (hamba/penyembah) kemewahan, serta (hamba/penyembah) pakaian. Apabila diberi, maka ia ridha; jika tidak diberi, maka ia tidak ridha.

(HR al Bukhaariy)

Maka bagaimana lagi, jika sudah ia miskin, tapi malah berlaku sombong, angkuh, takabbur dengan kemiskinannya?! Maka inilah seburuk-buruk makhluq, sebagaimana sabda Rasuulullaah :

أربعةٌ يُبغِضُهمُ اللَّهُ عز وجل: البيَّاعُ الحلَّافُ، والفقيرُ المختالُ، والشَّيخُ الزَّاني، والإمامُ الجائرُ

Empat golongan yang DIMURKAI ALLAAH : pedagang yang banyak bersumpah (untuk melariskan dagangannya), FAKIR YANG SOMBONG, seorang tua bangka yang berzina, dan penguasa yang kejam.

(Shahiih, HR an Nasaa-iy, dishahiihkan al albaaniy)

Maka kita berlindunglah dari keburukan kaya dan miskin, dengan banyak membaca doa yang diajarkan Rasuulullaah shalallaahu ‘alayhi wa sallam :

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ النَّارِ وَعَذَابِ النَّارِ وَمِنْ شَرِّ الْغِنَى وَالْفَقْرِ

“ALLAAHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MIN FITNATIN NAAR WA ‘ADZAABIN NAAR, WA MIN SYARRIL GHINAA WAL FAQR”

Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari fitnah Neraka dan adzab Neraka, serta dari keburukan kekayaan dan kefakiran

(Shahiih, HR. Abu Daud, dishahiihkan al albaaniy)

Dan hendaklah kita menjadi seorang mukmin sejati, seperti yang disabdakan Rasuulullaah :

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ عجب. مَا يَقْضِي اللهُ لَهُ مِنْ قَضَاءٍ إِلاَ كَانَ خَيْرًا لَهُ, إِِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang MUKMIN. Segala perkara yang dialaminya sangat menakjubkan. Setiap takdir yang ditetapkan Allah bagi dirinya merupakan kebaikan. Apabila kebaikan dialaminya, maka ia bersyukur, dan hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila keburukan menimpanya, dia bersabar dan hal itu merupakan kebaikan baginya.”

[HR. Muslim]

Yang mana kekayaan, kemudahan dan kelapangan; tidak menipu kita, bahkan menjadikan kita hamba yang banyak bersyukur, banyak beribadah kepadaNya, banyak beristighfar, lagi memiliki sifat tawadhu’.

Yang mana kesempitan, kesulitan dan kekurangan; tidak menipu kita. Bahkan menjadikan kita hamba yang bersabar, dan semakin mendekatkan diri kepadaNya.

Semoga bermanfaat

http://abuzuhriy.com/tertipu-dengan-dunia/

Posted by: peribadirasulullah | Januari 10, 2014

Jadikan Ikhlas sebagai permulaan dalam semua perkara

http://peribadirasulullah.files.wordpress.com/2014/01/97747-3987977185b15d.png?w=389&h=275

Ada salah satu kaedah fiqih yang menyebutkan:

NIAT (ADALAH) SYARAT BAGI SELURUH AMAL

BAIK DAN RUSAKNYA AMALAN (ADALAH) KARENA NIAT

Kaidah ini adalah kaidah yang paling bermanfaat dan paling besar. Kaidah ini juga termasuk dalam seluruh bab bab ilmu. Baiknya amalan badaniyyah (amalan badan yang bukan termasuk ibadah) dan milaliyyah (amalan yang termasuk ibadah), yang berupa amalan hati ataupun amalan anggota badan hanyalah dengan niat (yang baik pula). Dan rusaknya amalan amalan ini adalah karena niat (yang rusak pula).

Karena pentingnya bab ini (ikhlas), Imam Bukhari rahimahullhu ta’ala meletakkan hadits tentang ikhlas/niat sebagai bab pertama dan hadits pertama, sekaligus mukaddimah dalam kitab shahihnya. Hal ini dikarenakan beliau mengumpulkan hadits-hadits shahih hanya ingin meraih ridha Allah Subhanahu wa ta’ala dalam karyanya kitab ‘Shohih bukhari”. Demikianlah komentar Imam Ibnu hajar Al Asqalani rahimahullahu ta’ala dalam kitabnya “Fathul Baari” penjelasan terhadap kitab Shahih Bukhari (lihat: Fathul Baari dalam mukaddimah hadits pertama tentang niat). Begitu juga Imam Nawawi dalam kitabnya “Arbain” dan “Riyadhdhus Shalihin”. Manhaj inipun di ikuti oleh ulama salaf lainnya, maka sangatlah terhina jika ana yang menisbatkan diri ana untuk mengikuti salafush sholeh, tidak mengikuti jalan-jalan mereka.

Rosulullah shalallahu’alaihi wa salam bersabda, yang artinya:

Sesungguhnya amalan-amalan itu berdasarkan niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan, maka barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya adalah kepada Allah dan RasulNya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena untuk menggapai dunia atau wanita yang hendak dinikahinya maka hijrahnya kepada apa yang hijrahi”. (HR. Al-Bukhori: 1).

Berkata Abdurrohman bin Mahdi, yang artinya: “Kalau seandainya aku menulis sebuah kitab yang terdiri atas bab-bab maka aku akan menjadikan hadits Umar bin Al-Khattab yaitu hadits Al A’maalu bin Niyyaat di setiap bab” (Jami’ul Ulum 1/8).

Imam Asy-Syafi’i berkata, yang artinya: “Hadits ini adalah sepertiga ilmu” (Jami’ul ‘Ulum 1/9).

Imam Ahmad berkata, yang artinya: “Pokok-pokok Islam ada tiga hadits, hadits Umar rodiallahu’anhu, ”Hanya saja amal-amal itu berdasarkan niatnya”, hadits ‘Aisyah rodiallahu’anha, Barangsiapa yang berbuat perkara-perkara yang baru dalam agama ini yang bukan dari agama maka ia tertolak” dan hadits Nu’man bin Basyir rodiallahu’anhu ”Yang halal jelas dan yang haram jelas”. (Jami’ul ‘Ulum 1/9).

Sesungguhnya pembahasan tentang ikhlas adalah pembahasan yang sangat penting yang berkaitan dengan agama Islam yang hanif (lurus) ini, hal dikarenakan tauhid adalah inti dan poros dari agama dan Allah tidaklah menerima kecuali yang murni diserahkan untukNya sebagaimana firman Allah, “Hanyalah bagi Allah agama yang murni”. (QS. Az-Zumar : 3).

Maka perkara apa saja yang merupakan perkara agama Allah jika hanya diserahkan kepada Allah maka Allah akan menerimanya, adapun jika diserahkan kepada Allah dan juga diserahkan kepada selain Allah (siapapun juga ia) maka Allah tidak akan menerimanya, karena Allah tidak menerima amalan yang diserikatkan, Dia hanyalah meneriman amalan agama yang kholis (murni) untukNya. Allah akan menolak dan mengembalikan amalan tersebut kepada pelakunya bahkan Allah memerintahkannya untuk mengambil pahala (ganjaran) amalannya tersebut kepada yang dia syarikatkan, hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, yang artinya:

Allah berfirman, yang artinya: “Aku adalah yang paling tidak butuh kepada syarikat, maka barangsiapa yang beramal suatu amalan untuku lantas ia mensyerikatkan amalannya tersebut (juga) kepada selainku maka Aku berlepas diri darinya dan ia untuk yang dia syarikatkan” (HR. Ibnu Majah 2/1405 no. 4202, dan ia adalah hadits yang shahih, sebagaimana perkataan Syaikh Abdul Malik Ar-Romadhoni, adapun lafal Imam Muslim (4/2289 no 2985) adalah, “aku tinggalkan dia dan ksyirikannya”).

Berkata Syaikh Sholeh Alu Syaikh, “Lafal ‘amalan’ disini adalah nakiroh dalam konteks kalimat syart maka memberi faedah keumuman sehingga mencakup seluruh jenis amalan kebaikan baik amalan badan, amalan harta. Maupun amalan yang mengandung amalan badan dan amalan harta (seperti haji dan jihad)”. (At-Tamhid hal. 401).

Definisi ikhlas menurut etimologi (menurut peletakan bahasa)

Ikhlas menurut bahasa adalah sesuatu yang murni yang tidak tercampur dengan hal-hal yang bisa mencampurinya. Dikatakan bahwa “madu itu murni” jika sama sekali tidak tercampur dengan campuran dari luar, dan dikatakan “harta ini adalah murni untukmu” maksudnya adalah tidak ada seorangpun yang bersyarikat bersamamu dalam memiliki harta ini.

Definisi ikhlas menurut istilah syar’i (secara terminologi)

Syaikh Abdul Malik menjelaskan, Para ulama bervariasi dalam mendefinisikan ikhlas namun hakikat dari definisi-definisi mereka adalah sama. Diantara mereka ada yang mendefenisikan bahwa ikhlas adalah “menjadikan tujuan hanyalah untuk Allah tatkala beribadah”, yaitu jika engkau sedang beribadah maka hatimu dan wajahmu engkau arahkan kepada Allah bukan kepada manusia. Ada yang mengatakan juga bahwa ikhlas adalah “membersihkan amalan dari komentar manusia”, yaitu jika engkau sedang melakukan suatu amalan tertentu maka engkau membersihkan dirimu dari memperhatikan manusia untuk mengetahui apakah perkataan (komentar) mereka tentang perbuatanmu itu. Cukuplah Allah saja yang memperhatikan amalan kebajikanmu itu bahwasanya engkau ikhlas dalam amalanmu itu untukNya.

Dan inilah yang seharusnya yang diperhatikan oleh setiap muslim, hendaknya ia tidak menjadikan perhatiannya kepada perkataan manusia sehingga aktivitasnya tergantung dengan komentar manusia, namun hendaknya ia menjadikan perhatiannya kepada Robb manusia, karena yang jadi patokan adalah keridhoan Allah kepadamu (meskipun manusia tidak meridhoimu).

Ada juga mengatakan bahwa ikhlas adalah “samanya amalan-amalan seorang hamba antara yang nampak dengan yang ada di batin”, adapun riya’ yaitu dzohir (amalan yang nampak) dari seorang hamba lebih baik daripada batinnya dan ikhlas yang benar (dan ini derajat yang lebih tinggi dari ikhlas yang pertama) yaitu batin seseoang lebih baik daripada dzohirnya, yaitu engkau menampakkan sikap baik dihadapan manusia adalah karena kebaikan hatimu, maka sebagaimana engkau menghiasi amalan dzohirmu dihadapan manusia maka hendaknya engkaupun menghiasi hatimu dihadapan Robbmu.

Ada juga yang mengatakan bahwa ikhlas adalah, “melupakan pandangan manusia dengan selalu memandang kepada Allah”, yaitu engkau lupa bahwasanya orang-orang memperhatikanmu karena engkau selalu memandang kepada Allah, yaitu seakan-akan engkau melihat Allah yaitu sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam tentang ihsan “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya dan jika engkau tidak melihatNya maka sesungguhnya Ia melihatmu”.

Barangsiapa yang berhias dihadapan manusia dengan apa yang tidak ia miliki (dzohirnya tidak sesuai dengan batinnya) maka ia jatuh dari pandangan Allah, dan barangsiapa yang jatuh dari pandangan Allah maka apalagi yang bermanfaat baginya? Oleh karena itu hendaknya setiap orang takut jangan sampai ia jatuh dari pandangan Allah karena jika engkau jatuh dari pandangan Allah maka Allah tidak akan perduli denganmu dimanakah engkau akan binasa, jika Allah meninggalkan engkau dan menjadikan engkau bersandar kepada dirimu sendiri atau kepada makhluk maka berarti engkau telah bersandar kepada sesuatu yang lemah, dan terlepas darimu pertolongan Allah, dan tentunya balasan Allah pada hari akhirat lebih keras dan lebih pedih. (Dari ceramah beliau yang berjudul ikhlas. Definisi-definisi ini sebagaimana juga yang disampaikan oleh Ahmad Farid dalam kitabnya “Tazkiyatun Nufus” hal. 13).

Berkata Syaikh Abdul Malik, “Ikhlas itu bukan hanya terbatas pada urusan amalan-amalan ibadah bahkan ia juga berkaitan dengan dakwah kepada Allah. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam saja (tetap) diperintahkan oleh Allah untuk ikhlas dalam dakwahnya”.

Katakanlah, “Inilah jalanku (agamaku). Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.”(QS. Yusuf: 108).

Yaitu dakwah hanyalah kepada Allah bukan kepada yang lainnya, dan dakwah yang membuahkan keberhasilan adalah dakwah yang dibangun karena untuk mencari wajah Allah. Aku memperingatkan kalian jangan sampai ada diantara kita dan kalian orang-orang yang senang jika dikatakan bahwa kampung mereka adalah kampung sunnah, senang jika masjid-masjid mereka disebut dengan masjid-masjid ahlus sunnah, atau masjid mereka adalah masjid yang pertama yang menghidupkan sunnah ini dan sunnah itu, atau masjid pertama yang menghadirkan para masyayikh salafiyyin dalam rangka mengalahkan selain mereka, namun terkadang mereka tidak sadar bahwa amalan mereka hancur dan rusak padahal mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat yang sebaik-baiknya.

Dan ini adalah musibah yang sangat menyedihkan yaitu syaitan menggelincirkan seseorang sedikit-demi sedikit hingga terjatuh ke dalam jurang sedang ia menyangka bahwa ia sedang berada pada keadaan yang sebaik-baiknya. Betapa banyak masjid yang aku lihat yang Allah menghancurkan amalannya padahal dulu jemaahnya dzohirnya berada di atas sunnah karena disebabkan rusaknya batin mereka, dan sebab berlomba-lombanya mereka untuk dikatakan bahwa jemaah masjid adalah yang pertama kali berada di atas sunnah, hendaknya kalian berhati-hati…” (Dari ceramah beliau yang berjudul ikhlas).

Bahaya Cinta Ketenaran dan Popularitas

Berkata Abu Hazim Salamah bin Dinar “Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan kejelekan-kejelekanmu.” (Berkata Syaikh Abdul Malik Romadhoni , “Diriwayatkan oleh Al-Fasawi dalam Al-Ma’rifah wa At-Tarikh (1/679), dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (3/240), dan Ibnu ‘Asakir dalam tarikh Dimasyq (22/68), dan sanadnya sohih”. Lihat Sittu Duror hal. 45).

Dalam riwayat yang lain yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman no 6500 beliau berkata, “Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagiamana engkau menyembunyikan keburukan-keburukanmu, dan janganlah engkau kagum dengan amalan-amalanmu, sesungguhnya engkau tidak tahu apakah engkau termasuk orang yang celaka (masuk neraka) atau orang yang bahagia (masuk surga)”.

Berkata Syaikh Abdul Malik, “Namun mengapa kita tidak melaksanakan wasiat Abu Hazim ini?? Kenapa??, hal ini menunjukan bahwa keikhlasan belum sampai ke dalam hati kita sebagaimana yang dikehendaki Allah” (Dari ceramah beliau yang berjuduk ikhlas).

Oleh karena itu banyak para imam salaf yang benci ketenaran. Mereka senang kalau nama mereka tidak disebut-sebut oleh manusia. Mereka senang kalau tidak ada yang mengenal mereka. Hal ini demi untuk menjaga keihlasan mereka, dan karena mereka kawatir hati mereka terfitnah tatkala mendengar pujian manusia.

Berkata Hammad bin Zaid: “Saya pernah berjalan bersama Ayyub (As-Sikhtyani), maka diapun membawaku ke jalan-jalan cabang (selain jalan umum yang sering dilewati manusia-pen), saya heran kok dia bisa tahu jalan-jalan cabang tersebut ?! (ternyata dia melewati jalan-jalan kecil yang tidak dilewati orang banyak) karena takut manusia (mengenalnya dan) mengatakan, “Ini Ayyub” (Berkata Syaikh Abdul Malik Romadhoni: “Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad (7/249), dan Al-Fasawi dalam Al-Ma’rifah wa At-Tarikh (2/232), dan sanadnya shahih.” (Sittu Duror hal 46)).

Berkata Imam Ahmad: “Aku ingin tinggal di jalan-jalan di sela-sela gunung-gunung yang ada di Mekkah hingga aku tidak dikenal. Aku ditimpa musibah ketenaran”. (As-Siyar 11/210).

Imam Ahmad juga pernah berkata tatkala tahu bahwa manusia mendoakan beliau: “Aku mohon kepada Allah agar tidak menjadikan kita termasuk orang-orang yang riya”. (As-Siyar 11/211).

Pernah Imam Ahmad mengatakan kepada salah seorang muridnya (yang bernama Abu Bakar) tatkala sampai kepadanya kabar bahwa manusia memujinya: “Wahai Abu Bakar, jika seseorang mengetahui (aib-aib) dirinya maka tidak bermanfaat baginya pujian manusia”. (As-Siyar 11/211).

Berkata Hammad, “Pernah Ayyub membawaku ke jalan yang lebih jauh, maka akupun perkata padanya, “Jalan yang ini yang lebih dekat”, maka Ayyub menjawab: ”Saya menghindari majelis-majelis manusia (menghindari keramaian manusia-pen)”. Dan Ayyub jika memberi salam kepada manusia, mereka menjawab salamnya lebih dari kalau mereka menjawab salam selain Ayyub. Maka Ayyub berkata: ”Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa saya tidaklah menginginkan hal ini !, Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa saya tidaklah menginginkan hal ini!.” Berkata Syaikh Abdul Malik: ”Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d (7/248) dan Al-Fasawi (2/239), dan sanadnya shahih”. (Sittu Duror hal 47).

Berkata Abu Zur’ah Yahya bin Abi ‘Amr, “Ad-Dlohhak bin Qois keluar bersama manusia untuk sholat istisqo (sholat untuk minta hujan), namun hujan tak kunjung datang, dan mereka tidak melihat adanya awan. Maka beliau berkata: ”Dimana Yazid bin Al-Aswad?” (Dalam riwayat yang lain: Maka tidak seorangpun yang menjawabnya, kemudian dia berkata: ”Dimana Yazid bin Al-Aswad?, Aku tegaskan padanya jika dia mendengar perkataanku ini hendaknya dia berdiri”), maka berkata Yazid :”Saya di sini!”, berkata Ad-Dlohhak: ”Berdirilah!, mintalah kepada Allah agar menurunkan hujan bagi kami!”. Maka Yazid pun berdiri dan menundukan kepalanya diantara dua bahunya, dan menyingsingkan lengan banjunya lalu berdoa: ”Ya Allah, sesungguhnya para hambaMu memintaku untuk berdoa kepadaMu”. Lalu tidaklah dia berdoa kecuali tiga kali kecuali langsung turunlah hujan yang deras sekali, hingga hampir saja mereka tenggelam karenanya. Kemudian dia berkata: ”Ya Allah, sesungguhnya hal ini telah membuatku menjadi tersohor, maka istirahatkanlah aku dari ketenaran ini”, dan tidak berselang lama yaitu seminggu kemudian diapun meninggal.” (Lihat takhrij kisah ini secara terperinci dalam buku Sittu Duror karya Syaikh Abdul Malik Romadloni hal. 47).

Lihatlah wahai saudaraku, bagaimana Yazid Al-Aswad merasa tidak tentram dengan ketenarannya bahkan dia meminta kepada Allah agar mencabut nyawanya agar terhindar dari ketenarannya. Ketenaran di mata Yazid adalah sebuah penyakit yang berbahaya, yang dia harus menghindarinya walaupun dengan meninggalkan dunia ini. Allahu Akbar ! inilah akhlak salaf!

Bahkan Syaikh Abdul Qoyyum berkata, yang artinya, “Adapun orang-orang yang memerintahkan para pengikutnya atau rela para pengikutnya mencium tangannya lalu ia berkata bahwa ia adalah wali Allah maka ia adalah dajjal”. Namun banyak orang yang terbalik, mereka malah menjadikan ketenaran merupakan kenikmatan yang sungguh nikmat sehingga mereka berusaha untuk meraihnya dengan berbagai macam cara.

Riya itu Samar

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya:

“Sesungguhnya yang paling ditakutkan dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asy syirkul ashghar (syirik kecil), maka para shahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan asy syirkul ashghar? Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Ar Riya’.” (HR. Ahmad dari shahabat Mahmud bin Labid no. 27742)

Sungguh benar sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya riya itu samar sehingga terkadang menimpa seseorang padahal ia menyangka bahwa ia telah melakukan yang sebaik-baiknya. Dikisahkan bahwasanya ada seseorang yang selalu sholat berjama’ah di shaf yang pertama, namun pada suatu hari ia terlambat sehingga sholat di saf yang kedua, ia pun merasa malu kepada jama’ah yang lain yang melihatnya sholat di shaf yang kedua. Maka tatkala itu ia sadar bahwasanya selama ini senangnya hatinya, tenangnya hatinya tatkala sholat di shaf yang pertama adalah karena pandangan manusia. (Tazkiyatun Nufus hal 15).

Berkata Abu ‘Abdillah Al-Anthoki, “Fudhail bin ‘Iyadh bertemu dengan Sufyan Ats-Tsauri lalu mereka berdua saling mengingat (Allah) maka luluhlah hati Sufyan atau ia menangis. Kemudian Sufyan berkata kepada Fudhail, “Wahai Abu ‘Ali sesungguhnya aku sangat berharap majelis (pertemuan) kita ini rahmat dan berkah bagi kita”, lalu Fudhail berkata kepadanya, “Namun aku, wahai Abu Abdillah, takut jangan sampai majelis kita ini adalah suatu mejelis yang mencelakakan kita “, Sufyan berkata, “Kenapa wahai Abu Ali?”, Fudhail berkata, “Bukankah engkau telah memilih perkataanmu yang terbaik lalu engkau menyampaikannya kepadaku, dan akupun telah memilih perkataanku yang terbaik lalu aku sampaikan kepadamu, berarti engkau telah berhias untuk aku dan aku pun telah berhias untukmu”, lalu Sufyan pun menangis dengan lebih keras daripada tangisannya yang pertama dan berkata, “Engkau telah menghidupkan aku semoga Allah menghidupkanmu”. (Tarikh Ad-Dimasyq 48/404).

Perhatikanlah wahai saudaraku, sesungguhnya hanyalah orang-orang yang beruntung yang memperhatikan gerak-gerik hatinya, yang selalu memperhatikan niatnya. Terlalu banyak orang yang lalai dari hal ini kecuali yang diberi taufik oleh Allah. Orang-orang yang lalai akan memandang kebaikan-kebaikan mereka pada hari kiamat menjadi kejelekan-kejelekan, dan mereka itulah yang dimaksudkan oleh Allah dalam firman-Nya, yang artinya:

Dan (jelaslah) bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat dan mereka diliputi oleh pembalasan yang mereka dahulu selalu memperolok-olokkannya.” (QS. Az Zumar: 48).

Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfi: 104).

Pentingnya Ikhlash bagi Penuntut Ilmu

Berkata Al-Imam An-Nawawiy setelah membicarakan tentang keutamaan ilmu dan kedudukan ulama:

Ketahuilah bahwasanya apa-apa yang telah kami sebutkan dari keutamaan menuntut ilmu, hanyalah akan diperoleh bagi orang yang mencarinya dalam rangka mengharapkan Wajah Allah Ta’ala, bukan dalam rangka mencari dunia. Dan barangsiapa dalam menuntut ilmu dia mencari tujuan duniawi seperti harta, kepemimpinan, kedudukan, kemegahan, ketenaran, menarik perhatian manusia kepadanya atau ingin mendebat orang lain, atau yang sejenisnya maka ini semuanya tercela.” (Al-Majmuu’ 1/23)

Apabila seorang penuntut ilmu mendapatkan dalam dirinya kecenderungan kepada riya` dan senang untuk berbangga-bangga dengan ilmunya, maka wajib baginya untuk menyibukkan diri dengan memperbaiki niat, bersungguh-sungguh melatih jiwanya agar tetap di atas keikhlashan, menghilangkan was-was syaithan, berlindung diri dari kejahatan dan kejelekannya sampai niatnya kembali menjadi bersih dari berbagai kotoran riya dan yang lainnya, dan tertutuplah pintu-pintu masuk syaithan yang biasa menyusup dari sela-sela jiwa manusia.

Al-Khathib Al-Baghdadiy meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnus Simak bahwasanya dia berkata: Aku mendengar Sufyan Ats-Tsauriy berkata:

Tidaklah aku mengobati sesuatu yang lebih berat atas diriku daripada (memperbaiki) niatku, karena niat itu senantiasa berubah-ubah pada diriku.” (Al-Jaami’ li Akhlaaqir Raawiy wa Aadaabis Saami’ 1/317)

Al-Khathib juga meriwayatkan dari Bisyr Ibnul Harits bahwasanya beliau ketika berbicara lalu menyebutkan sanad hadits, maka beliau berkata:

Astaghfirullaah, sesungguhnya ketika menyebutkan sanad muncul perasaan bangga dan sombong dalam hatiku.” (Ibid. 1/338)

Dia takut masuknya perasaan sombong dan bangga ke dalam hatinya, ketika dia menyebutkan sanad dari para perawi dan guru-gurunya yang meriwayatkan dari mereka, lalu hal ini menjadi sebab munculnya riya`, maka diapun mengawasi bisikan-bisikan jiwanya lalu meminta ampun kepada Rabbnya.

Al-Khathib Al-Baghdadiy meriwayatkan juga dari ‘Ubaidullah bin Abi Ja’far bahwasanya beliau berkata:

Apabila seseorang ketika sedang berbicara di suatu majelis lalu pembicaraannya tersebut menjadikan dia ta’ajjub (kagum) maka hendaklah dia diam, dan sebaliknya apabila dia diam lalu diamnya tersebut menjadikan dia ta’ajjub maka hendaklah berbicara.” (Ibid. 1/338)

Beramal Terus Sambil Memperbaiki Niat

Sangatlah pantas bagi kita untuk memperhatikan permasalahan ini yaitu terhadap pintu-pintu masuknya syaithan yang selalu berusaha menggoda manusia, yang wajib bagi para penuntut ilmu mewaspadainya.

Yang dimaksud pintu syaithan di sini adalah godaan dan tipuannya syaithan yang menjadikan permasalahan riya` dan rasa takut darinya sebagai senjata untuk menghalangi seorang penuntut ilmu dari tujuannya (sehingga tidak lagi menuntut ilmu karena takut riya`), dan menghalangi seorang yang alim dari majelis ilmu (sehingga tidak lagi mengajarkan ilmunya karena takut riya`), menghalangi seorang da’i dan pemberi nasehat dari pelajaran-pelajarannya, dengan alasan bahwasanya manusia akan kagum dengan pembicaraannya dan hal ini mengantarkan kepada riya` atau karena semata-mata didapati dalam dirinya ada kecenderungan kepada bisikan-bisikan riya` dan senang dengan kagumnya manusia dan pujian mereka kepadanya.

Sungguh para ulama telah membedakan antara riya` yang merupakan tujuan dan pendorong atas suatu amalan dengan keadaan seorang muslim yang telah menyempurnakan amalannya dengan ikhlash kemudian dia mendapati sebagian kesenangan pada dirinya dari pujian manusia atasnya setelah dia menyelesaikan amalannya tersebut, maka hal ini tidaklah mengurangi hakikat keikhlashannya insya Allah. (Mukhtashar Minhaajil Qaashidiin hal.221)

Al-Imam Muslim telah meriwayatkan dalam Shahihnya dari Abu Dzarr, dia berkata: Dikatakan kepada Rasulullah: “Apakah pendapat engkau terhadap seseorang yang melakukan suatu amalan kebaikan dan manusia memujinya?” Maka beliau menjawab: “Itulah balasan kebaikan yang disegerakan sebagai kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.”

Sebagaimana para ulama juga telah memberitahukan bahwasanya selayaknya bagi seorang penuntut ilmu agar jangan meninggalkan jalan menuju ilmu apabila dia mendapatkan dalam dirinya ada sesuatu dari riya`, akan tetapi yang harus dia lakukan adalah menyibukkan diri dengan memperbaiki niatnya dengan tetap meneruskan menuntut ilmu dan menyebarkan ilmu serta mengajarkannya kepada orang lain.

Berkata Al-Imam An-Nawawiy: “Tidak Selayaknya bagi seorang yang berilmu untuk tidak mengajarkan ilmunya kepada seseorang dengan alasan karena niat orang yang belajar tersebut belum benar, karena sesungguhnya dia masih diharapkan agar baik niatnya. Dan terkadang dirasakan berat oleh kebanyakan para pemula dari kalangan para penuntut ilmu masalah perbaikan niat karena lemahnya jiwa-jiwa mereka dan sedikitnya kesenangan mereka terhadap kewajiban memperbaiki niat.

Karena menghalangi atau mencegah dari mengajari mereka akan mengantarkan kepada terluputnya ilmu yang banyak, bersamaan dengan itu masih diharapkan perbaikannya dengan adanya barakah ilmu apabila dia senang ilmu. Dan sungguh para ulama salaf mengatakan: “Kami dulunya menuntut ilmu bukan karena Allah, maka ilmu itupun enggan kecuali agar dicari dalam rangka karena Allah semata.” Artinya akibat terakhirnya adalah jadilah menuntut ilmunya itu karena Allah semata.” (Al-Majmuu’ 1/30)

Hal itu juga sebagaimana diterangkan oleh Al-Imam Ibnul Jauziy, di mana beliau mengatakan:
“Sungguh Iblis telah memberikan tipu dayanya kepada seorang pemberi nasehat yang ikhlash, maka Iblispun berkata kepadanya: “Orang sepertimu tidaklah memberi nasehat dan akan tetapi kamu hanya pura-pura memberi nasehat.” Akhirnya diapun diam dan berhenti dari memberi nasehat. Itulah di antara makar Iblis, karena dia menginginkan menghalangi perbuatan yang baik…. Iblispun juga berkata: “Sesungguhnya kamu ingin bernikmat-nikmat dengan apa yang kamu sampaikan dan kamu akan mendapatkan kesenangan karena hal itu, dan kadang-kadang akan muncul perasaan riya` pada ucapanmu, dan menyendiri itu lebih selamat.” Maksud dari perkataan ini adalah menghalangi dari berbagai kebaikan”. (Talbiisu Ibliis hal.125)

Luruskan Niat dalam Menuntut Ilmu!

Mari kita akhiri dengan wasiat Abu Hamid (beliau di akhir hidupnya bertaubat dan kembali ke manhaj salaf, yang sebelumnya bermanhaj shufi) di mana beliau mengingatkan para penuntut ilmu akan wajibnya mengawasi dan memperhatikan jiwanya dan agar selalu bertanya kepadanya apa pendorong dalam mencari ilmu dan kesabarannya dalam menghadapi kesulitan-kesulitan menuntut ilmu:

Berapa malam kamu bangun untuk mengulang ilmu dan mentelaah kitab-kitab dan kamu mengharamkan dirimu untuk tidur, aku tidak tahu apa yang mendorongmu melakukan semuanya itu? Apabila niatmu mencari bagian dari dunia, perhiasannya dan kedudukan-kedudukan di dunia, serta ingin berbangga-bangga dengan teman-teman setingkatmu, maka kecelakaanlah bagimu kemudian kecelakaanlah bagimu. Dan apabila tujuanmu dalam mencari ilmu adalah dalam rangka menghidupkan syari’atnya Nabi dan mendidik akhlakmu serta mengikis habis nafsu yang cenderung kepada kejelekan, maka kebahagiaanlah bagimu kemudian kebahagiaanlah bagimu.” (Ayyuhal Walad hal.105-106)

Wallaahu A’lam Bish Showwab

Semoga shalawat dan salam senantiasa Allah limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya radiyallahu anhum ajmain dan orang-orang yang mengikuti beliau hingga akhir zaman.

Maha Suci Engkau Ya Allah, dan dengan memuji-Mu, saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau, saya memohon ampun dan aku bertaubat kepada-Mu.

Melbourne, 05 Jumadil Akhir 1430 H
Yang senantiasa mengharapkan ampunan, rahmat dan ridho-Nya,
Abul Zuhriy Rikiy Dzulkifli bin Iwan Al-Ghorontaliy

Sumber:

1. Yayasan Forum Dakwah Ahlussunnah Wal Jama’ah
Edisi ke-24 Tahun ke-3 / 13 Mei 2005 M / 04 Rabi’uts Tsani 1426 H
Judul Artikel: Ikhlash, Betapa Sulitnya…
url: http://fdawj.atspace.org/awwb/th3/24.htm

2. Buletin Al Ilmu
Rabu, 16-Januari-2008
Judul Artikel: Bahaya Riya dan Pengobatannya

3. Ustadz Firanda
Judul Artikel: Ikhlas dan Bahaya Riya
url: http://muslim.or.id/?p=190 dan http://alatsari.wordpress.com/2009/01/27/ikhlas-dan-bahaya-riya/

4. Al Wajiz
Judul artikel: Niat (adalah) Syarat Bagi Seluruh Amal
url:http://alwajiz.wordpress.com/2007/02/28/niat-adalah-syarat-bagi-seluruh-amal/#more-48

http://abuzuhriy.com/mulailah-segala-sesuatu-dengan-niat/

Posted by: peribadirasulullah | Januari 10, 2014

Mencari Ilmu yang Allah SWT redhai disaat peluang masih terbuka

http://peribadirasulullah.files.wordpress.com/2014/01/92a16-013.jpg?w=394&h=213

Ketahuilah, wahai saudaraku… Bahwa bermanfaat atau tidaknya ilmu seseorang pada dirinya sendiri, dilihat dari KUALITAS AMALAN hati dan anggota badannya…

Allah berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

(Faathir: 28)

Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِن قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا . وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِن كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا . وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا

Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi”. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.

(al Isra’ 107-109)

Berkata ‘Aliy bin Abi Thaalib radhiyallahu ‘anhu:

“Seorang yang benar-benar faqih adalah yang tidak membuat manusia putus asa dari rahmat Allah, tidak memberi mereka rukhshah (keringanan) hingga tergelincir pada kemaksiatan kepada Allah, tidak membuat mereka merasa aman dari adzab Allah, dan tidak meninggalkan Al Qur`an karena membencinya (kemudian) beralih ke lainnya.

Sesungguhnya tiada kebaikan dalam ibadah tanpa didasari ilmu padanya, tiada kebaikan ilmu yang tanpa adanya kepahaman (yang benar) padanya, serta tiada kebaikan pada bacaan (al qur-aan) yang tiada tadabbur (usaha melakukan perenungan) padanya”.

Berkata Mujahid rahimahullah, beliau adalah ahli tafsir dikalangan tabi’in:

“Seorang yang faqiih (mendalam ilmunya) hanyalah yang takut kepada Allah”.

Imam ad Daarimiy dalam muqaddimah sunan-nya berkata:

“Baab: Ilmu adalah takut dan taqwa kepada Allah”

(Lihat sunan ad daarimiy)

Abdul A’la At Taimi rahimahullah berkata:

‘Barangsiapa yang dianugerahi ilmu, tapi ilmunya tidak membuatnya menangis kepada Allah, berarti ia mendapatkan ilmu yang tidak bermanfaat… karena Allah mensifati para ulama, (kemudian ia membaca -Qs. Al Isra`: 107-109 diatas)”

(atsar riwayat ad daarimiy)

Al Hasan al bashriy berkata:

‘Jika seorang lelaki serius mencari ilmu, maka pengaruhnya senantiasa nampak pada pandangan (matanya), kekhusyu’an, lisan, tangan, shalat dan kezuhudannya.’

(ad-Darimiy)

beliau juga berkkata:

“Ilmu itu ada dua, yaitu ilmu dalam hati, itulah ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang ada di lisan, itulah hujjah Allah atas Ibnu Adam (manusia) “.

(ad-Darimiy)

Maka bermanfaat atau tidaknya ilmu seseorang, tergantung seberapa besar ilmu yang dimilikinya, yang diserap dalam hatinya…

Apabila ilmunya banyak, tapi yang diserap hatinya hanya sedikit; maka yang dinilai “ilmu” atau “hakikat ilmu” yang dimilikinya hanyalah ilmu yang diserap hatinya tersebut..

Karena apabila ilmu tersebut diserap hatinya, maka akan berdampak pada anggota badannya.. kalaupun anggota badannya menyelisihi apa yang ada dalam hatinya, paling tidak hatinya mengingkari apa yang diperbuat anggota badannya..

Contoh:

Seseorang yang BERILMU bahwa memandang ajnabiyyah (wanita non mahram) adalah haram, dan BERILMU bahwa tindakan tersebut termasuk larangan Allah “janganlah engkau mendekati zina”, atau bahkan disebut “zina mata” oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam..

Maka semakin sempurna ilmunya akan hal ini, maka hatinya akan semakin membenci perbuatan tersebut, dan juga anggota badannya –jangankan mengamalkan– terhadap sarana-sarana yang menyebabkan terjatuh kedalamnya pun ia menjauhkan diri.. Inilah orang yang sempurna keilmuannya dalam hal ini..

Tapi ada yang berilmu tentang hal ini, akan tetapi hatinya tidak menyerap ilmu ini KECUALI SEDIKIT.. Dalam artian, ada sedikit yang diserap hatinya tentang ilmu ini.. Oleh karenanya, walaupun ia TAHU hal ini haram, namun ia mendapati dirinya jatuh kedalam perkara yang ia ketahui haram tersebut.. hal ini disebabkan lemahnya ilmu yang ada dalam dirinya.. karena sedikitnya ilmu yang diserap hatinya..

Tapi tahukah kita? bahwa SEDIKITnya ilmu yang ada dalam hatinya ini masih bermanfaat baginya.. apa manfaatnya? yaitu hatinya MASIH MENGINGKARI apa yang ia perbuat… didalam hatinya ia TAHU HAL INI HARAM.. hanya saja ia mengikuti hawa nafsunya, sehingga menyelisihi apa yang diingkari hatinya…

Disinilah pentingnya ilmu… lihatlah para pengikut hawa nafsu yang BODOH, yang jauh dari ilmu.. ketika mereka berbuat suatu maksiat, yang mereka tidak tahu bahwa itu adalah maksiat.. adakah hati mereka mengingkari? tidak.. karena TIDAK ADANYA ILMU didalam hatinya.. kalaulah ia TAHU, dan ilmu tersebut terserap kedalam hatinya, maka PASTI hati tersebut akan mengingkari perbuatannya..

Benarlah perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhumaa:

“Celakalah orang yang tidak memiliki hati yang dapat mengenal perkara ma’ruf dan mungkar.”

Itulah yang membedakan PENGIKUT HAWA NAFSU dan PENYEMBAH HAWA NAFSU.. tidak setiap pengikut hawa nafsu itu penyembah hawa nafsu.. karena diantara pengikut hawa nafsu, mereka didalam hatinya masih terdapat keimanan, meskipun sangat sangat kecil, sehingga hatinya masih ingkar terhadap apa yang ia perbuat.. Tapi penyembah hawa nafsu, meskipun akal mereka tahu bahwa ini ma’ruf dan ini mungkar, tapi hati mereka tidak meridhai (membenci) yang ma’ruf serta tidak mengingkari yang mungkar, bahkan mencintainya..

Maka alangkah sangat tercela, orang-orang yang TAHU akan sebuah ilmu, akan tetapi TIDAK ADA SEDIKITPUN ilmu yang terserap dalam hatinya… ia sudah TAHU, tapi HATInya sama sekali tidak menyerapnya.. sehingga ketika ia bermaksiat, dan ia tahu itu melakukan maksiat, tapi hatinya tidak mengingkari.. Maka itulah hati yang sudah tidak ada lagi iman didalamnya..

dari Abu Ad Darda’ radhiyallaahu ‘anhu dia berkata; Ketika kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau menengadahkan pandangannya ke langit kemudian berkata;

هَذَا أَوَانُ يُخْتَلَسُ الْعِلْمُ مِنْ النَّاسِ حَتَّى لَا يَقْدِرُوا مِنْهُ عَلَى شَيْءٍ

“Inilah saatnya ilmu dicabut dari manusia sehingga mereka tidak mampu mengetahui darinya sama sekali”,

Maka Ziyad bin Labid Al Anshari bertanya;

‘Bagaimana ilmu dicabut dari kami, padahal kami membaca Al Qur’an? Demi Allah, kami pasti akan membacanya dan membacakannya kepada istri-istri dan anak-anak kami.’

—dalam riwayat lain, riwayat ibn maajah–

“Wahai Rasulullah, bagaimana ilmu bisa hilang? Sedangkan kami masih membaca Al Qur’an dan kami juga membacakannya (mengajarkannya) kepada anak-anak kami, dan anak-anak kami juga akan membacakannya kepada keturunannya sampai hari kiamat datang.”

–selesai petikan–

Maka beliau berkata:

ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا زِيَادُ إِنْ كُنْتُ لَأَعُدُّكَ مِنْ فُقَهَاءِ أَهْلِ الْمَدِينَةِ هَذِهِ التَّوْرَاةُ وَالْإِنْجِيلُ عِنْدَ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى فَمَاذَا تُغْنِي عَنْهُمْ

“alangkah malangnya dirimu wahai Ziyad, sesungguhnya aku menganggapmu termasuk orang yang faqih di Madinah, inilah kitab Taurat dan Injil milik Yahudi dan Nashrani maka apakah bermanfaat bagi mereka?!”

—dalam riwayat ibn maajah disebutkan–

ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ زِيَادُ إِنْ كُنْتُ لَأَرَاكَ مِنْ أَفْقَهِ رَجُلٍ بِالْمَدِينَةِ

“alangkah malangnya dirimu wahai Ziyad, padahal aku melihatmu adalah orang yang paling memahami agama di Madinah ini!”

أَوَلَيْسَ هَذِهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى يَقْرَءُونَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ لَا يَعْمَلُونَ بِشَيْءٍ مِمَّا فِيهِمَا

“Bukankah orang-orang Yahudi dan Nashrani juga membaca Taurat dan Injil, namun mereka tidak mengamalkan sedikitpun apa yang terkandung di dalamnya.”

(HR Tirmidziy, Ibnu Maajah, dan selainnya; dishahiihkan oleh Syaikh al-albaaniy dalam shahiih at tirmidziy)

Demikianlah Yahudi dan Nashara, mereka membaca taurat dan injil, tapi bacaan mereka tidaklah memberi manfaat sedikitpun pada mereka.

Allah berfirman tentang mereka:

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.

(Al-Jumu’ah: 5)

Keledai itu adalah binatang yang sangat bodoh, ia memikul sesuatu, dan ia sendiri tidak tahu tentang apa yang dipikulnya. Maka dalam ayat diatas, Allah mencela orang-orang yahudi yang memikul kitab yang Allah berikan kepada mereka, mereka membacanya, tapi mereka tidak memahami apa yang ada didalamnya… Mereka ini pada hakikatnya lebih jelek daripada keledai, keledai memang tidak memiliki akal, akan tetapi mereka Allah berikan akal dan hati, namun mereka tidak menggunakannya..

Dalam ayat lain, Allah berfirman tentang ahli kitab:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.

(Al-Hadid: 16)

Akan tetapi secara kenyataan sebagian -bahkan kebanyakan- kaum muslimin mengikuti jejak ahli kitab ini…

Bahkan disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam tentang sifat-sifat orang yang sesat dalam umat ini (khususnya khawarij) :

لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُوْنَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ

Mereka membaca Al Qur’an, tapi tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka melesat (keluar) dari (batas-batas) agama seperti melesatnya anak panah menembus binatang buruannya.

(HR Bukhariy dan Muslim)

Dalam riwayat lain:

يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ يَحْسِبُونَ أَنَّهُ لَهُمْ وَهُوَ عَلَيْهِمْ

Mereka membaca Al Qur`an dan mereka menyangka bahwa Al Qur`an itu adalah (hujjah) bagi mereka, namun ternyata Al Qur`an itu adalah (bencana) atas mereka.

(HR. Muslim)

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata :

“Imam An Nawawi berkata : “Yang dimaksud adalah mereka tidak mendapat bagian kecuali hanya melewati lidah mereka saja dan tidak sampai kepada kerongkongan mereka, terlebih lagi hati-hati mereka.

Padahal yang dimaukan adalah mentadabburinya [memperhatikan, memahaminya dengan pemahaman yang benar (pemahaman shahabat)], dan merenungkannya dengan teliti agar sampai ke hati”.”

(Fathul Bari : 12/293)

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,

“Oleh karena itu, Ahli Qur’an adalah orang-orang yang memahaminya, dan mengamalkan apa yang ada di dalamnya sekalipun mereka tidak menghapalnya di luar kepala.

Adapun orang yang hapal tapi tidak memahaminya dan tidak mengamalkan isinya, maka ia tidak termasuk Ahli Qur’an, sekalipun ia menegakkan hurufnya seperti meluruskan anak panah.

adapun sebatas membaca tanpa pemahaman dan tadabbur, itu dilakukan oleh orang yang baik, yang fajir, yang mukmin maupun orang munafik”.

(Kitab, Adh-Dhow-ul Munir ‘ala At Tafsir : 1/13, 14)

Semoga bermanfaat

http://abuzuhriy.com/memetik-manfaat-dari-ilmu-yang-kita-miliki/

Posted by: peribadirasulullah | Januari 9, 2014

Dimana Allah SWT, Tuhan yangku sembah ?

http://peribadirasulullah.files.wordpress.com/2014/01/5c170-d8a7d984d984d987.jpg?w=393&h=294

Pada kesempatan kali ini, kami angkat sebuah topik permasalahan yang klasik dan kontemporer, yaitu mengenal “Dimana Allah?”, Karena di sana banyak kita dapati di antara masyarakat yang menyimpang dalam aqidah (keyakinan) yang agung, prinsip Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan para shahabat -Ridhwanullah ‘alaihim ‘ajmain-, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Kita mendapati di antara kaum muslimin di zaman ini, bermacam-macam keyakinannya atas pertanyaan “Dimana Allah?”. Di antaranya ada yang berkeyakinan bahwa:

1. Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berada di hati,
2. bahwa Allah itu berada dimana-mana,
3. bahwa Allah itu lebih dekat dari urat leher,
4. bahwa Allah -Subhanahu wa Ta’ala- bersatu dengan hamba-Nya,
5. Lebih parah lagi, ada juga yang berkeyakinan bahwa, Allah itu tidak di kanan, tidak di kiri, tidak diatas, tidak di bawah, tidak di depan, dan tidak pula di belakang.

Sungguh ini adalah pernyataan yang sangat lucu. Lantas dimana Allah?!

Padahal kalau kita mau mengikuti fitrah kita yang suci, sebagaimana fitrahnya anak yang masih kecil, pemikiran mereka yang masih polos, seperti putihnya kertas yang belum ternodai dengan tinta. Kita akan dapati jawaban dari lisan-lisan kecil mereka, jikalau mereka ditanya, “Dimana Allah?” Mereka akan menjawab, “Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berada di atas langit.”

Allåh Berada diatas langit dan Bersemayam diatas ‘Arsy

Hadits yang diriwayatkan oleh Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Salami menceritakan ketika beliau hendak membebaskan (Jariah) hamba perempuannya, maka beliau bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. kemudian beliau (Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam) menyuruh agar hamba tersebut dipanggil.

Kemudian beliau bersabda:


أَيْنَ اللَّهُ ؟

Di manakah Allah?

قَالَتْ: فِي السَّمَاءِ

Dia (jariah) menjawab: Di Langit

قَالَ: مَنْ أَنَا ؟

Beliau bersabda: Siapa aku?

قَالَتْ: أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ

Jawab Jariah: Engkau Rasulullah

قَالَ : أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ

(Lalu) beliau bersabda: Merdekakan dia karena dia adalah (seorang) Mukminah.

Nota :Melalui 2 klip video di atas kita akan lebih kagum kekuasaan Allah SWT dan kuasa pemerintahanNya.

Inilah kelebihan yang Allah SWT kurniakan khusus kepada umat Muhammad SAW-Alhamdulillah.

Takhrij hadits

- Muslim bin Hajjaj dalam Sahih Muslim, no: 537.
– Malik bin Anas dalam al-Muwattha’, no: 1468.
– Abu Daud al-Tayalisi dalam al-Musnad, no: 1105.
– Muhammad bin Idris as-Syafi’i dalam al-Umm, no: 242.
– ‘Abd al-Razzaq dalam al-Musannaf, no: 16851.
– Ibn Abi Syaibah dalam al-Musannaf, no 30333.
– Ahmad bin Hanbal dalam al-Musannaf, no: 7906, 23762, 23765 & 23767.
– Abu Daud al-Sajastani dalam Sunan Abu Daud, no: 930 & 3282.
– Ibn Qutaibah dalam Ta’wil Mukhtalaf al-hadits, no: 272.
– ‘Utsman bin Sa’id al-Darimi dalam al-Rad ‘ala al-Jahmiyyah, no: 62.
– al-Harith bin Abi Usamah dalam al-Musnad, no: 015.
-’Amr bin Abi ‘Ashim al-Shaibani dalam al-Sunnah Li Ibn Abi ‘Ashim, no: 489.
– an-Nasai dalam Sunan al-Nasai, no: 1142, 7708, 8535 & 11401.
– Ibn Jarud dalam al-Muntaqa, no: 212.
– Ibn Khuzaimah dalam Kitab al-Tauhid wa Itsbat Sifat al-Rabb ‘Azza wa Jalla, no: 178, 179, 180, 181 & 182.
– Abi ‘Uwanah dalam al-Musnad, no: 1727 & 1728.
– Abu al-Husain ‘Abd al-Baqi’ dalam al-Mu’jam al-Sahabah, 735.
– Ibn Hibban dalam Sahih Ibn Hibban, no: 165 & 2247.
– al-Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir, no: 937 & 938.
– Muhammad bin Ishaq bin Manduh dalam al-Iman, no: 091.
– al-Lalaka’I dalam Syarah Usul I’tiqad Ahl al-Sunnah, no: 652.
– Abu Nu’aim al-Asbahani dalam al-Musnad al-Mustakhraj ‘ala Sahih Imam Muslim, no: 1183.
– Ibn Hazm dalam al-Muhalla, no: 1664.
– al-Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubra, no: 15266, 15268, 19984 & 19985.
– ‘Abd Allah bin Muhammad bin ‘Ali al-Harawi dalam al-’Arba’in fi Dalail al-Tauhid, no: 011.

Derajat Hadits

Hadits di atas adalah SAHIH. Imam Muslim telah memasukkan hadits ini kedalam kitab Sahihnya.

Bahkan sangat masyhur karena banyaknya yang meriwayatkan hadits ini, seperti yang kita lihat pada takhrij di atas. Ada sebahagian golongan yang sangat anti kepada dakwah ahlus-sunnah as-salafiyyah, yang bahkan mengatas namakan diri mereka ahlus sunnah, dan memang ‘kelihatannya’ berhujah berlandaskan al-Quran dan Sunnah, tapi jika kita hadapkan dengan kasus ini, terbuktilah apa-apa yang mereka bawa (dalil-dalil) itu hanyalah untuk mereka sesuaikan menurut akal dan hawa nafsu mereka semata, karena mereka ingkar aqidah para salaf bahwa Allah di atas ‘Arasy.

Orang-orang yang mempertahankan aqidah “Allåh wujud bi la makan” (yang artinya “Allåh ada, tidak bertempat”; tidak di atas, tidak dibawah, tidak di depan, tidak di belakang, tidak di dalam dan tidak di luar”), telah ingkar dengan hadits di atas, bahkan sampai menjatuhkan derajatnya kepada dha’if semata-mata ingin membenarkan hujjah mereka. Kemudian mereka mencerca ulama hadits yang tidak bersalah dengan tuduhan yang tidak berasas.

Adapun para Salafush Sholeh, mereka tidak pernah pun mentakwil ataupun menukar (tahrif) makna hadits ini. hadits ini juga menunjukkan, bahwa tidak salah jika kita berkata “Allah itu di atas langit” karena memang Allah itu di atas langit, karena Allåh berada diatas ‘Arasy dan ‘Arasy itu sendiri berada di atas langit.

Aqidah ini telah dijelaskan dalam Kitabullah, As-Sunnah, ijma’, dan komentar para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam kitab-kitab mereka. Mereka sudah patenkan (tetapkan) bahwa barangsiapa yang menyelisihinya, maka ia adalah ahli bid’ah, dan menyimpang.

Komentar ‘ulama tentang hadits ini

al-Haafizh Adz Dzahabi Råhimahullåh mengatakan,

“Inilah pendapat kami bahwa siapa saja yang ditanyakan di mana Allah, maka akan dibayangkan dengan fitrohnya bahwa Allah di atas langit. Jadi dalam riwayat ini ada dua permasalahan:

[1] Diperbolehkannya seseorang menanyakan, “Di manakah Allah?”

dan [2] Orang yang ditanya harus menjawab, “Di atas langit”.”

Kemudian beliau mengatakan,

“Barangsiapa mengingkari dua permasalahan ini berarti dia telah menyalahkan Musthofa (Nabi Muhammad) shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Dalil-dalil lain dari Al-qur’an dan As-sunnah ash-shåhihah

Dalil-dalil masalah ini sangatlah banyak dari Al-Qur’an, dan As-Sunnah. Berikut ini kami akan sebutkan -insya’ Allah- beberapa di antaranya saja, dan sebenarnya tidak terbatas.

Dalil-dalil dari al-qur’an

1. Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,


الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

Råbb yang Maha Pemurah beristiwa (bersemayam) di atas ‘Arasy. [QS. Taha: 5]

2. Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,


إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي

“Sesungguhnya Råbb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia beristiwa (bersemayam) di atas `Arsy.” (QS. Al A’raf: 54)

3. Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,


اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia beristiwa di atas `Arsy untuk mengatur segala urusan.” (QS. Yunus: 3)

4. Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,


إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ

“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia beristiwa (bersemayam) di atas `Arsy.” (QS. Ar Ra’d: 2)

5. Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,


الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ

“Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia beristiwa (bersemayam) di atas Arsy.” (QS. Al-Furqon: 59)

6. Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,


اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ

“Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia beristiwa (bersemayam) di atas `arsy.” (QS. As-Sajadah: 4)

7. Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,


هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia beristiwa (bersemayam) di atas ‘Arsy (al-Hadiyd:4)

Berkata al-Haafizh Ibn Katsir ASY-SYAFI’I Rahimahullah:

وأما قوله تعالى: ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ فللناس في هذا المقام مقالات كثيرة جدا، ليس هذا موضع بسطها، وإنما يُسلك في هذا المقام مذهب السلف الصالح: مالك، والأوزاعي، والثوري،والليث بن سعد، والشافعي، وأحمد بن حنبل، وإسحاق بن راهويه وغيرهم، من أئمة المسلمين قديما وحديثا، وهو إمرارها كما جاءت من غير تكييف ولا تشبيه ولا تعطيل

“Dan adapun FirmanNya Ta’ala: “Kemudian Dia Beristiwa (bersemayam) diatas ‘Arsy”, maka bagi manusia pada masalah ini pendapat yang banyak dan bukanlah di sini tempat membahasnya dan sesungguhnya hendaklah diikuti dalam masalah ini madzhab As-Salaf Ash-Shålih: Malik, Auza’i, As-Tsaury, Al-Laith bin Saad, Asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahuwaih, dan selainnya daripada imam-imam muslimin dahulu dan sekarang yaitu menetapkan dan memahaminya sebagaimana datangnya tanpa takyif (memberi rupa), dan tidak pula tsaybih (penyerupaan), dan tidak pula ta’thil (membatalkan sifat)….”

[Lihat Tafsir Ibnu Katsir (2/221)]

Ibn ‘Abd al-Barr menjelaskan tentang hadits ini:

“Dan adapun hadits jariah: Di manakah Allah? Maka menjadi pegangan atasnya oleh jama’ah ahli sunnah dan mereka-mereka juga adalah ahli hadits dan seluruh perawi yang memahaminya, mereka semua berkata sebagaimana firman Allah dalam kitabnya: “ar-Rahman Bersemayam di atas ‘Arsy.” Dan bahwa sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla di langit dan Ilmu-Nya pada setiap tempat.”

[Al-Istizkar: al-Jamii’ li mazhab Fuqaha al-Ansor wa ‘Ulama al-Aqtar]

Al-Hafizh Al-Baihaqy-rahimahullah- berkata,

“Ayat-ayat itu merupakan dalil yang membatalkan pendapat orang Jahmiyyah yang menyatakan bahwa Dzat Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berada dimana-mana.”

[Al-I’tiqod (1/114)]

Dalil-dalil dalam permasalahan ini banyak sekali, jika kita ingin memeriksa Al-Qur’an, As-Sunnah, dan atsar para salaf. Oleh karena itu, Ibnu Abil Izz Al-Hanafiy -rahimahullah- berkata,

“Dalil-dalil yang semisal dengannya,kalau seandainnya dihitung satu-persatu, maka akan mencapai ribuan dalil”

[Syarh Al-Aqidah Ath-Thohawiyyah (288)]

Dalil-dalil lain dari as-sunnah

Sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-:

لمَاَّ خَلَقَ اَللهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِيْ كِتَابِهِ فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ إِنَّ رَحْمَتِيْ غَلَبَتْ غَضَبِيْ

“Ketika Allah -Subhanahu wa Ta’ala- menciptakan makhluk-Nya, Allah -Subhanahu wa Ta’ala- menuliskan di dalam kitab-NYa (Lauh Mahfudz) yang ada di sisi-Nya diatas Arsy (singgasana) ‘Sesungguhnya rahmat Allah mendahului kemurkaan-Nya.”

[HR. Al-Bukhary dalam Shohih-nya (3022, 6969, dan 6986), dan Muslim dalam Shohih-nya (2751)]

Dari Abu Sa’id Al-Khudri Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

أَلاَ تَأْمَنُوْنَنِيْ وَأَنَا أَمِيْنُ مَنْ فِيْ السَّمَاءِ يَأْتِيْنِيْ خَبَرُ السَّمَاءِ صَبَاحًا وَمَسَاءً

“Tidakkah kalian percaya kepadaku? Sementara aku dalam keadaan beriman kepada Yang dilangit. Datang kepadaku berita dari langit di waktu pagi hari dan petang….”

[HR. Al-Bukhary dalam Shohih-nya (4094), Muslim dalam Shohih-nya (1064)]

Al-Qurthuby -rahimahullah- berkata,

“Tidak ada seorang salaf pun yang mengingkari bahwa Allah bersemayam di atas Arsy-Nya secara hakiki. Arsy dikhususkan karena ia merupakan makhluk Allah yang terbesar. Para salaf tidak (berusaha) mengetahui cara (kaifiyyah) Allah bersemayam, karena sifat bersemayam itu tidak bisa diketahui hakekatnya. Imam Malik -rahimahullah- berkata : [‘Sifat bersemayam itu diketahui maknanya secara bahasa, tidak boleh ditanyakan cara Allah bersemayam, dan pertanyaan tentang cara Allah bersemayam merupakan bid’ah dan ajaran baru.”

[Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an (7/219]

Jadi, madzhab Ahlis Sunnah menyatakan bahwa Allah bersemayam di atas Arsy, namun ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Adapun aqidah yang menyatakan bahwa Allah berada dimana-mana, bukanlah merupakan aqidah Ahlis Sunnah, akan tetapi merupakan aqidah ahli bid’ah yang baathil berdasarkan ayat-ayat yang menyebutkan bahwa Allah di atas Arsy beserta keterangan Ulama Ahlis Sunnah yang telah kami sebutkan, dan berikut tambahan keterangan dalam masalah ini:

Al-Hafizh Abu Umar Ibnu Abdil Barr -rahimahullah-,

“Di dalamnya terdapat dalil yang menunjukkan bahwa Allah Azza wa Jalla berada di atas Arsy, di atas langit ketujuh sebagaimana yang ditegaskan oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Itu juga merupakan hujjah mereka terhadap orang-orang Mu’tazilah yang berkata: “[Allah berada di mana-mana, bukan di atas Arsy]”.

Dalil yang mendukung kebenaran madzhab Ahlul Haq/Ahlis Sunnah dalam hal ini adalah firman Allah Azza wa Jalla:

“Ar-Rahman bersemayam di atas Arsy” dan firman-Nya Azza wa Jalla: “ Kemudian Dia bersemayam di atas Arsy…”.

[At-Tamhid (7/129)]

Imam Al-Qurthuby-rahimahullah- berkata:

“Jahmiyyah terbagi menjadi 12 kelompok … (di antaranya) Al-Multaziqoh, mereka menganggap bahwa Allah berada di mana-mana …”.

[Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an (4/162)]

Shodaqoh -rahimahullah- berkata,

“Saya mendengar At-Taimy berkata, “Andaikan aku ditanya: Dimana Allah Tabaraka wa Ta’ala?, niscaya aku akan jawab: Dia di langit.”

[Lihat Syarah I’tiqod Ahlis Sunnah (3/401/671)]

Pernyataan Imam yang Empat Mengenai Sifat-sifat Allåh

1. IMAM ABU HANIFAH

Imam Abu Hanifah berkata:

“Tidak patut bagi seseorang untuk mengatakan sesuatu tentang Dzat Allah kecuali kepada diriNya, dan tidak boleh seseorang mengatakan sesuatu tentang Allah dengan pendapat (ra’yu)nya. Maha Suci serta Maha Tinggi Allah Ta’ala, Rabb semesta Alam.”

(Syarhul Aqidah at-Tahawiyah (2/472), tahqiq Dr. At-Turky, Jalaulm’Ainain, hal. 368)

Ketika Imam Abu Hanifah ditanya tentang nuzulul Ilah (Turunnya Allah), ia menjawab:

“Ia Turun dengan tidak kita menanyakan bagaimana (kaifiatnya) caranya.”

(Aqidatus salaf Ashabil hadits, hal. 42, al-Asma’ Was Sifat oleh al-Baihaqi, hal. 456)

Imam Abu Hanifah berkata lagi:

“Barangsiapa yang berkata: “Aku tidak tahu Rabbku, di langit atau di bumi?” berarti ia kafir. Begitu juga seseorang menjadi kafir apabila mengatakan bahwa Allah itu di atas ‘Arasy, tetapi aku tidak tahu adakah ‘Arasy itu di langit atau di bumi.”

(al-Fiqhul Absath, hal. 46)

Imam Abu Hanifah berkata kepada seseorang wanita yang bertanya: “Dimanakah Ilahmu yang engkau sembah itu?” Ia menjawab:

“Sesungguhnya Allah itu ada di langit bukan di bumi.”

Lalu datanglah seorang pemuda mengajukan pertanyaan: “Bagaimana dengan ayat (yang artinya) “Dia bersama kamu dimana kamu berada.” (QS. al-Hadid: 4).

Imam Abu Hanifah menjawab:

“Dia seperti engkau menulis surat kepada seorang lelaki dengan mengatakan, sesungguhnya aku selalu bersamamu, padahal engkau tidak ada di sampingnya.”

[al-Asma’ was Sifat, hal. 4292]

2. IMAM MALIK BIN ANAS

Imam Malik berkata,

“Allah berada di langit, sedang ilmu-Nya berada di mana-mana, tidak ada satu tempatpun yang kosong dari ilmu-Nya”

[Lihat Syarah I’tiqod Ahlis Sunnah (3/401/673)]

Abu Nu’aim mentakhrijkan dari Ja’far bin Abdillah berkata:

“Ketika kami sedang berada di samping Malik bin Anas, datanglah seorang pemuda lalu bertanya: “Wahai Abu Abdillah, Ar-Rahman (Allah yang Maha Pengasih) bersemayam di atas ‘Arasy bagaimana bersemayamNya?”

Mendengar pertanyaan ini, Imam Malik menjadi berang dan marah. Lalu ia menundukkan muka ke bumi seraya menyandarkannya ke tongkat yang dipegangnya hingga tubuhnya bersimbah keringat. Setelah ia mengangkat kepalanya, ia lantas berkata:

“Cara bersemayam-Nya tidak diketahui (tidak dapat digambarkan), sedang istiwa-Nya (bersemayamnya) telah jelas dan diketahui (maknanya), beriman kepadanya adalah wajib, dan bertanya tentang (bagaimana)nya adalah bid’ah. (Dan) Aku menyangka engkau adalah pelaku bid’ah.”

Lalu beliau menyuruh orang itu keluar.

(Hilyatul Aulia’ (VI/325-326), Ibn Abdil Barr dalam at-Tauhid (VI/151), Al-Baihaqi dalam al-Asma’ Was Sifat, hal. 498, Ibn Hajar dalam Fathul Bari (XIII/406-407), Az-Zahabi dalam al-Uluw, hal. 103)

3. IMAM MUHAMMAD BIN IDRIS AS-SYAFI’I

Imam Syafi’i Rahimahullah berkata:

“Allah Tabaraka wa Taala memiliki asma’ (nama-nama) dan sifat-sifat yang telah disebutkan oleh KitabNya dan diberitakan oleh NabiNya Shalallahu ‘alaihi wassalam. kepada umatnya, yang tidak boleh diingkari oleh sesiapa pun dari makhluk Allah Subhanallahu wa Ta’ala, yang telah sampai kepadanya dalil bahwa al-Quran turun membawa keterangan tentang hal tersebut, juga sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam. yang diriwayatkan oleh perawi yang adil dan tsiqah telah jelas-jelas sahih yang menerangkan masalah itu.

Maka barangsiapa mengingkari atau berbeda dengan semuanya itu padahal hujah (dalil/ keterangan) tersebut telah jelas baginya, berarti ia telah kafir kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala.

Adapun jika ia menentang karena belum mendapat hujah/ keterangan tersebut, maka ia diampuni karena kebodohannya, karena pengetahuan tentang semuanya itu (sifat-sifat Allah dan asma’Nya) tidak dapat dijangkau oleh akal dan pemikiran.

Yang termasuk ke dalam keterangan-keterangan seperti itu adalah juga keterangan-keterangan Allah Subhanallahu wa Ta’ala:

(1) Bahwa Dia Maha Mendengar dan bahwa Allah itu memiliki tangan sesuai dengan firmanNya: “Bahkan Tangan Allah itu terbuka.” (QS. al-Maidah: 64). Dan bahwa Allah memiliki tangan kanan, sebagaimana dinyatakan: “…Dan langit digulung dengan tangan kananNya.” (QS. az-Zumar: 67)

(2) dan bahwa Allah itu memiliki Wajah, berdasarkan firmanNya yang menetapkan: “Dan tiap-tiap sesuatu itu pasti binasa, kecuali Wajah Allah…” (QS. Al-Qasas: 88), “Dan kekallah wajah Rabbmu yang mempunyai keagungan dan kemulian.” (QS. Ar-Rahman: 27).

(3) Juga bahwa Allah mempunyai Telapak Kaki (Qådamur Råhman), sesuai dengan pernyataan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam: Nabi bersabda, “Setiap kali Jahannam dilempari (dengan penghuninya) ia (Jahannam) senantiasa mengatakan, “Masih adakah tambahan?” Sehingga Rabbul ‘Izzah (Allah) meletakkan telapak kaki-Nya didalamnya -dalam riwayat lain, meletakkan telapak kaki-Nya di atasnya-. Maka sebagiannya mengisutkan kepada sebagian lainnya, lalu ia (Jahannam) berkata, “Cukup… cukup…!” (Riwayat Bukhari, no: 4848 dan Muslim, no: 2848)

(4) dan Allah tertawa berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, tentang orang yang mati fi sabilillah: “Ia akan bertemu dengan Allah Azza wa Jalla sedang Allah tertawa kepadanya….” (Riwayat Bukhari, no: 2826 dan Muslim, no:1890).

(5) Dan bahwa Allah turun ke langit dunia pada setiap malam berdasarkan hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam.

(6) Begitu juga keterangan bahwa Allah Subhanallahu wa Ta’ala itu tidak buta sebelah mataNya berdasarkan pernyataan Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam. ketika beliau menyebut dajjal, beliau bersabda: “Dajjal itu buta sebelah matanya, dan sesungguhnya Rabbmu tidaklah buta (sebelah mataNya).” (Riwayat Bukhari, no: 7231 dan Muslim, no: 2933)

(7) Dan bahwa orang-orang mukmin pasti akan melihat Rabb mereka pada hari kiamat dengan pandangan mata mereka seperti halnya mereka melihat bulan di malam purnama.

(8) juga bahwa Allah Subhanallahu wa Ta’ala. mempunyai jari-jemari seperti ditetapkan oleh sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam: “Tidaklah ada satu jari pun melainkan ia berada di antara dua jari dari jari-jari ar-Rahman Azza wa Jalla.” (Riwayat Ahmad IV/182, Ibnu Majah I/72, Hakim I/525 dan Ibn Mandah hal.87. Imam Hakim mensahihkannya dipersetujui oleh az-Zahabi dalam at-Talkhis)

Semua sifat-sifat ini yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanallahu wa Ta’ala. sendiri bagi diriNya dan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam untukNya, (dan) hakikatnya tidaklah dapat dijangkau oleh akal atau pikiran dan orang yang mengingkarinya karena bodoh (tidak mengetahui keterangan-keterangan tentangnya) tidaklah kafir kecuali jika ia mengetahuinya tetapi ia mengingkarinya, barulah ia kafir.

Dan bilamana yang datang tersebut merupakan berita yang kedudukannya dalam pemahaman seperti sesuatu yang disaksikan dalam apa yang didengar, maka wajib baginya sebagai orang yang mendengar berita tersebut untuk mengimani dan tunduk kepada hakikat hal tersebut dan mempersaksikan atasnya seperti halnya ia melihat dan mendengar dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam.

Namun kita tetapkan sifat-sifat ini dengan menafikan (meniadakan) tasybih sebagaimana Allah telah menafikannya dari diriNya dalam firmanNya: “Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. As-Syura: 11).

(Dinukil dari I’tiqadul Aimmatil Arba’ah oleh Dr. Muhammad bin Abdurrahman al-Khumais)

4. IMAM AHMAD BIN HANBAL

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah menyebut kata-kata Imam Hanbal:

Kita beriman kepada Allah itu di atas ‘Arasy sesuai dengan kehendakNya tanpa dibatasi dan tanpa disifati dengan sifat yang kepadanya seseorang yang berusaha mensifatinya telah sampai atau dengan batas yang kepadanya seseorang yang membatasinya telah sampai. Sifat-sifat Allah itu (datang) dariNya dan milikNya. Ia mempunyai sifat seperti yang Ia sifatkan untuk diriNya, yang tidak dapat dijangkau oleh pandangan.”

[Ta’arudh al-‘Aqli wa al-Naqli (II/30)]

Imam Ahmad bin Hambal-rahimahullah- pernah ditanya, “Allah -Azza wa Jalla- berada di atas langit yang ketujuh, di atas Arsy terpisah dari makhluk-Nya. kemampuan dan ilmu-Nya berada di mana-mana?”

Beliau menjawab :

“Ya, Dia berada di atas Arsy. Sedang tidak ada satu tempat pun yang kosong dari ilmu-Nya”.

[Lihat Syarah I’tiqod Ahlis Sunnah (3/401-402/674)]

Ibnul Jauzi dalam al-Manaqib menyebutkan tulisan (surat) Imam Ahmad bin Hanbal kepada Musaddad yang di antara isinya ialah:

“Sifatilah Allah dengan sifat yang denganNya Ia telah mensifati diriNya dan nafikanlah dari Allah apa-apa yang Ia nafikan dari diriNya.”

(Manaqib Imam Ahmad, hal. 221)

Di dalam kitab ar-Raddu ‘ala al-jahmiah tulisan Imam Ahmad, ia mengucapkan:

“Jahm bin Safwan telah menyangka bahwa orang yang mensifati Allah dengan sifat yang dengannya Ia mensifati diriNya dalam kitabNya, atau dengan yang disebutkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dalam haditsnya adalah seorang kafir atau termasuk Musyabbihah (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk).”

[Ar-Raddu ‘ala al-Jahmiah, hal. 104]

Imam Ahmad -rahimahullah- juga berkata,

“Jika anda ingin mengetahui bahwa seorang Jahmiyyah itu berdusta atas nama Allah, yaitu saat ia menyangka bahwa Allah berada dimana-mana”

[Lihat Ar-Rodd ala Az-Zanadiqoh wa Al-Jahmiyyah (1/40)]

Penutup

Demikian di atas kami nukilkan dalil-dalil dari al-qur’an dan as=sunnah sesuai pemahaman para shåhabat, beserta pernyataan-pernyataan para Imam empat untuk membuktikan bahwa aqidah mereka adalah sama, yakni sesuai dengan pemahaman salafush shåleh, yang tidak melakukan penambahan maupun pengurangan. Tidak ada takwil dengan makna tahrif, terlebih dengan menta’tilkan, yaitu menafikan sifat. Maka, jelas aqidah yang benar dan selamat adalah mengatakan Allah bersemayam di atas ‘Arasy sebagaimana hujah-hujah telah diberikan di atas tadi.

Inilah pandangan Salafus Shålih, inilah aqidah yang benar yang dijadikan rujukan seluruh ulama ahlus-sunnah, terkecuali ulama-ulama muta-akhirin yang telah mengubah atau mentakwil Istawa dengan ‘istaula’ yang bermakna ‘menguasai’ yang berasal dari golongan asya’irah dan maturidiyyah.

Adapun aqidahnya Asya’irah dan Maturidiyyah; (demikian pula aqidah dari Jahmiyyah, Mu’tazilah dan seluruh kelompok sesat yang menyimpang dalam aqidah yang agung ini..) sangat mati-matian untuk menyelewengkan fakta yang ada. Yang ada justru sebaliknya, dalil-dalil yang mereka bawakan itulah yang menguburkan hujjah mereka karena ketidakjujuran mereka dalam menukilkan tulisan ulama-ulama terdahulu.

Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar diberikan taufiq dan pemahaman yang lurus serta agar kita termasuk dari golongan yang selamat yang berjalan diatas jalan yang lurus dan dijauhkan dari pemahaman-pemahaman yang menyimpang. Aamiin.

Wa sholallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Ahlihi wa Ashhaabihi Ajmain.

Sumber:

- Buletin Jum’at Al-Atsariyyah
– Artikel “Yang Benar, Allåh bersemayam diatas Arsy

*Dengan beberapa penambahan tanpa merubah makna*

Artikel: AbuZuhriy.com

http://abuzuhriy.com/dimana-allah/comment-page-1/

http://monaliza110.blogspot.com/2010/08/4.html

Posted by: peribadirasulullah | Januari 9, 2014

Allah SWT sentiasa mengingati hamba yang mengingatiNya

http://peribadirasulullah.files.wordpress.com/2014/01/85b1a-25ud85b15d.png?w=388&h=214

Oleh: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Saudaraku -semoga Allah menyinari hati kita dengan keimanan-, dzikir merupakan ibadah yang sangat agung.

dari [Abu Hurairah] dia berkata;

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ

“Allah ‘azza wajalla berfirman;

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي

Aku bersama dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku,

وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِي

dan Aku akan bersamanya selama ia berdzikir (berdoa) kepada-Ku.

فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي

Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku.

وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ

Jika ia mengingat-Ku dalam sekumpulan orang maka Aku akan mengingatnya dalam sekumpulan yang lebih baik dan lebih bagus dari mereka (–yakni sekumpulan malaikat–).

وَإِنْ اقْتَرَبَ إِلَيَّ شِبْرًا اقْتَرَبْتُ مِنْهُ ذِرَاعًا

Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepadanya satu hasta.

وَإِنْ اقْتَرَبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا اقْتَرَبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا

jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa.

وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.”

(HR. at-Tirmidziy; dan ia mengatakan bahwa hadits ini hasan shåhiih)

Allah ta’ala berfirman,

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ

“Maka ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku juga akan mengingat kalian.”

(QS. al-Baqarah: 152)

Allah ta’ala berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang yang apabila disebutkan nama Allah maka bergetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat mereka maka bertambahlah keimanan mereka…”

(QS. al-Anfal: 2)

Di saat peperangan berkecamuk, Allah pun tetap memerintahkan ibadah yang mulia ini agar mereka menjadi orang-orang yang mendapatkan keberhasilan. Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian bertemu dengan pasukan musuh maka tegarlah kalian dan ingatlah kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya, mudah-mudahan kalian beruntung.”

(QS. al-Anfal: 45)

Allah ta’ala juga berfirman,

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi tenang.”

(QS. ar-Ra’d: 28)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

“Sebagian dari kalangan ahli hikmah yang terdahulu dari Syam -dugaan saya adalah Sulaiman Al Khawwash rahimahullah mengatakan,

‘Dzikir bagi hati laksana makanan bagi tubuh. Maka sebagaimana tubuh tidak akan merasakan kelezatan makanan ketika menderita sakit. Demikian pula hati tidak akan dapat merasakan kemanisan dzikir apabila hatinya masih jatuh cinta kepada dunia’.

(Maka) apabila hati seseorang telah disibukkan dengan mengingat Allah, senantiasa memikirkan kebenaran, dan merenungkan ilmu, maka dia telah diposisikan sebagaimana mestinya…”

(Majmu’ Fatawa, 2/344)

Oleh sebab itu, menjadi orang yang banyak mengingat Allah merupakan cita-cita setiap mukmin. Allah ta’ala berfirman,

وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Dan kaum lelaki yang banyak mengingat Allah demikian pula kaum perempuan, maka Allah persiapkan untuk mereka ampunan dan pahala yang sangat besar.”

(QS. Al Ahzab: 35)

Mujahid rahimahullah mengatakan,

“Tidaklah tergolong lelaki dan perempuan yang banyak mengingat Allah kecuali apabila dia membiasakan diri senantiasa mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring.”

(Shahih al-Adzkar, hal. 19)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَيْقَظَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّيَا أَوْ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ جَمِيعًا كُتِبَا فِي الذَّاكِرِينَ وَالذَّاكِرَاتِ

“Apabila seorang suami membangunkan isterinya, kemudian mereka berdua shalat bersama sebanyak dua raka’at, maka mereka berdua akan dicatat termasuk dalam golongan lelaki dan perempuan yang banyak mengingat Allah.”

(HR. Abu Dawud, An Nasa’i dalam Sunan Al Kubra, dan Ibnu Majah, disahihkan oleh Syaikh Salim dalam Shahih Al Adzkar, hal. 19)

Mu’adz bin Jabal -radhiyallahu’anhu- menceritakan bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang tangannya seraya mengucapkan,

يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ

“Hai Mu’adz, demi Allah sesungguhnya aku benar-benar mencintaimu. Demi Allah, aku benar-benar mencintaimu.”

Lalu beliau bersabda,

أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ

“Aku wasiatkan kepadamu hai Mu’adz, jangan kamu tinggalkan bacaan setiap kali di akhir shalat hendaknya kamu berdoa,

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

‘Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik’

(Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu).”

(HR. Abu Dawud, disahihkan Al Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abi Dawud no. 1522)

An Nawawi rahimahullah mengatakan,

“Ketahuilah, sesungguhnya keutamaan dzikir itu tidak terbatas kepada tasbih, tahlil, tahmid, takbir dan semacamnya. Akan tetapi, setiap orang yang beramal ikhlas karena Allah ta’ala dengan melakukan ketaatan maka dia adalah orang yang berdzikir kepada Allah ta’ala. Demikianlah, yang dikatakan oleh Sa’id bin Jubair radhiyallahu’anhu dan para ulama yang lain.”

Abu Darda radhiyallahu ‘anhu berkata,

“Maukah kalian aku beritahu sebuah amalan yang lebih baik dan lebih tinggi derajatnya bagi kalian, lebih bersih di sisi Rabb kalian, dan lebih baik dari menyedekahkan emas dan uang. Dan lebih baik dari saat kalian bertemu musuhmu sehingga kalian memenggal kepala mereka dan mereka memenggal kepala kalian?”

Mereka menjawab; “Tentu.”

Abu Darda radhiyallahu ‘anhu berkata,

“Yaitu dzikir kepada Allah Ta’ala.”

(HR. Ad-Darimiy)

Abu Abdurrahman Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata,

“Tidak ada satu amalan pun yang dilakukan oleh anak Adam, yang lebih bisa menyelamatkannya dari adzab Allah selain dzikir kepada Allah.”

(HR. Ad-Darimiy)

Sumber: Muslim.or.id

http://abuzuhriy.com/diantara-keutamaan-berdzikir-kepada-allah/

http://monaliza110.blogspot.com/2010/08/4.html

Posted by: peribadirasulullah | Januari 9, 2014

Jadilah Insan yang memberi manfaat di dunia dan Akhirat

http://peribadirasulullah.files.wordpress.com/2014/01/cd40d-64654.jpg?w=419&h=335

Jika saja yang dapat mengambil manfaat dari ilmu yang engkau miliki adalah DIRIMU SENDIRI, maka itu telah mencukupi bagimu. karena bukan tanggung jawabmu jika ada seseorang yang tidak dapat mengambil manfaat darinya SETELAH ENGKAU BERUSAHA SEKUAT TENAGA SEMAMPUMU untuk memberikannya manfa’at dari ilmu tersebut.

Allah berfirman tentang RasulNya ‘alayhish shalatu was salaam:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada SELURUH UMAT MANUSIA, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.

(Saba: 28)

Allah berfirman:

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan…

(An-Nahl: 44)

Kemudian Allah menyebutkan apa yang menjadi kewajiban RasulNya:

وَإِن تُكَذِّبُوا فَقَدْ كَذَّبَ أُمَمٌ مِّن قَبْلِكُمْ وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

Dan jika kamu (orang kafir) mendustakan, maka umat yang sebelum kamu juga telah mendustakan. Dan kewajiban rasul itu, tidak lain HANYALAH MENYAMPAIKAN (agama Allah) dengan SETERANG-TERANGNYA”.

(Al-ankabut: 18)

dan tentang dakwah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam Allah berfirman:

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

(Asy-Syura: 52)

Karena dakwah Rasulullah adalah DAKWAH YANG SEMPURNA, dari segala sisi, dari sisi KEKUATAN HUJJAH, dari sisi AKHLAQ yang MULIA, dari sisi KESUNGGUHAN BELIAU dalam mendakwahkan agama, dari sisi manapun.

Allah berfirman:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, SANGAT MENGINGINKAN (KEIMANAN dan KESELAMATAN) BAGIMU, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.

(At-Tawbah: 128)

Allah berfirman:

إِن تَحْرِصْ عَلَىٰ هُدَاهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَن يُضِلُّ وَمَا لَهُم مِّن نَّاصِرِينَ

Jika kamu SANGAT MENGHARAPKAN agar mereka dapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong.

(An-Nahl: 37)

Allah bahkan berfirman:

أَفَأَنتَ تُسْمِعُ الصُّمَّ أَوْ تَهْدِي الْعُمْيَ وَمَن كَانَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

Maka apakah kamu dapat menjadikan orang yang pekak bisa mendengar atau (dapatkah) kamu memberi petunjuk kepada orang yang buta (hatinya) dan kepada orang yang tetap dalam kesesatan yang nyata?

(Az-Zukhruf: 40)

Tentu tidak, karena itu semua adalah hak Allah dengan segala ke-Maha Adilan-Nya lagi ke-Maha Bijaksanaan-Nya

Allah berfirman:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah LEBIH MENGETAHUI orang-orang yang MAU MENERIMA PETUNJUK.

(Al-Qasas: 56)

Maka demikianlah kita seharusnya meneladeni Rasul kita dalam berdakwah…

Kekeliruan dalam berdakwah

Tidak boleh berkata, “ah bukan urusanku jika mereka sesat”, apakah pernah Rasulullah berkata seperti ini? tidakkah engkau membaca firmanNya diatas?!

Tidak boleh pula kita berkata, “aku sudah capek mendakwahkannya, sudah berbagai cara kutempuuh, namun ia tak kunjung mengikuti petunjuk” karena ini adalah hak Allah Yang Membolak-balikkan hati manusia.

Yang seharusnya dilakukan seorang da’i

Maka yang benar adalah,

1. Engkau berusaha memberi petunjuk kepada DIRIMU SENDIRI, dan engkau mengambil manfaat dari hal tersebut

2. Engkau berusaha memberi petunjuk kepada ORANG LAIN, sebagaiman engkau menginginkan dirimu berada diatas petunjuk. dan “orang lain” yang engkau dahulukan adalah KELUARGAMU, kemudian ORANG-ORANG DIBAWAH TANGGUNG JAWABMU, yang mereka merupakan KEWAJIBAN bagimu..

Dan ingatlah jika mereka berpaling, maka sesungguhnya engkau tidak memiliki kewajiban agar mereka mengikuti petunjuk. namun kewajibanmu adalah BERUSAHA SEMAMPUMU HINGGA AKHIR HAYATMU atau AKHIR HAYATNYA agar semoga mereka berada diatas petunjuk.

Maka tidak boleh berdalil dengan ayat “Allah yang memberi petunjuk” tapi engkau TIDAK MENGUSAHAKAN PETUNJUK SAMPAI BATAS AKHIR KEMAMPUANMU. Dan ingatlah usaha tersebut, SAMPAI AKHIR HAYATMU atau AKHIR HAYATNYA!!

Tidakkah engkau mengambil pelajaran bagaimana para nabi yang sebelum wafatnya mendakwahi anak-anak mereka?! tidakkah engkau mengambil pelajaran bagaiman Rasulullah tetap mendakwahkan pamannya sampai pada waktu sakratul maut pamannya?!

3. Jika memang tidak ada satupun orang yang mengambil manfaat dari dakwahmu KECUALI DIRIMU SENDIRI, SETELAH ENGKAU BERUSAHA SEMAMPUMU, maka engkau telah menunaikan kewajibanmu, dan mereka bukan tanggunganmu.

Maka kita bersedih hati KARENA MEREKA TIDAK MENGIKUTI PETUNJUK, BUKAN KARENA mereka tidak menjadi pengikut kita!! Pernahkah engkau membaca hadits berikut:

عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ

“Telah diperlihatkan kepadaku semua umat. Lalu aku melihat seorang nabi yang bersamanya 3 sampai 9 orang, ada juga nabi yang bersama dengannya hanya satu atau dua orang lelaki saja, bahkan ada seorang nabi dan TIDAK ADA SEORANGPUN BERSAMANYA.”

(HR. Bukhariy dan Muslim)

Apakah KETIADAAN PENGIKUT menjadikan diri mereka hina? TIDAK! karena bukan itu tolak ukur dakwah! dan bukan itu kewajiban dakwah!

Maka hendaknya orang-orang yang merasa sedih karena kurang pengikutnya BERTAKWA KEPADA ALLAH, dan MELURUSKAN KEMBALI NIATNYA, jangan-jangan dakwahnya itu hanya untuk MEMPERBANYAK PENGIKUT.

Orang-orang seperti inilah yang merusak dakwah itu sendiri, yakni ketika ia melihat ada orang yang lebih banyak pengikut darinya, atau orang yang menyamai pengikutnya; maka ia pun mentahdzir dan menjauhkan manusia dari da’i tersebut, HANYA KARENA HASAD.. sebagaimana dialami oleh IMAM BUKHARIY yang ditahdzir dan dihajr oleh gurunya sendiri.. padahal beliau tidak memiliki kesalahan dalam hal AQIDAH maupun MANHAJ!! wallahul musta’aan, demikian parahnya kerusakan niat dalam berdakwah!!

Maka semoga Allah meluruskan niat kita dalam beribadah, dan semoga Allah menanamkan ke dalam hati kita SEMANGAT UNTUK BERIBADAH, semangat untuk menanamkan kebaikan kepada DIRI SENDIRI, KEMUDIAN orang lain.. serta KASIH SAYANG terhadap mereka, serta istiqamah dalam dakwah, walaupun tidak punya pengikut sama sekali..

Semoga kita dianugerahkan oleh Allah hati yang ikhlash dan amalan yang diterimaNya.. aamiin ya rabbal ‘aalamin

http://abuzuhriy.com/sekiranya-hanya-dirimu-yang-mengambil-manfaat-dari-ilmu-mu/

Posted by: peribadirasulullah | Januari 9, 2014

6 Perkara Menjamin ke Syurga Ilahi

http://peribadirasulullah.files.wordpress.com/2014/01/31fec-1_1.jpg?w=343&h=257

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya, Ibnu Hibban dalam Shahihnya, al-Hakim dalam Mustadraknya dan yang lainnya, diterima dari Ubadah bin Shamith –Radhiyallahu ‘anhu- dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

اضمنوا لي ستاً من أنفسكم أضمن لكم الجنة : اصدقوا إذا حدثتم ، وأوفوا إذا وعدتم ، وأدوا إذا ائتمنتم ، واحفظوا فروجكم ، وغضوا أبصاركم ، وكفوا أيديكم

“Jaminlah bagiku enam perkara, maka aku akan menjamin bagimu surga; jujurlah jika kalian berbicara, tunaikanlah jika kalian berjanji, laksanakanlah jika kalian diamanahi, jagalah kemaluan kalian, tundukkan pandangan kalian dan cegahlah tangan kalian.”

(Lihat as-silsilah as-shahihah, Syaikh albaani rahimahullah. No 1470)

Syarah hadits

Oleh asy-Syaikh Abdurråzaq bin ‘Abdilmuhsin al-Abbad al-Badr Hafizhahumallåhu Ta’ala

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas pemimpin para Rasul, Nabi kita Muhammad. Juga atas keluarganya dan seluruh para sahabatnya. Wa ba’du.

Termasuk sesuatu yang dimaklumi oleh seluruh manusia bahwa kata “jaminan” akan anda dapati di kalangan manusia mendapat perhatian yang sangat besar. Kata ini senantiasa mengiringi aktifitas jual beli dan perniagaan mereka.

Barang dagangan yang memiliki jaminan akan mendapat tempat tersendiri dibanding barang-barang yang tidak memilikinya. Ini menunjukkan, betapa tingginya perhatian manusia terhadap sesuatu yang memiliki jaminan tertentu, melebihi sesuatu yang tidak demikian, dengan perbedaan-perbedaan yang besar dari sisi-sisi kebenaran jaminan tersebut.

Oleh karena itu, perhatian manusia terhadap hal ini semakin besar lagi. jika pemilik jaminan adalah orang yang dikenal memiliki sifat jujur, tepat janji dan amanah, maka perkara-perkara yang dengannya jaminan itu akan didapatkan, akan menjadi perkara yang mudah, tidak menyusahkan dan memberatkan manusia.

Bagaimana jika pemilik jaminan itu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam!?Orang yang benar dan dibenarkan. Orang yang tidak bertutur kata dengan hawa nafsunya, melainkan ia adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.

Dan bagaimana juga jika yang dijaminkannya adalah surga, yang luasnya seluas langit dan bumi.!? Yang isinya adalah sesuatu yang tidak pernah ada satu matapun yang pernah melihatnya, tidak ada satu telinga pun yang pernah mendengarnya dan tidak pernah terlintas sedikitpun dalam hati manusia.

Begitu juga bagaimana jika perkara-perkara yang dengannya dapat diraih jaminan ini adalah perkara-perkara mudah,!? perbuatan-perbuatan ringan yang tidak membutuhkan kerja keras dan beban berat.

Maka, renungkanlah –semoga Allah menjagamu- satu hadis tentang jaminan yang agung ini.

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya, Ibnu Hibban dalam Shahihnya, al-Hakim dalam Mustadraknya dan yang lainnya, diterima dari Ubadah bin Shamith –Radhiyallahu ‘anhu- dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

اضمنوا لي ستاً من أنفسكم أضمن لكم الجنة : اصدقوا إذا حدثتم ، وأوفوا إذا وعدتم ، وأدوا إذا ائتمنتم ، واحفظوا فروجكم ، وغضوا أبصاركم ، وكفوا أيديكم

“Jaminlah bagiku enam perkara, maka aku akan menjamin bagimu surga; jujurlah jika kalian berbicara, tunaikanlah jika kalian berjanji, laksanakanlah jika kalian diamanahi, jagalah kemaluan kalian, tundukkan pandangan kalian dan cegahlah tangan kalian.”

(lihat as-silsilah as-shahihah, Syaikh al-Bani –rahimahullah. No 1470)

Sesungguhnya ia adalah jaminan dengan jaminan dan penunaian dan penunaian.

اضمنوا لي ستاً من أنفسكم أضمن لكم الجنة

“Jaminlah bagiku enam perkara, maka aku akan menjamin bagimu surga”

Enam amal yang sangat mudah, enam perkara kebaikan yang sangat ringan. Orang yang memperbuatnya dalam hidupnya dan menjaganya hingga akhir hayatnya, maka surga terjamin baginya. Perjalan kepadanya adalah sesuatu yang pasti dan terjamin.

وأزلفت الجنة للمتقين غير بعيد * هذا ما توعدون لكل أواب حفيظ * من خشي الرحمن بالغيب وجاء بقلب منيب * ادخلوها بسلام ذلك يوم الخلود * لهم ما يشاءون فيها ولدينا مزي

“Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat, masukilah syurga itu dengan aman, itulah hari kekekalan. Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya.

(QS. Qaaf [50]: 31-35)

Jujur dalam berkata

Seorang mukmin adalah orang yang jujur dan tidak mengenal kata dusta. Ia senantiasa menjaga kejujuran dalam hidupnya hingga hal itu mengantarkannya kepada surga. Dalam hadis,

بالصدق ، فإن الصدق في يهدي إلي البر، والبر يهدي إلي الجنة ، ولا يزال الرجل يصدق ويتحرى الصدق حتى يكتب عند الله صديقاً

“Hendaknya kalian berlaku jujur, karena jujur mengantarkan pada perbuatan baik, dan perbuatan baik akan mengantarkan pada surga. Seseorang yang senantiasa jujur, bersungguh-sungguh memilih kejujuran, hingga Allah akan menetapkannya sebagai orang jujur.”

(HR Muslim)

Menunaikan janji dan komitmen terhadap akad

Ini adalah salah satu sifat orang-orang mukmin dan ciri orang-orang yang bertakwa. Mereka tidak mengenal ingkar dalam janji dan khianat dalam akad. Sifat menepati adalah sifat pokok dalam bangunan masyarakat islam, karena ia berhubungan dengan seluruh jenis pergaulan manusia.

Seluruh bentuk interaksi manusia, hubungan-hubungan sosial dan jenis-jenis transaksi sangat ditentukan oleh sifat ini. Jika sifat ini hilang, hilang pulalah kepercayaan, hubungan manusia menjadi buruk dan saling curiga akan merebak.

Melaksanakan amanah

Ia adalah diantara karakter positif terbesar, yang Allah memuji para pelakunya. Ia adalah diantara bentuk kesempurnaan iman seseorang dan kebaikan Islamnya. Dengan karakter amanah, maka agama, kehormatan, harta, jasad, jiwa, ilmu dan yang lainnya akan terjaga.

Dalam hadist (disebutkan),

المؤمن من أمنه الناس على أموالهم وأنفسهم

“Seorang mukmin itu adalah orang yang manusia merasa aman dengannya atas harta dan jiwa mereka”

(HR Ahmad).

Jika amanah telah tersebar dalam masyarakat, maka jalinan antar mereka akan menjadi agung, pertaliannya akan menjadi kokoh serta kebaikan dan berkah akan meliputinya.

Menjaga kemaluan

Maksudnya menjaga kemaluan dari perbuatan haram dan menjaganya agar tidak terjatuh pada kebatilan.

(Allåh berfirman:)

والذين هم لفروجهم حافظون إلا على أزواجهم أو ما ملكت أيمانهم فإنهم غير ملومين , فمن ابتغى وراء ذلك فأولئك هم العادون

“dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka milik; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.”

(QS. Al-Mukminun [23]: 5-7).

Menjaga kemualuan berarti menjaga keturunan dan nasab, mensucikan masyarakat dan menjaga keselamatan dari segala bahaya dan penyakit.

Menundukkan pandangan

Maksudnya dari melihat yang diharamkan. Allah berfirman,

قل للمؤمنين يغضوا من أبصارهم ويحفظوا فروجهم ذلك أزكى لهم إن الله خبير بما يصنعون * وقل للمؤمنات يغضضن من أبصارهن ويحفظن فروجهن

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya…”

(QS. An-Nur [24]: 30-31).

Menundukkan pandangan memiliki faidah yang agung. Ia akan mewariskan pada seorang hamba kelezatan iman, cahaya hati, kekokohan kalbu, kesucian jiwa dan keshalehannya. Padanya terdapat pencegah dari prilaku mencari-cari yang diharamkan dan kerinduan terhadap kebatilan.

Menahan kedua tangan

Maksudnya adalah dari menyakiti sesama, atau menyebabkannya tertimpa keburukan. Orang yang menyakiti hamba-hamba Allah akan mendapat murka Allah, mendapat murka manusia dan masyarakat akan menjauhinya.

Perbuatan ini adalah wujud dari akhlak buruk dan etika yang rendah. Sebaliknya, jika seseorang menjaga tangannya dari menyakiti sesama, maka itu adalah bukti atas kecerdasan akhlaknya, kemuliaan etikanya dan kebaikan pergaulannya. Ia pun akan mendapatkan janji Allah yang sangat agung kerena hal itu.

Apalagi jika seseorang itu akhlaknya semakin tinggi, etikanya semakin mulia. Tidak hanya tidak menyakiti sesama, hingga dengan akhlaknya itu ia justru menyingkirkan sesuatu yang membahayakan dari jalan yang dilalui orang-orang mukmin. Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya, dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مر رجل بغصن شجرة على ظهر الطريق فقال: والله لأنحيّن هذا عن المسلمين لا يؤذيهم فأدخل الجنة

“Seseorang melewati ranting pohon di jalan, kemudian ia berkata: “demi Allah sungguh aku akan menyingkirkan ini agar tidak menyakiti orang-orang muslim” kemudian ia dimasukkan ke dalam surga.”

(HR Muslim)

Itulah beberapa pintu surga yang tinggi, menaranya sangat nampak dan jalannya sangat mudah. Hendaknya kita menggunakan kesempatan itu sebelum ia tiada.Hendaknya kita memperbanyak kebaikan untuk diri kita sebelum kita wafat.

Semoga Allah membantu kita semua meraih tempat mulia itu, memberi petunjuk (taufik) pada setiap kebaikan. Shalawat dan salam atas Nabi kita Muhammad, para keluarganya dan seluruh para sahabatnya.

Diterjemahkan oleh Abu Khaleed Resa Gunarsa, dari Websitenya Syaikh Abdurrazzaq Hafizhahullåh

Sumber: Salafiy Unpad

semoga bermanfa’at

ستة أمور يضمن بها الجنة.
عن عبادة بن الصامت أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ‘اضمنوا لي ستاً من أنفسكم أضمن لكم الجنة:
1. اصدقوا إذا حدّثتم.
2. وأوفوا إذا وعدتم.
3. وأدّوا إذا اؤتمنتم.
4. واحفظوا فروجكم.
5. وغضوا أبصاركم.
6. وكُفّوا أيديكم’.

http://abuzuhriy.com/jaminan-surga-bagi-yang-menjamin-enam-perkara/

 

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Ikut

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,615 other followers