Posted by: peribadirasulullah | Julai 31, 2012

4 Tips menuju Lailatul Qadar

http://mutiaraislam.files.wordpress.com/2009/09/malam-lailatul-qadar-9.jpg?w=485&h=364

http://peribadirasulullah.files.wordpress.com/2012/07/doa10terakhirramadhan.png?w=300

http://peribadirasulullah.files.wordpress.com/2012/07/pertampunan.png?w=300

Posted by: peribadirasulullah | Julai 31, 2012

10 Perkara mengundang Rahmat Allah SWT

http://www.awda-dawa.com/App/Upload/articles/7306.jpg
Sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Pemberi rahmat (kasih sayang). Bahkan sayangNya terhadap hamba-hambaNya lebih dari sayangnya seorang ibu kepada anaknya. Dengan kasih sayangNya, Dia menciptakan kita. Dengan rahmatNya, Dia memberikan rezki kepada kita. Dengan rahmatNya, Dia memberikan kesehatan kepada kita. Dengan rahmatNya, Dia memberikan makan dan minum, pakaian serta tempat tinggal kepada kita. Dengan rahmatNya, Dia menunjukkan kita kepada Islam dan Iman serta amal soleh. Dengan rahmatNya, Dia mengajarkan kepada kita apa yang tidak kita ketahui. Dengan rahmatNya, Dia memalingkan kejahatan musuh-musuh dari diri kita. Allah Ta’ala berfirman, ertinya,  “Sesungguhnya Allah Ta’ala membela orang-orang yang telah beriman.” (QS. al-Hajj: 38).

Dengan rahmatNya, Dia menurunkan hujan dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan,. Dengan rahmatNya, Dia memasukkan hamba-hambaNya yang beriman dan yang beramal soleh ke dalam surga. Dengan rahmatNya, Dia menyelamatkan mereka dari neraka.Segala sesuatu semuanya adalah berkat rahmat Allah Ta’ala. Oleh kerananya seorang muslim perlu mengetahui faktor penyebab, Allah Ta’ala memberikan rahmat kepada makhlukNya, iaitu:
1. Berbuat Ihsan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala dengan menyempurnakan ibadah kepadaNya dan merasa diperhatikan (diawasi) oleh Allah Ta’ala, bahawasanya kamu beribadah kepada Allah Ta’ala, seolah-olah kamu melihatNya, maka jika kamu tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu, dan berbuat baik kepada manusia semaksima mungkin, baik dengan ucapan, perbuatan, harta, dan kedudukan. Allah Ta’ala berfirman, ertinya, “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-A’raf: 56)2. Dan di antara sebab-sebab yang paling utama untuk mendapatkan rahmat Allah Ta’ala adalah bertakwa kepadaNya dan mentaatiNya dengan melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya, seperti mengeluarkan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya (Mustahiq), beriman dengan ayat-ayat Allah swt, dan mengikuti RasulNya. Allah Ta’ala berfirman, ertinya, “Dan rahmatKu meliputi segala  sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmatKu untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami. (Iaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi.” (QS. al-A’raf: 156, 157)

3. Kasih sayang kepada makhluk-makhlukNya baik manusia maupun binatang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,  “Orang-orang yang penyayang, maka Allah Ta’ala akan menyayangi mereka (memberikan rahmat kepada mereka), sayangilah / kasilah penduduk bumi, nescaya penduduk langit akan menyayangi kalian.” (HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi)

Dan hal itu lebih ditekankan lagi kepada orang-orang fakir dan miskin yang sangat memerlukan. Sedangkan balasan (ganjarannya) sesuai dengan perbuatan, sebagaimana kita berbuat baik, maka kita akan mendapatkan balasan dari kebaikan tersebut.
4. Beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, ertinya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Baqarah: 218). Maka orang-orang yang beriman selalu mengharapkan rahmat Allah Ta’ala setelah mereka melaksanakan sebab-sebab mendapatkan rahmat iaitu iman, hijrah, dan berjihad di jalan Allah Ta’ala. Adapun hijrah meliputi berpindah dari negri syirik ke negri Islam dan meninggalkan apa yang dilarang Allah Ta’ala dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah Ta’ala.” (Muttafaq ‘alaih).
Sedang jihad mencakup jihad melawan hawa nafsu dalam mentaati Allah Ta’ala, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Orang yang berjihad adalah orang yang memerangi hawa nafsunya dalam menaati Allah Ta’ala.” (HR. al-Baihaqi).  Sebagaimana jihad meliputi pula jihad melawan syaitan dengan menyelisihinya dan bersungguh-sungguh untuk mendurhakainya dan jihad dalam memerangi orang-orang kafir dan jihad terhadap orang-orang munafik dan pelaku-pelaku maksiat baik dengan tangan, kemudian (jika tidak mampu) dengan lisan, kemudian (jika tidak mampu juga), maka dengan hati.
5. Mendirikan solat, menunaikan zakat, dan menaati Rasulullah Ta’ala, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, ertinya, “Dan dirikanlah solat, tunaikanlah zakat, dan ta’atlah kepada Rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (QS. an-Nur: 56).
6. Berdo’a kepada Allah Ta’ala untuk mendapatkannya dengan bertawasul dengan nama-namaNya yang Maha Pengasih (ar-Rahman) lagi Maha Penyayang (ar-Rahim) atau yang lainnya dari nama-namaNya yang Agung / Indah, seperti kamu mengatakan, “Ya Rahman Wahai Yang Maha Penyayang), sayangilah aku (rahmatilah aku), ya Allah  sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan rahmatMu yang luas yang meliputi segala sesuatu agar Engkau mengampuni dosaku dan menyayangiku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Allah Ta’ala berfirman, ertinya,“Wahai Rabb kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisiMu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).” (QS. al-Kahfi: 10). Dan Allah Ta’ala juga berfirman, ertinya, “Hanya milik Allah asma`u al-Husna, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut asma`u al-Husna itu.” (QS. al-A’raf: 180). Maka hendaklah seseorang memohon setiap permintaannya dengan nama yang sesuai dengan permintaannya itu untuk mendapatkannya. Allah Ta’ala berfirman, ertinya, “Dan Rabbmu berfirman, ‘Berdo’alah kepadaKu, nescaya akan Kuperkenankan bagimu’.” (QS. al-Mu’min: 60). Dan firman Allah Ta’ala lainnya, ertinya, “Dan katakanlah, ‘Ya Rabbku berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling baik.” (QS. al-Mu’minun: 118). Sungguh Allah Ta’ala telah menyuruh (kita) berdo’a dan menjamin ijabah (mengabulkan do’a tersebut) dan Dia Maha Suci yang tidak pernah mengingkari janji.

7. Mengikuti al-Qur`an al-Karim dan mengamalkannya. Allah Ta’ala berfirman, ertinya, “Dan Al-Qur`an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” (QS. al-An’am: 155).

8. Menaati Allah Ta’ala dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana yang  telah dijelaskan sebelumnya. Allah Ta’ala berfirman, ertinya,“Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (QS. Ali ‘Imran: 132).

9. Mendengarkan dan memperhatikan dengan tenang ketika dibacakan al-Qur`an al-Karim. Allah Ta’ala berfirman, ertinya, “Dan apabila dibacakan Al-Qur`an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS. al-A’raf: 204).

10. Istighfar, memohon ampunan dari Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, ertinya, “Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agarkamu mendapat rahmat.” (QS. an-Naml: 46). 

Wallahu a’lam.
Sumber: Diterjemahkan dari Kitab “An-Nuqath al-‘Asyarah adz-Dzahabiyah”, Syaikh Abdur Rahman ad-Dusari.

Posted by: peribadirasulullah | Julai 31, 2012

3 Tingkatan Puasa

http://sidibennourpress.com/uploads/thumbs/480_1343147148..gif

Imam al-Ghazali telah menukil di dalam kitabnya ” Ihya’ Ulumiddin” di mana bagi orang berpuasa ada 3 tingkatannya yang menggambarkan tentang keadaan puasa dan kedudukannya iaitu :

Pertama : Puasa Umum 

Ia ditunaikan orang orang awam setakat berpuasa dalam menahan perut dan kemaluan daripada memenuhi nafsu syahwat sedangkan anggotanya yang lain tidak dikawal sebaiknya daripada melakukan maksiat terhadap Allah

Kedua : Puasa Khusus

Ia ditunaikan dengan turut mengawal pendengaran, penglihatan, lidah, tangan, kaki dan seluruh anggota lain daripada melakukan maksiat terhadap Allah tetapi hatinya masih belum dapat sepenuhnya daripada niat yang melalaikan diri dalam mengingati Allah.

Ketiga : Puasa khusus al-Khusus

Ia adalah puasa yang paling sempurna dan mesti diusahakan dalam mencapainya di mana pada tahap ini maka hati turut dikawal daripada keinginan yang buruk dan daripada memikirkan sesuatu selain Allah secara mutlak. Malah kedudukan puasa pada tahap ini terbatal dengan memikirkan sesuatu perkara selain Allah dan akhirat serta memikirkan urusan dunia yang bukan bertujuan agama. Tahap puasa ini dinikmati oleh para nabi, siddiqin, muqarrabin di mana ia sukar digambarkan melalui perkataan tetapi boleh dilaksanakan dengan amalan.

Posted by: peribadirasulullah | Julai 30, 2012

Hakikat kesempurnaan puasa

http://peribadirasulullah.files.wordpress.com/2012/07/dont.jpg?w=300

http://peribadirasulullah.files.wordpress.com/2012/07/doramadan.jpg?w=300

http://peribadirasulullah.files.wordpress.com/2012/07/peringktpuasa.jpg?w=294

Hakikat Kesempurnaan Puasa
Puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah swt yang telah memberikan kesempatan kita untuk bertemu dengan bulan suci Ramadan untuk yang kesekian kalinya. Namun harus kita ketahui bahwa Ramadan yang menemui kita kali ini bukanlah Ramadan yang datang pada tahun-tahun sebelumnya. Bulan Ramadan merupakan bulan yang mempunyai banyak keistimewaan yang tidak dimiliki oleh sebelas bulan lainnya. Salah satu keistimewaan bulan Ramadan adalah diwajibkannya puasa di bulan ini bagi orang-orang yang beriman.
Puasa yang secara sederhana dapat kita ertikan “menahan diri”. Iaitu menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Yang dimaksud membatalkan puasa di sini bukan hanya membatalkan ibadahnya secara hukum, akan tetapi  juga mencakup hal-hal yang membatalkan hakekat, tujuan dan membatalkan pahalanya. Kalau puasa dimaknai hanya menahan diri dari yang membatalkan  ibadahnya secara hukum, maka hal ini tidak seberat ketika dimaknai menahan diri segala yang membatalkan hakikat, tujuan dan pahala puasa.
Puasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum serta memasukkan benda ke dalam salah satu lubang angggota tubuh kita, akan tetapi lebih dari itu, puasa bererti menahan diri dari segala yang membatalkannya secara hukum juga menahan diri dari segala sesuatu yang dibenci oleh Allah baik lahir maupun batin, Nabi Muhammad saw bersabda ”Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa kecuali rasa lapar daan dahaga”. Hal inilah yang menunjukkan bahwa hakikat puasa bukan hanya menahan diri dari lapar, dahaga dan bersetubuh.
Imam al-Ghazali dalam buku yang berjudul Cahaya di Atas Cahaya  menyatakan “Kesempurnaan puasa adalah dengan mencegah segenap anggota badan dari segala hal yang tidak disenangi oleh Allah. Seharusnya kita juga menjaga mata dari melihat hal-hal yang tidak disenangi oleh Allah, menjaga lisan dari mengucapkan hal-hal yang tidak bermakna, menjaga telinga dari mendengarkan, hal-hal yang diharamkan Allah Ta’ala. Orang yang mendengar adalah teman si pembicara, yang kerananya dia juga dikategorikan sebagai orang yang mengumpat. Begitu juga kita harus mengawal seluruh anggota badan sebagaimana engkau menjaga perut dan kemaluan”.
Berkaitan dengan hal di atas banyak sekali hadits Rasulullah yang menerangkan diantaranya: ”Lima hal dapat membatalakan puasa, yaitu berbohong, mengadu domba, bersumpah palsu, dan memandang dengan syahwat.” Nabi juga bersabda”Puasa adalah perisai, maka jika salah seorang dari engkau berpuasa janganlah dia berkata buruk, melakukan maksiat, dan berpura-pura bodoh. Jika ada orang yang mahu membunuh atau mencercanya, maka dia harus mengatakan bahwa aku sedang berpuasa.” Dalam hadits lain Rasulullah bersabda ”Barang siapa tidak meninggalkan kata-klata kotor dan perbuatan keji, maka usahanya meninggalkan makan dan minum tidak berarti bagi Allah.”
Dari hadis-hadis di atas Imam Al- Nawawi dalam kitab Syarah Bidayatul Hidayah Al-Ghazali memberikan kesimpulan bahwa kesempurnaan puasa adalah dengan mencegah segenap anggota badan dari segala hal yang tidak di senangi oleh Allah, iaitu dosa. Itulah puasa orang-orang saleh yang kemudian disebut dengan puasa khusus. Kesempuranaan puasa akan tercapai dengan lima hal.
  • Pertama, menjaga mata dari melihat hal-hal yang tidak disenangi Allah dan segala hal yang dapat melengahkan diri dari mengingat-Nya. Rasulullah bersabda: ”Pandangan adalah salah satu panah beracun iblis terkutuk”. Barang siapa yang tidak melihat hal-hal tersebut karena takut kepada Allah niscaya Allah akan memberinya keimanan yang manisnya dapat dirasakan dalam hatinya.
  • Kedua, menjaga lisan dari mengucapkan hal-hal yang tidak bermakna. Hal-hal yang bermakna adalah segala hal yang berkitan dengan keselamatan manusia di akhirat dan keperluan hidupnya yang dapat menyenangkannya dari rasa lapar, menghapus dahaga, menutup aurat dan kepeperluan-keperluan pokok lainnya.
  • Ketiga, menjaga telinga dari hal-hal yang diharamkan Allah swt. Orang yang mendengar adalah teman si pembicara. Sebab segala hal yang haram diucapkan, juga haram untuk di dengar.
  • Keempat, berbuka puasa dengan makanan yang halal. Puasa yang berfungsi menahan diri dari barang yang halal tidak akan bermakna bila ditutup dengan berbuka makanan yang haram. Orang yang melakukan hal demikian seperti orang yang membangun sebuah istana kemudian menghancurkannya.
  • Kelima, ketika berbuka tidak makan terlalu banyak jika kita hanya memindahkan makan kita pada pagi atau siang hari ke malam hari, maka puasa kita tidak bermanfaat. Artinya, di antara etika puasa adalah tidak makan terlalu kenyang, terutama pada waktu berbuka. Hal ini berkaitan dengan sisi pengaruh puasa, yaitu melemahkan (baca; mengendalikan) syahwat yang merupakan tempat berjalannya syaitan di dalam tubuh sejalan dengan aliran darah kita.  Oleh karena itu barang siapa yang berbuka dengan kadar yang berlebihan dihukumkan seperti orang yang tidak berpuasa, karena ia belum mampu mengendalikan sahwatnya untuk makan.
Untuk mendapatkan kesempurnaan puasa kita tidak cukup hanya dengan menjaga anggota badan bagian luar (zahir)  dari hal-hal yang tidak disenangi Allah, kita juga harus menjaga anggota batin, yaitu hati. Maksiat batin juga harus kita nyahkan, karena juga akan merusak kesucian makna puasa. Sumber utama maksiat ini adalah hati. Kita harus membersihkan penyakit-penyakit hati seperti, sombong, ujub, congkak, iri, dengki, riya’ (pamer) dan berbagai penyakit hati lainnya yang dapat mengurangi atau bahkan membatalkan tujuan puasa. Penyakit-penyakit ini nampaknya sangat sederhana, padahal sangat berbahaya karena dapat membakar amal baik kita sebagaimana bara api yang memakan kayu yang sudah kering. Jadi untuk mendapat kesempurnaan puasa marilah kita hindari penyakit-penyakit ini dengan cara dengan mencari sebab-sebab penyaki itu dan menyedari akibat-akibat negatif yang akan ditimbulkanya. Terapinya harus dilakukan dengan latihan terus-menerus untuk membersihkan dan mengembalikan manusia kepada fitrahnya yaitu suci. Karena pada hakekatnya kewajiban kita hanyalah mempertahankan kesucian yang telah dianugerahkan Allah kepada kita sejak kita dilahirkan. Ubat penyakit-penyakit itu tidak dijual di kedai atau doktor praktek. Penyakit-penyakit ini berasal dari dalam diri kita, dan ubatnya pun berada dalam diri kita.
Begitu banyak rintangan yang dihindari oleh orang yang berpuasa agar ia benar-benar sampai tujuan puasa, yaitu membentuk peribadi yang bertaqwa. Taqwa yang secara lughawi (bahasa) mengacu pada pengertian tentang orang-orang yang memeliharanya. Jadi sangatlah wajar jika banyak hal yang harus dijauhi olah orang yang berpuasa, karena sesuai tujuannya iaitu agar menjadi orang yang memelihara dan terpelihara. Terpelihara dirinya, baik dirinya peribadi ataupun lingkungan dari tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan tuntutan dan ajaran agama ataupun terpelihara dirinya dalam kontek sosial, kontek yang lebih luas.
Namun balasan yang disiapkan Allah bagi orang yang berpuasa lebih besar dan lebih banyak daripada rintangan dan godaan yang dihadapi ketika menjalankannya. Begitu besarnya balasan yang dijanjikan Allah, tiada seorangpun yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits qudsi yang artinya ”Setiap satu kebaikan digandakan sepuluh hingga tuju ratus, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku akan mengganjarnya sendiri”. Hal ini berarti balasan  yang akan diberikan Allah tidak ditentukan ukurannya.
 Semuga kita dapat menjalankan puasa dengan sempurna agar puasa kita dapat diterima di sisi Allah,  sehingga kita mendapatkan predikat pribadi yang bertaqwa juga mendapatkan redho dan balasan yang telah disiapkan-Nya.
Dipetik dari: Imam Mustofa, Pondok Pesantren Univ. Islam Indonesia
Posted by: peribadirasulullah | Julai 29, 2012

Indahnya wajah Rasulullah SAW

Posted by: peribadirasulullah | Julai 29, 2012

10 Perkara merosakkan otak

http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/s720x720/395443_254909967916981_1015038110_n.jpg

Posted by: peribadirasulullah | Julai 29, 2012

12 Kelebihan berselawat kepada Rasulullah SAW

http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash3/s720x720/564254_311521598922484_1779310259_n.jpg

Posted by: peribadirasulullah | Julai 29, 2012

Salam Rindu buatmu Ya Rasulullah….

Posted by: peribadirasulullah | Julai 29, 2012

Betapa besarnya nikmat Islam yang Allah SWT kurniakan

Posted by: peribadirasulullah | Julai 29, 2012

Kenapa kita masih meragui kekuasaan Allah SWT?

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,589 other followers